
Selamat Membaca..
Flash Back on..
Hari itu hujan turun dengan lebatnya sedangkan Nona Mia sudah mengalami sakit perut yang tidak tertahankan. Adik ke dua Heri pun sudah pergi sejak tadi mencari kakaknya. Tapi sudah sejam lamanya mereka pun belum datang Juga sedangkan Adik bungsunya Heri yaitu Hernita tidak tahu harus berbuat apa.
"Kakak tahan yah tunggu kak Heri pulang, Kakak yang kuat yah" ucap Hernita adik bungsunya Heri di samping Nona Mia yang berbaring di atas dipannnya.
"Sakit sekali dek, Kakak tidak bisa menahannya lagi" ucap Mia yang terus memegang perutnya yang semakin sakit.
Gorden jendela kamarnya sudah berkibar diterpa angin hujan yang kencang yang berwarna biru lusuh yang warnanya sudah berubah tidak seperti warna biru lagi. Angin terasa menusuk sampai ke tulang saking dinginnya. Pintu yang terbuat dari anyaman bambu pun terbuka dan masuklah Heri dan adiknya Herman yang sudah menggigil kedinginan karena terkena air hujan.
"Ada apa sayang, mana yang sakit?" tanya Heri yang memeriksa keadaan Istrinya.
"Kak Heri mungkin nona Mia akan melahirkan kak" ucap Hernita adik bungsunya.
Heri pun langsung menggendong tubuh istrinya ke dalam becak yang sehari-hari dia pakai untuk mencari nafkah.
"Herman, Hernita cepat ambil barang-barang nona Mia di dalam lemari," ucap teriak Heri yang mendudukkan tubuh istrinya ke atas becak.
"Tunggu kakak, Nita cari tasnya dulu" jawab Hernita. Hernita mencari kemana-mana Tasnya Nona Mia tapi tidak ketemu.
Hernita pun teringat, dua hari yang lalu Nona Mia menjual tasnya dan menukarnya dengan sejumlah bahan sembako tanpa sepengetahuan dari Heri kakaknya karena atas dasar Permintaan dari Kakak iparnya. Hernita terpaksa mencari Kantong kresek untuk memasukkan beberapa barang kepunyaan Nona Mia, yang tempo hari ada tetangganya yang membawakan beberapa pakaian bekas untuk calon bayi Nona Mia.
Sehari-hari mereka kadang mendapat beberapa bantuan dan sumbangan dari tetangga yang kasihan melihat mereka. Heri walau pun perkejaannya tidak menentu Mia bisa bersabar dan ikhlas hidup susah dengan Heri suaminya.
Heri mengayuh becaknya sekuat mungkin sedangkan Hernita bersama kakak iparnya yang tidak henti-hentinya meringis kesakitan.
Heri memarkirkan becaknya di sembarang arah. Heri berteriak meminta tolong kepada Dokter dan suster yang berjaga saat itu di puskesmas.
"Tolong segera bawa ke dalam ruangan bersalin, pasien sudah ingin melahirkan" perintah kepala Bidan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tangis bayi yang menggema di seluruh ruangan bersalin tersebut. Hujan pun sudah reda ketika putri Heri dan Mia lahir ke dunia ini.
"Alhamdulillah selamat Ibu, putri anda sehat dan cantik" ucap ibu bidan sambil menidurkan bayi itu di samping Nona Mia.
Heri langsung berlari masuk ke dalam ruangan tersebut dan sangat bahagia melihat putri kecilnya. Nona Mia pun ikut tersenyum melihat wajah anaknya.
"Makasih banyak sayang kamu sudah berjuang untuk melahirkan putri cantik kita" ucap Heri.
Air mata Mia tiba-tiba menetes dan menyembunyikan sakit dibagian perutnya yang tiba-tiba datang. Nona Mia teringat dengan pesan dokter yang sempat memeriksanya dulu.
"Maaf terus terang kehamilan ibu ini sangat beresiko dan nyawa ibu dan bayi ibu yang akan menjadi taruhannya" ucap dokter tersebut saat dia melihat laporan kesehatan Mia.
__ADS_1
Mia hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataan dari dokter. Di dalam hati dan pikirannya Mia harus melahirkan putrinya ke dunia walaupun nyawanya menjadi taruhannya.
"Makasih banyak Dok atas nasehatnya" ucap Mia yang berlalu dari hadapan dokter.
Air mata Mia tiba-tiba menetes dan terus menciumi wajah putrinya sambil sesekali meringis kesaktian dibagian perutnya. Tapi kembali lagi Mia tidak memberitahu hal tersebut kepada suaminya karena melihat betapa bahagianya Heri setelah kelahiran putrinya.
"Mas ganti baju dulu, nanti mas masuk angin" ucap Mia yang kasihan melihat suaminya yang sudah basah kuyup dan sesekali menggigil kedinginan.
Heri pun masuk ke dalam kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya. Heri kembali dan duduk di samping istrinya.
"Lihat hidung, matanya mirip kamu sayang" ucap Heri yang sangat bahagia dengan wajah anaknya yang mirip dengan Istrinya.
"Mas tolong buka kalungku" pinta Mia yang sudah mengangkat sedikit badannya ke atas untuk mempermudah Heri melepas kalungnya.
"Untuk apa kamu melepas kalung kamu, Aku kira itu kalung yang sangat kamu sayangi" ucap Heri yang heran melihat permintaan Istrinya itu.
"Tolong lepas lalu pasangkan pada leher Ayana Mas, dan tolong berikan nama kepada putri kita Ayana Horne perkasa" ucap Mia.
Heri pun menuruti keinginan Istrinya.
"oiy mas di dalam liontin kalungnya Ayana ada tulisan inisial nama Mas Heri dan Mia" ucap Mia sambil menunjuk ke arah tulisan huruf MH.
"Kalung nya semakin cantik dipakai oleh putri kita Ayana Horne perkasa, jadilah anak yang selalu kuat, sabar dan Sholehah" ucap Mia disaat dirinya mencium putrinya untuk yang terakhir kalinya.
Mia kemudian memegang tangan suaminya.
"Aku pasti akan menjaga mereka dengan baik kan ada kamu yang akan membantu mas" ucap Heri.
"Maafkan Mia mas dan Mia saaangat mencintai Mas" Ucap Mia sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dan pegangan tangan Mia pun terlepas dari tangannya Heri.
Heri yang mengetahui tersebut langsung menidurkan putrinya ke dalam box bayi.
"Mia sayang, ayok bangun lihat Putri kita dia sangat cantik seperti kamu, Nona Mia bangun" ucap Heri yang menggoyang tubuh istrinya.
Tapi sekujur tubuh Mia sudah dingin dan kaku. Heri segera berlari ke luar untuk meminta bantuan kepada perawat atau dokter.
"Dokter.. suster" teriak Heri yang sudah seperti orang gila.
Perawat yang mendengar teriakan dari Heri segera berlari.
"Ada apa pak??." tanya seorang perawat.
"Sus tolong periksa istriku kenapa dia tidak bicara lagi, dan sekujur tubuhnya sudah dingin" jelas pak Heri.
__ADS_1
Perawat tersebut saling berpandangan karena mereka sudah tahu kondisi kesehatan Ibu Mia. Mereka pun ikut dibelakang Heri. Perawat tersebut memeriksakan dengan seksama kondisi dari ibu Mia tetapi mereka sudah pasrah dan meminta maaf kepada Heri.
"Maaf istri bapak sudah tiada" ucap perawat tersebut.
Bagaikan disambar petir Heri terperosok ke lantai setelah mendengar kabar duka tersebut.
"Itu tidak mungkin sus, pasti suster salah, tolong katakan kalau suster salah" ucap Heri disela tangisnya.
Heri pun berjalan tertatih menuju tubuh istrinya yang sudah kaku. Dan mencium seluruh wajah istrinya. Heri menggendong putrinya di dekat tubuh Mia.
Malam di mana putri kecilnya lahir ke dunia dan sekaligus menjadi hari terakhir dirinya bersama istrinya yang paling dia sayangi setelah ke dua orang tuanya.
"Maafkan Mas yang tidak bisa memberikan kebahagiaan, Maafkan mas Mia" ucap ratapan Heri.
"Maaf pak sedari dulu kami sudah menyampaikan kepada istri bapak bahayanya hamil diusia dini dan Istri bapak mengalami komplikasi saat persalinan dan Istri Bapak melarang kami untuk berterus terang kepada bapak" ucap Kepala bidan yang kasihan melihat Heri.
Keesokan harinya, Jazad Mia sudah disemayamkan di kuburan TPU terdekat dari rumah Heri. Ke dua adiknya pun sangat merasakan kesedihan yang mendalam.
Satu bulan kemudian, Heri yang sudah bekerja di salah satu perkebunan kelapa sawit hari itu meninggalkan putri dan ke dua adiknya.
"Adek jaga Ayana yah, Herman kalau kamu pulang sekolah bantu Hermita untuk jaga Ayana" pesan Heri sebelum berangkat ke perkebunan.
"Iya kak" ucap kedua adiknya.
Setiap hari Heri bekerja di perkebunan kelapa sawit hingga magrib datang. Tapi malam ini Heri mendapat perintah dari bosnya untuk bekerja lembur. Karena mendapat iming-iming gaji yang tinggi sehingga Heri memutuskan untuk lembur.
Sedangkan di dalam gubuk Heri. Adiknya Herman yang sedang belajar dibawah pencahayaan lampu minyak tanah harus berdiri karena mendengar tangis Ayana yang kehausan. Karena angin tiba-tiba bertiup menerpa gorden sehingga gorden tersebut bersentuhan dengan lampu minyak tersebut. Perlahan-lahan lampu itu awalnya membakar meja yang berisi buku pelajaran Herman.
Bersambung..
Bonus Visualnya Pak Heri dan Ayah Mertuanya
Heri Tan Perkasa Waktu masih muda
Dan Ini Kakeknya Ayana Horne Perkasa pak Mark Atmajaya
Makasih banyak atas dukungannya 🙏.
Saat nulis part ini air mataku tak terasa menetes dan kembali teringat disaat terakhir mamaku menghembuskan nafas terakhirnya di depan mataku 🤧😭😭.
__ADS_1
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus 🙏✌️
Makassar, 29 Maret 2022