
Selamat Membaca..
Delisha terdiam mematung mendengarkan secara seksama permintaan sekaligus permohonan dari dua yaitu sangat berjasa dalam hidupnya.
Sudah berulang kali, keluarganya merencanakan perjodohan agar Delisha berniat untuk menikah. Tetapi, berulang kali juga Del selalu menolak dengan berbagai macam alasan.
Mereka hanya bisa pasrah dan tidak bisa memaksa Delisha. Tapi, untuk kali ini mereka sudah sepakat apa pun yang terjadi. Mereka akan mengupayakan pertemuan Delisha dengan calon suaminya kali ini harus berhasil dan sukses. Pertemuan yang digadang-gadang bahwa Delisha pasti tidak akan menolaknya.
Delisha terdiam dan memikirkan perkataan dari Neneknya. Delisha menatap ke arah ke duanya. Dia tidak mungkin mengecewakan mereka untuk kesekian kalinya.
Delisha mengelus punggung tangan Neneknya. Dia tersenyum sebelum menjawab apa akan bersedia atau tidak untuk bertemu dengan pria pilihan Keluarganya.
"Insya Allah Delisha akan menemui Pria itu, Delisha tidak ingin melihat air mata Nenek."
Tangannya menghapus air matanya. Dia tidak ingin mengecewakan dan menambah kesedihan mereka.
"Maafkan nenek yang sudah memaksamu untuk menemuinya," jawabnya dengan sesekali meneteskan air matanya.
"Kakek sangat tahu,apa yang terjadi padamu di masa lalu, tapi yakinlah Nak, kebahagiaan pasti akan datang menghampiri hidupmu," timpal Kakeknya.
Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan.
"Delisa akan mencobanya Kek," jawabnya singkat.
"Sayang, jangan selalu bercermin dengan apa yang terjadi di masa lalumu, yakinlah jika semua pria pun tidak sama," tutur Kakeknya.
"Benar sekali dengan semua yang dikatakan oleh Kakekmu Nak, aku yakin pria yang akan Nenek jodohkan denganmu pasti tidak akan membuat Kamu kecewa," terangnya.
Mereka berbincang hingga sore hari. Kakek dan neneknya pamit karena ada beberapa pertemuan yang mereka lakukan selama ada di Indonesia. Sedangkan putranya memilih untuk tinggal bersama Maminya.
Abimana Aryasatya Bramantya Lee menjadi bahan pertimbangan Delisha tidak berniat sedikit pun untuk membuka hatinya kepada pria lain. Walaupun semua pria yang dijodohkan dengannya, tidak satu pun dari mereka yang menolak kehadiran Putra semata wayangnya.
Sebelum magrib, mereka pulang ke rumah ke dua orang tuanya. Abi sangat bahagia karena, bisa tinggal untuk selamanya di Jakarta bersama Maminya dan keluarganya yang lain.
"Sayang Mami sebentar setelah shalat magrib Mama akan keluar, Kamu bersama Papa dan Mama saja yah," ucap Delisha yang meminta ijin pada anaknya.
"Siap Mi," jawabnya singkat.
Abi lebih suka memanggil ke dua orang tua Maminya dengan sebutan Papa dan Mama dari pada Kakek dan Nenek.
Sejak bayi, kebanyakan waktu bersama Abimana lebih banyak dengan Amairah dan Martin dari pada Delisha tidak Ibunya sendiri. Karena itu lah, dia memanggil Amairah dengan sebutan Mama.
Aisyah melihat interaksi ke duanya meneteskan air matanya, jika harus kembali teringat dengan perjuangan Delisha remaja saat menjadi ibu muda.
"Aisyah minta tolong temani Avi dulu, Saya ada acara di Restoran bersama temannya Kakek," terangnya sambil mendandani dan memoleskan make up minimalis di wajahnya yang sudah nampak cantik dan ayu tanpa memakai make up sekali pun.
"Baik Nona," ucapnya.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya saat naik ke dalam mobilnya.
Delisha tidak ingin diantar oleh supir pribadi yang ditujukan oleh Mommynya. Dia tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain.
"Semoga pertemuanku kali ini bisa aku lewati dengan baik pula, amin ya rabbal alamin."
Mobilnya meluncur dengan bebas di atas aspal malam itu. Dia hanya berniat untuk menjalani perjodohan, apa adanya kalau cocok lanjut saja kalau tidak yah tinggalkan.
Mobilnya sudah memasuki area Restoran tempat perjanjiannya dengan Pria tersebut.
Delisha mencari tempat pria itu. Dia teringat perkataan dari Kakeknya yang mengatakan bahwa pertemuannya di Restoran di Meja nomor XX.
Delisha membuka pintu mobilnya, tapi langkah kakinya terhenti ketika tanpa sengaja gelangnya tersangkut di gaun yang dipakai. Sehingga gelangnya terlepas dan terjatuh.
"Kok bisa nyangkut? padahal sebelumnya tidak pernah sekalipun seperti ini."
Dia keheranan melihat gelangnya yang terlepas tiba-tiba dari pergelangan tangannya. Dia mencari keberadaan gelangnya, tapi tidak berhasil dia dapatkan.
"Ya Allah di mana gelangku yah, padahal tadi ada di ujung gaunku ini?" sudah dia cari keberadaan gelangnya, tapi tidak berhasil menemukannya.
Karena tidak ingin membuat orang itu menunggunya terlalu lama di dalam Restoran sehingga dia tidak melanjutkan untuk mencari gelangnya lagi.
"Mungkin terjatuh di dalam mobil, nanti baru aku cari lagi."
__ADS_1
Dia berjalan perlahan menuju meja xx saat melihat nomor meja tersebut dan sudah duduk seorang pria dengan punggung yang cukup lebar.
Dengan pakaian jas lengkap, rambut yang tertata rapi. Tubuhnya yang atletis menunjukkan bahwa orang itu memiliki penampilan yang hampir sempurna.
Langkahnya semakin melambat saat semakin dekat jaraknya dari meja tersebut.
"Dengan Tuan Abimanyu Adinatha Kim."
Suara intrupsi dari Delisha membuat pria itu berdiri lalu berbalik arah. Wajahnya yang dingin tanpa ada senyuman membuat Delisha sedikit minder.
Ke dua mata mereka saling bertemu, mereka saling bertatapan satu sama lain. Hingga berlangsung beberapa saat.
Mereka sama-sama saling menyelami rasa yang ada. Mereka seperti sama-sama pernah bertemu sebelumnya, tapi di antara mereka tidak ada yang mengetahui di mana.
"Kenapa wajahnya seperti pernah aku lihat sebelumnya."
Mereka memutuskan kontak mata ketika pelayan Resto berada di antara mereka yang ikut berdiri sedari tadi. Tapi mereka, tidak ada yang menyadari kedatangannya.
"Maaf Mbak," ucap Delisha yang tersenyum simpul ke arah Mbak tersebut.
Ke duanya duduk di kursi, lalu mereka membaca buku menu yang disodorkan oleh Pelayan.
"Kami pesan makanan yang paling recommended di sini," ucap keduanya secara bersamaan.
Pelayan menatap mereka bergantian. Pelayan tersebut tersenyum menanggapi kekompakan mereka.
"Kami pesan itu saja," jawabnya singkat.
"Minumnya Nona?" tanya pelayan itu.
"Minumannya yang terbaik bawa ke sini."
Mereka kembali duduk dan kebanyakan terdiam dan hanya saling menatap saja. Wajah mereka sama-sama tidak ada yang bisa menebak apa yang mereka pikirkan.
Hingga makanan sudah tertata dan tersaji di atas meja mereka masih tetap saling berpandangan.
Pelayan tersebut tersenyum manis ke arah Delisha lalu berkata, "sama-sama Nona, kalau ada yang Tuan dan Nona inginkan tinggal panggil Kami saja, Kami selalu siap untuk melayani Tuan dan Nona."
Mereka mulai menyantap makanan itu dalam kediaman mereka. Hanya dentingan sendok, garpu dan pisau makan yang terdengar dari tempat mereka.
Tidak ada yang ingin mengakhiri kebisuan dan ketenangan diantar mereka.
"Hatiku bergetar setiap kali melihat ke dua pasang matanya yang begitu bening sebening embun pagi."
Abimanyu diam-diam memperhatikan Delisha dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Mereka sudah menyelesaikan makan mereka. Hingga Delisha mulai membuka percakapan diantara mereka.
"Maaf Saya adalah cucu dari Kakek Mark Horne Atmadja, Delisha Annira Elshanum," ketika menjabat tangan Abimanyu.
Pertemuan mereka sungguh berbeda dengan yang lainnya. Biasanya perkenalan terjadi di awal mereka bertemu, tapi kali ini dengan mereka terjadi pada diakhir pertemuan mereka. Seharusnya sedari tadi saat awal mereka bertemu.
"Heeemm."
Hanya itu tanggapan dari Abimanyu.
"Saya jujur sama Kamu kalau Saya datang ke sini karena saya menghargai Nenek dan Kakek saya, dan satu hal yang perlu Kamu tahu Saya perempuan yang punya banyak kekurangan dan sedikit pun tidak memiliki kelebihan," tuturnya dengan panjang lebar.
Abimanyu hanya menaikkan alisnya sebelah mendengar perkataan dari mulut Delisha.
"Maaf Saya harus pulang karena besok pagi Saya harus kembali bekerja jadi tidak pasti butuh waktu istirahat," ujarnya lalu berdiri dari duduknya.
Pria itu sedikit pun tidak membalas atau menyanggah perkataan dari Delisha. Ia hanya terdiam seribu bahasa tapi memikirkan sesuatu yang ada di hadapannya.
"Assalamu alaikum," salamnya kemudian berlalu dari hadapan Abimanyu.
Abimanyu hanya menatap kepergian Delisha dalam diamnya. Hingga dia melihat ada benda berkilauan yang terjatuh tidak jauh dari Mejanya.
Dua bergegas melangkah untuk memungut benda itu. Baru saja ingin berteriak memanggil Delisha, tapi Delisha sudah jauh melangkah meninggalkan area Restoran itu.
Dia mengangkat gelang itu hingga ke depan matanya lalu menatap tak percaya.
__ADS_1
Kamu mau sembunyi dimana
Aku bisa mengendus baumu
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Biar matahari bohong pada siang
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta kamu
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise
Seribu wajah menggoda aku
Yang ku ingat hanya wajah kamu
janjiku tak pernah main-main
Sekali kamu tetap kamu
Where do you want to hide?
I can smell your smell
Never run from me
Because we promised
Let the sun lie at noon
Pretending not to be hot
No need to torture yourself
Hide existing love
I don't need any language
To reveal I love you
I never rest
To love you according to my promise, promise
A thousand faces tease me
All I remember is your face
I promise never play
Once you're still you
********To Be Continued********
by Fania Mikaila Azzahrah
Takalar,SulSel, Senin, 04 Juli 2022
__ADS_1