
Selamat Membaca..
Niat hati hanya ingin mengunjungi makam ke Dua orang tuanya dan Kakak iparnya ternyata tanpa terduga Ibu Hernita bertemu juga dengan Kakak kandungnya yang sudah sekian lama mereka berpisah. Hampir dua puluh tiga tahun mereka terpisah jarak dan waktu. Tapi Allah SWT punya skenario yang sangat indah dan mempertemukan ke duanya di tempat dan waktu yang sangat tepat.
Apa pun yang dilakukan dan cara apa pun yang ditempuh jika Allah belum menggariskan dan mentakdirkan Pak Herman ribu Her untuk bertemu pasti mereka akan banyak halangan dan rintangan yang menghadang.
Kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka menyiratkan betapa berartinya hari ini. Hari di mana mereka dipersatukan dan dipertemukan oleh sang Maha adil dan sang maha pencipta. Hernita bahkan sampai detik ini tidak percaya karena dirinya sudah ingin pasrah dengan keadaan. Bahkan Hernita sudah menelpon nomor hp Detektif yang beliau perintahkan untuk mencari keberadaan Saudaranya dan keponakannya agar menghentikan pencarianya.
Kadang hasil yang kita peroleh tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tapi kita sebagai manusia harus tetap terus berusaha dan berikhtiar dan jika usaha yang kita lakukan belum membuahkan hasil maka tetaplah berusaha keras dan tawakal kepada Allah SWT. Tapi ada yang mengatakan hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.
"Gimana kabarnya Kakak, apa Kakak baik-baik saja??." tanya Hernita kepada Kakak sulungnya.
"Alhamdulillah Kakak baik-baik saja dan seperti yang kamu lihat kondisi kakak" jawab Pak Heri.
"Alhamdulillah kalau begitu Kak, Aku sangat senang mendengarnya, oiy gimana kabarnya kakak Herman? apa dia sudah melupakan Aku?? tanya Hernita.
"Kakakmu sekarang tinggal di luar negeri bersama anak dan istrinya, Alhamdulillah kakakmu sudah sukses dan menjadi pengacara yang hebat" ucap Heri yang tersenyum dikala mengingat adiknya Herman waktu sudah lulus menjadi pengacara.
"Alhamdulillah kalau gitu" ucap pak Heri lalu menutup pintu mobilnya karena beliau sudah sampai di rumahnya.
"Ini rumah Kakak?." tanya Hermita kepada kakaknya yang memperhatikan bangunan rumah pak Heri yang ternyata lebih besar dari rumahnya.
"Alhamdulillah ini rumah Kakak, maaf kalau rumah Kakak kecil" ucap Heri kepada adiknya yang tersenyum ke arah Hermita.
"Kecil mana ada rumah sebagus dan semegah ini dikatakan kecil, kakak terlalu merendah" ucap Hermita.
"Ayok masuk dan anggap ini rumah kamu sendiri yah." jelas Heri.
Pak Heri memanggil maid yang bekerja di rumahnya untuk mengantar Hernita untuk segera mengganti pakaiannya.
"Mari ikut saya Bu" ucap Maid tersebut yang berseragam pink soft.
Beberapa Maid yang berpapasan dengan mereka memandang ke arah Ibu Hernita. Mereka menganggap ibu Hernita yang akan menjadi calon Nyonya besar mereka. Hernita yang awalnya juga merasa kalau mereka diperhatikan pun tidak mau ambil pusing dan tetap melenggang ke arah kamarnya.
Hernita pun kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. Setelah pintu terbuka dan masuklah Maid dan dirinya.
"Disini ibu bisa ambil pakaian yang sesuai dengan selera ibu sukai dan yang ingin ibu pakai, semuanya lengkap dan pak Heri sudah mempersiapkan pakaian ini beberapa hari yang lalu" jelas Maid tersebut yang bernama Ratnasari.
__ADS_1
"Apa ni semua untuk Saya??." tanya Her yang bengong setelah melihat isi dalam lemari besar tersebut yang memiliki pintu 5.
Pakaian yang ada di dalam lemari tersebut persis dengan pakaian yang paling disukai oleh Hermita dan modelnya pun sesuai dengan gaya berbusana ibu Hernita. Ibu Her melihat-lihat isi dari lemari tersebut. Ada banyak pakaian dengan warna dan model yang beraneka macam. Dari model dan fashion terkenal dan tentunya dengan harga yang funtastis membuat Hermita kagum dengan pilihan model pakaian kakaknya. Selera fashion pak Heri cukup bagus dan tentunya sesuai dengan perkembangan zaman dan model sar'i. Semua pakaian lengkap dengan hijabnya.
Ibu Hernita tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT atas pertemuannya kembali dengan saudaranya.
"Makasih banyak ya Allah atas semua yang engkau berikan kepadaku dan kepada keluargaku" ucap ibu Hernita setelah mengganti pakaiannya yang sudah basah dan agak kotor dengan pakaian baru.
"Apa kakak sudah menikah kembali dan memiliki anak yah?." tanya Her kepada dirinya sendiri.
Pintu kayu yang bercat cokelat muda itu diketuk oleh seseorang. Ibu Hernita pun langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu untuk membuka kenop pintu tersebut.
"Maaf menganggu aktivitas ibu, oiy pak Heri memanggil ibu untuk makan malam" ucap maid Ratna.
"Makasih banyak Mbak Ratna" jawab Ibu Her.
Mereka pun kembali berjalan ke lantai satu rumah Heri dan menuruni undakan tangga satu persatu. Pak Heri langsung tersenyum ke arah adiknya setelah melihat adiknya.
"Sini temani kakak makan malam" ucap pak Heri yang membuat beberapa maid di sana heran dengan ucapan dan panggilan adik dari pak Heri.
"Makasih banyak kakak" ucap Her sambil mendudukkan tubuhnya ke Kursi Meja makan.
Hernita kaget dengan semua menu makanan yang ada di atas Meja. karena semua makanan itu adalah makanan paling disukai oleh ibu Her dan yang paling membuat Ibu Her tidak bisa menahan tangis harunya Karena krupuk tempe yah selama ini dia suka tersedia di atas meja dan berada di dalam toples yang cantik.
"Jangan cuma kamu pandangi makanannya ayok dimakan." ucap Heri.
"Kakak masih ingat semua makanan yang aku suka?." tanya ibu Her.
"Insya Allah semua yang disukai oleh adikku dan Nona Mia Aku tidak akan mungkin melupakannya" ucap Pak Heri yang menyendok tempe tumis udang pette kesukaan Hernita sejak kecil dan menjadi menu andalan Almarhumah ibunya dulu.
"Makasih banyak kak, anak dan istri Kakak di mana kok mereka gak kelihatan padahal aku sudah lama di rumah kakak loh?." tanya Hermita yang melirik ke arah kiri dan kanan mencari keberadaan istri dan keponakannya.
Pak Heri hanya terdiam dan kembali melanjutkan kunyahan makanannya dan belum berniat ingin menjawab pertanyaan dari adiknya Hernita.
Para maid berpandangan karena selama ini oak Heri cukup tertutup dan tidak pernah mengumbar atau mempublikasikan status nya kehadapan khalayak umum. Pak Heri tidak ingin rumah tangganya menjadi bahan berita dan perbincangan dikalangan masyarakat yang mengenalnya. Apa lagi pak Heri adalah pengacara elit dan dengan bayaran termahal bahkan mengalahkan pengacara yang memakai aksesoris cincin milliaran di jarinya.
"Kok Kakak diam saja, aku ingin berkenalan dengan mereka kok Kak" ucap Hernita.
__ADS_1
Pak Heri kembali terdiam dan akhirnya membuka mulutnya untuk berkata jujur kepada adiknya.
"Aku tidak punya istri apa lagi Anak, Saya tidak pernah berniat sedikit pun untuk menikah lagi walaupun Nona Mia sudah sangat lama meninggalkan kakak" jelas pak Heri.
"Tapi apa kakak tidak pernah merasa kesepian?." tanya Her.
"Sampai kapan pun namanya Nona Mia Masih ada di dalam hati di dalam pikiranku, aku tidak ingin menggantikan posisinya dengan orang lain". jelas dari Pak Heri.
"Maaf kalau aku banyak tanya kak" ucap ibu Her yang menyesali dirinya karena telah menyinggung perasaan kakaknya dengan berbagai pertanyaan yang membuat kakaknya terluka dan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan yang hanya sekedar basa-basi saja.
"Itu tidak apa-apa dek, kalau Kamu ingin bertanya sesuatu silahkan bertanya saja." ucap pak Heri yang tersenyum manis ke arah adiknya.
Mereka melanjutkan perbincangan mereka setelah mereka selesai makan.
"Dan aku tidak ingin membebani Kakak dengan pertanyaan aku tadi kak". ucap Hernita.
"Alhamdulillah aku merasa tidak apa-apa Kok, aku mengerti dengan pertanyaan kamu itu dan jawabanku aku belum bertemu dengan putri kandungku jika putriku menginginkan Aku nikah maka Aku akan menikah lagi" ucap Heri.
"Kakak Maafkan her yang tidak becus menjaga Ayana sehingga Ayana hilang dari pandanganku tetapi aku sudah mencoba mencarinya tetapi hasilnya sampai sekarang masih sama" ucap ibu Hernita.
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa kamu lah yang bersalah dan aku mengerti dengan keadaan kamu waktu itu" ucap Pak Heri sambil memegang tangan adiknya yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Ayok kita sama-sama mencari keberadaan Ayana dan semoga kita cepat menemukan Ayana dan berkumpul dengan putriku" jelas pak Heri.
Mereka pun berbincang-bincang santai sampai larut malam. Seandainya mereka bisa memutar waktu kembali pasti kejadian ini tidak akan kembali teringat.
Bersambung..
typo Mohon dimaklumi 🙏
makasih banyak atas dukungannya 🙏
Tetap dukung novelnya Fania yah ✌️🙏.
by Fania Mikaila AzZahrah.
Makassar, 04 April 2022
__ADS_1