Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 121. Kesedihan Maya


__ADS_3

Selamat Membaca...


Maya menghabiskan waktu istirahatnya hanya menangis tersedu-sedu di dalam kamar hotelnya. Maya tadi siang sebelum masuk ke dalam kamarnya, Maya tidak sengaja melihat sosok perempuan yang mirip dengan Amairah sahabatnya.


Ternyata dugaannya salah besar yang dia lihat adalah wajah orang lain. Bukannya Maya sangat berharap Amairah kembali agar hubungannya dengan Dion segera diresmikan ke tali pernikahan, tetapi Maya berharap sahabat terbaiknya itu berkumpul lagi dengan mereka seperti dahulu.


"Ya Allah pertemukan lah aku segera dengan sahabatku Amairah, Aku sangat merindukan kehadirannya, jaga dan lindungilah kami dari segala marabahaya, dan aku berharap suatu hari nanti Amairah kembali bersama keluarga kami."


Pintu kamar Maya diketuk oleh seseorang, padahal baru saja matanya tertutup dan terlelap menuju alam mimpinya. Ketukan pintu itu semakin lama semakin keras saja dan mau tidak mau Maya Erlene Keysha harus memutuskan kontak dengan mimpi indahnya itu.


"Siapa sih reseh ganggu tidurku, apa dua tidak tahu kalau Aku baru saja terlelap, tolonglah aku masih ingin,,,,"


Ucapan Maya terpotong karena sudah ada sosok pria yang sedari tadi berdiri di depannya yang tersenyum sangat manis. Siapa lagi kalau bukan Dion Aiden Tan Perkasa, calon suaminya sendiri.


Maya langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Maya salah tingkah dibuatnya sedangkan Dion salah fokus dengan pakaian yang dipakai oleh Maya. Maya hanya memakai hot pant dan tentop yang membuat jakung Dion naik turun. Dadanya bergemuruh, nafasnya memburu dan berusaha bertahan untuk tidak tergoda dengan penampilan dan penampakan kemolekan tubuh calon istrinya itu.


Kain dari pakaian yang dipakai oleh Maya sangat lah tipis sehingga semakin memudahkan lekukan tubuhnya yang terbentuk dengan jelas apa lagi dengan jarak pandang yang sangat dekat bahkan hanya berjarak beberapa centimeter saja.


Pandangan mata Dion yang tidak berkedip menatap Maya, membuatnya tersadar dengan pakaian apa yang dipakainya saat itu juga.


Maya refleks menutupi daerah intimnya menggunakan tangannya. Bagian dadanya ditutupi dengan menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menutupi daerah bagian Indonesia tengah.


Maya langsung buru-buru menutup pintunya. wajahnya sudah seperti kepiting rebus yang menahan malu.


"Ya Allah kok sampai lupa kalau aku lagi Di Berlin Jerman, pasti Mas Dion akan menganggap aku cewek murahan."


Maya memukul dahinya tanda tidak menerima dengan keteledorannya itu. Maya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai saking malunya dengan keadaannya tersebut.


"Apa yang terjadi padaku, Maya hanya memakai pakaian seperti itu, tapi sudah mampu membuatku cenat cenut kepala atas bawah nih readers, Tapi, aku suka melihatnya seperti itu, Ya Allah semoga Mbak Amairah segera ditemukan dan kembali berkumpul lagi bersama kami semua."


Maya segera mandi dan sekalian untuk mengganti pakaiannya, karena tadi siang mereka sudah ada janji untuk berjalan-jalan mengelilingi Kota Berlin sebelum besok mereka sudah kembali serius untuk bekerja.


Dion masih berdiri mematung di depan pintu kamar Maya. Pikiran Dion berkelana melanglang buana entah ke mana, tubuhnya ada di Luar Kamar Hotel Maya tapi, pikirannya seakan-akan berada di dalam tepatnya di atas ranjang king size-nya Maya. Dion bahkan sudah bermimpi memanjat ke atas ranjangnya Maya.


Baru ingin mencicipi sedikit madu yang ada di ujung bibirnya Maya, Dion terkejut saat suara Maya yang berhasil menginterupsinya sehingga Dion yang sudah terbang melayang hingga ke langit nirwana harus terjatuh hingga ke dasar terdalam.


"Astaugfirullah, Maafkanlah hambaMu ini yang telah berfikiran tidak sepantasnya."


Berulang kali Dion mengusap wajahnya dengan gusar, Dion harus membuang pikiran kotornya yang bisa membuatnya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


Amairah cepat pulang dong, kasihan Dion yang harus menahan dirinya sedangkan kepalanya sudah cenat cenut hehehe. Semoga Amairah mendengar perkataan othor yah.

__ADS_1


"Hay Mas Dion!!"


Teriakan dari mulut Maya tidak mampu untuk menyadarkan Dion yang terlalu larut dalam penyesalannya yang telah berfikiran negatif.


Andai saja tangan Maya tidak memukul lengan Dion pasti sampai sekarang Dion masih melamun.


"Eeehh ada a-pa May?" tanya Dion yang tergagap karena terkejut dengan pukulan Maya yang cukup keras.


"Gimana apa Kita jadi jalan-jalannya gak?" tanya Maya yang sudah dongkol dengan sikap kebingungan yang ditunjukkan oleh Dion.


"Iya jadilah masa tidak, let's go."


"Go go go keliling Berlin City gaess, gas poll."


Maya dan Dion berjalan beriringan hanya bergandengan tangan tanpa ada drama peluk-pelukan. Seperti itulah kebiasaan mereka jika jalan bareng, karena bagi mereka tunangan itu bukanlah status sah sehingga mereka masih jaga sikap masing-masing.



Mereka memulai perjalanan Brandenburg Gate, Brandenburg Gade adalah sebagai gerbang utama Berlin. Bangunan yang dibangun pada tahun 1800an, bangunan ini menjadi simbol persatuan Berlin Barat dan Berlin Timur yang punya nilai sejarah tinggi.


Banyak turis yang sengaja datang ke ikon Kota Berlin untuk sekedar berfoto dan berkeliling melihat kemegahan gerbang kota. Akan lebih indah jika turis dan pengunjung datang pada sore hari. Sinar matahari terpancar dari sela-sela bangunan lawasnya, terasa lebih syahdu.




Maya menikmati kebersamaan bersama tunangannya. Kafe Anhal menjadi pilihan Maya untuk melepas dahaga dan laparnya.



"Mas kita masuk ke Kafe itu saja yah, Kafenya gak terlalu sepi amat jadi bisa berbaur dengan masyarakat asli Jerman," ucap Maya yang sudah berjalan mendahului Dion.


Mereka tidak perlu memesan tempat terlebih dahulu, karena Kafe tersebut akan ramai pada malam hari, jadi Sore hari cukup lengang.


"Mas tadi siang aku melihat perempuan yang mirip dengan Mbak Amairah," ucap Maya sambil sesekali meminum minumannya.


"A-pa!!, itu tidak mungkin lah Mau," Ucap Dion yang tidak percaya dengan perkataan dari Maya.


Mimik wajah Dion seketika pucat pasi dan tidak menyangka jika Maya melihat Mbak Amairah. Peluh keringat membasahi keningnya hingga ke pipinya.


"Gawat, semoga saja Mbak Amairah tidak bertemu dengan Maya."

__ADS_1


"Kamu kenapa Mas, apa Kamu baik-baik saja?" tanya Maya yang keheranan melihat keadaan Dion yang tiba-tiba pucat seketika.


Maya membantu menyeka keringat di wajahnya Dion dengan tissue yang tersedia di atas meja.


"Mas tidak apa-apa kok, mungkin Mas hanya kepanasan saja, mungkin ac-nya bermasalah sehingga Mas keringatan begini," kilah Dion yang berusaha menutupi perasaan gugupnya.


"Iya nih Mas, kok gerah yah untung mas ada di sini sehingga Maya tidak kepanasan ehhehe," ucap Maya.


"Tapi Mas, Maya yakin kalau itu Mbak Amairah, dan Saya sangat hafal dengan bentuk tubuhnya dan cara jalannya pun sampai detik ini saya sangat hafal Mas, makanya Saya sangat tidak percaya dengan kenyataan yang ada," ucap Maya.


"Mungkin Kamu hanya salah lihat, jadi jangan terlalu dimasukin di hati apa yang Kamu tadi lihat," ucapnya.


"Aku yakin sekali dan sangat kalau itu Amairah sahabatku bukan orang lain," terang Maya dengan meninggikan sedikit suaranya.


"Sayang, mungkin itu pengaruh Kamu yang terlalu merindukan kehadiran Maya, sehingga Kamu sudah tidak bisa membedakan mana Mbak Amairah dengan mana cewek lain," ucap Dion yang berusaha untuk meyakinkan Maya.


"Mas tidak tahu betapa besar rasa rinduku ini padanya Mbak Amairah itu lebih dari sekedar sahabat bagiku, bahkan dia sudah ku anggap Kakak aku sendiri, bahkan disaat aku mendengar kabar kehilangannya Aku sampai drop dan sakit gara-gara berita itu," jelasnya.


"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi di hadapan Maya agar dia mau mengerti bahwa itu bukan Mbak Amairah walaupun kemungkinan besarnya adalah Mbak Amairah sendiri."


Dion memegang ke dua tangan kekasih sekaligus calon istrinya itu.


"Mas, May sudah masuk ke dalam kamar ruangan hotel itu tapi, saya tidak melihat Mbak Amairah malahan perempuan yang Saya anggap Amairah yang ada di dalam ruangan itu."


Air mata Maya sudah menetas membasahi seluruh wajahnya. Kerinduan yang sangat dua rasakan membuatnya terluka dan sedih.


"Kamu sudah melihatnya langsung kalau dia bukanlah Mbak Amairah, jadi apa lagi yang harus diragukan kebenarannya, dan itu sudah membuktikan kalau Perempuan itu bukanlah Mbak Amairah."


"Tapi Maya pasrah jika perempuan itu bukanlah Amairah, dan Saya terus bersimpuh dan berdoa di hadapan Allah SWT agar segera bertemu dengan Mbak Amairah, dan jika saatnya tiba maka Maya akan sangat gembira dan bahagia menyambut kedatangannya kembali bersama kita semua."


Dion menghapus jejak air matanya Maya yang masih setia mengalir membasahi pipinya.


"Ya Allah bukakanlah pintu hatinya Mbak Maya agar segera kembali berkumpul bersama Kami, kasihan Maya kalau harus terus-menerus begini."


Apa yang sebenarnya terjadi yah Raeders, Siapa kah perempuan itu dan apa Dion sudah mengetahui keberadaan dari Amairah dan dari siapa kalau Dion tahu????


Yang penasaran dengan kelanjutan ceritanya yuk terus pantengin kisah mereka yah Readers.


MAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGANNYA DAN YANG TERKHUSUS BAGI YANG SUDAH MAMPIR KE NOVEL RECEHKU 🥰✌️.


Tetap Dukung Cinta Yang Tulus dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan.

__ADS_1


By Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Kamis, 26 Mei 2022


__ADS_2