
Selamat Membaca..
Sedih, khawatir, kecewa dan rasa sesal yang sekarang melanda hati dan perasaan Martin. Martin tidak menyangka dan tidak pernah terfikirkan olehnya jika kalau wanita yang paling disayanginya dalam hidupnya harus menderita karena ketidak terbukaannya dan kejujurannya akan kehidupan dan statusnya sebagai seorang pengusaha muda.
Martin duduk di kursi tunggu sambil merenungi nasib istri dan calon anaknya. Martin tidak tahu harus menjawab apa nantinya jika Amairah sudah sadar dari komanya. Setelah bayinya berhasil diselamatkan kondisi Amairah dinyatakan kritis dan koma. Tim dokter pun sudah berusaha untuk memberikan pertolongan yang terbaik untuk Amairah.
Perawat segera membawa putrinya Martin ke ruangan khusus bayi prematur dan memasukkan ke dalam inkubator. Bayi tersebut nampak sangat pucat dan lemah. Martin mengikuti langkah perawat tersebut hingga ke ruangan tujuan Perawat.
Martin kembali meneteskan air matanya melihat kondisi dari putri bungsunya.
"Maafkan Daddy sayang, Daddy tidak berniat untuk melukai kalian bahkan membuat kalian menderita, Daddy tidak pernah membayangkan bahwa Mommy kamu akan menderita".
Martin menangis tersedu-sedu di depan inkubator putrinya. Martin sudah seperti orang yang belum mandi selama
satu minggu saja. Martin tidak hentinya menangisi kondisi Istri dan anaknya.
"Maaf Nyonya besar, Istri dari tuan Muda sudah melahirkan, tapi kondisinya sangat menghawatirkan dan salah satu Bayinya harus meninggal dunia".
"Apa yang kamu katakan benar adanya atau hanya sekedar prank saja?".
"Kami tidak mungkin berani menipu Nyonya dengan perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dan sekarang tuan Muda sudah seperti orang gila yang terus menerus menangis karena menyesal perbuatannya selama ini".
"Ya Allah itu tidak mungkin terjadi, pasti dokter salah mendiagnosa tentang kondisi Amairah?".
"Sebaiknya kita langsung ke rumah sakit saja Nyonya untuk memastikan apa itu benar adanya atau hanya prank saja".
"Baik, siapkan mobil, kita akan segera ke rumah sakit dan segera lah telpon pihak rumah Sakit untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk cucu dan cicitku" ucap Nyonya besar dan segera berjalan ke arah parkiran garasi Mobilnya.
__ADS_1
"Perintah segera dilaksanakan" ucap Pria tersebut yang bekerja sebagai penguntit sekaligus orang yang selama ini menjaga Amairah.
"Pasti cucuku terpuruk dalam kesedihan dan penyesalannya, semua ini juga terjadi karena Aku tidak ingin berbicara jujur kepada mereka dan Nenek minta maaf, Nenek tidak bermaksud untuk membuat kalian menderita seperti ini".
Mobil yang mereka pakai sudah terparkir dengan rapi di parkiran khusus mobil pengunjung rumah sakit. Nyonya besar pun berjalan dengan tergesa-gesa Kate semakin khawatir dengan kondisi dan keadaan dari cucu dan cicitnya.
"Ya Allah lindungilah mereka dan panjangkan lah umur mereka, dan Maafkan hamba yang sudah bersalah kepada mereka dan tolonglah jauhkan mereka dari segala marabahaya".
Nenek Masitha tidak hentinya memohon doa kepada Sang Maha kuasa atas segala sesuatu yang telah terjadi dan menimpa keluarganya. Nenek Masitha juga memohon ampun kepada Allah SWT karena telah merahasiakan pernikahan mereka dari khalayak umum dan tidak berkata jujur kepada Amairah tentang siapa Martin dan dirinya sendiri. Tidak ada sedikit pun niat ingin melukai Amairah. Nenek Masitha melihat cucu kesayangannya terduduk di bangku tunggu depan ruangan inkubator putri kecilnya.
Nenek Masitha sangat sedih melihat kondisi Martin Muhamad Al-ayyubi Lee, Nenek Masitha sudah pernah melihat langsung Martin yang terpuruk karena telah dikhianati oleh Nikita Aiman, tapi Nenek Masitha masih bisa bernafas lega karena Martin segera bangkit dan berjuang untuk melupakan semua kenangan pahit tentang Nikita.
Nenek Masitha mendekati cucunya dan langsung memeluk tubuh Martin.
"Yang sabar yah nak, Nenek yakin putrimu dan istrimu juga akan selamat dan baik-baik saja" ucap Nenek Masitha yang mengelus punggung Martin.
"Ini semua kesalahan Martin Nek, Martin yang tidak jujur di hadapan Amairah, semua ini Kesalahan Martin" tutur Martin diselingi dengan isakan tangisnya.
"Tapi kalau terjadi sesuatu kepada mereka Martin tidak akan bisa hidup lagi Nek, Martin lebih baik ikut bersama mereka" tutur Martin yang sangat takut jika Amairah meninggalkannya.
"Huss jangan berkata seperti itu ingatlah Nak prasangka Allah itu tergantung dari prasangka hambanya, jadi Nenek mohon jauhkan pikiran jelek yang ada di kepalamu, Nenek yakin akan kebesaran Allah kalau mereka pasti akan segera pulih" ucap Nenek Masitha yang masih memeluk tubuh cucu tunggalnya.
Martin masih saja menangis tersedu-sedu dan sangat takut jika apa yang dua pikirkan akan jadi kenyataan.
"Kamu tunggu saja waktunya akan segera tiba, karena kamu akan kehilangan semua orang yang kamu sayangi jadi bersiaplah Martin".
Seseorang yang ada dibalik tembok tersenyum penuh kelicikan dan aura yang sangat kental dengan kebencian terhadap Martin dan keluarganya.
__ADS_1
Pak Heri Tan Perkasa yang mendapat informasi dari anak buahnya yang mengatakan kalau Amairah sedang dirawat di RS dan sedang koma segera bersiap untuk pulang ke tanah air tercinta. Pak Heri sangat menyesal karena disaat putrinya butuh seseorang yang mendampingi dan menjaganya dirinya harus berada jauh dari Amairah.
"Aku juga ikut andil dalam musibah yang dihadapi oleh mereka, Aku juga tidak ada keberanian untuk mengungkapkan kejujuran dihadapan mereka terutama dihadapan Amairah anakku, Maafkan Papa Sayang, Papa tidak bermaksud apa pun sehingga merahasiakan kebenaran ini dari kamu, Papa hanya takut jika Kakek kamu mengetahui jika Aku adalah Ayah kamu dan akan membuat kakek kamu nekat untuk melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap hubunganmu dengan Martin".
Pak Heri tidak habis pikir jika musibah tersebut akan menimpa putrinya dan calon cucunya. Pak Heri pun menangis setelah mendengar kabar kalau Amairah sebenarnya memiliki anak kembar, tetapi salah satu dari mereka ada yang tidak berhasil diselamatkan.
"Aku harus memperketat penjagaan di sekitar mereka, agar Tuan besar tidak bisa berbuat apa-apa kepada mereka".
Pak Heri pun segera mengambil hpnya untuk menghubungi nomor hp anak buahnya. Setelah beberapa saat kemudian, telpon pun tersambung ke nomor hp anak buahnya.
"Ardi perketat penjagaan di sekitar rumah sakit dan ingat jangan sampai ada sesuatu yang terjadi dengan mereka dan apa pun yang kamu anggap mencurigakan segera laporkan kepada saya, satu hal lagi jaga dan awasi terus Axel cucu saya" perintah Pak Heri kepada anak buahnya.
"Baik tuan perintah tuan akan kami laksanakan sesuai dengan perintah Tuan". ucap Ardi selaku kaki tangan dari pak Heri yang selama ini jadi stalker Amairah dan anaknya.
Sedangkan di Rumah sakit, Nenek Masitah semakin bersedih setelah melihat kondisi cucu menantunya dan cicitnya yang belum ada tanda-tanda perkembangan dari kondisi mereka.
"Amairah berjuanglah Nak demi anak-anak kalian dan apa kamu tidak kasihan dengan Martin suami kamu yang sudah seperti orang linglung saja".
Rumah sakit yang ditempati oleh Amairah sekarang sudah menjadi rumah sakit pribadi yang disulap oleh semua anak buahnya Pak Heri yang menempatkan anak buahnya Du setiap sudut penjuru Rumah sakit. Bahkan setiap ada yang mencurigakan mereka akan mengamankan orang tersebut ke suatu ruangan khusus dan akan dimintai keterangan lebih lanjut.
...********Bersambung********...
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus 🙏🥰.
Tak terasa kita sudah berada di penghujung bulan suci Ramadhan. Semoga di tahun depan Kita masih bisa bersua dengan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan magfirah ini.
Amin ya rabbal alamin 🤲🤲.
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, 01 Mei 2022