
Selamat Membaca...
Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri yang sholehah.
Cinta hanyalah sebuah kata sampai seseorang datang dan memberinya makna . Cintamu melukiskan gambaran yang indah tentang apa arti cinta yang sebenarnya..
Martin sangat bahagia karena istrinya rela menjaganya dikala dia sakit dan tertidur di sampingnya dengan cara terduduk di kursi sedang kepalanya berada di pinggir ranjangnya.
Matahari telah terbit di sebelah timur, sinarnya yang mampu menghangatkan jiwa-jiwa yang terlelap dalam tidurnya. Matahari bersinar menerangi seluruh isi alam semesta. Cahaya sangat dibutuhkan oleh makhluk bumi.
Amairah perlahan-lahan membuka kelopak matanya, dan mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan sinar cahaya lampu yang masuk ke retina matanya. Amairah melihat ke sekelilingnya dan wajah pertama kali di lihatnya adalah Martin Muhammad Al-ayyubi Lee lah yang masih terlelap dalam tidurnya.
Amairah pun refleks tersenyum saat Amairah menyentuh kening Martin yang sudah tidak panas seperti kemarin.
"Alhamdulillah suhu tubuhnya sudah tidak panas lagi," ucap Amairah lalu melepaskan tangannya dari kepala Martin.
Amairah ingin bangkit dari tidurnya, tapi pergerakannya terganggu dikarenakan ada tangan kekar yang melingkar di atas pinggangnya. Amairah ingin mengangkat dan memindahkan lengannya Martin dari atas perutnya, tapi upaya yang ia lakukan dicegah oleh Martin.
"Mas mohon biarkanlah seperti itu sebentar saja Amai," cegah Martin.
Martin masih memejamkan ke dua matanya dan kembali mendekap tubuh istrinya dan semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Hal tersebut mampu membuat jantung Amairah berdegup lebih kencang dan berdetak tak karuan. Selama masa pernikahannya, Amairah belum pernah diperlakukan seperti ini oleh Martin.
Amairah yang terakhir kalinya ia ingat saat berhubungan intim dengan Martin yang akhirnya melahirkan anak kembar sekaligus anak ke duanya itu, tapi tidak seperti sekarang ini.
Hubungan LDR yang mereka jalani dahulu di awal Pernikahannya membuat Amairah jarang mendapatkan perlakuan istimewa dari Martin.
Wajah Amairah bersemu kemerahan dan deru nafasnya langsung menerpa hidung mancung Martin. Martin yang mendengar degupan jantung Amairah hanya tersenyum dan bahagia karena Martin bersyukur dengan hal tersebut itu sama saja dengan cinta yang dirasakan oleh Amairah masih sama seperti awal mereka menikah.
Martin tanpa aba-aba langsung mendaratkan ciuman di atas kening Amairah. Amairah sekejap langsung menutup ke dua matanya. Seakan-akan sedang meresapi ciuman itu yang tiga tahun belakangan ini dia dambakan.
"Makasih banyak sayang, Mas sangat bahagia karena masih diberi kesempatan dan waktu oleh Tuhan untuk bertemu dengan istriku tercinta," ucap Martin sambil menatap ke dalam bola mata indahnya Amairah.
Amairah yang ditatap sedemikian rupa oleh Martin langsung menundukkan kepalanya dan tersenyum malu-malu. Amairah bagaikan gadis remaja yang baru mengenal apa arti cinta. Mungkin Jarak dan waktu yang memisahkan mereka belakangan ini yang membuat mereka sama-sama memiliki rasa yang seperti seseorang yang baru jatuh cinta.
Martin menyentuh hidung bangir Amairah yang sudah nampak kemerahan itu. Martin pun mencubit kecil hidung mancung itu. Amairah yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam dan tersipu malu malahan semakin menundukkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya. Martin mengangkat tinggi sedikit dagunya Amairah.
"Sayang jangan menundukkan kepalamu, Mas ingin melihat wajah cantikmu, ijinkan Mas menatap wajah ini lebih lama lagi," ucapnya.
Amairah pun mendongakkan wajahnya ke arah wajah Martin. Martin tersenyum sangat manis bahkan mengalahkan manisnya madu dan gula.
Perlahan tapi pasti Martin memajukan wajahnya ke wajah Amairah hingga deru nafas Martin menerpa hidungnya Amairah. Martin semakin menepis jarak mereka. Amairah yang menyadari hal tersebut hanya bisa terdiam dan tanpa dia sadari sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
Martin yang melihat hal tersebut langsung melanjutkan langkahnya untuk mendekatkan ke dua bibir mereka. Martin meminta ijin terlebih dahulu sebelum melakukannya. Martin tidak ingin asal nyosor saja seperti yang semalam sempat di lakukan diam-diam.
"Mas ingin meminta lebih dari sekedar ini," ucap Martin tepat di depan telinga Amairah yang membuat nafas Martin sangat terdengar jelas di pendengarannya itu.
Suara Martin serak karena sudah diselimuti hawa gairah yang sudah tidak tertahankan lagi. Martin menunjuk bibir istrinya. Amairah langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengijinkan Martin untuk berbuat lebih terhadapnya.
Martin pun memulai apa yang dia inginkan. Martin memegang tengkuknya Amairah sedangkan kepalanya dia miringkan sedikit untuk mendapatkan posisi ternyaman dan lebih leluasa lagi.
Martin menji** bibir merah semerah delima itu dengan lidahnya, sedangkan Amairah spontan membuka jalan untuk Martin berbuat lebih di atas bibirnya. Martin tersenyum gembira dan mulailah meluncurkan aksinya.
Martin ******* bibir itu dan bermain di area mulut Amairah sambil memainkan lidahnya. Martin semakin memperdalam ciumannya hingga tanpa disadari tangannya Martin perlahan membuka satu persatu kancing bajunya Amairah.
Nafas keduanya memburu dan ngos-ngosan karena pasokan udara yang masuk ke dalam rongga mulut mereka semakin menipis. Martin sepintas menciumi puncak bibir istrinya.
Amairah menutup matanya di saat Martin berhasil melepas seluruh pakaian yang membungkus tubuh moleknya nan indah itu. Martin tidak berkedip di saat memandang ke dua aset terpenting yang dimiliki oleh Amairah di bagian atas walaupun masih ada kain penutup yang menutupinya, tapi tidak mampu membuat Martin menyurutkan hasratnya. Hasratnya semakin menggebu hingga ke ubun-ubun.
Matanya mengisyaratkan kilatan keinginan yang sudah tak tertahankan lagi. Martin membuka pengait penghalang benda itu. Hingga terpampang jelaslah aset Amairah di mata suaminya. Awalnya Amairah gerak refleks menutupi ke dua gunung mount Everest dengan kedua tangannya, tapi Martin menggelengkan kepalanya sehingga Amairah perlahan menurunkan ke dua tangannya tersebut.
Martin memainkan dan memelintir puncak mount Everest itu dengan jarinya yang membuat Amairah menggelinjang kegelian.
"Mas ge-li aah," ucap Amairah yang kegelian dan tersenyum menutupi rasa geli yang dia rasakan.
Martin tersenyum melihat tingkah Istrinya yang menurutnya lucu. Bukan pengalaman pertama saat ini mereka lakukan, tapi untuk pertama kalinya mereka alami dan lakukan dalam balutan dan ikatan cinta yang tulus tanpa ada embel-embel apa pun dibaliknya.
"Mas aaahh geli," ucapnya sambil menutup sedikit mulutnya sehingga suara itu terdengar sangat seksi di telinga Martin.
"Gak usah ditutup mulutnya sayang, di kamar ini kita hanya berdua saja tidak ada orang selain kita," ucap Martin.
Amairah menganggukkan kepalanya tanda setuju tapi kembali lagi Amairah lebih suka menggigit kecil bibirnya atau menutup mulutnya jika sedang bercumbu dengan suaminya itu. Emang tidak ada orang lain yang bisa mendengarkan mereka, tapi bagi Amairah itu sangat membuat dia risih dan malu.
Setelah merasa puas di daerah ekspansinya di puncak mount Everest Martin perlahan menurunkan tubuhnya hingga sampai ke arah bagian tengah tubuhnya Amairah.
Matanya Martin semakin berkabut gairah setelah berhasil melepaskan benda pengaman segitiga Bermuda tersebut.
"Kamu diam saja dan resapi apa yang Mas lakukan jika ingin mencakar atau menjambak rambut Mas tidak perlu segan atau takut, karena kemungkinannya agak sakit," jelasnya.
Amairah hanya mampu tersenyum malu-malu karena ia tidak menampik apa yang diinginkan oleh tubuhnya sendiri. Bahkan hasratnya sudah mengalahkan logikanya sendiri dengan apa yang dilakukan oleh Martin pada dirinya.
"Ternyata melakukan hal ini dengan dasar kesadaran atas cinta yang tulus mampu membuatku hilang kendali."
Martin membelai lembut bahkan sangat lembut padang ilalang milik Amairah. Tubuh Amairah semakin memanas dan tidak tahan dengan perlakuan dari suaminya.
__ADS_1
"Mas Martin," ucap Amairah.
Martin menolehkan kepalanya ke arah Amairah. Martin tahu persis dengan apa yang sudah diinginkan oleh Istrinya itu. Martin belum puas bermain di bagian kawah milik Amairah.
Hingga Martin pun tidak kuasa untuk menahannya lagi dan Martin pun menyatukan dirinya ke dalam tubuh Amairah.
Amairah menarik kepala dan memegang ujung rambutnya Martin dan semakin menguatkan pegangannya pada tubuh Martin saat Martin semakin memperdalam hentakannya. Mereka berpacu seirama dengan hentakan perlahan nan lembut Martin, hingga akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak nirwana yang tidak terkira indahnya.
Martin menjatuhkan tubuhnya di samping Amairah dan menciumi kening istrinya. Peluh keringat bercucuran di tubuh mereka yang masih polos itu. Martin sangat kelelahan setelah menuntaskan puasanya selama tiga tahun ini. Bahkan Martin berbuka hingga tak terhitung berapa kali menyantap hidangan berbuka tersebut.
"Makasih banyak sayang, Kamu selalu menjaga dan merawatnya hanya untuk Martin Muhamad Al-ayyubi Lee seorang," ucap Martin sambil mencium kening Amairah dan membasuh peluh keringat yang bercucuran di kening istrinya dengan tangannya.
Amairah hanya bisa tersenyum malu-malu walaupun ada sedikit nyeri di bagian intinya karena ini untuk ke tiga kalinya bersama suaminya tercinta. Mereka menikah sudah hampir empat tahun tapi untuk pengalaman itu baru saja terhitung tiga kali, tapi selalu gol dan membuahkan hasil yang maksimal. Entah untuk kali ini gimana hehehe.
Amairah ingin bangkit dari pembaringannya, tapi langsung digagalkan oleh Martin dengan suaranya yang menginterupsi Amairah sehingga Amairah kembali berbaring dan segera menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Kamu diam saja, ijinkan Mas yang membersihkan milikmu," ucap Martin setelah berhasil memakai celana boxernya.
"Tapi Mas, Amairah malu loh digituin sama Kamu Mas," jawab Amairah yang memelankan suaranya.
"Mas sudah bilang tidak ada kata tapi, Mas ingin melakukannya karena Kamu sudah membuat Mas terbang melayang dan Mas sangat bahagia dengan semua ini," terang Martin dengan tangannya yang masih setia membersihkan seluruh tubuhnya Amairah.
Martin dengan telaten dan sangat hati-hati saat membersihkan tubuh istrinya dengan air hangat yang sudah dia tampung di dalam wadah khusus. Martin tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah karena ulahnya. Amairah pun sudah memakai pakaian lengkapnya hal tersebut Martin lakukan karena takut jika dirinya kembali menerjang Amairah.
Setelah itu mereka kembali berbaring di atas ranjang hingga mereka kembali terlelap dalam tidurnya. Kemungkinannya mereka terlalu lelah hingga mereka kembali tertidur dan menuju mimpi indahnya.
..........
Pagi ini Readers setianya Cinta Yang Tulus disuguhi dengan adegan men de sah dulu yah. Maklum sudah berapa bab, tapi belum ada sesi men des aah tersebut.
Maaf agak sedikit anu kali ini yah 🤭🙏.
Semoga suka dengan baba ini ✌️
Maklumlah sudah tiga tahun lebih Martin berpuasa kasihan hehehehe 🤣.
MAKASIH BANYAK 😍🥰😘
Jangan Lupa untuk selalu memberikan dukungannya kepada CYT dengan cara Like, setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan 🙏
...********Bersambung********...
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Kamis, 02 2022