Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 155. Selesaikan Dengan Kesabaran


__ADS_3

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada orang lain, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak butuh itu.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan? aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, bagaimana jika mereka memenjarakan aku dan memisahkanku dengan Alif, aku harus bagaimana lagi? tidak mungkinkabur lagi dari sini. Lagian gimana caranya juga kabur dari sini dan tujuan aku akan kemana? Hanya di sini tempat yang aman untuk berlindung dari Abang Nurman."


Ibu Sumartini duduk di ujung ranjangnya, lalu berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke arah jendela kamarnya. Dia membuka pintu jendelanya dan membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya hingga wajahnya diterpa angin sepoi-sepoi malam itu.


Air matanya kembali menetes untuk kesekian kalinya. Hatinya sangat sedih ketika kembali mengingat saat pertama kali bertemu dengan Alif. Hatinya teriris sangat terpukul melihat anak kecil yang terbaring lemah di dalam ruangan seorang diri dalam keadaan tangan dan kakinya terikat sedangkan mulutnya pun ditutup kain.


Aku sangat menyayangi Alif melebihi anakku sendiri, bahkan Aku rela melakukan apa pun asalkan Alif selamat dan bahagia bahkan jika ada yang meminta nyawaku aku tidak akan segan untuk mengiyakan keinginan mereka."


Ibu Sumartini memegang ujung kosen jendela kamarnya. Dinginnya angin malam tidak membuatnya menyurutkan niatnya untuk dirinya berdiri di sana.


Cahaya rembulan malam sangatlah terang yang sinarnya menerangi malam itu. Burung hantu sudah bergelantungan di atas pohon dengan suara khasnya mengisi malam itu.


Pintu Apartemen itu terbuka lebar dan masuklah Maya, Nenek Masitha dan Dion masuk beriringan ke dalam ruangan tengah. Maya berjalan ke arah kamar Alif terlebih dahulu untuk melihat apa anak kecil itu sudah tidur atau belum. Alif tidak ada di dalam kamarnya.


"Sepertinya Alif ada di dalam kamar Emaknya, tidak mungkin Alif tidur seorang diri itu sama menyiksa Alif," ucapnya lalu menutup rapat pintu bercat putih bersih itu.


"Maya, apa Alif ada di dalam?" Tanya Nenek Masitha saat pintu itu tertutup rapat.


"Alif tidak ada nek, Alif itu paling pantang untuk berada di dalam kamarnya sendiri, dan jika itu terjadi maka Alif akan berteriak histeris Nek, Saya tidak tahu kenapa dia seperti itu," jawabnya.


Mereka berjalan santai menuju kamarnya Ibu Sumartini. Nenek Masitha menatap ke arah Maya yang penasaran alasan dibalik kejadian itu.


"Apa jangan-jangan Alif pernah mengalami hal yang tidak baik sehingga Alif trauma?" Tanya Nenek Masitha yang menatap serius ke arah Maya.


"Entahlah Nek, Maya pun tidak tahu apa yang terjadi tapi kalau menurut Maya sepertinya Alif trauma karena dari sikapnya yang kadang tiba-tiba histeris saat ruangan gelap gulita," ujarnya lagi yang ikut kepo dengan apa yang terjadi dengan nasibnya Alif.


"Semuanya akan terjawab setelah kita bertemu dengan Emaknya, Aku yakin semua tentang Alif dia tahu semuanya, tapi yang aku khawatirkan adalah emaknya tidak siap untuk berterus terang dan terbuka untuk menjelaskan semuanya," ucap nenek Masitha.


"Kita coba saja dahulu Nek, tapi sepertinya kita harus mendekati dengan penuh kelembutan, jangan memaksanya untuk jujur, mungkin harus perlahan-lahan saja agar beliau merasa nyaman dan leluasa untuk berbicara di depan Kita," timpal Dion.


"Apa yang dikatakan oleh Dion benar juga, Nenek sepaham dengan hal itu, sepertinya Nurmala menyimpan banyak rahasia besar yang butuh waktu untuk mengetahui semua itu," jelasnya.


Awalnya mereka ingin langsung ke kamar Nurmala Emaknya Alif, tapi mereka mengurungkan niatnya. Karena sudah jam 2 malam, mereka untuk memutuskan nanti besok pagi baru mereka berbicara dari hati ke hati agar terasa lebih enak dan santai.

__ADS_1


Tidak semua permasalahan yang dihadapi harus diatasi dan dipecahkan dengan mengunakan kekerasan atau pun pemaksaan. Biarkanlah semuanya berjalan dan mengalir seperti apa adanya. Saling terbuka dan jujur serta saling memahami adalah salah satu kunci untuk mencari jalan keluar dari permasalahan. Mereka yakin Emaknya Alif pasti akan jujur dilihat dari sikapnya selama ini.


Mereka pun memutuskan untuk menginap di Apartemen tersebut. Dion dan Bryan memilih untuk tidur di kamarnya Alif, untung muat dengan postur tubuh mereka yang cukup tinggi. Sedangkan Nenek Masitha bersama dengan Maya.


Ke esokan harinya, seperti biasanya Nurmala bangun lebih cepat dari yang lainnya. Sudah bergelut dengan kompor, panci dan pisau dapurnya. Nurmala sedang sibuk masak makanan untuk sarapan mereka.


Berbagai masakan rumahan berhasil dimasaknya. Yang terakhir akan dia masak adalah sayur capcai, baru akan memotong bahannya, pergerakan tangannya terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Sontak dia memalingkan wajahnya ke arah belakang. Betapa terkejutnya dirinya, di saat dia melihat siapa pemilik suara yang menyapanya itu.


Tubuhnya langsung gemetaran ketakutan, keringatnya sudah bercucuran membasahi pipinya. Tangannya langsung refleks terhenti, lututnya lemas hingga seakan-akan tidak mampu untuk menahan berat badannya.


Nenek Masitha yang melihat apa yang dialami oleh ibu Nurmala segera berjalan mendekatinya. Nenek Masitha menepuk pelan pundaknya Nurmala bertujuan agar Nurmala bersikap santai saja, dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan dan dirisaukan oleh beliau.


"Mungkin jalan yang terbaik adalah aku jujur saja, aku tidak mau dihantui rasa bersalah dan terbebani terus dengan rahasia besar ini, kalau pun mereka tahu dan Ingin memisahkan Aku dengan Alif, aku harus ikhlas dan sabar menerimanya, bagaimana pun juga Aku bukanlah siapa-siapanya Alif."


"Nurmala bagaimana kabarmu?" Tanya Nenek Masitha yang sudah duduk di kursi meja dapur pas di depan Nurmala.


"Alhamdulillah baik Mbak," jawabnya yang spontan.


"Lama yah kita tidak jumpa, kalau tidak salah 30 tahun lebih yah Nurmala," ucapnya sambil mencicipi beberapa masakan yang sudah tersaji di atas meja makan dengan cantiknya.


Nenek Masitha kembali teringat kala itu, saat dirinya begitu yakinnya jika Nurmala akan membantunya untuk segera bersaksi dan membebaskan suaminya dari hukumannya atas kesalahan suaminya yang tidak pernah dia lakukan.


Air matanya kembali menetes, tapi hal itu tidak ingin dipikirkan dan diratapi hingga berlarut-larut lamanya. Tidak ada gunanya selalu hidup dalam rasa penyesalan dan hidup dalam kata andai saja.


Yang perlu dilakukan adalah memperbaiki yang sudah terlanjur terjadi dan berusaha untuk tidak kembali melakukan hal sama, ibaratnya jangan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya.


"Masakanmu masih seperti dahulu Nurmala, Saya masih ingat jika Kamu berkunjung ke rumah Kamu selalu menyempatkan memasak makanan dan kue untuk Martin kecil, Saya merindukan hal seperti itu Nurmala," ucapnya yang berlinang sudah air matanya.


Nurmala pun sudah berdiri terpaku dan terisak dalam tangisnya. Beliau mengingat masa bahagianya dahulu sebelum iblis merasuki hati dan jiwa Kakak satu-satunya itu yang merubah Nurman menjadi manusia berhati batu.


"Maafkan saya Mbak, Saya tidak hadir di persidangan Mas Ahmed dikarenakan Abang Nurman menculikku dan membawaku pergi jauh dari Surabaya waktu itu, hingga Abang Nurman memenjarakanku dan mengasingkan aku hampir 5 tahun lamanya," ucapnya dengan sesekali sesegukan.


Tubuhnya sudah luruh ke atas lantai dan terduduk dengan kepalanya yang tertunduk lesu dan tidak kuasa menahan penyesalan yang mendera hatinya.


Nenek Masitha segera mendekati Ibu Nurmala lalu memeluk tubuh itu dengan desain penuh kasih sayang dan empati. Nenek Masitha tidak menyangka jika ternyata Nurmala hidup dalam penyiksaan dari saudara kandungnya sendiri. Jangankan adiknya, orang tuanya pun dia biarkan hidup sengsara hingga maut menjemput mereka satu persatu. Nurman sedikit pun tidak iba dan kasihan kepada mereka.

__ADS_1


Mereka berpelukan saling menyalurkan rasa rindu dan kesedihan serta kebahagiaan karena mereka masih bisa dipertemukan kembali setelah sekian lama terpisah.


Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat atau didengar. Tetapi hanya bisa dirasakan dengan hati.


Semoga apa yang ditulis oleh Fania hari ini bermanfaat dan disukai oleh Readers.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus Fania bersyukur karena masih ada yang baca novel recehanku🥰.


Jangan lupa untuk mampir dan baca novel Lainku yang judulnya:


...1. Sang Penakluk...


...(Kisah anak-anaknya Martin dan Amairah)...


...2. Bertahan Dalam Penantian...


...3. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...


Cara untuk dukung CYT adalah:


...1. Like Setiap Episodenya 👍...


...2. Gift Poin dan Koin seikhlasnya 🎁...


...3. Favoritkan ♥️...


...4.Rate bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐...


...5. Bagi Sharenya dong Kak 👌...


...********To Be Continued********...


by fania mikaila Azzahrah


Takalar, SulSel, Kamis 16 Juni 2022

__ADS_1


__ADS_2