Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 182. Khawatir


__ADS_3

Selamat Membaca..


Prannnnnngggg...


Sebuah gelas yang berada di dekat meja dapur tanpa sengaja tersenggol lengannya. Amairah kaget karena tidak mengira jika gerakannya membuat gelas itu terjatuh hancur lebur di atas lantai keramik.


"Kenapa dengan perasaanku ini, apa yang terjadi pada anak-anakku."


Mbak Marni yang melihat Nyonyanya menjatuhkan segera mendatangi Amairah. Dia tidak lupa memangil maid untuk membantunya membersihkan pecahan beling tersebut.


"Nyonya, apa yang terjadi?" Mbak Marni kebingungan melihat kondisi dari Amairah yang terdiam mematung.


Amairah hanya terdiam tanpa ada reaksi untuk menjawab pertanyaan dari Mbak Marni.


Mbak Marni yang melihat hal tersebut, segera sedikit menggoyangkan tubuhnya Amairah,agar bisa tersadar dari lamunannya.


"Heeemm, eentahlah Mbak, Aku tiba-tiba teringat dengan Delisha," jawabnya yang sangat khawatir dengan keadaan putri tunggalnya itu.


"Bagaimana kalau Nyonya telpon saja,biar Nyonya merasa baikan," Mbak Marni mengelus lengan orang yang selama ini selalu membantunya dalam hal apa pun.


Mbak Marni meraih hpnya Amairah yang ada di atas meja dapur yang letaknya tidak jauh dari mereka.


Amairah menelpon nomornya Delisha, tapi tidak diangkat. Sudah berulang kali dicoba tapi tak diangkat sama sekali.


Kekhawatiran itu terlihat jelas di wajahnya. Ibu mana yang tidak akan cemas jika tiba-tiba ada perasaan aneh yang muncul,lalu sudah berulang kali di hubungi nomor hpnya, tapi hasilnya masih sama juga.


"Ada apa Nyonya?" tanyanya Mbak Marni yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Delisha tidak mengangkat telponnya padahal aktif kok nomornya, nggak biasanya seperti ini?" wajahnya semakin terpancar raut khawatir dan cemas dengan keadaan putrinya.


"Coba nomor hpnya Dennis Nyonya."


Amairah hanya menatap ke arah Mbak Marni. Dia pun mencari nomor kontak hp putranya Dennis. Lalu duduk di kursi depan meja dapurnya.


Hanya butuh waktu yang singkat, sambungan telpon itu terhubung ke nomornya Denis.


Dennis yang berbaring sambil membaca buku yang diberikan oleh kakeknya, melirik ke arah hpnya yang bergetar.


"Mungkin itu Delisha yang menelpon untuk segera dijemput."


Dia mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang menelponnya.


"Mommy?"


"Assalamu alaikum Denis," ucapnya yang sudah sedikit lega karena putranya mengangkat telponnya.


"Waalaikum salam moms, gimana kabarnya Moms?" basa-basi Dennis.


"Alhamdulillah,baik sayang, kok Delisha gak angkat telponnya yah, padahal sedari tadi Moms hubungi tapi, gak diangkat sama sekali,"


Denis refleks bangun dari baringnya karena tidak menyangka jika Mommynya akan bertanya tentang Delisha.


Denis menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, "Sepertinya mungkin sibuk moms jadi tidak sempat mengangkat telponnya mommy," ujarnya kemudian melihat ke arah jam yang ada di hpnya.


Dennis memukul pelan keningnya dan ikut heran karena adiknya sama sekali belum menghubunginya.


"Ooh gitu yah, kalau sudah selesai minta hubungi nomor Mommy yah sayang, bilang saja Mommy kangen sama Delisha."


"Ok Sipp moms."


Tut... Tut...


Sambungan telpon pun terputus, mungkin pengaruh sinyal sehingga mereka terpaksa menutup telponnya tanpa salam penutup.


"Bagaimana Nyonya apa katanya den Dennis?" tanyanya mbak Marni yang penasaran.


"Delisha sibuk jadi gak sempat angkat telponnya," jelasnya


"Insya Allah Non Delisha baik-baik saja, jangan memikirkan hal yang tidak baik Nyonya," tangannya mengelus lengan Amairah yang tertutupi baju.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar pribadinya Dennis.


"Ya Allah ini kan sudah jam 1 siang, kenapa Delisha belum menelpon untuk dijemput?"


Raut wajahnya seketika cemas dan khawatir dengan keadaan adiknya. Ia pun segera menghubungi nomor handphone adiknya. Tapi, sudah banyak kali ditelpon jawabnya hanya tut.. tut.. dan sesekali hanya dijawab oleh operator seluler saja.


Denis tidak menyerah, dia kembali menghubungi nomor hp adiknya lagi tanpa ingin menyerah sedikit pun.


Usahanya berhasil, Delisha mengangkat telponnya.


Delisha yang terus berteriak, mengamuk hingga silih berganti memukuli tubuhnya hingga kepalanya pun tidak terhindar dari amukannya. Rambutnya sesekali dia tarik, wajahnya kadang dia tampar berulang kali.


"Aku sudah kotor, aku tidak suci lagi, apa yang akan aku katakan pada Kakek, Daddy, moms dan Kakak, huhuhuhu," menekuk lututnya lalu memeluk lututnya itu.


Air matanya tidak berhenti semakin deras saja. Kondisi dan keadaannya Delisha sungguh miris dan memprihatinkan.


Hingga dia mendengar hpnya berdering yang hampir lowbet itu. Dia merangkak untuk mencari keberadaan hpnya tersebut. Sakit, perih, ngilu yang dia rasakan tak dihiraukan lagi.


Matanya bercahaya dan berbinar seketika saat melihat di layar hpnya tersebut namanya Dennis yang tertulis di layar benda pipih itu.


"Kakak tolong Delisha!!" teriaknya.


"Del, apa yang terjadi padamu dek?" Dennis dibuat kelimpungan saat mendengar suaranya Delisha yang serak, sesekali sesegukan dan berteriak kencang.


"Kakak huhuhu."


Pranggg...


Hp itu terlempar ke arah tembok hingga hancur tak terbentuk lagi.


"Tidakkkkkkkk!!"


Delisha meraih pakaiannya lalu perlahan dan sangat hati-hati memakaikanya.


"Aaauuuhhh!!"


Kakinya menginjak salah satu pecah beling yang berserakan di lantai.


Denis langsung bangkit, dia sangat yakin terjadi sesuatu yang tidak beres dan tidak baik pada adiknya. Dia kembali mencoba untuk menghubungi nomor handphone Delisha tapi, hanya operator seluler yang menjawabnya.


"Aku harus segera mencari adikku," dia mengutak-atik HPnya.


Untungnya Bryan pernah mengajarkan kepada Dennis tentang ilmu IT yang sangat berguna pada saat sekarang ini.


Keningnya saling bertaut dan sesekali mengerutkan keningnya saking tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya.


"Ini kan Hotel yang cukup jauh dari tempat Villa temannya Delisha, aku harus segera ke sana sebelum terlambat, sebaiknya Aku pergi bersama Aisyah saja."


Pintu kamarnya tertutup dengan suara yang cukup keras. Denis membanting pintunya karena terburu-buru berjalan.


Dia segera mendatangi Aisyah yang kebetulan berada di dalam ruangan pribadi kakeknya. Aisyah terkejut mendengar penuturan dari Denis, tanpa pikir panjang ia mengiyakan untuk ikut bersama Denis.


Mereka sudah berada di dalam mobil. Perjalanan yang mereka tempuh hampir satu jam dari kediaman Utama kakeknya.


"Denis, what happened to non Delisha?"


"I don't even know, but this is definitely a pretty serious problem."


Aisyah menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan penjelasan yang diutarakan oleh Dennis.


"Ayok cepat Dennis, balap saja mobilmu."


Raut wajah mereka semakin dibuat cemas. Mereka tidak menyangka jika Delisha sekarang berada di dalam satu kamar hotel yang sangat elit dan mahal.


Yang jadi pertanyaan di benak mereka, kenapa Delisha bisa berada dan sampai di Hotel tersebut.


Delisha tidak perduli dengan luka baru yang dialaminya dibagian telapak kakinya. Delisha lalu jongkok di depan ranjang yang sudah berantakan itu.


Setangkai bunga mawar merah terinjak oleh kakinya yang berdarah itu.

__ADS_1


Delisha tersenyum licik saat melihat pecahan beling dari pas bunga yang menjadi sasaran empuk dari kemarahannya tadi.


Dengan perlahan tapi, pasti dia mengambil pecah beling tersebut lalu menggores tangannya pas yang kelihatan urat nadinya.


"Aaaaaahhhhhh."


Teriakannya kembali menggema mengisi seluruh kamar VVIP itu. Untung kamar itu dilengkapi dengan peredam suara sehingga apa yang dilakukan sedari tadi olenya tidak ada seorang pun yang tahu. Termasuk pria yang berhasil menikmati dan merenggut kesuciannya.


Pria itu sudah duduk di kursi kebesarannya sambil menyaksikan dan mendengarkan materi yang dibawakan oleh bawahannya serta seluruh direksi dan jajarannya.


Darah segar menetes membasahi pergelangan tangannya hingga gelang cantik yang tersematkan di pergelangan tangannya. Gelang itu berubah menjadi merah.


Darah itu semakin banyak yang keluar hingga tiba-tiba kepalanya pusing, wajahnya pucat pasi. Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga membentur ranjang.


Mobil yang dipakai oleh mereka sudah berada di depan Loby Hotel. Mereka langsung berlari ke arah Lift.


"Delisha ada di lantai 15."


Rasa tidak sabar ingin segera sampai ke lantai tersebut terlihat begitu jelas dari wajah mereka.


Ting...


Pintu lift terbuka mereka kembali berlarian saling berburu waktu. Denis berhenti di depan sebuah Kamar yang sesuai dengan sinyal yang diperoleh dari HP adiknya.


Aisyah memutar kenop pintu itu ternyata tidak terkunci sehingga mempermudah langkah dan usaha mereka.


Denis dan Aisyah terdiam saat melihat kondisi dari Delisha.


"Tidaakkkkkkkk!!!"


Suara teriakan dari Dennis menggelegar bagaikan petir di siang bolong.


......................


Bagi yang baca novel recehan dari othor remahan rengginan ini, TOLONG DENGAN SANGAT Untuk biasakan setelah Membaca Novel Fania biasakan untuk selalu Like, Komentarnya yang bijak agar Fania bisa memperbaiki novel ini untuk ke depannya.


Syukur Alhamdulillah Fania panjatkan kehadirat Allah SWT, karena tanpa ijinnya lah Fania tidak akan bisa menulis naskah novel recehannya Fania.


Fania juga mengucapkan Makasih banyak kepada Readers all yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.


Fania sangat bahagia dan bersyukur walaupun hanya berapa orang yang baca yang penting selalu setia. Munafik Kalau aku bilang gak peduli dengan like you sedikit.


Sedikit curhatan othor yang gak mutu 🤭✌️


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin Seihklasnya


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Yuk ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.


Judulnya:



Bertahan Dalam Penantian


Tidak ada Jodoh yang Tertukar



...********To Be Continue********...


...by Fania Mikaila AzZahrah...

__ADS_1


...Takalar, Sulawesi Selatan, Kamis, 30 Juni 2022...


__ADS_2