
Hari ini adalah jadwal kepulangan Axel dan Liora. Amairah memutuskan untuk membawa Liora bersama mereka. Liora memiliki rumah, tetapi tidak ada lagi Keluarganya yang bisa menjaganya. Awalnya keinginan dan keputusan dari Amairah mendapatkan penolakan dari Nenek Masitha. Tapi Amairah bersikukuh pada pendiriannya terus, dan tidak ingin ditentang oleh siapa pun.
Liora merasa sedih sekaligus bahagia karena mendapatkan perlakuan yang amat baik dari keluarga Ayah biologis putrinya itu. Dia juga sedih dalam waktu yang bersamaan karena merasa malu dan bersalah atas apa yang telah dia lakukan di masa lalu terhadap Delisha. Keluarga besar Lee sudah memaafkan segala khilaf dan kesalahannya Liora, lagian menurut mereka Liora terpaksa melakukan hal itu karena hasutan dari mendiang kakeknya.
Semua anggota keluarga Lee terus memburu dan mencari keberadaan dari Noel Cruz, hingga sudah hampir satu bulan tapi, pencarian belum berhasil.
Liora duduk di gazebo belakang rumah keluarga Lee, dan teringat saat dia berusia 12 tahun. Waktu itu pamannya Noel bersama bibinya mengajaknya mudik ke kampung halamannya yang sangat jauh dari Ibu kota.
"Apa jangan-jangan paman ada di sana? Aku harus segera menyampaikan kepada Kakek hal ini," Liora berdiri dan segera berjalan ke arah ruangan khusus milik Tuan Luis jika datang ke kediaman cucunya Amairah.
Liora dengan tidak sabar mengetuk pintu itu hingga Sang pemilik kamar membukanya. Kakek Luis langsung mempersilahkan Liora masuk ke dalam. Liora lalu duduk di depan dengan bibirnya yang tiba-tiba keluh karena salah tingkah dan grogi diliatin oleh banyak orang. Ternyata di dalam ruangan itu ada banyak orang terutama Nenek Masitha yang sampai detik itu juga, masih tidak menyukai kehadirannya.
"Katakan apa yang ingin kamu sampaikan Liora?"tanyanya Tuan Luis.
"Apa tidak sebaiknya kita mencari paman Noel ke kampung halamannya, aku teringat dengan kampung halamannya pamanku yang kemungkinan besar dia bersembunyi di sana," tuturnya dengan sesekali pandangannya lurus ke bawah.
Mereka mengarahkan pandangannya ke arah wajah Liora yang sedang berbicara.
"Bagaimana menurutmu Mark?" Tanya Tuan Luis.
"Segera kita bertindak,feeling aku Dennis ada di sana,"jawabnya.
"Aisyah persiapkan semua kebutuhan dan keperluan yang akan kita bawa, dan sepertinya ini akan lebih sulit dari yang kita bayangkan," terang Tuan Luis.
"Baik," jawabnya Aisyah dengan singkat.
Aisyah dan Nathan segera melaksanakan perintah dari Tuan Besar Luis. Mereka akan bergerombol mendatangi lokasi daerah itu yang cukup jauh dari Ibu kota. Tempat itu berada dekat selat Makassar. Jadi persiapan mereka sangat banyak dan harus matang.
__ADS_1
"Tuan Mark, Martin, Dion kalian tetaplah disini menjaga keamanan keluarga kita, dan yang lainnya ikut bersamaku," ujarnya Tuan Luis.
Liora menatap ke arah Tuan Luis," Apa aku juga boleh ikut kek ke sana?" Tanyanya dengan penuh harap.
"Kamu pasti ikut karena hanya kamu yang tahu jalan kesana," balasnya.
"Alhamdulillah aku ikut, aku pasti akan berusaha untuk menyadarkan paman." Tatapan matanya berbinar seketika.
"Ingat jangan bocorkan info ini kepada anak buah kalian, kalau mereka bertanya bilang saja kita akan bertamasya, karena aku mencurigai ada orang mereka di sekitar kita,"
"Baiklah, kalau gitu kami akan segera bersiap untuk berangkat kek, Abang bawa ajudan Abang yang paling bisa kita andalkan," timpal Delisha.
Sore harinya, mereka sudah berangkat ke Sulawesi Selatan, Kota Makassar. Sesampainya disana mereka akan melakukan penyebrangan menuju pulau yang ada di sekitar selat Makassar.
"Ya Allah… semoga pencarian kami kali ini berhasil, sudah sebulan lebih aku tidak melihat Abang Dennis."
Hanya butuh waktu sekitar kurang lebih dua jam perjalanan melalui laut untuk sampai ke pulau itu. Mereka terkejut melihat betapa indahnya dan ramainya pulau itu. Mereka membagi kelompok kedatangan mereka hingga sepuluh kapal untuk menghindari kecurigaan dari penduduk lokal dan terutama anak buahnya Noel.
Mereka mencari beberapa rumah penginapan yang nantinya mereka akan pakai selama di sana. Liora yang datang ke sana merasa bahagia karena bisa kembali datang ke kampung halaman almarhum Papanya. Dia pun sangat bahagia saat mengetahui jika Ica adalah putri kandungnya yang mereka cari selama ini.
Malam harinya mereka menyusun rencana untuk segera bergerak dan tidak ingin menunggu dan menundanya lagi. Mereka mendapatkan kabar kalau Dennis disekap di sebuah rumah dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Informasi itu berhasil mereka dapatkan dari salah satu warga yang bekerja dengannya.
"Ingat kalian harus melakukan dengan rapi, jangan biarkan membuat masyarakat terganggu," ucap Tuan Luis.
Mereka pun bergerak perlahan-lahan dan saling bergantian untuk mendatangi kediaman Noel. Dan ternyata kedatangan mereka sudah disambut dengan suara tembakan dari beberapa anak buahnya Noel.
"Sepertinya rencana kita ada yang memberikannya," ucap Bryan.
__ADS_1
"Iya, padahal kita sudah sangat rapi dan berhati-hati," timpal Abi.
Tuan Luis dan beberapa polisi tinggal di penginapan untuk berjaga-jaga. Mereka terus memantau perkembangan dari pengepungan mereka.
Mereka mau tidak saling membalas serangan. Mereka saling memperlihatkan kemampuan teknologi dari senjata mereka. Aisyah melihat orang yang selama ini memberikan informasi ternyata anak buahnya Noel.
"Hati-hati jangan sampai kita terjebak," teriak Aisyah lalu segera berlari untuk berlindung di balik pohon dengan sekali menembaki mereka.
Tanpa sepengetahuan mereka, Axel diam-diam mengikuti mereka berangkat ke Selat Makassar. Dia khawatir jika keluarga mereka dalam masalah.
"Hubungi segera Tim B untuk segera datang, mereka cukup banyak," ucap Abi.
Nathan segera menghubungi Tim B agar mereka mendapatkan bantuan. Pertarungan semakin sengit. Tembakan demi tembakan mereka lemparkan. Hingga ada beberapa orang yang langsung berduel dengan tangan kosong.
Abimanyu dan Nathan sudah bergerak masuk ke dalam rumah itu. Mereka pun sudah menghadapi lawan yang cukup sepadan dengan kemampuan mereka. Pukulan dan tendangan mereka lesatkan untuk menjatuhkan lawannya.
"Jangan remehkan kekuatan orang pulau seperti kami," ucap pria itu yang berhasil melesakkan tendangannya ke arah perut Nathan sehingga dia tersungkur ke atas lantai dengan tetesan darah segar mengalir di ujung bibirnya.
Abimanyu yang melihat hal tersebut dengan secepat kilat menumbangkan lawannya dengan tendangan memutar tepat di lehernya lawannya. Senjatanya masih setia berada di dalam genggamannya. Pertarungan yang terjadi malam itu cukup berimbang. Kekuatan lawan cukup sepadan dengan mereka. Hingga pertempuran terjadi hingga sunrise sudah menyinari bumi.
Liora yang ikut dalam Tim B, langsung bergerak cepat ke dalam tempat di mana Dennis disekap. Liora terkejut tidak percaya melihat kondisi dari Dennis yang sudah seperti Mayat hidup saja.
"Abang!!" Teriak Liora ke arah Dennis.
Dennis yang mendengarnya segera mengerjapkan matanya berulang-ulang kali karena merasa dia sedang bermimpi. Senyuman tipis mampu dia perlihatkan kepada Liora.
"Bertahanlah Abang, kita akan segera keluar dari sini, terangnya lalu membuka seluruh pengikat tali yang mengelilingi tubuhnya Dennis.
__ADS_1
Liora berjalan ke arah luar pintu dengan memapah tubuh lemah Dennis. Saking bahagianya bisa bertemu dan menyelamatkan Dennis dia melupakan disekitarnya hingga seseorang yang sedari tadi memperhatikan nya segera meletakkan sebuah timah panas ke arahnya.
Dooorrrr… Dooorrr…