Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 177. Rencana Awal


__ADS_3

Selamat Membaca..


Di beberapa belahan dunia, diyakini bahwa kucing hitam benar-benar bisa meningkatkan kehidupan cinta Di jepang misalnya, wanita lajang yang memiliki kucing hitam diyakini akan menarik lebih banyak pelamar.


Sedangkan di inggris, kucing hitam adalah hadiah pernikahan yang ideal karena mereka diyakini membawa keberuntungan dan kebahagiaan bagi pengantin wanita.


Kucing hitam tidak hanya dapat memperbaiki kehidupan cinta, tetapi mereka juga dapat meningkatkan keberuntungan dan meningkatkan keuangan secara histories para pelaut membawa kucing ke atas kapal untuk berburu tikus.


Delisha masih kepikiran tentang kucing itu dan teringat dengan perkataan Baby sitter nya dulu Mbak Marni tentang kucing tersebut.


"Ya Allah jauhkanlah Kami dari segala yang tidak baik dan segala marabahaya."


Tidak lama kemudian, mobil mereka sudah memasuki Area Villa. Suasana Villa itu cukup ramai karena sudah banyak yang datang.


"Alhamdulillah sampai juga."


Delisha merentangkan kedua tangannya dan perlahan menghirup udara segar yang berasal dari pinggir pantai.


Malam itu suasana di langit begitu cerah dengan bertaburan bintang-bintang. Sinar rembulan tidak kalah dengan pamor dari bintang. Sang Dewi Malam menyinari dunia dengan sinarnya yang sangat cantik.


"Delisha ini kamar Kamu, yang di ujung sana kamar Vivian dan yang itu kamarnya Cristin," jelas Liora yang menunjukkan satu persatu kamar kepada sahabatnya untuk mereka tempati.


"Makasih Liora."


"You're welcome, no problem, just relax, consider your own Villa," dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.


Mereka sudah berada di dalam kamar masing-masing.


Delisha membuka jendela kamarnya dan matanya terbelalak, mulutnya menganga terkesima melihat suasana malam itu di pinggir pantai.


"Subhanallah, masya allah cantiknya."


Dia mengagumi pemandangan di Luar sana yang begitu indahnya di malam ini.


"Aku juga akan minta sama Kakek Villa yang berdekatan dengan pantai."


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi karena ingin mengganti pakaiannya dan bersiap untuk mengikuti party temannya.


Beberapa menit kemudian, dia sudah selesai dengan kostum dan gaun malam yang sebatas lututnya. Dengan topeng butterfly Valve yang menghiasi wajahnya sehingga menambah aura kecantikannya.


Gaun dan topeng yang dipakainya senada warnanya. Kecantikannya malam itu sungguh membuatnya bak putri Cinderella saja.


"Aku harus menelepon kakak."


Delisha segera merogoh tas selempangnya dan mencari HPnya.


"Ya casnya sisa dikit, apa Aku cas saja terlebih dahulu atau?"


Ketukan pintu membuatnya terkejut dan terlonjak kaget dari duduknya.


"Del, yuk kita ke Party," teriak Vivian.


Delisha berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu.


"Kamu duluan, Aku akan nyusul sebentar lagi," ia hanya membuka daun pintu itu sebagian saja sehingga kepala temannya hanya kelihatan separuh saja.


"Okey, jangan lama yah," Vivian dan Cristin meninggalkan Delisha sendirian.


"Aku harus charge sebentar sebelum ke sana."


Dia ingin mencharge hpnya, tapi ternyata dia lupa membawa alat charger hpnya.


"Aku lupa bawa, pasti gara-gara terlalu terburu-buru jadinya kelupaan.'


Ia menggelengkan kepalanya yang baru kali teledor.

__ADS_1


"Nanti saja Aku pinjam charge Liora setelah acara, gak enak mereka sudah lama menunggu," tuturnya lalu memasukkan hpnya ke dalam tasnya.


Delisha pun berjalan ke arah pintu masuk tempat pelaksanaan pesta tersebut. Delisha dibuat shock, karena kondisi dari pesta tersebut sangat berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam ekspektasinya.


Teman-temannya tidak ada yang mengatakan kalau mereka akan party minuman beralkohol. Dia sedikit pun tidak ingin menyentuh minuman itu.


Delisha memperbaiki penampilannya dan letak topeng yang dipakainya. Walaupun terkejut dengan suasana dalam pesta tersebut, dia memaklumi karena semua temannya hanya dia yang berasal dari Indonesia dengan keyakinan yang berbeda pula.


Malam ini mereka mengadakan pesta topeng. Mereka memakai berbagai kostum pilihan terbaik mereka masing-masing.


Delisha risih dan jijik melihat tingkah laku beberapa temannya yang beradegan mesum di depan matanya. Tapi, tidak memperlihatkan secara gamblang ketidaksukaannya tersebut.


"Astaugfirullah" berulang kali kata itu dia lafaskan.


Delisha segera kabur dari tempat itu, Dia tidak tahan lagi dengan bau dari alkohol yang menyeruak memenuhi seluruh ruangan itu. Ia pun berjalan ke arah pintu keluar.


"Alhamdulillah akhirnya bisa juga menjauh dari sana," dengan mengelus dadanya perlahan saking bahagianya karena terbebas dari party itu.


Tetapi langkahnya tertahan karena tangannya dicekal oleh seseorang. Delisha menatap tajam ke arah pria itu. Wajahnya keheranan bercampur marah.


Orang itu satu pun tidak dikenalnya. Ia berusaha untuk mengenali mereka tapi susah, karena pengcahayaan yang kurang lagian mereka memakai topeng.


"Lepaskan tanganku!!"


Ke tiga Pria itu mengelilingi Delisha. Mereka saling berpandangan dan tersenyum licik satu sama lainnya.


"Kalian siapa? kenapa kalian mencegah langkahku?"


"Cantik tenanglah Kami ini orang baik kok."


"Iya betul sekali jadi Kamu tidak perlu khawatir dengan apa yang akan Kami lakukan Nona manis," ucapnya dengan tangannya yang mulai nakal ingin mencolek pipinya Delisha.


Delisha secepatnya berpaling agar wajahnya tidak tersentuh dan terkontaminasi dengan tangan pria yang tidak dikenalnya.


"Ternyata gadis ini sangat cantik, sayangnya bos melarang kita untuk menyentuh, mencicipi dan menikmatinya walaupun hanya secuil saja."


"Bos hentikan, apa Bos ingin dihukum oleh Nona?" cegah rekannya untuk menyadarkan bosnya yang hampir hilang kendali.


"Tubuhnya terlalu menggoda padahal masih gadis kecil."


Dia menelan air liurnya sendiri yang sudah berusaha menahan hasratnya hanya melihat sepintas bentuk tubuhnya Delisha.


"Bawa dia ke dalam Kamar yang sudah kita persiapkan."


Teriak orang yang dipanggil bos tersebut. Anak buahnya yang dua orang segera membawa Delisa ke suatu tempat. Karena lokasi tempat Delisha yang jauh dari tempat pesta membuat tidak ada yang menyadari Apa yang dilakukan oleh ke tiga pria tersebut.


"Hey!! Kamu mau bawa ke mana Aku?" teriak Delisha berusaha terus meronta ingin meloloskan diri dari orang itu.


"Percuma saja Kamu berteriak, tidak akan ada orang yang mendengar teriakkan Kamu."


"Iya betul jadi tidak usah buang-buang waktu Kamu yang sia-sia saja," timpalnya yang berkepala plontos itu.


"Tolong... tolong.. tolong," teriak Delisha sekuat tenaganya.


"Stop!!? Kamu bisa diam tidak, kalau Kamu tidak diam Kami akan mengasarimu."


Mereka terus berjalan melewati beberapa lorong dan ruangan. Villa milik Liora sungguh sangat besar. Hingga apa yang dilakukan oleh ketiganya tidak ada yang mengetahui dan memperhatikannya.


"Ambil gelas yang berisi jus tadi."


"Baik Bos."


"Ayok Del, pasti Kamu haus kan setelah sedari tadi berteriak," Pria itu mengangkat sebuah gelas yang berisi jus jeruk ke depan matanya Delisha.


Delisha memalingkan wajahnya agar minuman yang diyakininya ada sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


"Kenapa sih sedari tadi Kamu paksa aku untuk minum?" ucapnya yang tetap bersikukuh untuk tidak meminumnya.


"Kalau Kamu tidak mau, Kami akan paksa Kamu," terang orang itu.


"Pegang kedua tangannya," teriaknya.


Orang itu memegang ke dua dagunya Delisha agar mulutnya terbuka. Sedangkan yang satu memegang ke dua tangannya agar tidak leluasa bergerak. Delisha terus menggelengkan kepalanya agar minuman itu tidak masuk ke mulutnya.


"Jangan berharap Kamu bisa lolos dari Kami."


Orang itu terus berusaha untuk memaksanya hingga mulutnya Delisha terbuka karena sudah tidak mampu untuk menahan sakit dari pegangan tangan orang itu di dagunya. Rambutnya ditarik agar kepalanya mendongak ke atas.


"Minum sampai habis."


Mereka tersenyum setelah Delisa berhasil minum jus itu hingga tidak bersisa.


"Akhirnya Kamu minum juga, ikat tangannya lalu bawa ke dalam Kamar yang sudah dipersiapkan oleh Bos."


"Baik," ucap rekannya.


Delisha menggigit tangan orang itu, segera berlari sekuat tenaganya. Ke dua pemuda itu lebih cepat dan kuat sehingga usahanya sia-sia saja. Dia berhasil ditangkap dan segera tangannya diikat, kemudian di bawa ke dalam kamar.


"Telpon Bos secepatnya," ucap rekannya.


Dia pun menelpon Bosnya yang sedari tadi menunggu info mereka.


"Bos, gadis itu sudah berhasil Kami tangkap dan dia sudah berada di dalam kamar itu," ujarnya.


"Oke, cepat bawa Pria hidung belang itu ke dalam kamar itu dan jangan sampai ada yang melihat kalian."


"Oke Bos."


Delisha dilempar ke atas ranjang. Lalu mereka meninggalkan Delisha di dalam Kamar itu.


"Kamu sudah masuk perangkap ku, Aku harus segera menghubungi kakek untuk melanjutkan rencana selanjutnya."


Bonus Visualnya Dennis Ritchie Arfathan



Kalau yang ini visualnya Delisha Annira Elshanu n



Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak.


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Yuk ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.


...Judulnya:...


...1. Bertahan Dalam Penantian...


...2. Tidak ada Jodoh yang Tertukar...


...********To Be Continue********...

__ADS_1


...by Fania Mikaila AzZahrah...


...Takalar, Sulawesi Selatan, Senin, 27 Juni 2022...


__ADS_2