
Selamat Membaca..
Tangis Amairah tidak berhenti hingga Pak penghulu dan Pegawai KUA setempat juga sudah turut hadir di dalam kamar Hotel Martin yang sudah disulap menjadi tempat acara akad nikah walaupun hanya sederhana.
Martin segera menelpon sahabat sekaligus asistennya untuk segera datang dan membawa mas kawin yang diminta oleh pak Ahmad bapak yang pakai kumis sedari tadi. Dan gaun pengantin untuk Amairah dan pakaian untuk dirinya yang akan mereka pakai pas ijab qobul.
Dion segera meluncur dari apartemennya dan mencari apa yang diperintahkan oleh bosnya. Dion segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas mencari toko dan butik yang terbuka hari itu yang baru jam 5 subuh. Dion mendatangi toko perhiasan langganannya.
Dion kaget karena biasanya paling cepat toko itu terbuka jam 8 pagi dan satu-satunya toko yang buka hari itu juga. Setelah menemukan perhiasan yang dibutuhkan sesuai arahan Atasannya, Dion segera menjalankan kembali mobilnya ke butik Andreas dan butik tersebut pun sudah buka Dion meminta bantuan kepada pegawai Butik untuk memilih seoasang pakaian yaitu gaun pengantin untuk Amairah dan jas untuk Martin.
Pegawai Butik memilihkan gaun yang bagus dan mahal tentunya. Dion pun meraih paper bag dari atas meja kasir dan bergegas ke Hotel tempat pelaksanaan acara akad nikah Martin.
"Mbak Aku harus gimana?." ucap Amairah dengan tangisannya semakin kencang.
"Yang sabar yah Bu, insya Allah ini jalan yang terbaik untuk ibu dan yakinlah ada hikmah dibalik musibah yang menimpa ibu" ucap Mbak Marni yang membalas pelukan Amairah dan mencoba untuk menenangkan Amairah.
"Tapi untuk ke dua kalinya aku menikah tanpa ada orang tuaku yang mendampingiku mbak dan aku tidak menyangka gara-gara perlakuan Adam kepadaku sehingga Aku terjebak dalam pilihan yang sulit" ucap curhatan Amairah kepada Mbak Marni.
"Tetap lah bersabar dan jangan suudzon sama Allah Bu dan yakinlah akan ada pelangi setelah hujan, ke Dua orang tua Mbak pasti Bahagia dengan pernikahan mbak ini" ucap Mbak Marni.
"Bagaimana dengan kedua calon mempelai Apa kah Anda sudah siap untuk Saya Nikahkan??." tanya pak penghulu.
Martin yang sedang melamun tidak menjawab apa pun dan hanya terdiam saja dan masih berperang dengan pikirannya sendiri. Pak penghulu dan yang lainnya saling berpandangan melihat Martin yang sudah seperti patung dan orang yang kerasukan.
Pak kumis segera berjalan ke arah Martin setelah dirinya disenggol oleh bapak yang tubuhnya lebih gendut.
"Pak Martin" ucap Pak Rahman yang langsung menepuk pundak Martin agar segera tersadar dari lamunannya.
"eeeehh ada apa pak?." tanya Martin yang gagap.
Bapak Rahman hanya menunjuk ke pak penghulu sedangkan pak penghulu tersenyum ke arah Martin.
"Saya siap" ucap Martin yang kembali tidak yakin dengan keputusannya.
"Baiklah kalau begitu ikuti bapak" ucap pak penghulu sambil menjabat tangan kanan Martin.
Martin pun mengikuti arahan dan ucapan pak penghulu sebelum memulai ijab kabul.
"Saya Terima Nikah dan kawinnya Amairah putri dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas satu steel 24 karat, seberat 20 gram dan uang sebesar 84 juta dibayar tunai" ucap Martin dengan lantang dan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana dengan saksi apa kah sah?." tanya oak penghulu dan melihat ke arah semua saksi yang hadir.
"Sah" teriak semua orang yang hadir.
Suara mereka memenuhi kamar hotel yang terbilang mewah dan sangat luas itu. Akhirnya Amairah dan Martin sudah menjadi sepasang kekasih halal bin Sepasang suami istri. Pak penghulu dan yang lainnya pun ikut berdoa dan mengaminkan do'a pak penghulu. Pak Penghulu memberikan wejangan dan nasehat pernikahan. Amairah tidak henti-hentinya membuat menangis. Mbak Marni mengantar Amairah ke depan penghulu dan suaminya yang baru.
"Tolong pasangkan perhiasan ini ke istrimu" perintah pak Ridwan selaku penghulu yang menikahkan keduanya.
Martin pun segera mengambil kotak perhiasan dari tangann pak Penghulu dan langsung memasangkan cincin, gelang dan kalung ke tubuh Amairah sedangkan antingnya disimpan karena Amairah memakai anting.
Amairah langsung mengambil tangan suaminya lalu menciumnya. Martin pun refleks mencium dahi Amairah tanpa perintah dari siapapun membuat semua orang tersenyum bahagia melihat mereka.
__ADS_1
"Ini buku nikah kalian berdua" ucap Pak Jaya selaku pegawai KUA.
"Makasih oak" ucap Amairah.
Bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir langsung berhambur ke arah Martin dan Amairah untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka.
"Kalau begitu kami pamit undur diri, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek" ucap Pak Rahman.
"Semoga Pernikahannya cepat diberikan momongan" ucap ibu Tia yang memakai hijab besar yang tersenyum penuh arti.
"Moga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, Amin" ucap pak Leo yang membawa Amplop.
"Selamat bro, kamu sekarang sudah menjadi suami sekaligus Ayah" ucap Dion yang tersenyum.
Sedangkan Martin yang banjir ucapan selamat dan banyaknya doa untuknya hanya diam dan tersenyum paksa.
Orang-orang yang sempat menggerebek mereka segera keluar dan berkumpul di suatu ruangan khusus yang ada di hotel itu.
"Ini gaji kalian dan saya sangat bangga dengan akting kalian dan berkat kalian Bosku Sangat bahagia" ucap Bapak Leo.
Bapak Leo membagikan amplop cokelat yang berisi uang yang cukup banyak dan cukup mereka bisa habiskan dalam 6 bulan.
"Makasih banyak Bos kalau besok-besok bapak butuh bantuan dari kami cukup telpon kami Saja" ucap oak Rahman.
"Dan ingat jangan beritahu hal ini kepada orang lain apa pun yang terjadi terutama kepada Martin dan Dion dan jika ada diantara kalian yang buka Suara aku akan.."" ucap Pak Leo sambil memegang lehernya seakan-akan orang yang ingin menggorok leher saja.
"Baik Bos ki jamin rahasia ini aman dan nyawa kami jadi taruhannya" ucap Pak kumis.
Pak Leo hanya tertawa terbahak-bahak dan langsung menyuruh mereka pulang.
Pak Leo pun langsung menghubungi nomor seseorang dan menginformasikan kalau semuanya sudah beres dan aman terkendali sesuai rencana awal.
Kamar Hotel..
"Apa keputusanku ini sudah benar, tapi kasihan juga dia jika aku menjadikan dia sebagai alat balas dendam, tapi itu urusan dia kenapa juga setuju dengan persyaratan dan permintaan dari orang-orang" ucap Martin yang terus menatap Amairah.
Sedangkan Amairah hanya menunduk dan tersenyum sedangkan air matanya terus menetes. Untung Make up yang dipakainya make kualitas nomor Wahid yang paling terbaik.
"Ingat pernikahan aku ini jangan sampai Oma tahu atau pun orang lain cukup Orang yang jadi hari ini yang tahu ok" ucap Martin yang membisikkan kata-kata tersebut di telinga Dion dengan mimik wajah yang mengintimidasi Dion.
"Siap Bos" ucap Dion Lagi.
"Dan jangan biarkan Dia tau status dan pekerjaanku rahasiakan semua ini" ucap Martin lagi.
Dion hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu dari hadapan mereka. Beberapa saat kemudian orang-orang sudah meninggalkan kamar Martin dan tinggallah Martin, Amairah dan Mbak Mirna.
"Bu Aku pamit yah takutnya nanti Axel terbangun" ucap Mbak Marni yang mengecilkan suaranya Karena takut Martin terganggu dengan suaranya.
Amairah ingin ikut tapi langsung dicegah oleh Mbak Marni.
"Ibu sudah menikah dengan bapak Martin jadi ibu tetap di sini, biar aku yang mengurus Axel" ucap Mbak Marni di depan pintu.
__ADS_1
Sedangkan Martin berada di dalam kamar mandi karena ingin bersiap ke kantornya. Amairah masih belum bisa percaya dengan apa yang terjadi di dalam hidupnya hari ini. Semua kejadian ini bagaikan rollcoster yang begitu cepat terjadi tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
"Ya Allah kalau ini yang terbaik untuk Aku maka berikanlah kemudahan dan kelancaran dalam menjalaninya, dan semoga aku bisa menjadi istri yang berbakti kepada suamiku, dan Aku berharap pernikahan aku kali ini adalah yang terakhir dalam hidupku" ucap do'a Amairah.
Martin keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk membuat Amairah langsung memalingkan wajahnya karena Malu dan Ini yang pertama dia melihat pria yang bertelanjang dada. Adam yang sudah pernah hidup satu rumah dengannya tapi sekalipun tidak pernah melihat Adam dengan keadaan seperti itu. Bagi Martin ini hal yang biasa karena mereka sudah menikah dan masih wajar.
Air masih mengalir membasahi seluruh tubuhnya dan dari rambutnya pun masih menetes sisa air yang membuat Martin semakin memancarkan aura pengantin baru. Martin semakin Macho, cakep, tampan plus ganteng paket komplit lah.
"Maaf apa kita bisa bicara tapi tolong pakai pakaiannya dulu" ucap Amairah yang menatap ke arah lain saat dirinya berbicara.
Martin heran dengan perempuan itu karena menurutnya apa yang dua pakai sekarang masih wajar dan biasa saja. Dan tanpa banyak protes lagi Martin Langsung mengambil baju kaos oblong yang berlogo po Lo.
"Apa yang ingin kamu katakan? bicara lah". ucap Martin saat sudah duduk dan ranjang king size-nya sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Hari ini aku harus kembali ke kota S karena besok pagi aku harus kembali bekerja dan terakhir hari ini masa cutiku" ucap Amairah.
"Terus?." ucap singkat Martin.
"Aku ingin meminta ijin untuk pulang dan apa kamu ingin ikut bersama kami atau tetap tinggal di Ibu kota Jakarta?" tanya Amairah dengan perasaan yang was-was takut jika Martin tersungging dan marah.
"Maaf aku tidak bisa karena aku sudah lama bekerja di Jakarta jadi kemungkinannya aku akan tinggal dan menetap di kota J saja, dan jika aku ada waktu senggang aku pasti akan pulang dan menjengukmu dan tidak usah takut aku akan memberikan nafkah tiap bulan untukmu" Martin yang seolah-olah tahu maksud dan arah pembicaraan Amairah.
Sedangkan Amairah tidak bermaksud untuk menyinggung masalah nafkah. Hanya ingin meminta ijin toh saja.
"Baiklah kalau begitu Aku balik ke kamarku untuk mengemas barang-barangku" ucap Amairah yang sudah berlalu dari hadapan Martin.
Martin sudah bersiap untuk berangkat kerja dan menelpon Dion untuk menyiapkan makan pagi untuknya karena tidak mungkin Martin balik ke rumah Omanya Pasti akan diberondong dengan berbagai macam pertanyaan.
Sesampainya di Kantor Martin ingin meminta nomor Rekening Amairah tapi ternyata Dia lupa meminta nomor hpnya Amairah.
"Nanti aku tanya kepada resepsionis hotel pasti mereka punya nomor hpnya Amairah" ucap Martin.
Amairah langsung terduduk dan menangis tersedu-sedu di atas ranjangnya. Amairah melupakan segala isi hatinya lewat tangisannya.
"yang sabar yah Bu, Mbak Marni sudah memberitahukan kepada Saya apa yang telah terjadi kepada Ibu dan Maaf kami tidak bisa membantu ibu dan berbuat apa-apa" ucap Mbak Wati yang memeluk tubuh Amairah.
Amairah sudah memutuskan untuk mengurus perceraiannya nanti dengan Adam kalau sudah kembali ke S dan jika ada waktu luang maka Amairah kan ke Jakarta Untuk mengurus perceraiannya dan Amairah sudah sangat membenci sikap dan kelakuan Adam.
Siang harinya Amairah dan rombongannya sudah bertolak dari kota J menuju kota S. Walaupun sudah berstatus istri orang tapi Amairah masih pulang ke kota S seperti awal kedatangannya ke Kota J.
Hidup kadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau pun kita bayangkan. Takdir dari Tuhan lah yang berkuasa untuk mengatur kehidupan setiap insan manusia. Tapi setiap manusia punya jalan hidup yang berbeda-beda.
Amairah sudah bertekad untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri walaupun mereka terpisah jarak dan pernikahan mereka karena atas dasar terpaksa tapi Amairah tidak ingin berbakti kepada suaminya karena terpaksa.
Bersambung..
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus "CYT" dalam bentuk apa pun 🙏.
Maaf jika jempol kadang khilaf dan menciptakan adanya Typo 🤭✌️.
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, 08 April 2022