
Selamat Membaca..
Bryan berdiri dari posisi duduknya setelah dua jam bergelut dengan komputernya. Bryan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Nenek Masitha untuk mencari informasi tentang Alif dan Emaknya.
"Yes berhasil juga," ucapnya yang berdiri dari duduknya dengan wajah yang sumringah.
Nenek Masitha dan yang lainnya mendekati Bryan. Mereka penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi kepada Bryan Regan Adams yang berteriak kegirangan.
"Bryan gimana dengan pencarian mu? apa sudah ada titik terang dari informasi tentang Emaknya Alif?" tanya Nenek Masitha.
"Alhamdulillah ini informasi yang Nenek minta," ucapnya lalu menyodorkan laptopnya ke arah Nenek Masitha.
Nenek Masitha pun mengarahkan layar itu ke hadapannya dan membaca satu persatu informasi itu. Tubuhnya bergetar hebat dan langkah kakinya mundur beberapa langkah ke arah belakang. Beliau pun menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang tertulis di dalam layar laptopnya Bryan.
Maya yang melihat Neneknya bersikap aneh segera memeluk tubuh renta itu yang sudah bergetar menahan tangisnya.
"Ada apa Nek? apa yang terjadi sama nenek?" tanya Maya yang kebingungan melihat reaksi dari Neneknya.
Dion dan Bryan seperti itu, bukannya bahagia dengan info itu malahan shock dan air matanya sedari tadi perlahan menetes membasahi pipinya itu.
"Ini tidak mungkin pasti ada kekeliruan dan kesalahan dalam informasi tersebut?" tanyanya yang saking tidak percayanya dengan tulisan itu.
"Ayok kita duduk dulu Nek, terus tenangkan pikiran Nenek terlebih dahulu," ucap Maya yang menuntun Neneknya ke kursi agar bisa duduk tenang dan nyaman.
Maya lalu menyodorkan segelas air putih untuk neneknya.
"Minumlah nek," ucapnya dengan segelas air minum berada di dalam genggamannya.
Nenek Masitha pun segera meraih gelas itu yang disodorkan oleh Maya kehadapannya. Dia pun menyambut gelas itu lalu segera meminumnya hingga isinya tandas tak bersisa setetes pun.
"Makasih sayang," ucapnya wajahnya yang sedikit tenang dari semula.
"Apa yang terjadi dengan nenek, Nenek baik-baik saja kan?" tanya Maya yang tidak pernah melihat neneknya bersifat seperti itu.
Nenek Masitha memandang lekat ke arah Maya, kemudian kembali menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Maya.
"Mas Ahmed tidak lama lagi Kamu akan mendapatkan keadilan, Saya berjanji untuk segera memenuhi itu semua, Kita cukup menderita selama ini dengan kesalah pahaman sehingga Martin dan Amairah sempat terpisah gara-gara hal itu," ujarnya disela isak tangisnya.
__ADS_1
Maya dan Dion saling berpandangan dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Maya menaikkan bahunya tanda tak mengerti.
"Maksudnya Nenek apa? Maya tidak mengerti dengan apa yang nenek katakan," Maya masih memeluk tubuh Neneknya.
"Emaknya Alif ternyata adiknya Nurman yang selama ini Kami cari keberadaannya hingga detik ini, dia adalah saksi kunci atas kematian dari adik kembarnya Tuan Besar Mark Prin yaitu Abraham sekaligus Kakeknya Amairah mbakmu," jelasnya.
Dion dan Maya pernah mendengar kisah pilu di masa lalu Neneknya itu sehingga tahu sedikitpun dan mengerti dengan apa yang telah terjadi.
"Alhamdulillah kalau begitu kita bisa mintai keterangan kepada Emaknya Alif Nek, dan semoga Emaknya Alif tidak keberatan dan suka rela untuk menolong kita," ujarnya Maya dengan wajah yang bahagia dan lega karena dengan ini hubungan Kakak sepupunya bisa segera direstui oleh Kakeknya.
"Nenek berharap semoga sesuai apa yang kita harapkan dan berjalan lancar," harapnya.
"Jadi selanjutnya apa yang kita akan lakukan? kalau menurut Dion sih Nek secepatnya kita harus bertindak untuk menghindari dan meminimalisir kemungkinan besar yang bisa terjadi," ucapnya Dion.
"Betul apa yang dikatakan oleh Dion Nek, menurut pengamatan saya sewaktu diacara syukuran penyambutan Martin dan Amairah wajah Ibu Sumartini sangat aneh," timpal Bryan lagi.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Bryan Nek, Saya sangat setuju dengan usulan dari Bryan jangan sampai Emaknya Alif kabur bagaimana? iya kan," ujarnya Dion.
"Apa sebaiknya info ini kita sampaikan juga kepada Mas Martin Nek atau menurut nenek bagaimana?" tanyanya Maya yang menginginkan hal tersebut diketahui oleh Martin.
"Kalau masalah Martin dan Amairah nantilah baru kita kabari mereka, yang terpenting adalah mendatangi Emaknya Alif segera sebelum terlambat," tuturnya lalu berdiri kemudian berjalan ke arah luar.
"Kita harus segera ke Apartemen Kamu Maya dan bertanya langsung kepadanya," ucapnya dengan berjalan terburu-buru karena takut dan khawatir jika Beliau nekat dan kabur dari sana.
"Baik Nek," jawabnya dengan singkat.
Mereka pun bersiap untuk berangkat ke apartemennya Maya walaupun sudah larut malam, tapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk segera sampai di Apartemennya Maya.
Wajah mereka tampak sangat serius dan berharap kali ini apa yang mereka inginkan bisa berjalan lancar sesuai dengan harapan mereka masing-masing.
Mobil mereka sudah meninggalkan kediaman Nenek Masitha. Mereka berangkat dengan perasaan yang berbeda-beda. Maya khawatir jika Ibu Sumartini berniat nekat lagi dan kabur dari sana.
Maya sudah duduk di samping Dion yang mengemudikan mobilnya sedangkan mobilnya dititip sementara di garasi rumahnya Neneknya.
"*Ya Allah lancarkanlah semuanya, semoga apa yang kami inginkan berjalan lancar sesuai harapan kami."
"Ya Allah syukur Alhamdulillah akhirnya Nurmala sudah berhasil kami temukan setelah lebih 20 tahun kami selalu cari keberadaannya dan ternyata Nurmala dekat dari kami selama ini yang tidak pernah kami sadari keberadaannya*."
__ADS_1
Wajahnya nampak sangat serius, harapannya selama ini yang selalu gagal akhirnya menuai titik terang. Pencariannya yang sudah bertahun-tahun telah hampir mendapatkan hasil yang positif.
Sedangkan di dalam Apartemennya Maya, Emaknya Alif takut jika dia dituduh telah menculik Alif dan menyembunyikan keberadaan Alif selama ini selain itu juga Dia adalah saksi mata atas pembunuhan yang dilakukan oleh Abangnya sendiri terhadap sahabatnya, tetapi kesalahan itu dilimpahkan kepada Ahmed kakeknya Martin.
Dulu dia ingin memberikan kesaksian tapi sebelum berangkat ke pengadilan dirinya diculik dan diasingkan oleh Abangnya sendiri hingga bertahun-tahun lamanya dia diasingkan dan diisolasi dari dunia luar.
Lima tahun lamanya Nurmala dijadikan tahanan oleh kakak kandungnya sendiri. Hingga Istrinya Nurman memutuskan untuk melepaskan Nurmala dan menjadikan Nurmala sebagai pembantunya yang sedikit pun tidak diberikan gaji walau sepeserpun, tapi bagi Nurmala Sari yang penting dirinya bisa bebas seperti dahulu dan bersosialisasi dengan khalayak umum.
Itu hanya impian dan angan-angan Nurmala muda yang hanya tinggal kenangan dan tidak mungkin tercapai. Nurmala tetap bersyukur walaupun dirinya hanya bekerja dan bekerja setiap hari tanpa gaji yang penting dirinya sudah tidak berada di dalam penjara bawah tanah.
"ya Allah apa yang harus Aku lakukan? aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, bagaimana kalau mereka memenjarakan Aku dan memisahkan Aku dengan Alif, aku harus bagaimana lagi Yah Allah, tidak mungkin Aku kabur dari sini lagian gimana caranya kabur dari sini?"
Syukur Alhamdulillah makasih banyak atas dukungannya Kakak Readers all, Maaf Fania tidak bisa sebut satu persatu nama kalian 🥰
Silahkan mampir juga ke Novel recehan ku lainnya yang judulnya:
...1. Sang Penakluk...
...2. Bertahan Dalam Penantian...
...3. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...
Tetap Dukung CYT dengan cara:
...Like Setiap Episodenya 👍...
...Gift Poin atau Koin seikhlasnya 🎁...
...Vote juga yah ✌️...
...Favoritkan untuk selalu dapat Notifikasi Updatenya ♥️...
...Rate bintang lima ⭐⭐⭐⭐...
...******** To Be Continued********...
by Fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Takalar, SulSel, Kamis 16 Juni 2022