
Selamat Membaca...
Abi perlahan mendekati Dennis. Dia memegang pundaknya Dennis yang membuat Dia terkejut.
"Kamu!!!!"
Mereka sama-sama saling terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat.
"Kamu kan Dennis putranya Pak Martin Muhammad Al-ayyubi Lee kan?" Tanyanya sembari menjabat tangan Dennis.
"Benar sekali apa yang Bapak katakan, Saya adalah Dennis putra ke duanya Pak Martin," jawabnya.
"Kalau gitu ada hubungan apa dengan anak itu?" Tanyanya yang ingin mengetahui hubungan mereka.
"Dia anaknya adik kembar ku, kebetulan Maminya ke luar negeri," jawabnya sambil mengelus kepala Lee.
"Serius, dia adalah ponakanmu? aku kira Kamu tidak punya adik ternyata, ada" tanyanya yang masih tidak percaya dengan penjelasan dari Dennis.
"Kapan-kapan jalan-jalan ke Rumah Pak supaya tahu dengan anggota keluargaku," balasnya.
"Makasih banyak, insya Allah kalau ada waktu Saya pasti mampir ke rumahnya tapi saya maunya titip masakan buatan Mommy Kamu, katanya masakan Momymu sangat lezat," ujarnya.
"Kalau masalah itu bisa diatur dan masalah gampang saja," terangnya.
Dennis belum mengetahui kalau Abimanyu adalah Pria yang dijodohkan dengan Delisha adik kembarnya, oleh Kakeknya Tuan Besar Mark dan Amelia Horne.
Abi pun tidak tahu jika, Dennis adalah saudara kembarnya Delisha.
Mereka berbincang-bincang sambil menunggui Lee sampai sadar. Percakapan antara dua pria dewasa tidak lain dan tidak lepas dari dunia perusahaan dan bisnis semata.
Beberapa saat kemudian, Lee sudah siuman dari pingsannya.
"Mami," ucapnya dengan nada suara yang sangat lemah.
Dennis segera berdiri dari duduknya, dan berjalan tergesa-gesa ke arah tempat Lee berada.
"Uncle ada di sini sayang," teriaknya karena belum sampai di tempat ranjangnya Lee.
Lee menolehkan kepalanya ke arah Dennis. Dia tersenyum melihat Kakak dari Maminya.
"Uncle Dennis, Mami di mana?" Tanyanya yang mencari keberadaan Felisha.
Dennis memegang tangan Lee seakan menyalurkan perasaan tenang untuk keponakannya.
"Kan tadi pagi, Mami sudah ijin sama Lee, apa Lee lupa sayang?" Tanyanya lagi.
"Hehehe lupa Uncle,"ucap Lee dengan polosnya.
Abimanyu terenyuh melihat senyuman dari Lee. Serasa dia melihat senyuman yang sering dia lihat selama ini, tapi dia lupa mirip dengan siapa senyuman itu.
"Kenapa senyuman dan wajahnya mengingatkan aku dengan seseorang, tapi tidak tahu siapa orangnya."
Abi pun kebingungan untuk mengingat dengan baik. Dia sangat hafal dan kenal dengan senyuman itu tapi,lupa dengan pemilik senyuman itu.
"Uncle, haus," ujarnya lalu menyentuh bagian lehernya.
"Lee haus, tunggu dulu Uncle ambilkan," balasnya.
Baru saja Dennis berdiri ingin mengambil gelas di dalam lemari, tapi langkahnya sedikit lambat sehingga didahului oleh Abimanyu.
"Ini Boys, minumnya pelan-pelan yah," tangannya membantu untuk memegang punggungnya Lee agar lebih leluasa untuk minum.
__ADS_1
Dennis segera mengatur ranjang itu. Dia melihat posisi Lee yang kurang nyaman. Keduanya bagaikan Ayah dan Ibu untuk Lee saat itu.
Lee yang awalnya mencari keberadaan Maminya, berkat mereka berdua, Lee perlahan beradaptasi dan sesaat melupakan sosok kehadiran Delisa.
Sedangkan Delisha yang baru saja sampai di Amerika Serikat, segera menghubungi Abangnya yaitu Axel. Tapi, Abangnya sama sekali tidak mengangkat telponnya.
"Ya Allah Abang di mana kok telponnya enggak di angkat juga, sesibuk itu sampai-sampai tidak bisa angkat telpon," tuturnya yang keheranan melihat telponnya yang tidak terjawab.
"Ada apa Nona Muda?" Tanya Aisyah yang melihat Delisha yang seperti orang yang kebingungan.
"Ini Abang Axel gak tahu kenapa gak angkat telpon ku padahal hpnya aktif, kan ga biasanya gitu," tuturnya dengan memutar-mutar gawainya.
"Mungkin Tuan Muda Axel lagi sibuk Non, jadi enggak sempat angkat," jawabnya.
"May be yes, may be no," ujarnya lalu masuk ke dalam mobilnya.
Aisyah pun duduk di sampingnya Pak supir.
"Jalan Pak," perintah Aisyah setelah sabuk pengaman terpasang di tubuhnya.
Mobil mereka perlahan meninggalkan Bandara. Mobil mereka menuju Istana Tuan Besar Luis.
Aisyah sedikit terlonjak kaget setelah menyadari hpnya yang berdering. Lamunan dan pikirannya buyar sesaat setelah mengetahui ada pesan chat yang masuk ke dalam nomornya.
Pikirannya masih gamang, dia tidak habis fikir dengan sikap Dokter Rizaldi yang tiba-tiba kemarin meminta bertemu dengannya.
Perkataan dari Rizaldi masih terngiang-ngiang di dalam ingatannya.
"Aisyah mau kah kau menjadi istri sekaligus Ibu dari anak-anakku kelak?"
Aisyah tidak menjawab atau pun menolak keinginan dan permintaan dari Rizaldi. Dia langsung meninggalkan tempat pertemuan mereka.
"Aisyah ada apa?" Suara intrupsi dari Delisha membuatnya kembali tersadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa kok Nona," jawabnya.
Raut wajahnya kembali sulit terbaca, Aisyah kembali ke mode cool dan irit bicara. Dia sedang berperang dengan pemikirannya sendiri.
Hpnya kembali bergetar pertanda ada pesan yang masuk. Ia segera meraih hpnya lalu memeriksanya.
Matanya terbelalak dan membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar saat membaca pesan singkat dari Bryan.
Bryan sudah mengetahui siapa Ayah biologisnya Lee, tetapi dia tidak berani mengutarakan penemuannya pada Dennis atau pun orang lain. Menurut Bryan Aisyah adalah orang yang paling tepat.
"Ini tidak mungkin!! Dia kan Pria yang ingin…." gumam Aisyah yang tanpa sengaja di dengar sekilas oleh Delisha walaupun samar-samar.
Delisha memajukan tubuhnya ke arah kursi bagian depan.
"Aisyah, barusan Kamu bilang apa?" Tanyanya.
"Tidak apa-apa kok Nona, hanya kaget melihat berita artis di sosmedku," kilahnya yang jarinya diam-diam menekan tombol aplikasi yang berwarna biru itu.
"Ooh gitu, Kamu yah sedari tadi bikin aku kepo mulu," balasnya yang tersenyum menanggapi tingkahnya Aisyah.
"Maafkan saya Nona, Saya harus kembali berbohong, belum saatnya Nona ketahui semuanya, Kami ingin cari tahu dan memastikan kenapa dulu sampai terjadi hal itu."
Mobil mereka melaju dengan mulus tanpa kendala macet di atas aspal.
Aisyah hanya tersenyum dan memiliki cara tersendiri untuk mengatasi kenyataan itu.
"Ternyata Dunia memang selebar daun kelor, Kamu dicari hampir sepuluh tahun lamanya, ternyata muncul sendiri, ini lah yang dinamakan takdir dari Tuhan, yang sangat berperan dalam menyatukan kalian, Papinya Lee bukan orang biasa, Dia terlahir dari keluarga besar yang berkuasa."
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar perawatan Lee. Dennis terpaksa meninggalkan keponakannya bersama orang asing yang baru dikenal dekat dengannya.
Dia ragu untuk mengutarakan permohonannya, dan apa yang ingin dia sampaikan sedikit mungkin sulit untuk dipenuhi oleh Tuan Abimanyu.
"Heemmm!" Dennis berdehem untuk menetralkan perasaannya.
Lee dan Abi menatapnya heran. Sedangkan yang ditatap malah salah tingkah. Dennis menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari cengengesan.
Dennis berjalan perlahan mendekat ke arah ranjangnya Lee.
"Tuan Abi, Saya sangat meminta maaf ya sebesarnya dan sedalam-dalamnya karena ingin meminta tolong kepada Bapak," tuturnya yang kebingungan mau memulai dari mana arah pembicaraannya.
"Maksudnya Tuan Dennis?" Tatapannya tertuju pada Dennis.
"Begini Pak…" ucapannya terpotong sebelum dia menyelesaikan perkataannya.
"Aku minta sama Kamu, mulai detik ini tolong jangan panggil bapak, Tuan atau pak panggil saja Abi, lagian kita hanya beda delapan tahun sepertinya, aku masih muda tidak setua itu juga untuk terus dipanggil bapak," jelasnya disertai dengan senyuman mahalnya.
Dennis yang melihat langsung senyuman dari Abi terkejut. Dia melihat senyuman itu mirip dengan seseorang.
"Senyumannya itu mengingatkan aku dengan seseorng, tapi yang jadi masalah siapa, tapi sepertinya senyuman itu aku sering melihatnya."
Abi yang melihat Dennis terdiam dan mematung segera berjalan ke arah Denis. Dia kemudian menepuk lengan kanannya Dennis.
"Maaf Kamu tadi mau minta tolong apa Den?"
Abi sudah berdiri tegak di hadapan Dennis.
Dennis merasa tidak enak hati dan hal ini terpaksa dia lakukan mengingat tidak jalan terakhir dan keluar lainnya. Dia segan untuk mengutarakan keinginannya.
"Begini Abang, barusan ada telpon dari sekertarisku yang mengatakan jika ada meeting yang sangat mendadak dan penting, jadi…" ucapannya kembali terpotong.
Dennis merasa baru kali ini dia kesulitan untuk berbicara. Ada rasa segan dan malu di saat berhadapan dengan Abi.
"Lanjutkan saja Dennis, apa yang terjadi," tuturnya.
"Saya ingin menitipkan sebentar Lee sama Abang kebetulan ada rapat penting yang tiba-tiba di Kantor, dan rapatnya tidak bisa Saya tunda atau pun tidak saya hadiri."
Abi tersenyum sebelum menjawab pertanyaan sekaligus permohonan dari Dennis.
"Tidak apa-apa kok, silahkan pergi dan kebetulan juga saya tidak ada kerjaan yang penting," jelasnya yang sedikit berbohong.
Abi terpaksa berbohong padahal dia juga ada janji dengan kliennya yang sangat penting, tetapi entah kenapa dia sangat tidak ingin dan tidak bisa meninggalkan Lee dalam keadaan seperti ini.
Hati kecilnya tergerak dan terpanggil untuk selalu bersama di sampingnya Lee. Ia juga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
"Makasih banyak sebelumnya kalau gitu Abang, Aku pamit dulu," balasnya yang sudah bisa bernafas lega.
Dua pun berjalan mendekati Lee.
"Lee uncle pergi dulu yah sayang, nanti kalau kerjaan Uncle sudah selesai pasti akan ke sini," ujarnya.
Lee menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis ke Dennis.
Dennis tidak ingin ada keluarganya yang tahu jika Lee kecelakaan. Mereka pasti bisa heboh terutama Neneknya. Keadaan Lee juga sudah membaik dan tidak parah sehingga Dia mengurungkan niatnya untuk memberitahukan ke Mommy dan Daddy-nya.
Dennis meninggalkan ruangan tersebut. Lee sekarang cuma berdua dengan Abimanyu di dalam kamar itu. Mereka cepat akrab dan nyambung satu sama lainnya.
Lee sudah bisa perlahan melupakan rasa takutnya yang tiba-tiba tadi teringat dengan saat dia ditabrak berkat kehadiran dan kasih sayang yang dicurahkan oleh Abimanyu untuknya.
...Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus....
__ADS_1
...By Fania Mikaila Azzahrah...
...Takalar, Kamis 07 Juli 2022...