Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 48. Fakta Baru


__ADS_3

Selamat Membaca...


Kondisi kesehatan Axel semakin membaik berkat bantuan dari Nenek Masitha yang membuat ramuan herbal khusus untuk mengobati batuk-batuk dan menurunkan deman. Nenek Masitha teringat sewaktu cucunya sakit gara-gara habis makan es krim dan ada yang menyarankan agar segera merebus daun-daunan obat-obatan karena waktu itu Nenek Masitha tidak memiliki biaya yang cukup untuk membawa cucunya ke rumah sakit dan keadaan ekonomi Nenek Masitha masih dalam kondisi yang belum kaya seperti sekarang ini .


Sehingga Nenek Masitha mencoba kembali merebus daun tersebut untungnya di taman depan rumah Amairah tumbuh beberapa daun yang bagus dan cocok untuk dibuat obat-obatan. Dan nenek Masitha sangat bersyukur karena Obat tersebut cepat bereaksi di dalam tubuh Axel sehingga keadaan Axel sudah membaik.


Amairah terburu-buru pulang ke rumahnya setelah mendengar kabar kalau penyakit Axel Kambuh lagi dan obat dari dokter pun sudah habis. Axel sakit karena siang harinya diajak oleh Nenek Masitha makan eskrim dan Nenek Masitha tidak mengetahui alergi dan penyakit yang diderita oleh Axel. Nenek Masitha sangat menyesal karena gara-gara dirinya sehingga Axel sakit.


"Maafkan nenek ya sayang ini semua gara-gara nenek yang beliin Axel eskrim, Nenek gak tahu kalau Axel punya penyakit kalau makan ice cream" ucap Nenek Masitha saat dirinya memangku tubuh Axel yang semakin membaik Kondisi kesehatannya.


Amairah memarkirkan mobilnya dengan asal karena terlalu khawatir dengan kondisi putranya. Amairah pun melempar tas dan sepatu kerjanya pun dengan asal yang penting dia segera bertemu dan melihat kondisi anaknya itu.


Tetapi Amairah kaget karena ada seseorang yang memangku Axel dan pemilik punggung tersebut Amairah sangat hafal siapa pemiliknya.


"Axel sayang kamu baik-baik saja kan nak,Moms sangat khawatir dengan keadaan kamu" ucap Amairah yang menggantikan Nenek Masitha menggendong tubuh Axel.


"Axel sudah baikan dan Maaf ini semua gara-gara nenek yang tidak tahu kalau Axel alergi es krim" ucap Nenek Masitha yang sangat menyesali perbuatannya tadi.


"Kondisi Axel sudah baikan berkat Nenek Masitha Bu, Nenek Masitah memberikan ramuan tradisional yang membuat Axel berhenti batuk-batuk dan demamnya sudah turun" Jawab Mbak Wati.


"Alhamdulillah kalau begitu, Makasih Nek sudah membantu Axel, karena Amairah sudah membawa Axel ke banyak rumah sakit dan dokter praktek tapi hasilnya masih sama dan alerginya akan kambuh lagi jika kembali makan eskrim dan Aku tidak kuasa melihat Wajah Axel yang sedih jika aku larang untuk makan eskrim dan aku lebih tidak tega Jika melihatnya harus tersiksa dengan penyakitnya" ucap Amairah.


"Insya Allah, Axel alergi Axel tidak akan pernah kambuh lagi karena Nenek pernah mencoba pada cucu Nenek dan Alhamdulillah penyakit nya sembuh dan tidak datang lagi walaupun makan eskrim" ucap Nenek Masitha.


"Alhamdulillah kalau begitu Nek semoga Axel juga mengikuti jejak Cucuku" ucap Nenek Masitha.


"Aku sebenarnya heran Nek karena aku tidak menderita penyakit itu dan katanya dokter hal ini besar kemungkinannya terjadi karena adanya pengaruh faktor genetik dari saya atau Ayahnya sedangkan saya sama sekali tidak pernah ngalamin hal itu Nek walau pun banyak es krim atau makanan dingin yang saya makan" jelas Amairah.


"Mungkin dugaanmu benar adanya Axel seperti karena bawaan dari pihak Ayahnya" ucap Nenek Masitha.


Amairah pun terdiam memikirkan hal tersebut, dan bertanya siapa Lelaki yang menanam benih di rahimnya dulu dan sampai sekarang belum ketahuan orangnya. Nenek Masitha pun terdiam dan memikirkan tentang hubungan cucunya dengan Axel bagi nenek Masitha tidak ada yang tidak mungkin kebetulan sama dan mirip kecuali kalau Benda itu sangat besar kemungkinannya berlaku kata kebetulan tapi ini hampir semuanya sama.


"Aku harus menyelidiki semua ini dan apa aku harus mengambil keputusan untuk tes DNA saja agar rasa penasaran aku ni terjawab sudah dan Kalau emang mete tidak punya hubungan apa pun tidak masalah tapi kalau Axel ada hubungannya dengan anak tengil itu pasti aku sangat bahagia" ucap Nenek Masitah dalam hatinya dan tersenyum membayangkan jika Axel adalah cicitnya.


"Nenek nginap di sini saja yah Jan nenek belum pernah nginap bareng kami lagian di luar hujan deras Nek" pinta Amairah.


"Maafkan nenek nak, bukannya nenek tidak menerima ajakan kamu tapi Nenek punya urusan yang mendadak dan tidak bisa nenek tunda lagi" ucap Nenek Masitah sambil mengambil beberapa helai rambut Axel untuk dites DNA.


"gak apa kalau begitu tapi lain kali jangan nolak yah Nek" ucap Amairah penuh harap.

__ADS_1


"Kalau begitu nenek pamit pulang lain kali Nenek akan ke sini lagi" ucap Nenek Masitha sambil mencium pipi tembem Axel yang sudah kembali terlelap dalam tidurnya.


"Hati-hati yah Nek" ucap Amairah sambil mencium tangan nenek Masitha saat sudah ingin naik ke mobilnya sambil tangan satunya memegang payung.


"Assalamu alaikum" ucap Salam Nenek Masitha dan mobilnya berlalu dihadapan Amairah yang masih betah berdiri di depan rumahnya dibawah guyuran air hujan.


"waalaikum salam" jawab Amairah.


"Aku harus segera ke rumah sakit untuk memeriksanya tapi aku harus pulang ke rumah dulu untuk mengambil rambut cucuku dibekas sisir yang dia pakai, semoga ada rambutnya" ucap Nenek Masitah lalu menelpon dokter rumah sakit DA untuk bertemu dengan dokter pribadi cucunya yang kebetulan bekerja di rumah sakit DA.


Nenek Masitha singgah ke rumahnya dulu untuk mengambil rambut cucunya.


"untung saja Dia ikut bersamaku ke kota S jadi bisa mempermudah proses tesnya" ucap Nenek Masitha lagi saat sudah mendapat beberapa helai rambut cucu laki-laki nya.


Amairah kembali ke dalam kamarnya dan segera mengganti pakaiannya yang masih memakai pakaian kerja. Tapi baru ingin melangkah kakinya masuk ke dalam kamar mandi hpnya berdering dan Amairah buru-buru mengangkat telponnya.


"Assalamu alaikum" ucap Amairah tapi orang diseberang telpon sana tidak menjawab salamnya bahkan hanya diam membisu dan hanya deru nafasnya yang sampai ke telinga Amairah.


Berulang kali Amairah bertanya siapa, tapi orang tersebut masih dengan pendiriannya yang diam membisu.


"Halo... Halo.. maaf dengan siapa, ada yang bisa Saya bantu..?" tanya Amairah.


Tapi belum juga ada tanggapan dari orang tersebut dan malahan orang tersebut mematikan sambungan teleponnya.


Hp Amairah kembali berbunyi untung saja Amairah sudah selesai mandi dan berpakaian.


"Assalamu alaikum Maaf dengan siapa yah? kalau Anda hanya pamer pulsa dan tidak ada niat untuk berbicara Saya mohon tutup saja telponnya dan tolong jangan menelpon ke sini lagi atau saya saja yang tutup" ucap Amairah yang sudah ingin mematikan sambungan teleponnya tapi baru ingin menekan tombol merah Orang dibalik telpon tersebut akhirnya mengeluarkan suara emasnya.


"waalaikum salam, boleh kita ketemu besok di kafe yang dekat dengan mall S" ucap Orang tersebut.


"Maaf kalau boleh tahu Anda siapa yah karena saya tidak mengenal Anda jadi tidak mungkin saya memenuhi permintaan Anda pak" ucap Amairah sambil mengoleskan crem malam di seluruh wajahnya.


"Kalau kamu mau tahu siapa saya tolong datang saja jam 10 saya tunggu kehadiranmu dan tolong jangan terlambat karena saya tidak suka dengan orang yang gak konsisten dan tidak menghargai waktu" ucapnya lagi Sebelum menutup telponnya.


"Tuttt... tuuut" bunyi telpon tersebut.


"Kok suaranya mirip dengan Martin tapi itu tidak mungkin". ucap Amairah yang sudah siap tidur.


"Kenapa setiap kali aku berbicara dengannya pasti lidah ini keluh dan aku tidak habis pikir setiap kali Aku mendengar suara nafasnya aku kembali teringat dengan suara perempuan itu yang hingga detik ini masih terngiang di telingaku padahal kejadiannya sudah hampir 5 tahun lalu" ucap Martin yang ternyata dia yang telah menelpon Amairah.

__ADS_1


Sedangkan di rumah sakit DA, Nenek Masitha tidak sabar menunggu hasil tesnya.


"Ya Allah aku takut apa yang aku pikirkan dan inginkan ternyata tidak sesuai dengan hasil tesnya pasti aku akan sangat kecewa sedangkan aku menginginkan Axel adalah cicit kandungku" harap Nenek Masitha.


Beberapa jam kemudian, Dokter pun keluar dari ruangan Laboratorium. Nenek Masita langsung mendekati dokter Anwar.


"Gimana hasilnya dokter??." tanya Nenek Masitha dengan tidak sabar.


"Ini hasilnya silahkan Ibu sendiri yang membacanya" ucap Dokter tersebut sambil menyerahkan sebuah map cokelat ke tangan Nenek Masitha.


Nenek Masitha pun membacanya tapi raut wajahnya tampak tegang saat dirinya membaca hasilnya.


"Dokter Anwar apa hasil tes yang Saya pegang in benar adanya dan Jangan sampai ada kesalahan dan kekeliruan yang terjadi saat proses tes tadi?." tanya nenek Masitha yang tidak ingin mempercayai hasil tes tersebut.


"Maaf hasil tesnya menyatakan 95% kecocokan mereka dan mereka adalah Ayah dan anak" ucap dokter yang sudah menjawab keraguan dari Nenek Masitha.


"Alhamdulillah makasih banyak dokter" ucap Nenek Masitha sambil memeluk tubuh Dokter Anwar yang juga menjadi dokter pribadi Cucunya.


Nenek Masitha sangat bahagia dengan hasilnya. Rona bahagia jelas terpancar dari wajah keriput nenek Masitha.


"Pantesan saja wajahnya sangat mirip dengan bocah tengik itu dan bahkan alerginya pun sama, apa yang aku lakukan tempo hari adalah jalan yang terbaik untuk menyatukan mereka tapi biarlah mereka sendiri yang menyadari bahwa mereka adalah Ayah dan anak, seiring berjalannya waktu pasti mereka akan menyadari nya sendiri lagian hubungan mereka sudah resmi, Tapi kok bisa bocah tengik itu menanamkan benihnya pada Amairah sedangkan Amairah sudah menikah dengan pria lain, sepertinya aku harus menyelidiki semua ini agar aku tahu kenapa bisa mereka menghasilkan Anak yang bergitu tampan dan pintar?." ucap Nenek Masitha di dalam mobilnya dan sang supir pribadi hanya menjadi pendengar saja.


Ke Esokan Harinya, Amairah sudah duduk manis di dalam kafe tempat dia janjian dengan seseorang. Amairah datang lebih awal dibandingkan waktu perjanjian mereka. Kebetulan hari ini hari Minggu jadi dia bebas memenuhi permintaan orang yang menelponnya semalam. Axel pun tidak ingin pergi keluar karena kondisi cuaca yang tidak menentu kadang hujan kadang tidak.


Amairah menghabiskan Minumnya tapi batang hidung pria itu belum datang juga. Amairah dengan sabar menanti kedatangan pria tersebut yang masih misterius. Sedangkan dipojokan sudut kafe ada seseorang yang duduk dan terus menatap Ke arah Amairah yang tidak mampu dan tidak punya keberanian untuk muncul dihadapan Amairah.


"Aku lebih berani bertemu dengan klien Bisnisku maupun lawan Bisnisku dari pada dirinya" ucap Martin.


Ya Martin lah orang yang ingin bertemu dengan Amairah. Karena sudah jam 12 Siang tapi Orang yang sudah membuat janji dengannya belum datang juga akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Amairah baru ingin membayar bill tagihan semua minuman dan makanan yang dia pesan seseorang sudah duduk tegap di depannya dengan santai tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun karena telah membuat Amairah menunggunya.


Amairah pun kembali duduk dan tersenyum manis ke arah Martin lalu mengambil tangannya Martin untuk dia cium karena bagaimanapun Martin adalah suaminya. Beberapa saat kemudian tidak ada yang berbicara dan mulai membuka percakapan diantara mereka. Mereka hanya saling bertatapan satu sama lain. Bahkan Martin diam-diam memuji kecantikan dari Istrinya yang sudah dua Minggu dia nikahi tapi belum disentuh disentuh sekalipun.


Bersambung...


Makasih banyak atas Raeders yang telah meluangkan waktunya untuk membaca Cinta Yang Tulus. ✌️


Jangan lupa untuk selalu mendukung CYT Yah 🙏


Makasih banyak

__ADS_1


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, 10 April 2022


__ADS_2