Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 222. Bertemu Kembali


__ADS_3

Selamat Membaca..


Wajah lugu nan polos dari anak-anak TK itu mampu menyihirnya untuk mematikan mesin mobilnya. Langkahnya seakan-akan terkontrol oleh bocah itu.


Awalnya hanya menurunkan kecepatan mobilnya, tetapi sudut matanya melihat seorang anak kecil yang membuatnya tertarik untuk menemui bocah itu.


Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu turun dan berjalan ke arah anak-anak yang sedang berebutan untuk mengantri membeli es krim yang ada di depan sekolah mereka.


"Mas aku yang duluan, ini uangnya," ucap seorang anak perempuan yang berkepang dua itu sembari menyodorkan uang sepuluh ribu ke arah tukang esnya.


"Ini es krim rasa stroberinya, dan rasa vanilla," ucap Mas penjual es itu dengan tangannya yang menjulur ke bawah tepatnya di hadapan anak TK.


"Makasih Mas," ucapnya lalu berjalan ke arah bangku yang ada di sekitar pagar sekolahnya.


Dia berjalan ke arah anak kecil yang sedang menikmati dua langsung es krim yang berada di dalam genggamannya.


"Rasa stroberi dan vanila sama dengan yang aku suka, aku pun dulu sering beli dua sekaligus."


Tatapannya sedari tertuju pada gadis kecil itu. Dia memperhatikan semua gerak gerik dari mulai menikmati satu persatu esnya secara bergantian hingga cara duduknya pun dia perhatikan.


"Ya Allah anak ini mengingatkan aku sewaktu aku masih kecil, semua yang dilakukannya seakan-akan aku melihat bayanganku di dalam dirinya."


Pandangannya nanar ke arah anak itu hingga bocah itu menyadari jika dirinya sedari tadi diperhatikan.


"Aunty, mau makan es krim juga?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan kecilnya dengan perlahan yang berisi es krim itu.


Dia yang tidak menyangka jika akan diperlakukan seperti itu hanya terdiam dan tersenyum menanggapi tawaran dari si bocah.


"Makasih banyak sayang, aunty sudah kenyang, kamu habiskan saja esnya," balasnya sembari mengambil tissue dari dalam tasnya lalu melap ujung bibirnya anak itu.


*Makasih Aunty cantik," jawabnya dengan polos saat dibantu untuk membersihkan sisa es krim dari wajahnya.


Dia terus menatap ke arah gadis cilik itu dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Tanpa aba-aba air matanya menetes membasahi pipinya.


"Aunty kok nangis, apa Aunty sedih karena tidak bisa beli es krim?" Tanyanya dengan polos.


Pertanyaan dari anak itu mampu membuatnya tersenyum dan buru-buru menghapus jejak air matanya.


"Aunty tunggu sini yah, jangan kemana-mana Ica beliin es krim, kasihan aunty kalo nangis gara-gara ga makan es krim," ujarnya setelah es krim yang ada di tangannya ludes dimakannya.


Perempuan itu tidak melarang atau pun menyahut perkataan dari Ica. Malahan hanya terdiam saja, dia mengamati apa yang dilakukan oleh Ica. Tatapannya terus tertuju pada Ica yang membeli es krim.


"Abang, kan aku sudah dua kali beli es krim apa aku tidak dapat bonus?" Tanyanya yang saat memberikan uang ke tangan bapak penjual es krim itu.

__ADS_1


"Neng Ica, pasti dapat bonus dari Abang, kan Ica setiap hari jadi langganannya Abang," sahut Abang penjual es tersebut.


"Hore Ica dapat bonus es lagi hari ini," teriaknya dengan wajah sumringah.


"Ini es krimnya dan juga bonusnya untuk gadis tercantik hari ini," ucap Abang penjual es tersebut.


"Makasih banyak Abang, semoga jualannya semakin laris manis deh," timpalnya sembari menyambut uluran tangan Abang es tersebut.


"Sama-sama neng geulis," tuturnya dengan senyuman khasnya.


Ica berjalan kembali ke arah tempat duduknya tadi. Dengan langkahnya yang kecil sedangkan di dalam genggamannya kembali ada dua buah es krim yang menggugah selera.


"Aunty suka es krim rasa yang mana, apa stroberi atau vanilla saja?" Tanyanya yang memegang eskrim tersebut dengan erat agar tidak terlepas dari dalam genggamannya.


"Aunty sebenarnya suka dua-duanya tapi, tidak mungkin Aunty ambil semua jadi aunty pilih vanilla saja," terangnya dengan mengambil es krim yang ada di tangan kanan Ica.


Mereka duduk berdampingan dengan menikmati lelehan es krim tersebut. Siapapun yang melihat mereka pasti akan mengira jika mereka adalah anak dan ibunya. Cara memegang, cara menikmati es itu persis tanpa ada perbedaan sedikit pun.


Beberapa saat kemudian, Ica bertanya padanya perihal siapa dia dan kenapa berada di sana.


"Aunty Ica boleh tanya sesuatu gak?" Tanya dengan kilatan matanya yang berbinar.


"Ica cantik mau tanya apa sama Aunty?" Tanyanya balik dengan senyumannya yang tersungging di bibirnya.


"Aunty Liora, Ica boleh panggil Aunty Liora, Aunty ke sini cari anak aunty yang hilang," jawabnya dengan menatap tak jemu ke arah Ica.


"Jadi Ica panggil Aunty Liora saja yah," ucapnya dengan wajah kegirangan.


"Ya Allah… kenapa setiap kali aku berdekatan dan melihat senyumannya hati selalu tenang dan damai, seakan-akan aku sudah mengenal anak ini dari dulu."


Tatapannya selalu tertuju pada apa yang dilakukan oleh Ica. Dia tak segan-segan untuk tertawa lepas jika ada hal lucu yang dilakukan oleh Ica di depannya.


"Kok Ica belum pulang, apa Mama dan Papanya belum datang menjemput?" Tanyanya dengan melihat ke sekelilingnya yang sekolah sudah nampak mulai sepi.


"Ica nungguin Uncle ganteng, kalau bunda sibuk kerja Aunty di rumah sakit, kalau Ayah belum bisa jemput Ica masih sakit," jawabnya dengan begitu detail dengan diakhiri senyuman manisnya.


"Oh gitu yah, kalau gitu Aunty temani kamu nungguin Uncle ganteng yah, gak apa-apa kan sayang!" Tanyanya sembari menoel dagunya Ica.


"Serius Aunty mau nemenin Ica?" Ica malah bertanya balik dengan wajah seriusnya.


"Serius, Aunty akan pergi dari sini setelah Ica pulang," terangnya.


"Hore, ada yang temani Ica," teriaknya yang lompat-lompat di tempatnya.

__ADS_1


Liora melupakan jika ada janjinya bertemu dengan pria yang rencananya akan dijodohkan oleh kakeknya untuknya. Dia sama sekali sudah melupakan hal tersebut. Dunianya hari ini seakan tersita oleh senyuman kebahagiaan dari Ica gadis kecil yang cantik baru dijumpainya.


Sedangkan di dalam ruangan tempat meeting, seorang pria dengan wajah garangnya mendengarkan satu persatu penjelasan dari beberapa karyawan yang bekerja di Perusahaannya. Hari ini bertepatan dengan rapat bulanan yang harus diikuti untuk mengetahui sejauh mana perkembangan Perusahaan yang dipimpinnya tersebut.


Dia sesekali melirik ke arah jam tangannya yang melingkar begitu pas dan cocok di dalam pergelangan tangannya itu.


"Sudah jam 12," gumamnya.


Dia menatap ke arah David untuk segera melanjutkan rapatnya. Karena dia ingin menjemput Ica dari sekolahnya.


David yang ditatap seperti itu segera melaksanakan perintah yang belum terucap dari CEOnya.


"Maaf untuk selanjutnya rapat akan dipimpin oleh Pak David," ucapnya sambil berdiri dari kursi kebesarannya lalu menyambar kunci serta hpnya.


Tidak ada yang berani menentang keputusannya itu. Jika ada yang berani berargumen apapun nasibmu agar berakhir menyedihkan.


Dia segera berjalan cepat ke arah mobilnya berada. Dia tidak ingin membuat Ica terlalu lama menunggunya.


"Semoga Ica tidak menangis menungguku, sudah lambat hampir tiga jam," ucapnya kemudian melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa.


Sesekali dia menatap ke arah jamnya, raut wajahnya berubah khawatir dengan keadaan Ica. Hingga hanya butuh waktu beberapa menit saja mobilnya sudah berhenti di depan sekolahnya Ica.


Dia mematikan segera mesin mobilnya lalu berjalan ke arah dalam halaman Sekolahnya Ica. Langkahnya terhenti yang awalnya berlari. Dia melihat punggung anak kecil yang mirip dengan Ica membelakangi posisinya Ica berada.


Langkahnya sedikit melambat karena sudah yakin jika yang dilihatnya adalah Ica.


"Siapa perempuan itu yang bersamanya, semoga saja dia perempuan baik-baik."


Dia semakin melangkahkan kakinya menuju kursi panjang yang mereka duduki bersama.


Dia pun berteriak agar Ica menyadari kedatangannya, " Ica!!"


Dua orang itu menoleh ke belakang tepatnya ke arahnya yang sedang berdiri.


Dennis tersenyum melihat Ica yang baik-baik saja tapi senyumannya luntur seketika saat melihat siapa yang bersama dengan Ica. Perempuan itu pun sama terkejutnya dengan yang dirasakan oleh Dennis.


Mereka sama-sama berdiri saling menatap dan tak berkedip. Ica yang menyadari kedatangan Dennis tersenyum kegirangan.


Fania minta tolong setelah Membaca setiap Babnya untuk selalu meninggalkan jejak berupa Koment dan tekan tanda Like, karena tanpa itu Dukungan kalian tidak berarti. jadi Fania mohon kesediaannya untuk memberikan komentarnya apa pun itu sesuai dengan isi cerita Babnya.


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, 22 Juli 2022

__ADS_1


__ADS_2