Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 86. Keputusan Martin


__ADS_3

Selamat Membaca..


Martin tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Martin kebingungan dengan suasana yang ada di dalam ruangan perawatan Amairah. Awalnya masih belum menyadari jika istrinya sudah tidak ada di ranjangnya, Martin hanya mengira jika Amairah sedang dibawa ke ruangan khusus untuk terapi atau diobati.


Tapi setelah mendengar perkataan dari orang-orang yang berdatangan ke kamar perawatan Amairah akhirnya baru lah dia tersadar dengan apa yang telah menimpa istrinya. Martin kebingungan mencari keberadaan Amairah. Bahkan sudah hampir seperti orang yang tidak waras saja.


"Papa di mana Amairah, kenapa ranjangnya kosong begini?" tanya Martin Kepada Pak Heri di saat dirinya sudah mengetahui kalau Amairah tidak ada lagi di tempatnya.


Pak Heri hanya diam membisu dan tidak tahu harus berbicara apa kepada Martin.


"Semoga Nenek Masitha segera datang agar Dia yang bisa menjelaskan kepada Martin dengan keberadaan Amairah serta apa hubungannya Amairah dengan Orang yang telah menghancurkan keluarga besarnya".


"Maafkan Ayah juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba Amairah menghilang, dan kita tidak bisa melaporkan hal ini kepada pihak berwajib karena tidak adanya bukti yang bisa menguatkan laporan kita dan juga pihak Rumah Sakit sudah memohon agar peristiwa ini tidak diketahui oleh kepolisian dan khalayak ramai" Tutur pak Heri.


"Jadi apa kita hanya bisa berdiam diri saja menunggu kedatangan Amairah, maksudnya begitu??" tanya Martin yang sudah tersulut emosinya.


"Bukan begitu juga, kamu harus tenang dan sabar Papa sudah mengerahkan seluruh anak buah Papa untuk mencari keberadaan Amairah, dan kamu harus ingat Kamu itu masih punya bayi yang harus kamu perhatikan jadi Papa mohon tenangkan diri kamu dan perbanyak do'a agar Amairah baik-baik saja" jelas Pak Heri panjang lebar sambil memegang pundaknya Martin.


Tidak lama kemudian, Anak buah Pak Heri pun masuk, yaitu Roni dengan wajah yang sulit untuk ditebak. Tetapi menyiratkan bahwa ada yang tidak beres yang sudah terjadi. Pak Heri pun menatap ke arah Roni sedangkan yang ditatap langsung mengerti maksud dari tatapan pak Heri.


"Martin, Papa pamit keluar dulu, ada yang ingin Papa kerjakan dan jaga baik-baik putri Kamu" ucap Pak Heri lalu berjalan ke arah pintu.


"Baik Pa, tapi Martin jangan lama-lama, Martin tidak sanggup jika hanya sendiri" ucap Martin yang takut jika dirinya hanya sendiri saja, ada rasa ketakutan yang tiba-tiba menghampirinya.


Martin saja yang kurang peka dengan kondisi dirinya yang punya kekuasaan tetapi tidak memanfaatkan sebaiknya. Martin tidak pernah berfikir jika harus menyewa dan memperkerjakan beberapa orang untuk menjadi body guardnya dikarenakan dengan ancaman dari musuh yang secara tiba-tiba datang. Martin mengira dia tidak pernah memiliki musuh sehingga dirinya tidak pernah berfikiran untuk mencari atau pun membentuk sebuah tim penjaga keamanan dirinya dan juga keluarganya dikarenakan Hidupnya selama ini jauh dari kata kejahatan dan kekerasan fisik, sehingga Martin tidak pernah ingin mencari anak buah.


"Sepertinya Aku harus mencari seseorang yang pantas aku bisa andalkan untuk menjaga keamanan anak-anakku dan mencari keberadaan Amairah, selain menggunakan jasa detektif".


Martin segera merogoh ponselnya dan menghubungkan nomor hp Dion. Kebetulan Dion berada di Inggris karena sedang merencanakan Pernikahannya bersama dengan Maya. Walaupun Maya belum mengetahui jika yang akan menikahinya adalah Dion yang akhir-akhir ini menjadi sosok yang selalu mengisi relung hatinya yang kosong. Sambungan telpon pun tersambung hanya dalam hitungan detik saja.

__ADS_1


"Assalamu alaikum Bos" ucap Dion dari seberang telpon.


"Waalaikum salam Dion, oiya Saya ingin meminta kamu mencarikan Saya seseorng yang bisa bela diri dan bisa diandalkan untuk menjaga keamanan anak-anakku dan diriku, dan aku juga ingin berlatih taekwondo itu pun kalau kamu bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar bisa diandalkan" ucap Martin sambil membuatkan susu formula untuk putrinya.


"Apa Saya tidak salah dengar Bos?" Tanya Dion yang tidak percaya dengan apa yang barusan Martin utarakan. Karena selama ini Dion sering sudah mengatakan hal tersebut di depan Martin, tapi Martin seolah-olah menutup ke dua telinganya dan tidak pernah menggubris lagi perkataan dari Dion.


"Kamu tidak perlu tertawa terbahak-bahak seperti itu, Saya tahu ini semua terlambat saya lakukan, tapi demi keamanan keluarga kecilku saya harus melakukan hal ini secepatnya" ucap Martin.


"Ok bos secepatnya kamu akan mendapatkan seseorang yang pantas untuk pekerjaan tersebut dan Saya sangat yakin dia bisa diandalkan untuk pekerjaan ini, oiya bagaimana dengan kondisi Amairah Bos?". tanya Dion diakhir perkataannya.


Martin hanya terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Dion.


"Bos apa kamu masih di sana,Hallo Martin!!" ucap Dion.


"Iya Aku masih ada, Amairah menghilang di kamar perawatannya, karena itu lah Aku menyuruh kamu mencari seseorang yang bisa aku andalkan untuk menjaga keamanan anak-anakku dan mencari keberadaan Amairah" ucap Martin yang kembali bersedih mengingat kondisi Amairah yang koma karena kesalahannya.


"Kalau gitu tunggu informasinya Bos dalam waktu lima menit, Bos akan mendapatkan orang yang sesuai dengan yang Bos andalkan" ucap Dion yang sudah tahu siapa sosok orang yang pantas untuk dijadikan sebagai body guardnya Martin.


"Oke Saya tunggu secepatnya dan Saya mohon bantu Saya Dion untuk mencari Amairah, Saya tidak sanggup untuk hidup lagi jika terjadi sesuatu kepada Amairah" ucap Martin yang sudah putus asa.


"Saya akan lakukan yang terbaik untuk Bos sesuai kemampuan saya, dan Saya harap kamu bisa kuat dan bersabar demi anak kalian" ucap Dion yang tidak hanya sebagai asisten pribadinya tetapi sekaligus sebagai sahabatnya.


"Makasih banyak Dion" ucap Martin lalu menutup telponnya.


"Semoga Nenek Masitha segera memberitahukan kepada Martin tentang kisah dan sejarah dari keluarga besar mereka yang mengakibatkan Amairah harus menghilang".


Setelah menutup telponnya, Pintu ruangan perawatan Amairah pun terbuka dan masuklah Nenek Masitha yang langsung berjalan ke arah Martin lalu memeluk tubuh cucunya yang sangat kasihan melihat kondisi Martin yang sudah seperti orang yang tidak mandi selama satu minggu.


"Bagaimana kabarmu Nak? Nenek minta maaf karena Nenek tidak bisa menjaga Amairah dengan baik" ucap Nenek Masitha yang sangat menyesali keputusannya untuk ke Luar daerah.

__ADS_1


"Martin yang salah Nek, bukan Nenek Masitha dan bodohnya Martin yang tidak menyadari kepergian Amairah dari sini padahal Martin tertidur di samping Amairah Nek" tutur Martin dengan deraian air Matanya yang sudah kembali membasahi pipinya.


"Kamu harus kuat Nak, dan yakinlah kalau Amairah baik-baik saja dan suatu saat pasti Dia akan kembali ke dalam hidupmu" ucap Nenek Masitha yang sudah mendapatkan informasi siapa orang yang melakukan semua ini dari Pak Heri, tetapi Beliau tidak bisa mengutarakan hal tersebut di depan Martin yang nantinya akan membuat Amairah dan Martin semakin terpisah jauh.


"Makasih banyak Nek, Saya tidak akan bisa melalui semua ini jika kalian tidak mendukung dan bersama Martin untuk menghadapi semua kenyataan ini" ucap Martin yang perlahan menghapus jejak air matanya yang membasahi pipinya.


"Nenek janji suatu saat nanti Akan Nenek katakan semua kebenaran itu dihadapan kamu tetapi bukan sekarang dan nenek berharap kamu bisa menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada".


"Katakan apa yang terjadi dengan penyelidikan kalian?" tanya Pak Heri dihadapan Roni di saat mereka sudah menjauh dari kamar perawatan Amairah.


"Maafkan kami Bos, kami kehilangan jejak dari Nona Amairah setelah ada beberapa orang yang naik mobil mengacau dan menggangu pekerjaan kami, dan banyak anggotaku yang menderita luka parah bahkan ada yang meninggal dunia di dalam penyerangan yang tiba-tiba itu Bos" jelas Roni.


"Kita tidak bisa meremehkan kekuatan Tuan besar lagi kalau begini, informasikan kepada anak buahmu untuk terus mencari keberadaan Amairah putriku apa pun yang terjadi dan berhati-hati lah" ucap Pak Heri yang tidak menyangka jika anak buahnya akan ketahuan kalau mereka membuntuti pergerakan mereka.


"Berikan santunan kepada keluarga korban dan ingat untuk selalu waspada dan berhati-hati lah dalam mengambil keputusan" ucap pak Heri sambil menepuk pundak Roni lalu berjalan ke arah ruangan dokter karena ingin bertanya tentang kondisi cucunya apa kah sudah bisa pulang.


"Hahahaha terus kah kalian saling bermusuhan dan saling mencurigai satu sama lain, Tuan besar Mark tunggulah dan suatu saat nanti kita akan bertemu langsung di saat kamu mengemis di hadapanku demi cicitmu dan di saat itu pula aku akan mengambil semua kekuasaan yang seharusnya sedari dulu menjadi milikku hahahhaah!".


...********Bersambung********...


Makasih banyak Fania tidak akan bosan untuk mengucapkan Makasih Banyak kepada kakak Readers yang telah memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus 🙏🥰.


Fania sangat berterima kasih karena berkat dukungan tulus kalian sehingga Level novel CYT sudah berubah dan semakin tinggi 💪🙏🥰.


Jadi jangan lupa untuk meletakkan jempolnya di Tanda Like, Favorit dan Rate Bintang 5 ✌️.


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Rabu, 4 Mei 2022

__ADS_1


__ADS_2