
Selamat Membaca...
Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami yang namanya ujian dan cobaan dalam hidupnya. Ada berbagai macam cobaan dan ujian tersebut tergantung dari tingkat keimanan seseorang.
Seharian ini Amairah bekerja dengan hati yang tidak tenang, setiap saat selalu kepikiran dengan keadaan putra tunggalnya. Hingga Amairah tidak berkonsentrasi dan fokus kepada Kerjaannya. Hal tersebut dikarenakan karena anaknya Axel mengalami kecelakaan. Axel bertaruh nyawa di atas meja operasi. Tapi ditengah operasi sempat tersendat karena habisnya stok persediaan kantong darah di rumah sakit DA dengan golongan darah O.
Setelah mendapat informasi bahwa putranya Axel mengalami kecelakaan Amairah segera bergegas ke rumah sakit. Dan tidak lupa meminta ijin kepada kepala menejer humas yaitu ibu Talia Joy Tobing. Amairah kembali ke kubikelnya setelah mengantongi ijin dari ibu Talia Joy Tobing dan langsungdnyskbar
"Maaf apa diantara kalian ada yang golongan darahnya O? Kareena rumah sakit kami untuk pertama kalinya kehabisan stok darah golongan darah O" terang dokter tersebut yang menangani Axel.
"Ambil saja darahku pak dokter berapa pun yang dokter butuhkan" ucap Pak Mark prin Atmadja.
"Kalau begitu, ikut kami Pak untuk mengecek kesehatan bapak terlebih dahulu" timpal suster.
Pak Mark prin Atmadja pun sudah mendonorkan darahnya. Dan operasi Axel kembali berjalan lancar. Semua orang mengucap syukur setelah Axel mendapatkan transfusi darah. Amairah datang dengan tergesa-gesa dan langsung memeluk tubuh Mbak Mirna.
"Apa yang terjadi dengan Axel Mbak, gimana sekarang keadaannya Axel?." tanya Amairah yang sangat mengkhawatirkan dengan keadaan anaknya.
"Maafkan Saya Mbak, saya tidak becus menjaga Axel dengan baik" ucap Mbak Marni yang duduk bersimpuh di hadapan Amairah dengan penuh penyesalan.
"Bangunlah Mbak tidak baik seperti ini, ini sudah takdirnya Axel jadi kita hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kesembuhan dan keselamatan Axel" ucap Amairah.
Beberapa saat kemudian, ruang operasi pun terbuka dan keluarlah dokter dan beberapa perawat yang mendorong tubuh Axel yang akan dipindahkan ke ruangan intensif perawatan.
"Gimana dengan putraku Dokter?." tanya Amairah yang sudah menyerang dokter dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah anak ibu sudah lepas dari masa kritisnya dan kondisinya sudah membaik, jadi Ibu tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya" ucap pak dokter.
"Alhamdulillah kalau gitu dok, Makasih banyak" ucap Amairah.
"Sama-sama Bu" ucap dokter kemudian berlalu dari hadapan mereka.
"Alhamdulillah mbak, Axel sudah melewati masa kritisnya, kita ke ruangan perawatan Axel yah mbak" ucap Amairah.
Amairah kembali meneteskan air matanya setelah melihat kondisi putranya yang hampir seluruh tubuhnya dipasangi peralatan kesehatan dan kedokteran, kepalanya yang kecil diperban hampir seluruh kepalanya, rambutnya sudah dibotaki dan tangan serta kakinya digips.
"Kasihan sekali Axel yah Mbak, sekecil itu sudah harus menjalani beberapa kali operasi" ucap sedih Mbak Wati.
"Ini semua gara-gara keteledoran kita yang tidak sanggup menjaga nya dengan baik" ucap sesal mbak Marni lalu mereka saling berpelukan.
Sedangkan pak Mark prin Atmadja entah apa yang terjadi dengannya setiap kali dirinya melihat wajah Amairah pasti ada desiran aneh yang muncul dari dalam hatinya dan setiap kali Amairah tersenyum Pak Mark akan melihat wajah putrinya Mia Horne yang sudah lama tidak dia jumpai.
__ADS_1
"Senyumannya itu sangat mirip dengan putriku Mia, ada hubungan apa dengan putriku ibu dari anak kecil yang aku tabrak tadi, dan golongan darah kami cocok dan biasanya orang yang memiliki golongan darah tersebut jarang sekali tidak ada yang memiliki hubungan kekerabatan dan tidak mungkin ini semua karena kebetulan saja, apa aku harus menyelidiki semua ini".
Pak Mark sedari tadi memperhatikan gerak gerik Amairah dan setiap kali melihat wajah ibu dari anak tersebut pasti wajah putrinya kembali terbayang di pelupuk matanya. Pak Mark kemudian menghubungi asisten pribadinya yaitu pak Antonio dan meminta segera menyelidiki secepatnya tentang jati diri Amairah dan memeriksa tes DNA juga.
Sedangkan di depan rumah Amairah ada mobil mewah yang terparkir di sana. Pemilik mobil tersebut turun dari mobilnya dan ingin berjalan ke arah dalam rumah tersebut tapi langkahnya terhenti di sebabkan oleh pintu pagar rumah yang bercat hijau itu terpasang gembok yang cukup besar.
"Ke mana yah mereka, tumben rumah ini kosong di jam segini, apa aku telpon Mbak Wati saja karena kalau Amairah pasti masih di kantornya".
Pak Heri Tan Perkasa kemudian menelpon nomor Mbak Wati tapi hanya operator saja yang menjawabnya.
"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan tinggalkan pesan setelah nada bif berikut".
Pak Heri kembali mencoba menghubungi nomor hpnya Mbak Marni dan tidak butuh lama telponnya terjawab Mbak Marni segera menjawab teleponnya.
"Assalamu alaikum pak Heri" ucap Mbak Marni yang membuat Amairah dan Mbak Wati menolehkan kepalanya ke arahnya.
"Waalaikum salam, oiy kalian ada di mana? Saya ada di depan rumah Amairah saya ingin bertemu dengan Axel Mbak" ucap pak Heri.
"Kami sekarang ada di rumah sakit DA Pak" jawabnya.
"Maksudnya di rumah sakit, emangnya siapa yang sakit?." tanya lagi pak Heri.
"Tolong share ke nomor Saya alamat rumah sakit tersebut, saya akan ke Sana" ucap pak Heri lagi yang kemudian segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Pak Heri begitu paniknya seakan-akan yang mengalami kecelakaan adalah cucu kandungnya sendiri. Pak Heri takut jika terjadi sesuatu kepada Axel dan tidak bisa membayangkan tubuh sekecil itu tertabrak mobil.
Sedangkan di rumah Sakit DA, Pak Mark berjalan ke arah Amairah yang masih setia menunggu perkembangan putranya di depan ruangan ICU karena tidak diperbolehkan terlalu lama di dalam ruangan sehingga Amairah dan yang lainnya menunggu di depan ruangan ICU khusus untuk pasien VVIP. pak Mark tanpa ada angin tanpa hujan tanpa gemuruh petir langsung memeluk tubuh Amairah. Amairah terkejut dan tidak mengerti dengan apa yang diperbuat oleh Pak Mark tapi tubuh dan pikirannya tidak ingin menolak pelukan dari pak, apa yang dirasakan oleh Amairah sama halnya dengan yang dia rasakan saat dulu Kakek angkatnya yang sering memeluk tubuhnya.
Pak Mark pun demikian perasaan Rindu yang selama ini tertahan di dalam dadanya membuncah menjadi satu dan Pak Mark melampiaskan rasa rindunya kepada putrinya lewat Amairah.
"Maafkan kakek Nak, ini semua kesalahan kakek, Kakek sangat menyesal dengan keputusan kakek dulu" ucap pak Mark.
Yang membuat Amairah heran bin bingung dan bukan hanya Amairah yang ikut bingung tapi yang hadir di tempat tersebut ikut heran dengan apa yang mereka lihat dengan ke dua matanya mereka. Amairah membalas pelukan Pak Mark dan menepuk halus punggung oak Mark yang sudah bergetar karena tangisannya yang semakin kencang saja.
"Kakek sangat jahat kepada kalian Nak, gara-gara Kakek Mami kamu harus meninggal tanpa kakek lihat untuk terakhir kalinya, Kakek mengira Kalian akan bisa hidup dengan baik jika kakek mengusir kalian dari rumah, Maafkan kakek" celoteh pak Mark yang sudah tersedu-sedu dan tidak ada lagi wajah garang, tegas dan disiplin seorang pengusaha sukses yang berwibawa dan ditakuti oleh lawan bisnisnya.
Amairah terkejut mendengar penuturan pak Mark, dan kenyataan itu sulit untuk diterima oleh Amairah karena menurutnya itu hal yang mustahil. Amairah kemudian melepas pelukannya pak Mark dan menatap ke arah dalam Mata pak Mark yang ingin mencari kebohongan atau pun keraguan dari apa yang dia dengar tetapi hal itu tidak dia temukan.
Pak Mark mengajak Amairah duduk dan ingin berbicara serius tentang apa maksudnya dari semua perkataannya barusan.
"Ayok kita duduk di Sana, Kakek akan menjelaskan semuanya kepada kamu" ajak pak Mark kepada Amairah.
__ADS_1
Mereka pun sudah duduk, dan pak Mark pun membuka pembicaraannya. Amairah mendengarkan penjelasan pak Mark dengan seksama dan kadang geleng-geleng kepala dan kadang menutup mulutnya tidak percaya.
"Kakek tidak mungkin adalah kakekku, itu tidak mungkin dan pasti bapak telah salah paham saja" ucap Amairah.
"Kalau kamu tidak percaya ini buktinya, hasil tes DNA kamu Axel dengan Kakek" ucap pak Mark yang menyodorkan sebuah map merah ke hadapan Amairah.
Amairah hanya menatap ke arah Map tersebut tanpa ada niatan untuk mengambil atau pun membacanya.
"Kakek mengerti kalau kamu sulit untuk mempercayai semua ini tapi itu lah kebenarannya dan kakek sangat bahagia bisa bertemu dengan kamu" ucap Pak Mark yang ingin memegang tangan Amairah.
Tetapi Amairah langsung menarik tangannya yang tidak ingin bersentuhan dengan orang yang tega membuang putrinya hanya karena keegoisan dan perbedaannya dengan ayah kandungnya. Hanya karena Ayahnya yang seorang supir dan pesuruh saja sehingga mereka harus dipisahkan bahkan mereka harus hidup dengan tidak baik serba kekurangan hingga mamanya meninggal saat dirinya dilahirkan. Amairah pun berdiri lalu bangkit dari duduknya dan perlahan berjalan meninggalkan pak Mark tanpa sepatah kata pun.
"Pasti ada Kesalahan pahaman dibalik semua ini, pasti pak Mark salah paham dan salah mengenal orang dan aku yakin tes DNA itu salah" .
Amairah berjalan lunglai, kakinya bagaikan jelly yang tidak mampu ia gerakkan lagi. Sedangkan pak Mark tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada cucu tunggalnya pak Mark ingin memberikan waktu untuk berfikir sejenak. Pak Mark menatap foto putrinya dan kembali meneteskan air matanya.
"Kesalahan papi sangat besar, pantas saja putrimu tidak ingin mengakui papi kakeknya, Mia cucumu sudah besar dan putrimu sangat cantik dan baik".
Pak Mark menghapus jejak air matanya, sedangkan Antonio hanya berdiri bagaikan patung saja yang hanya bisa menatap dan tidak bisa ikut campur dalam urusan mereka. Amairah tersungkur di depan ruangan Perawatan putranya. Dan menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya.
"Ini tidak mungkin kan Mbak, pasti aku sedang bermimpi, pak Mark pasti berbohong aku tidak mungkin cucunya" ucap Amairah yang terduduk di atas lantai rumah sakit dengan deraian air matanya.
Mbak Marni dan Mbak Wati hanya bisa memeluk tubuh Amairah. Siapa yang tidak shock dihari dimana anaknya sedang dalam keadaan yang kritis dan tiba-tiba kembali mendengar berita dan kenyataan yang sulit untuk diterima akal sehatnya. Pak Mark ingin merangkul tubuh cucunya tapi dia tidak ingin memperkeruh masalah dan memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit tapi tetap mengutus beberapa anak buahnya untuk menjaga cucu dan cicitnya. Dan pak Mark pun memerintahkan kepada tim dokter untuk memberikan perawatan dan fasilitas paling terbaik untuk cicitnya.
Pak Mark pun memerintahkan kepada Antonio tentang siapa ayah biologis cicitnya karena sesuai informasi dan data yang dia terima dan dapatkan kalau cucunya hamil bukan karena suaminya sendiri tapi dari pria lain.
Beberapa saat kemudian, Pak Heri datang dan tampak di wajahnya ada semburat kekhawatiran dan ketakutan dengan keadaan Axel. Pak Heri melihat Amairah yang terduduk di lantai dan bingung dengan apa yang terjadi. pak Heri kemudian mendekati Amairah dan merangkulnya agar segera berdiri.
"Ayok bangun nak, jangan seperti ini, jangan putus asa insya Allah Axel akan segera sembuh dari penyakitnya" ucap pak Heri yang menganggap Amairah terduduk di lantai karena gara-gara khawatir dengan keadaan putranya Axel.
Amairah langsung memeluk tubuh oak Heri dan meluapkan semua gunda gulananya di dalam pelukan isi Heri, ada perasaan lega dan nyaman yang Amairah rasakan bagaikan seorang anak yang mengadu kepada Ayahnya. Amairah kembali tidak percaya dengan apa yang dirasakan oleh hatinya. Pak Heri pun demikian yang tak segan untuk berusaha menenangkan Amairah dan memberikan rasa aman dan nyaman disaat Amairah sedang kalut dengan keadaan putra semata wayangnya. Pa Heri kedatangannya bagaikan sang penyelamat untuk Amairah. Bahkan oak Heri menunda keberangkatannya ke Inggris untuk menghadiri acara pertunangan keponakannya sendiri hanya untuk Amairah dan Axel yang menurutnya pak Heri tidak hubungan darah apa pun. Darah lebih kental dari pada Air, ikatan bathin yang tercipta diantara mereka tanpa ada yang menyadari satu sama lain.
...********Bersambung********...
Maafkan Fania yang tidak bisa on gc dlu soalnya aku lagi sakit dan untuk update saja butuh waktu lama untuk selesai ngetiknya 🤧🙏.
Makasih banyak untuk semua Readers yang telah memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, 17 April 2022
__ADS_1