
SELAMAT MEMBACA..
Keluarga menjadi satu bagian penting dalam kehidupan seseorang. Pasalnya, dari keluarga seseorang pertama kali bisa merasakan cinta kasih yang tulus. Keluarga juga jadi tempat pertama kali seseorang belajar makna kehidupan. Hidup bersama keluarga yang harmonis jadi sebuah nikmat yang patut disyukuri. Kata-kata untuk keluarga bisa jadi satu ungkapan syukur atas nikmat yang tak terkira.
Kebersamaan dalam keluarga moment penting dalam menggapai rumah tangga yang bahagia. Kebersamaan keluarga menjadi sempurna, manakala senyuman tiap orang di dalamnya penuh dengan keihklasan dan saling menyayangi.
"Ya Allah aku harus berbuat apa, aku mencintai pria lain sedangkan ke dua orang tuaku sudah memutuskan hari pertunanganku lusa, ya Allah aku tidak sanggup jika terus dalam keadaan seperti ini, tolonglah aku dan berikan petunjukmu untuk memutuskan yang terbaik untuk hidupku, tapi aku tidak ingin membuat papi dan mamiku kembali bersedih untuk kesekian, karena ulahku".
Maya menekuk lututnya dan kedua tangannya ikut memegang kakinya itu. Tangisannya tidak berhenti sedari tadi, bahkan semakin bertambah kencang saat maminya menelponnya dan mengatakan kalau lusa nanti adalah hari pertunangannya untuk yang ke tiga kalinya.
"Mungkin jalan yang terbaik aku harus mengubur dalam-dalam perasaan cinta dan sayang ini untuknya, lagian dia juga sudah punya kekasih, jadi apa yang harus aku perjuangkan kalau dihatinya sudah ada perempuan lain yang mengisi hatinya."
Maya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya. Maya mendapatkan telpon dari Maminya untuk segera ke rumahnya, tapi karena hari ini Dion yang mendapatkan kabar bahwa pemilik perusahaan Centex telah tiba di Inggris sejak tadi pagi. Maya dan Dion pun segera bersiap untuk ke Perusahaan tersebut.
"Maya buruan! jangan terlalu lama, nanti kita ketinggalan lagi," teriak Dion di depan kamarnya.
"Iya sabar! kamu jadi cowok cerewet amat sih, lagi pms yah?" ucap Maya.
Maya segera menyelesaikan merias dan memoles make up-nya di wajahnya. Maya mematuk dirinya di depan cermin agar kelihatan sempurna dan tidak buat nantinya dua malu.
Maya berjalan ke arah mobil yang terparkir, dan di dalamnya sudah ada Dion yang sedari tadi menunggunya. Maya duduk di kursi penumpang yang ada di samping kursi kemudi.
"Aku heran dengannya, hari ini lembut dan perhatian, tapi hari ini dia juga menjengkelkan sekali, mentang-mentang punya teman chatingan yang cantik."
Maya duduk dengan wajah yang ditekuk, bahkan Maya sudah memaki Dion walaupun hanya Maya yang dengar, tapi Maya sudah puas. Yang penting Maya sudah melampiaskan kemarahannya dan kekesalannya.
Maya berlari ke arah luar rumahnya, dan tidak lupa menutup rapat pintu itu kemudian mengunci pintunya.
"Lama banget loh, pantesan saja Kamu lama banget gak married, ternyata gara-gara ini yah?" tanya Dion yang langsung memajukan wajahnya ke arah wajahnya Maya.
Maya yang melihat Dion memajukan wajahnya berangsur mundur ke belakang, hingga punggungnya membentur pintu mobil. Maya langsung menghalau tubuh Dion dengan menggunakan ke dua tangannya.
"Stop! gak usah kamu majukan wajahmu lagi, jelek tahu," ucap Maya.
Maya yang sengaja berkata seperti itu, agar Dion tidak melihat wajahnya yang sudah kemerahan dan denyutan jantungnya yang semakin kencang, hingga debaran jantungnya kedengaran sampai ke telinga Dion.
"Jelek? tak na lah, kalau wajahku ini jelek tidak mungkin banyak cewek yang mengejarku, bahkan mereka rela antri untuk menunggu jawabanku, pasti kamu menahan rasa malu kamu kan?" tanya Dion yang tahu sangat jika Maya sedang malu.
"Pede amat si bang? jangan terlalu ketinggian mimpinya kalau jatuh sakit loh," timpal Maya.
__ADS_1
"Kalau gak percaya kamu lihat saja nanti, aku yakin kamu akan merubah perkataan mu itu," tuturnya.
"Cepat jalankan mobilnya, nanti kita terlambat lagi," ucap Maya yang sudah jengah melihat sikap Dion yang kepedean, walaupun dia juga tidak menampik hal tersebut.
Mobil mereka sudah meninggalkan rumah yang selalu menjadi tempat persinggahannya jika bertandang ke Inggris, London. Rumah tersebut rumah pribadi milik Martin Muhammad Al-ayyubi Lee, yang khusus dia beli untuk dia dan anak buahnya jika berkunjung ke London dalam rangka perjalanan bisnisnya.
Dion memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil di baseman Perusahaan Centex. Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan Centex dan msih banyak lagi Perusahaan yang lainnya, tapi hanya orang-orang tertentu dan khusus saja yang mengetahui Perusahaan Centex mana kah yang menjadi perusahaan induk.
Dion berjalan meninggalkan Maya di belakangnya. Dion pun mendekati pegawai yang ada di loby Perusahaan tersebut.
"Maaf Mbak mau tanya, apa CEO mbak ada, kami dari perusahaan Eratex Indonesia ingin bertemu dengan CEO Perusahaan Mbak," tanya Dion yang sengaja berbicara sangat lembut dan lebih dekat dengan perempuan tersebut, untuk membuat Maya cemburu.
"Gak perlu gitu juga kali, kalau hanya sekedar bertanya kenapa mesti harus segenit itu."
Maya sudah menampakkan wajahnya yang tidak suka, jika Dion mendekati perempuan itu. Wajahnya sedari tadi mudah diterka, jika Maya cemburu dan tidak setuju jika tingkah Dion yang keganjengan sekali menurutnya.
"Maaf tunggu sebentar yah Pak, Saya akan menelpon ke asisten pribadinya CEO terlebih dahulu," jawabnya.
"Ok, makasih banyak Mbak," jawab Dion sambil tersenyum manis ke arah perempuan itu.
Sedangkan di dalam ruangan yang begitu megah dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang sangat moderen dan canggih itu. Seorang perempuan sedang berdiri memunggungi asisten pribadinya.
"Perwakilan dari Perusahaan Martin sudah berada di bawah dan ingin bertemu dengan Nona," tuturnya.
"Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan tanpa Aku katakan," ucapnya.
Selama ini Rose Amalia Horne tidak ada yang mengetahui jika dia adalah pemilik Perusahaan Mega itu. Orang-orang hanya tahu jika pemiliknya adalah perempuan yang menjadi asisten pribadinya saja. Ini semua sudah keinginannya untuk menyembunyikan identitasnya dari khalayak umum maupun dari kliennya. Sehingga tidak ada yang menyangka jika Asistennya itu yang sering mereka temui sebagai CEO kenyataannya hanya lah asisten saja.
Rose Amalia Horne hanya bekerja dibalik layar, setiap kali datang ke perusahaannya pasti akan melewati jalan khusus hanya untuk dirinya dan anak buah kepercayaannya. Karyawan Perusahaannya pun tidak tahu fakta tersebut.
Aisyah Akyurek adalah asisten pribadinya sekaligus pengawal pribadinya yang selalu menggantikan posisinya sebagai CEO Perusahaan Centex jika akan mengadakan rapat dengan jajaran direksi, ataupun bertemu dengan semua kliennya. Sedangkan Rose Amalia Horne hanya sebagai pelaksana dan otak dari segala keputusan yang akan diambil oleh mereka.
Aisyah Akyurek satu pun tidak akan ada yang tahu kalau dia hanya sekedar berperan sebagai asisten saja, karena pakaian dan sikapnya hampir sama dengan Rose bahkan harus sama dengan segala merek pakaian yang dia pakai untuk tidak memunculkan kecurigaan dari orang luar.
Rose Amalia Horne pun sudah diperkenalkan oleh Kakeknya sebagai pewaris tahta kerajaan bisnisnya, tapi Tuan besar Luis hanya mengatakan kalau cucunya tidak ingin berkecimpung di dunia bisnis, tapi hanya akan menjaga dan mendidik buah hatinya saja atau hanya sebagai ibu rumah tangga.
Dan sejak itu, kabar dan kehidupan Rose Amalia Horne bagaikan di telang bumi dan satu pun berita tentangnya tidak ada lagi yang muncul kepermukaan sehingga, orang-orang tidak mencurigai kalau dia adalah pemegang puncak pimpinan Perusahaan Centex.
Dan baru-baru ini ada isu yang beredar yang mengatakan bahwa Tuan besar Luis memiliki tiga orang cucu yang akan nantinya meneruskan timpuk pimpinan tertinggi Perusahaannya.
__ADS_1
Sedikit pun kehidupan pribadi mereka tidak terekspos keluar bahkan sangat rahasia sehingga tidak ada satupun yang bisa mengetahui kebenarannya.
Dion dan Maya duduk di kursi Loby Perusahaan, sambil menunggu informasi selanjutnya.
"Semoga perjalanan kami kali ini berhasil, dan tender proyek kerjasama kami bisa sukses."
"Ini ke empat kalinya kami datang ke London, semoga CEO Perusahaan Centex setuju bertemu dengan kami."
Wajah Dion dan Maya nampak sangat serius dan tersirat ada kekhwatiran di sana. Sudah sering kali mereka datang ke sini, tapi hasilnya selalu pulang dengan tangan kosong. Mereka berharap besar kepada kesempatan mereka kali ini.
Mata Dion dan Maya langsung beralih menatap ke arah beberapa orang yang bergabung dalam rombongan tersebut. Orang tersebut langsung berhenti berjalan pas di hadapan Maya dan Dion.
"Maaf Pak silahkan ikuti kami," titahnya.
"Baik Pak," ucap Dion.
Dion dan Maya saling berpandangan dan tersenyum penuh arti, sebelum mereka mengikuti langkah kaki beberapa orang tersebut. Mereka dituntun hingga ke dalam ruangan khusus dan di sana sudah ada seorang yang duduk di kursi kebesarannya yang menghadap ke arah jendela kaca yang sangat tinggi itu.
Dion dan Maya berdiri di belakang kursi CEO Perusahaan Centex. Maya dan Dion harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi dengan nasib perusahannya.
Dion berharap kedatangannya kali ini ke Inggris membawa angin segar bagi perusahaannya. Dan bonus bulan madu sudah menantinya, jika berhasil menggolkan proposal kerja sama mereka kali ini.
...------...
Makasih banyak atas dukungannya dan Fania ucapkan Terima kasih banyak untuk Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus dengan tetap baca, Like setiap Babnya. Dan Fania harap saat baca jangan ada bab yang dilangkahi atau diSkip agar pemahaman terhadap ceritanya tidak rancuh dan membuat kakak Readers kebingungan dengan alur cerita CYT.
Dan jika ada waktu luang Kakak juga bisa mampir ke Novel recehku lainnya dan ceritanya dijamin berbeda dengan Novel CYT
Semoga suka, ditunggu Feekbacknya kakak, dan jika ingin memberikan komentar please gak usah yang Julid Kakak, Fania tak sanggup untuk baca 🤭, Kalau bisa Komentarnya yang bijaksana saja ✌️
Maaf jika ada beberapa kesalahan dalam penulisannya 🙏
...********Bersambung********...
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Sabtu, 21 Mei 2022