Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 87. Cobaan Lagi


__ADS_3

Selamat Membaca...


Hari ini Putri kecilnya Martin sudah bisa keluar dari Rumah Sakit. Pak Heri menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab untuk mengurus dan merawat cucunya di tangan Nenek Masitha, dikarenakan dirinya yang sulit untuk menetap di Indonesia. Kesibukannya sebagai pengusaha sekaligus Pengacara ternama akhirnya Pak Heri tidak bisa menjaga cucunya dan sepenuhnya menyerahkan semuanya ke tangan Martin selaku Daddy-nya.


"Makasih banyak Dokter atas bantuannya" ucap Martin saat mengurus administrasi kepulangan putri kecilnya.


"Sama-sama Pak dan semoga Baby nya Sehat selalu dan cepat besar" ucap tulus dokter tersebut.


Martin mengemudikan sendiri mobilnya pulang ke rumahnya dan sangat bersyukur karena putrinya sudah sehat dan normal seperti bayi baru lahir lainnya. Putri kecilnya dipangku oleh Nenek Masitha sambil mendongeng karena jika si Kecil rewel dan Nenek Masitha berdongeng maka si Kecil akan langsung terdiam dan tenang bahkan si kecil akan langsung terlelap dalam tidurnya. Seperti itulah kebiasaan setiap hari mereka lakukan.


Martin menunggu kedatangan Dion dan juga temannya yang akan menjadi calon bodyguard nya nanti setelah Martin akan melakukan beberapa tes dan pertanyaan. Martin sekarang tidak ingin kecolongan lagi. Tapi tiba-tiba hpnya berdering di saat dia mendudukkan tubuhnya ke atas kursi kebesarannya. Martin segera mengangkat telponnya langsung tanpa memeriksa siapa penelpon teresebut.


"Maaf Martin tolong datang segera ke rumahku" ucap Rian ipar sepupunya Dion yang nampak cemas hal itu terdengar dari suaranya.


"Ada apa kak, apa yang terjadi?" tanya Martin yang langsung teringat dengan putranya Axel.


"Axel menghilang Martin saat Axel diajak jalan-jalan ke Taman bersama dengan Alena istriku" jawab Rian Mandala putra.


"Gimana bisa Kakak itu terjadi, setahu Saya banyak pengawal yang diturunkan langsung oleh Papa Heri untuk menjaga Axel!!" ucap Martin yang sudah berteriak.


"Saya mohon cepatlah ke Sini dan tolong hubungi nomor hpnya paman karena sedari tadi saya hubungi, tapi tidak tersambung dan nomornya berada di luar jangkauan" tutur Rian suami dari Alena putri Tante Hernita.


Tante Her dan paman Agung Wijaya berada di Luar Negeri sedang mendatangi undangan dari salah satu rekan bisnisnya sekaligus akan ke Inggris untuk berkunjung ke rumah kakaknya Pak Hermawan.


"Baiklah aku akan segera ke sana" ucap Martin yang langsung berlari ke arah luar ruangan tersebut sambil tidak lupa mengambil kunci mobilnya.


Belum sempat Martin membuka pintu mobilnya, Mobil Dion memasuki pekarangan rumahnya. Martin segera memberikan kode kepada Dion agar segera memutar balik mobilnya dan mengikuti arah mobilnya. Dion yang diberikan kode langsung memutar setir mobilnya dan mengikuti laju mobil Martin dari belakang.


"Apa yang terjadi?" tanya Dion melalui Hpnya.


"Axel menghilang dan kemungkinannya ada yang menculik putraku dari pengawasan Rian dan Istrinya" ucap Martin yang memasang headsfree di telinganya untuk memudahkan dia berkomunikasi dan tidak menggangu perjalanannya di jalan raya.


"Itu tidak mungkin!! pasti kamu salah dengar, karena sistem keamanan di rumah Rian itu sangat lengkap dan canggih, kalau cuma orang biasa pasti ketahuan dan akan gagal, tetapi kalau orang ahli di bidangnya pasti kemungkinan besarnya berhasil" ucap Dion yang sangat tidak percaya dengan perkataan Martin.

__ADS_1


"Pencuri itu bertindak di luar rumah dan di sekitar Taman sehingga mereka berhasil menculik Axel, nanti kita sambung lagi, Aku tidak ingin terlambat sampai di sana" ucap Martin.


Tut.. Tut.. sambungan teleponnya pun terputus.


"Ya Allah jaga dan lindungilah putraku, semoga putraku tidak kenapa-kenapa".


Mobil mereka bagaikan sedang adu balapan di lintasan sirkuit saja, karena mereka tidak perduli lagi dengan rambu-rambu lalu lintas yang ada. Mereka bahkan membuat ketar ketir pengemudi mobil dan sepeda motor lainnya yang kebetulan ada di sekitar jalan raya yang mereka lalui.


Hingga mereka pun sampai tepat di depan pintu rumah Alena dan Rian yang membuat penghuni rumah tersebut terkejut mendengar suara decitan ban mobil yang cukup memekakkan telinga mereka. Mereka pun menoleh ke sumber suara tersebut. Martin langsung berlari ke arah pintu rumahnya Alena dan tanpa mengucapkan salam dan apa pun langsung menghadap ke arah Rian dan langsung menyerang Rian dengan seribu macam pertanyaan.


"Rian di mana putraku Axel?" tanya Martin yang mengamati seluruh penjuru ruangan tersebut, tapi tidak menemukan keberadaan dari Axel.


"Martin tenanglah dan dengarkan penjelasan dari Kak Rian dulu" ucap Dion yang sudah memegang tangan Martin.


"Bukan kamu yang kehilangan putra tapi aku yang merasakan gimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi dalam jangka waktu seminggu saja, Aku tidak sanggup kalau harus kehilangan putraku juga Dion!!" ucap Martin yang terduduk di lantai saking takutnya dan cemasnya jika terjadi sesuatu kepada Axel.


"Iya kami tahu itu, tetapi tolong tenanglah dan jernihkan pikiran kamu dulu, dan ayok kita duduk agar kamu bisa berfikir dengan tenang" ucap Dion.


"Saya dan istri Saya sangat menyesal dengan kejadian ini tapi kami tidak menyangka jika baby sitter yang selama ini kami pekerjaan ternyata bersekongkol dengan pencuri tersebut, karena Saya sudah mewanti-wanti dan memperingatkan kepada dia agar tidak keluar rumah selangkah pun, tapi tanpa sepengetahuan dari kami dia pergi dan membawa Axel bersamanya hingga mereka belum ditemukan keberadaannya sampai detik ini dan Saya sudah mengecek langsung Cctv-nya tapi tidak ada tanda-tanda sedikit pun dari pelakunya, seakan-akan mereka setelah melakukan hal itu langsung menghilang bak ditelan bumi" ucap Rian panjang kali lebar sama dengan tinggi.


"Brian Regan tolong periksa cctv kejadian tersebut dan jangan biarkan ada yang terlewat dari pengamatan kalian" ucap Dion kepada pria yang sedari tadi bersamanya yang nantinya akan menjadi pengawal pribadi Martin.


"Baik" ucap singkat Brian Regan, tapi langkah jarinya terhenti di atas keyboard laptop setelah tanpa sengaja melihat ke arah tangga dan tidak menyangka dirinya bisa bertemu kembali dengan pemilik senyuman indah dan manis yang selalu menjadi pengisi mimpi indahnya.


"Bram cepatlah" teriak Dion yang melihat arah pandangan Brian Regan yang tidak mengerti karena yang turun dari tangga adalah saudara sepupunya yaitu adik bungsu dari Alena yaitu Arumi.


"Informasi apapa yang kamu dapatkan??" tanya Martin yang tidak sabaran ingin mengetahui apa yang terjadi dengan putranya.


Bryan kembali profesional dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda itu.


"Saya sudah mendapatkan informasi tentang siapa yang menculik putra Anda tapi Maafkan saya tidak tahu siapa sosok orang tersebut karena mereka memakai masker dan topeng wajah" ucap Bryan Regan.


Dion dan Martin segera memperhatikan seksama laptop tersebut. Dan ternyata dugaan Rian tentang keterlibatan baby sitter tersebut benar adanya.

__ADS_1


"Ternyata apa yang aku katakan benar kalau baby sitter tersebut adalah komplotan yang menculik Axel" ucap Rian setelah ikut melihat isi dari layar laptop tersebut.


"Apa salahku sehingga mereka tega memisahkan Aku dengan istri dan anakku?" tanya Martin yang semakin terpuruk setelah mengetahui putranya diculik.


"Martin sadar lah jangan lemah seperti ini, kamu itu seorang pemimpin dan jika kamu lemah maka kamu akan semakin tidak bisa menemukan istri dan anakmu, Aku mohon bersabar dan bangkitlah, jangan mau kalah dengan mereka" ucap Dion yang berusaha membujuk dan memberikan motivasi kepada Martin agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya akan kehilangan putra dan wanita yang di sayangnya.


"Iya betul itu kata Dion, Martin sadarlah masih ada putri kecil kalian yang sangat membutuhkannya kamu dan kami berjanji akan membantu kamu untuk mencari Amairah dan Axel" timpal Rian Mandala putra.


Kelemahannya Martin terletak pada anak dan istrinya serta neneknya. Martin akan terlihat sisi lemahnya jika harus dihadapkan pada keselamatan orang yang dia sayangi.


"Martin perkenalkan Dia Bryan Regan yang akan menjadi pengawal pribadi kamu dan dia punya Anak buah yang cukup handal dan bisa diandalkan untuk menjaga putri kamu" ucap Dion yang memperkenalkan Bryan dengan Martin setelah Dion merasa Martin sudah baikan.


"Bryan, senang bekerja sama dengan tuan" ucap Bryan sambil menjabat tangan Martin.


"Martin, Saya senang dengan kehadiran kamu di sini dan tolong bantu saya untuk menemukan istri dan putraku" ucap hibah Martin.


"Insya Allah, Saya dan anggota saya akan melakukan yang terbaik untuk tuan Martin" ucap Bryan.


"Tidak usah terlalu resmi begitu dengan memanggil saya dengan sebutan tuan, lagian mungkin kita seumuran jadi panggil nama saja" ucap Martin yang merasa sungkan dipanggil tuan oleh Bryan.


"Maaf itu sudah menjadi peraturan di klan kami tuan walau pun itu permintaan dari atasan kami, tapi kami tidak bisa melanggar aturan kami yang sudah ada sejak puluhan tahun lamanya" ucap Bryan Regan.


"Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, Saya tidak memaksa kamu jika itu bertentangan dengan aturan kalian yang sudah kalian junjung tinggi sejak lama" ucap Martin yang bangga dengan prinsip dari Bryan Regan.


"Maaf ganggu silahkan diminum tehnya, dan Maaf sedikit terlambat" ucap Arumi dan gerakan tangannya menggantung dengan cangkir kopi yang ada di dalam genggamannya setelah matanya berserobot dengan netra hitam milik Bryan Regan.


...********Bersambung********...


Makasih banyak atas dukungan kalian dan sudah menyempatkan waktunya untuk singgah membaca novel recehku 🙏✌️.


Jangan Lupa untuk selalu Like setiap Episodenya, Favoritkan dan Rate Bintang 5 🙏.


Fania tidak bisa menyebut nama kalian satu-satu.✌️

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Rabu, 04 Mei 2022


__ADS_2