
Selamat Membaca..
Delisha tidak mampu berucap sepatah kata pun. Baginya apa yang terjadi siang hari ini adalah hal yang sangat tidak masuk akal baginya.
Pria yang selama ini dia cari bukan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tetapi karena permintaan putra tunggalnya yang menginginkan kehadiran sosok Papinya. Tangisan dan rengekan dari putranya itu yang membuatnya untuk meredam ego dan amarahnya untuk segera berdamai dengan masa lalunya kala itu.
Demi putranya lah dia memutuskan untuk diam-diam mencari keberadaan ayah biologis putranya.
Walaupun dia sangat tidak ingin bertemu dengan pria yang telah merenggut kesuciannya dalam keadaan yang sedang mabuk dan tidak sadarkan diri. Tetapi, hati kecilnya sedih dan tidak berdaya melihat dan mendengar perkataan dari putranya.
Lee waktu pernah di-bully oleh teman-temannya di sekolahnya. Lee dihina sama orang-orang kalau dia adalah anak haram, anak yang tidak diinginkan kehadirannya di dunia ini. Hal itu yang membuat Lee sering berpindah-pindah sekolah.
Dan suatu malam tanpa sengaja dia mendengar perkataan dari putranya itu. Waktu itu Lee menangis di dalam kamarnya dengan menekuk kedua lututnya.
"Apa salah Lee? Kenapa Lee tidak punya Papi seperti mereka, apa Lee tidak pantas untuk bahagia bersama Papi Lee?"
Mulai hari itu Delisha berusaha membuang dan menghilang rasa amarahnya, dendam dan bencinya terhadap pria dan Liora yang telah menyebabkan kehancuran masa depannya waktu itu.
Berhari-hari Delisha memikirkan dan mempertimbangkan pilihannya dengan matang, hingga air matanya Lee kembali menetes saat mendengar perkataan dari seseorang yang mengatakan jika Papinya adalah pria yang tidak bertanggung jawab dan jahat hal itu membuat Lee sampai sakit beberapa hari karena tidak mau makan dan pergi sekolah.
Delisha akhirnya memutuskan untuk menghilangkan egonya demi kebahagiaan puteranya itu. Begitu pun saat dirinya dipinang oleh Abi demi memenuhi permintaan dari putranya dia menerima lamaran dari pria tidak dikenalnya itu.
"Adek Abang akan buktikan semua perkataan Abang, jika adek tidak memaafkan Abang hingga sampai kapan pun Abang akan terus berlutut di tempat ini."
Abi tidak segan meneteskan air matanya. Runtuh sudah wibawanya sebagai seorang CEO Muda terkenal dengan kegarangan dan kebengisannya dalam mengahadapi lawan bisnisnya.
Tetapi bagi Abi itu tidak jadi masalah yang penting perempuan yang sudah melahirkan seorang putra untuknya bisa menerima permintaan maafnya.
__ADS_1
Delisha hanya tergugu dan tidak tahu harus berbuat apa. Terlalu cepat apa yang dialaminya hari ini. Bagaikan dia berada di atas rollcoster saja.
Semuanya berubah dalam sekejap mata. Tidak pernah terpikirkan olehnya, jika Abimanyu adalah pria yang menanamkan benih di dalam rahimnya. Pria yang sudah perlahan mulai dia sayangi, pria yang berani menerima segala kekurangannya, pria yang berani datang di hadapan ke dua orang tuanya untuk melamarnya.
Delisha berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah tempat puteranya berada. Dia tidak sanggup melihat Abi Thalib terus berlutut dan menjadi bahan tontonan gratis dari seluruh pengunjung Restoran.
"Ya Allah aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"
Dia berjalan dan terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Sedangkan Abi masih berlutut di tempatnya semula.
"Ya Allah bukakanlah pintu hatinya Delisha untuk segera memaafkan aku, aku tidak sanggup melihat air matanya Tuhan."
Delisha menemui putranya dan meminta Aisyah untuk segera menjemput Lee untuk pulang. Dia tidak ingin kalau Lee mengetahui perdebatannya dengan Abi. Dia tidak ingin putranya mengetahui jika Abi adalah Papi kandungnya. Nanti Lee berfikiran yang macam-macam tentang Abi.
Terlalu cepat baginya semua ini hingga membuatnya untuk tidak bisa berfikir dengan baik.
Aisyah sedikit pun tidak ingin mengorek atau bertanya pada Delisha apa yang telah terjadi. Dia selalu seperti itu,dia akan menunggu mereka yang terbuka sendiri untuk bercerita tentang kehidupan dan masalah pribadinya.
Walaupun Delisha tidak berbicara,ia sudah mengetahui apa yang sudah mereka alami. Mata-matanya selalu mengawasi semua gerak gerik dari cucu Tuan besar Luis. Baginya keselamatan dan keamanan dari mereka adalah yang utama.
"Aisyah tolong antar pulang Lee," titahnya kepada Aisyah yang baru saja datang.
Lee menatap ke arah Maminya dan sedikit tahu apa yang terjadi pada Maminya itu. Air mata yang ada di pelupuk mata Delisha yang memberitahukan kepada Lee, tentang pergolakan batin yang dialami oleh perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Mami hati-hati dan jangan kemalaman pulangnya," ucap Lee lalu mencium pipi maminya dan tak lupa untuk mencium punggung tangan Delisha.
"Assalamualaikum," ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
Aisyah dan Lee pulang terlebih dahulu sedangkan Delisha tidak tahu harus melangkah kakinya ke mana. Dia masih berdiri mematung di tempatnya terakhir dia berpisah dengan putranya.
Suara adzan ashar yang berkumandang membuyarkan lamunannya. Dia pun mengikuti sumber suara adzan itu. Dia memutuskan untuk shalat ashar lalu shalat sunnah istiharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT pilihan yang harus dia putuskan untuk masa depannya.
Kecewa, sedih dan shock saat mendengar fakta yang baru terungkap, jika Abi adalah pria yang bersamanya melalui malam yang begitu panas hingga membuahkan hasil yaitu Lee terlahir ke dunia ini.
Hampir satu tahun dia defresi dan trauma tapi tidak membuatnya untuk mengungkit dan mengingat peristiwa itu. Baginya setiap manusia punya jalan hidup yang berbeda-beda.
Delisha hanya dilema dengan apa yang seharusnya dia pilih serta ketakutannya yang mendominasi pikiran dan hatinya.
Dia tidak ingin jika Abi hanya sekedar untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai Papinya Lee sehingga dia berani untuk melamarnya.
Dia terlalu takut untuk kecewa sehingga dia tidak menerima semua kenyataan ini. Ketakutan selalu menyelimuti seluruh hati dan perasaannya.
Delisha membuka sendalnya yang sedari tadi membungkus kakinya. Dia melangkah ke tempat ambil air wudhu. Wajahnya semakin bersinar dan ayu terkena air wudhu.
Ia bergabung dengan jema'ah Mushollah lainnnya. Suara imam dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an membuat hatinya seketika tenang, damai dan menghilangkan pikiran jeleknya.
Air matanya terus menetes membasahi pipinya saat gerakan demi gerakan shalat dia lakukan hingga dirakaat terakhirnya saat dia menyelesaikan semua raka'at hingga dia menengadahkan tangannya ke atas. Air matanya tumpah ruah membanjiri wajahnya. Dia tak henti-hentinya berdo'a untuk memilih dan memutuskan jalan terbaik yang harus dia pilih.
Sedangkan di dalam Resto, Abi masih berlutut seperti sebelumnya. Rasa lelah, capek pasti sudah sangat dia rasakan. Tetapi, demi menerima dan mendengar langsung dari mulutnya Delisha jika dia dimaafkan dia sama sekali tidak perduli dengan kesakitan yang dia rasakan.
"Ya Allah aku mohon bukanlah pintu maafnya Delisha untukku, dan sadarkan lah dia jika aku sangat mencintainya dan siap menjadi imam dalam hidupnya dan mendampinginya dalam keadaan apa pun itu."
fania ucapkan Makasih banyak untuk Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.
by Fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Makassar, Minggu, 17 Juli 2022