Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 185. Akhirnya


__ADS_3

Selamat Membaca..


Dennis memukul setirnya sebelum turun dari mobilnya untuk memeriksa keadaan. Tapi, matanya tak berkedip melihat apa yang ditabraknya. Senyumannya langsung terbit dari wajah tampannya.


Bukannya menolong malah hanya tersenyum penuh arti dan maksud yang terselubung.


Suara intrupsi membuat lamunannya buyar seketika itu. Dia langsung bergerak untuk mendatangi perempuan yang hampir saja dia tabrak.


Untung mobil mahal itu remnya sangat paten dan baik. Ia berjalan ke arah perempuan itu, lalu membantunya.


"Sorry, Aku tidak sengaja, maafkan aku yah," ucapnya dengan mempersembahkan senyuman yang terbaik yang dia miliki.


Perempuan yang sedang terduduk di atas aspal, awalnya akan marah dan ngomel-ngomel di depan orang yang menabraknya, tapi hal itu dia urungkan niatnya. Setelah melihat penampakan pria yang berada di balik kemudi.


Dennis tersenyum mempesona di ke dua matanya perempuan itu.


Denis mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu dengan senyuman yang tidak pudar hingga luntur sedikit pun dari wajahnya.


"Ohh tidak apa-apa kok, Aku yang salah di sini bukan Kamu," jawabnya sambil membersihkan pakaiannya yang mungkin ada sebagian debu dan kotoran yang menempel di atas pakaiannya.


Dennis tetap mengulurkan tangannya untuk membantu perempuan tersebut. Dennis bahkan turun tangan membersihkan seluruh pakaian perempuan itu, padahal aslinya Dennis jijik dan risih menyentuh kotoran dalam bentuk apa pun, kecuali yang bagian belakang itu.


Pandangan mata perempuan itu berbinar melihat ke arah Dennis terus. Seakan-akan baru kali ini, dia melihat ada pria yang sangat tampan dan sempurna di penglihatannya.


"Mungkin sebaiknya kita ke Rumah Sakit saja, Saya tidak ingin Anda terluka gara-gara kecerobohanku," jelasnya dengan tatapan menyelidik ke arah perempuan itu berdiri.


"Tidak apa-apa kok, hanya luka kecil saja, ini juga sudah biasa terjadi, jadi santai saja," jawabnya lalu mulai melangkahkan kakinya.


Baru saja beberapa langkah kakinya melangkah, dia hampir terjatuh kembali karena tiba-tiba ada yang bagian tubuhnya yang sakit.


"Aaauuuuhhhhh," keluhnya saat mulai melangkahkan kakinya.


Hampir saja dirinya kembali terjatuh, untungnya tangannya mampu meraih lalu menarik ujung jas Dennis.


Karena tarikannya yang cukup kuat di ujung pakaiannya Dennis, sehingga tubuh Denis terhuyung mengenai tubuh sintal perempuan itu yang membuat mereka terjatuh di atas kap mobil.

__ADS_1


Posisi mereka adalah, Perempuan itu berada di bawahnya Dennis. Sedangkan Denis menindih tubuhnya. Pandangan mata mereka saling bertemu. Debaran jantung perempuan itu terasa hingga ke dada bidang Dennis.


Tangannya yang panjang itu tidak sengaja mendarat di atas benda dan aset terpenting yang dia miliki. Dennis yang baru pertama kali menyentuh benda itu terkejut, tapi reaksinya tangannya masih setia berada di puncak gunung mount Everest.


Adegan yang mereka lakukan berlangsung hingga beberapa menit. Hingga bunyi klakson, dari beberapa mobil yang sudah antri panjang di belakang mobilnya membuatnya harus mengakhiri apa yang mereka lakukan.


Mereka menyudahi saling tatapannya. Dennis tidak hentinya menatap ke arah perempuan itu sedangkan Sang perempuan ikut membalas tatapan tajam dari Dennis.


Wajah perempuan itu memerah menahan rasa malunya, saat menyadari bahwa pria yang berdiri tegak di depannya pria yang pertama menyentuh miliknya.


Dennis segera berjalan ke dalam mobilnya saat hpnya berdering, Dia lalu melihat siapa sosok orang yang menelponnya itu.


Dennis mengerucutkan bibirnya saat melihat nama adiknya yang memanggil.


"Maaf, tadi Aku tidak sengaja," ucapnya setulus hati.


"Heemmm." jawabnya.


"Maaf, Aku harus buru-buru pergi dari sini, kebetulan Bosku ingin memakai mobilnya," ujarnya yang sengaja berbohong kepada perempuan itu.


Dia tidak percaya dan tidak menyangka jika pria yang baru dikenalnya adalah orang yang pertama berhasil memegang miliknya.


"Ternyata dunia ini tak selebar daun kelor."


Mobilnya perlahan meninggalkan jalan yang penuh dengan kenangan. Jalan menuju rencana yang selama ini dia usung akan segera terlaksana, hanya menunggu waktu yang tepat saja.


"Pria itu sangat tampan, aku harus mendapatkannya bagaimana pun caranya, Kamu akan menjadi milikku seorang."


Dennis melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Karena adiknya sudah ngomel-ngomel. Dennis melupakan jika hari ini adalah ada rapat penting yang harus dia hadiri.


Tetapi, pertemuannya dengan seseorang yang tidak terduga membuatnya harus menunda sementara waktu.


Sedangkan di dalam Perusahaan Simatex yang ada di Los Angeles, Delisha mondar mandir tak tentu arah di hadapan Aisyah seperti setrikaan saja.


"Kakak, kemana sih perginya? padahal tadi dia berangkat lebih duluan, apa dia melupakan jika hari ini adalah rapat pemegang saham?"

__ADS_1


Dennis segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hanya butuh beberapa menit saja, Dia sudah sampai di depan Loby Perusahaan yang sudah dipimpinnya selama beberapa tahun itu.


Diusianya yang baru menginjak usia yang ke 18 sudah terjun langsung membantu Kakeknya untuk menangani Perusahaan itu, Tapi, untuk menjadi CEO seutuhnya, dua tahun kemudian barulah puncak tampuk pimpinan berada di dalam genggamannya.


Kemampuan dan keahliannya dalam berbisnis patut diacungi jempol. Dengan berbagai terobosan dan inovasi, dia berhasil membuat Perusahaannya semakin berjaya dan sukses.


Dia masuk ke dalam jajaran CEO termuda dengan sejuta prestasi yang mereka raih. Sikapnya yang tegas, disiplin, garang, dan tidak kenal menyerah adalah pemantik dalam menjalani kesehariannya untuk memajukan perusahaan keluarganya.


Kemampuan yang dimiliki diwariskan oleh kakek dan daddy-nya. Berbeda halnya dengan Axel yang sedikit lebih lembek dan masih bisa dibujuk dengan cara apa pun jika sedang marah. Padahal masa kecilnya Axel yang sangat memprihatikan.


Dennis masuk ke dalam lift khusus untuknya. Dia sangat bahagia karena sudah enam tahun dia menunggu dan mencari apa yang diinginkannya dan hari ini terjawab sudah.


"Aku harus mengurungkan niatku untuk kembali ke Inggris dan terutama ke Indonesia, biarlah Delisha dan Aisyah yang duluan."


Seringai liciknya membuatnya semakin memiliki aura yang menakutkan. Seketika aura di sekitarnya menjadi dingin.


"Rencanaku kali ini harus berhasil," ujarnya lalu mengambil benda pipih yang ada di dalam saku jasnya.


Dia ingin menghubungi seseorang yang sangat dia butuhkan. Dia segera menelpon nomor anak buahnya tersebut.


"Cari perempuan ini, Aku ingin semua informasi tentang perempuan ini sudah ada ditangan ku satu jam dari sekarang."


Dia langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum anak buah kepercayaannya itu membalas perkataannya.


"Aku sangat yakin jika perempuan itu adalah Liora."


Dennis berjalan ke luar dari lift setelah nada Ting berbunyi dari dalam Lift.


"Bersiaplah Liora, Aku akan datang."


Dia tersenyum sangat tipis sehingga senyuman itu tak nampak di mata orang yang berpapasan dengannya.


Para Karyawannya melihat kedatangan orang nomor satu di Perusahaan. Mereka langsung menyingkir dari jalan dan segera menundukkan kepalanya jika mereka berpapasan. Jika mereka tidak bersikap seperti itu, mereka akan dipecat tanpa terhormat.


by Fania Mikaila Azzahrah

__ADS_1


Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 02 Juli 2022


__ADS_2