Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 189. Kedatangan


__ADS_3

Selamat Membaca..


Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.


Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.


Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zhalim.


Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji.


Tiga tahun kemudian...


Kesibukan dari ke dua anak kembarnya membuat mereka melupakan kisah asmaranya. Mereka sedikit pun tidak pernah ingin membuka pintu hatinya untuk siapa pun.


Dennis entah apa yang terjadi padanya. Semenjak malam itu, dia hingga detik ini sering di hantui rasa bersalah.


Dia tidak memungkiri jika, dia merindukan dan sering terbayang-bayang suara dan raut wajah Liora saat mereka bercumbu mesra dulu.


"Maaf."


Kata yang paling singkat itu sering mampir dibibirnya. Tapi, dia terus berusaha untuk melupakan semua kenangan itu. Dennis tidak menampik jika, kenangan yang tercipta di antara mereka indah bahkan sangat indah dan berkesan, tapi dia harus berusaha untuk melupakan semuanya.


Delisha hari ini sangat sibuk. Sampai-sampai melupakan jadwal makan siangnya bersama saudaranya yang lain.


Begitulah kesibukannya setiap hari, selalu tenggelam dalam dunia kerja yang tidak ada habisnya.


Matanya yang indah itu terus menatap beberapa tumpukan berkas yang masih banyak. Lelah, capek dan penat tentu saja dia rasakan.


Dia berhenti sejenak untuk merenggang otot-ototnya yang sudah mulai kaku karena kelamaan duduk. Tangannya dia rentangkan ke atas. Dia melirik jam tangannya yang terpasang dengan cantik di pergelangan tangan kanannya.


"Sudah hampir jam 3 rupanya," ucapnya dengan langkah kakinya melangkah ke arah pintu.


Baru beberapa langkah kakinya melangkah, dan belum sampai ke pintu. Pintu bercat cokelat tua yang terbuat dari kayu jati yang kuat dan anti rayap, terbuka lebar dari luar.


Mulutnya ternganga lebar, ke dua matanya membulat sempurna melihat siapa sosok orang yang berhasil membuka pintunya tanpa seijinnya itu.


Delisa berlari ke arah orang itu. Kemudian tanpa segan memeluk tubuh orang tersebut. Dengan deraian air matanya, tak kuasa menahan rasa bahagia dan kerinduannnya yang bercampur menjadi satu.


Delisha menundukkan sedikit tubuhnya agar lebih leluasa memeluk tubuh orang itu. Delisha memeluk erat-erat tubuh orang itu seakan-akan mereka akan ada yang memisahkan keduanya.


"Mami."


Perkataan itu meluncur dari mulut kecilnya.


"Abimana Bramantya Lee, Mami sangat merindukanmu Nak," dengan air matanya terus menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


Mereka berpelukan sangat erat, Del tidak menyangka jika putra semata wayangnya datang dari Thailand untuk menemuinya. Hampir dua tahun putranya tidak pernah lagi Indonesia.


Delisha menghujani ciuman di wajah putra tunggalnya. Anak yang Awalnya tidak diinginkan kehadirannya, bahkan Delisha waktu mengetahui jika dirinya hamil, dia mencoba berbagai cara untuk menggugurkan kandungannya.


Minuman dan obat-obatan yang dia ketahui dari internet bagus untuk membuang janinnya dia lakukan. Kehamilan di usianya yang baru 16 tahun lebih itu mengguncang dunianya.


Masa depannya hancur seketika, percobaan demi percobaan dia lakukan untuk menggugurkan calon bayi yang tidak berdosa itu. Hingga Delisha defresi dan di rawat secara khusus dan intensif oleh dokter keluarganya. Hingga usia kehamilannya berjalan enam bulan.


Suatu malam, dia bermimpi bertemu dengan seorang anak kecil yang sangat tampan. Mereka saling berbincang-bincang santai. Hingga membuatnya tersadar dari semua yang telah dia lakukan berbahaya untuk bayinya dan kehidupannya sendiri.


Sejak malam itu, mimpinya mampu membuatnya tersadar dari defresinya dan mulai terbiasa untuk menerima kenyataan pahit itu.


Dukungan dari ke dua tangannya, saudaranya serta keluarga intinya membuatnya bangkit dari keterpurukannya. Hingga tiga bulan kemudian melahirkan putra pertamanya tanpa ada status pernikahan dibaliknya.


Keluarga dan orang-orang terdekatnya satu pun tidak ada yang berkomentar negatif atau mencapnya dengan sebutan dan perkataan yang tidak baik.


Semua mendukung dan memberikan motivasi serta dorongan yang kuat untuk menghadapi cobaan dan ujian dalam hidupnya.


Bahkan mereka tidak menyangka dan sangat sedih, diusianya 17 tahun Delisa menjadi ibu muda sekaligus single parent. Hingga detik ini pula, mereka tidak ada yang mengetahui siapa ayah biologis dari putranya.


Keluarganya bahu membahu membantu Delisha agar kuat dan tabah menjalani kehidupannya. Sejak ketahuan melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Kakeknya Tuan besar Mark telah memberikan restunya untuk Amairah cucunya menikah dengan Martin.


Bayi lucu dan mungil itu membawa berkah di dalam kehidupan keluarga besarnya. Dua keluarga besar yang dulunya saling bermusuhan gara-gara adanya kesalahpahaman, telah bersatu kembali.


Tuan besar Mark meminta khusus kepada cicitnya untuk merawat dan membesarkan anaknya bersamanya. Tuan besar Luis dan lainnya merasa tidak keberatan dengan hal tersebut. Sehingga Delisha bisa kembali menata dan melanjutkan perjalanan masa depannya.


"Abi merindukan Mami," yang tersenyum geli diperlakukan seperti itu oleh maminya.


"Mami juga sangat merindukan Abi," balasnya.


Tuan besar Mark dan istrinya yang sedari tadi datang ke Indonesia khusus untuk mengantar cicintya.


"Heemmmm."


Suara intrupsi itu menghentikan aktifitas mereka yang sudah melupakan keadaan di sekelilingnya.


Delisa menatap ke arah Kakeknya berada. Delisha kemudian berdiri lalu berjalan ke arah mereka dengan wajah yang sumringah bahagia dengan kehadiran anggota keluarganya.


"Kakek kapan datangnya, kok gak ngasih kabar sih?" ucapnya dengan meraih tangan kakeknya untuk dia cium.


Delisha memeluk tubuh Neneknya dengan cipika cipiki. Mereka berpelukan erat dua perempuan beda generasi itu yang sama-sama cantiknya.


"Mami pasti belum makan, Abi bawain Mami makanan loh." ujarnya dengan menjinjing sebuah rantang yang berwarna putih dengan motif bunga-bunga di pinggirannya.


"Ini masakan buatan Nenek khusus untuk cucunya Nenek yang paling cantik," jelas Neneknya.

__ADS_1


"Kalau gitu kita makan bersama di sana saja," terangnya.


Makanan sudah terhidang di atas meja serta beberapa peralatan makan sudah siap. Mereka makan siang kala itu dengan menu khas Bangkok Thailand.


Kadang terbersit di pikiran dan ingatannya saat dirinya menyerahkan mahkotanya kepada pria yang dikenalnya. Bayang-bayang pria itu terpatri di dalam ingatannya tapi hanya punggungnya yang dia ingat dengan jelas jika ada luka goresan di sekitar punggung yang dekat dengan pinggangnya.


Dia pernah beberapa kali melihat pria yang memiliki tanda luka dipunggungnya hadir di dalam mimpinya, tapi wajahnya selalu gagal dia lihat dengan jelas. Hanya wajah yang samar-samar dan tidak jelas saja.


Delisha tidak ingin larut dalam kesedihan dan penyesalannya. Ia terus bangkit dari keterpurukannya berkat dorongan dan kasih sayang dari semua anggota keluarganya.


Itu lah yang membuat Delisha menjadi wanita yang super moms. Walaupun usianya 25 tahun. Dia ingin menjadikan masalah lalunya sebagai cambuk untuk menatap masa depannya dengan ceria.


Delisha sudah sering kali dijodohkan dengan seorang pria yang tentunya dengan kriteria yang baik. Tetapi selalu ditolaknya dengan berbagai macam alasan pula.


Hingga ke dua orang tuanya serta Kakek Neneknya sudah hampir menyerah dengan keadaan tersebut.


"Delisha, kedatangan Kakek kali ini ke Jakarta ingin meminta tolong sama Kamu Nak," ujarnya dengan memegang ke dua tangan cucunya setelah mereka selesai makan siang di sore hari itu.


Delisha menatap lekat wajah kakeknya yang sudah mulai banyak tanda keriput pertanda usianya sudah lansia.


"Kakek ingin minta tolong apa?" dia memperhatikan dengan seksama wajah dari Kakeknya.


"Kakek akan menjodohkan Kamu dengan sahabat Kakek," jawabnya dengan berharap penuh kepada cucunya agar kali ini tidak menolak rencana baiknya.


"Maksudnya Kek?" tanyanya yang hanya sekedar basa basi saja padahal dia sangat tahu maksud dari perkataan kakeknya.


"Kakek akan mempertemukan Kamu dengan seorang pria malam ini."


Ucapannya itu membuat wajah Delisha berubah. Dia tidak habis fikir dengan kenapa semua keluarganya selalu menyuruhnya untuk menikah, padahal baginya tanpa menikah pun dia masih bahagia dan sanggup membesarkan putranya.


"Nenek dan Kakek berharap untuk kali ini Kamu memenuhi keinginan Kami ini, Nenek Ingin melihat Kamu menikah di sisa hidupnya Nenek, nenek tidak ingin meninggal sebelum Kamu hidup bahagia bersama pasangan Kamu nantinya."


Wajah neneknya sendu saat memohon kepada cucu perempuan satu-satunya yang dia miliki. Mereka juga sudah mendiskusikan dengan Amairah dan Martin serta dengan Tuan Luis bersama Nenek Masitha.


Mereka sangat bahagia dan antusias menyambut rencana mereka itu. Mereka sangat berharap dan terus berdoa agar Delisha setuju untuk dijodohkan.


Bonus Visualnya Putra semata wayangnya Delisha Annira Elshanum.


Abimana Bramantya Lee.



********To Be Continued********


by Fania Mikaila Azzahrah

__ADS_1


Takalar,SulSel, Senin, 04 Juli 2022


__ADS_2