Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 183. Kemarahan Denis


__ADS_3

Selamat Membaca..


Aisyah memutar kenop pintu itu ternyata tidak terkunci sehingga mempermudah langkah dan usaha mereka.


Denis dan Aisyah terdiam saat melihat kondisi dari Delisha.


"Tidaakkkkkkkk!!!"


Suara teriakan dari Dennis menggelegar bagaikan petir di siang bolong.


Mereka berlarian ke arah Delisha yang sudah terbaring lemah di atas ranjang dengan tangannya yang penuh darah segar. Kakinya yang berselonjor di atas lantai bagian kanan juga dipenuhi tetesan darah.


"Delisha, hey bangun dek, apa yang terjadi padamu?" Dennis memukul pipi adiknya agar segera tersadar dari pingsannya.


Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya. Dia sangat sedih dan menyesal melihat kondisi adiknya. Di saat kemarin pagi mereka berpisah wajahnya Delisha selalu memancarkan rona bahagia.


"Ayok Del, bangun lah dek, ini Kakak sudah datang," dia terus menggoyang tubuh adiknya yang sudah tidak sadarkan diri lagi.


Aisyah merobek kain seprei untuk mengikat pergelangan tangannya Delisha yang sedari tadi mengeluarkan darah. Aisyah melakukan hal itu agar bertujuan untuk mencegah pendarahan dilukanya Delisha.


"Tuan Muda sebaiknya kita segera bawa Non Delisha dari sini, kondisinya sangat parah," Aisyah berusaha untuk mengingatkan Dennis untuk segera bertindak secepatnya sebelum terlambat.


"Tolong bereskan semua kekacauan yang terjadi di sini dan jangan biarkan masalah ini tercium hingga ke luar," titahnya lalu memasangkan kembali topengnya Delisha.


Dennis memakai masker untuk menutupi wajahnya, untungnya memang wajib kemana pun dengan memakai masker wajah.


Air matanya sesekali menetes, saking sedihnya melihat adik kesayangannya dalam kondisi yang memprihatinkan. Selimut tebal dia tarik untuk melindungi tubuh adiknya.


Dia menggendong tubuh adiknya dan berjalan tergesa-gesa hingga keluar dari Hotel lucknat itu.


"Kaa-kak, to-long De-lisha."


"Iya dek, sabar Kakak sudah datang, kita akan ke Rumah Sakit."


Dennis semakin mempercepat langkahnya hingga ke tempat mobilnya terparkir. Raut wajahnya kadang berubah-ubah dari amarah yang membuncah silih berganti dengan rasa khawatirnya melihat adiknya.


Denis membaringkan tubuh adiknya dengan sangat hati-hati lalu bergegas mengemudikan mobilnya. Hari itu kondisi jalan cukup padat dan ramai sehingga membuat Dennis kesal dengan keadaan tersebut.


"Haaaa!! Kenapa harus macet segala lagi?"


Dennis memukul setir mobilnya hingga berulang kali saking marahnya dengan pengendara lainnya yang tidak tahu aturan.


Dennis sesekali menoleh ke arah adiknya.


"Maafkan Kakak, ini semua gara-gara Kakak yang tidak menjagamu dengan baik."


Klakson mobil saling bersahutan di jalan raya. Mereka sama-sama ingin berjalan lebih cepat dari yang lainnya sehingga menimbulkan kemacetan ditambah lagi adanya kecelakaan lalu lintas yang tidak jauh dari tempatnya berada.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus memutar, kalau seperti ini terus kapan sampainya."


Dennis segera memutar setir mobilnya menuju arah jalan lain. Denis memacu kuda besinya dengan sekuat tenaga. Bahkan sudah seperti pembalap liar saja di atas lintasan.


Aisyah memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan sisa-sisa kekacauan, kemudian dia ke bagian resepsionis hotel untuk bernegosiasi dengan pegawai di sana. Kebetulan yang berjaga sekarang sudah berganti sift sehingga langkahnya sedikit terhambat.


Aisyah sudah mengantongi nama-nama pegawai Hotel yang bekerja di saat pertama kali Delisha datang. Setelah itu, dia berjalan ke ruangan cctv untuk mengecek langsung semua rekaman buktinya.


"Kamu pasti mengenal Saya bukan?" ucapnya saat duduk di hadapan tiga orang yang bertugas sebagai pihak yang mengelola keamanan lewat Cctv.


Aisyah melempar tiga buah amplop ke hadapan mereka. Pegawai tersebut mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Aishah.


Mereka segera bekerja sesuai dengan yang diinginkan oleh Aisyah, tapi apa yang diinginkan oleh Aisyah ternyata tidak berhasil.


Aisyah hanya mendapatkan gambar punggung pria yang berjalan tergesa-gesa menggendong tubuh Delisha hanya itu saja.


"Maafkan Kami Nona, hanya ini yang Kami bisa berikan dan beberapa rekaman selanjutnya sudah terhapus dan tidak lagi selain ini," jelasnya yang menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak sudah diberikan upah yang banyak tapi, tidak bisa membantu banyak.


"Tidak apa-apa," dia memukul pelan pundak salah satunya lalu berjalan ke arah luar.


Salah satu pria itu berlari mengejar Aisyah yang sudah berjalan meninggalkan mereka.


"Nona!!"


Aisyah menolehkan kepalanya ke arah belakang, langkahnya terhenti sesaat menunggu kedatangan pria jangkung yang sudah ngos-ngosan berlari ke arahnya.


"Makasih."


Aisyah segera memasukkan bukti tersebut kedalam saku bajunya.


Siapa yang tidak mengenal Aisyah Akyurek, seorang perempuan yang tangguh dan kuat dan sudah terkenal kebengisannya di dunia bisnis serta kemampuannya mengalahkan lawannya di arena adu kekuatan.


Aisyah meninggalkan Hotel dan bergegas mengejar Dennis.


Hanya butuh beberapa menit saja, mereka sudah sampai di RS tujuan yang terdekat.


Dennis menggendong tubuh adik kembarnya hingga masuk ke dalam ruangan ICU. Dokter segera menangani Delisha.


"Ya Allah selamatkan lah adikku, jangan biarkan sesuatu terjadi padanya,"


Dennis duduk dan menumpukan tangannya di atas ke dua pahanya. Sesekali mengusap wajahnya dengan gusar.


Aisyah berlari ke arah Dennis. Dia memeluk tubuh tuan mudanya yang sudah seperti anak kandungnya sendiri. Sejak bayi ia sudah mengasuh dan merawat Dennis sepenuh hatinya.


Kedekatan mereka seperti seorang Ibu dan anak. Aisyah memeluk tubuh Dennis. Denis tak segan untuk menumpahkan air matanya di dalam pelukan Aisyah.


"Tenanglah Tuan Muda, insya Allah Nona Muda baik-baik saja, yakinlah sama Allah," dia mengelus punggung lebar itu dengan penuh kelembutan walaupun dalam hatinya juga merasakan kekhawatiran akan nasibnya Delisha.

__ADS_1


"Aisyah rahasiakan masalah ini dari siapa pun terutama Kakek dan Daddy dan Mommy, Aku tidak ingin membuat mereka menjadi sedih."


Aisyah menatap sekilas ke arah Dennis dan mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.


Aku yakin ada seorang Pria yang sudah menghancurkan masa depan adikku, Pasti Kamu sudah melihat beberapa bukti yang menunjuk ke arah itu kan? jadi aku tidak ingin membuat Delisha tambah hancur setelah mengetahui kenyataan tersebut."


"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu, aku akan mengikuti dan menjalankan sesuai perintahmu."


"Tapi, apa Kamu sudah mengamankan dan membereskan semua bukti yang ada di Hotel?" wajahnya menyiratkan kecemasan dan ketakutan yang menderanya.


"Kalau masalah itu Alhamdulillah sudah beres Tuan Muda, kalau di Villa sementara anak buahku menjalankan misinya di sana, tapi belum ada laporan apa pun dari mereka," terangnya.


Mereka kembali terdiam dan merenungi segala cobaan yang menerpa kehidupan adiknya. Anak gadis sekaligus cucu tunggal perempuan di dalam keluarganya.


"Suatu nanti jika Aku tahu siapa sosok orang yang melakukan hal ini, aku pastikan hidupnya menderita hingga kematian enggan menjemputnya."


Denis mengepalkan tangannya saking kuatnya, hingga urat-urat tangannya menonjol, ke dua bola matanya memerah hingga jakungnya naik turun.


......................


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin Seihklasnya


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Yuk ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.


Judulnya:



Bertahan Dalam Penantian


Tidak ada Jodoh yang Tertukar



********To Be Continue********


by Fania Mikaila AzZahrah


Takalar, Sulawesi Selatan, Jum'at 01 Juli 2022

__ADS_1


__ADS_2