
Selamat Membaca..
Siang harinya Mereka sudah bersiap untuk berangkat kembali ke Tanah Air Indonesia. Segala persiapan dan barang-barang bawaan mereka sudah diatur dan dipersiapkan oleh Aisyah Akyurek.
Aisyah memang bisa diandalkan dalam segala hal, selalu mengerti dan tahu apa yang diinginkan oleh Amairah dan Tuan Besar Luis. Dennis dan Delisha sangat bahagia setelah mengetahui jika mereka akan pulang ke Jakarta bertemu dengan keluarganya yang lain.
Amairah berjalan menghampiri Aisyah yang mengatur anak buah dan mobil apa yang akan mereka pakai ke Airport. Aisyah melirik sesaat dan sudah yakin dengan maksud kedatangan Amairah ke tempat itu.
"Aisyah Kakek mana? kok nggak ada di kamarnya yah?" Amairah heran dengan Kakeknya yang biasanya jam segini ada di dalam kamarnya.
Aisyah terlebih dahulu membungkukkan tubuhnya sedikit lalu menatap ke dalam ke dua bola matanya Amairah sebelum menjawabnya.
"Maaf Nona Muda, barusan Tuan Besar Luis berangkat ke Swiss, ada pekerjaannya yang harus Beliau tangani segera yang tidak bisa ditunda lagi," Aisyah berkata seperti itu sesuai dengan yang diamanahkan dan diperintahkan oleh Tuan Besar Luis kepadanya sebelum berangkat.
"Tumben Kakek gak bilang-bilang, biasanya setiap kali ada kerjaan ke Luar Negeri selalu tanya Amai dulu," keheranan dengan sikap kakeknya yang tidak seperti biasanya.
"Apa Nona sudah siap berangkat?" Aisyah yang sudah memastikan persiapan mereka yang sudah beres.
"Iya, kita berangkat sekarang," Amairah berbalik meninggalkan Aisyah lalu berjalan ke arah pintu masuk Istana Kakeknya untuk memanggil anak kembar dan Suaminya.
Amairah merasa ada yang aneh dengan Kakeknya yang tidak biasanya bersikap seperti itu, tapi Amairah membuang jauh pikiran negatifnya dan menerima keputusan kakeknya tersebut.
"Amai Ingin memeluk tubuh Kakek sebelum Amai pulang kek," Amairah menyeka air matanya yang tetesannya sudah membasahi wajahnya.
Aisyah memandang punggung Nona mudanya dengan tatapan raut wajah sedih.
"Maafkan saya Nona harus berbohong mengikuti perintah dari Tuan besar Luis."
Amairah bahagia akan pulang ke negara asalnya, tetapi ada kesedihan yang tidak bisa terungkap dengan kata saat akan meninggalkan Istana megah milik kakeknya yang hampir lima tahun itu dia tempati menghabiskan beberapa saat waktunya. Suka dan dukanya dia rasakan.
Amairah satu persatu melihat dengan seksama seluruh penjuru ruangan seakan-akan dirinya ingin menyimpan kenangan tersebut di dalam memorinya, walaupun Amairah masih bisa datang kapan saja dia inginkan.
Di Istana inilah dirinya berhasil diselamatkan dan mendapatkan pengobatan dan perawatan yang sangat baik sehingga dirinya seperti terlahir kembali. Serta putra ke duanya yang sudah dinyatakan oleh dokter sulit untuk disembuhkan dan diselamatkan dengan ijin Allah SWT melalui tangan-tangan dokter ahli yang dimilki oleh Kakeknya berhasil menyelamatkan nyawa Dennis Ritchie Arfathan Lee.
Martin yang melihat kedatangan istrinya tahu dengan sangat kesedihan yang dirasakan oleh Amairah tanpa harus mengungkapkan semuanya di hadapannya. Martin sangat mengerti dengan apa yang dialami oleh Amairah, tapi tidak mungkin juga mereka harus tinggal dan hidup selamanya di Istana ini.
Mereka juga punya kehidupan sendiri yang harus dijalani oleh mereka. Apa lagi kepulangan Martin sudah ditunggu di Perusahaannya sedangkan Amairah dengan kepulangannya ke Indonesia, membuat Maya dan sepupunya Dion bisa bersatu kembali dan segera melangsungkan pernikahan mereka yang sempat tertunda beberapa tahun silam.
Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun, semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita sendiri
Hanya alang-alang pagar rumah kita
Tanpa anyelir tanpa melati
__ADS_1
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita
Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya?
Lebih baik disini
Rumah kita sendiri
Segala nikmat anugrah Yang Kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita
Lebih baik di sini
Rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa semuanya di sini ada disini
Rumah kita.
Martin tidak ingin berkomentar apa pun walaupun dia tahu apa yang terjadi dengan Istrinya tersebut.
"Dennis, Delisha sayang waktunya kita pulang," lalu mencari keberadaan ke dua anak kembarnya tersebut.
"Mommy, Dennis ada di sini," jawabnya lalu berlarian bersama adiknya menuju Momsnya.
"Kalian siap pulang?" tanya Martin yang menangkap dan memeluk langsung ke dua tubuh anaknya.
"Yes, Daddy kami siap," ucap mereka bersamaan.
"Kalau gitu let's go," Martin memegang masing-masing tangan anaknya, Denis di sebelah kiri sedangkan Delisha di sebelah kanannya.
Tawa riang dan gembira terpancar di raut wajah keduanya, mereka sudah tidak sabar untuk pulang. Martin sesekali melirik ke arah wajah istrinya yang kadang memperlihatkan wajah murungnya, tapi sering kali berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaan sedihnya di depan suami dan anaknya.
Amairah berusaha tersenyum manis seperti biasanya agar Martin tidak mengetahui kegelisahan yang dirasakannya.
"Kakek Amairah pulang, jaga diri kakek baik-baik, maafkan Amairah yah selama ini sudah merepotkan dan menyusahkan Kakek, makasih banyak tanpa bantuan Kakek, hari ini pasti tidak akan terjadi, Kakek Amairah sangat sayang Kakek, see You Kakek, Amairah menunggu kedatangan Kakek di Jakarta."
Amairah menatap ke arah ruangan pribadi kakeknya dengan penuh harap agar kakeknya keluar dari kamar itu dan memeluk tubuhnya sebagai tanda ucapan selamat perpisahan mereka. Tapi, harapan itu tidak mungkin jadi kenyataan.
Aisyah dan anak buahnya yang lain langsung tanggap untuk membuka pintu mobilnya setelah mereka melihat kedatangan rombongan keluarga kecil yang penuh kebahagiaan. Wajah mereka sama-sama menyimpan rasa yang berbeda-beda.
Amairah tidak memungkiri jika dirinya sudah lama ingin kembali dan pulang ke tanah air, tetapi di sisi lain hatinya juga merasakan kegalauan dan kesedihan yang mendalam saat dia akan meninggalkan kakeknya sendirian yang nantinya akan kesepian tanpa mereka.
__ADS_1
Walaupun Amairah sudah berjanji pada dirinya dan di hadapan Kakeknya, jika Dennis dan Delisha berumur 15 tahun mereka akan tinggal di Istana megah ini. Janji itu pasti Amairah realisasikan dan buktikan untuk kebaikan anak-anaknya kelak
"Aku pasti akan kembali ke sini."
Amairah masuk ke dalam mobilnya berdampingan dengan suaminya sedangkan ke dua anak kembarnya berada di kursi yang berhadapan langsung dengan mereka.
"Maafkan Mas sayang, Ini semua Aku lakukan untuk kebaikan kita bersama, bukannya Mas egois untuk memisahkan Kamu dengan Kakek, tapi Mas tidak mungkin juga harus hidup sendirian di Indonesia sedangkan Kamu di USA, Mas janji jika ada waktu luang kita pasti akan datang lagi ke New York City, itu janjiku padamu."
Martin meraih tangan kanan istrinya lalu menciumnya, Martin ingin menyalurkan rasa sayangnya agar Amai bisa pulang ke Indonesia dengan ikhlas dan tidak ada beban yang menghimpit pikiran dan hatinya.
"Mommy Dennis senang sekali," ucap Dennis saat dirinya sudah duduk di kursi mobilnya matanya sangat berbinar-binar berkilat cahaya kegirangan.
"Kenapa sayang?" tanya Amairah lalu menatap ke arah putranya.
"Dennis bahagia karena di Indonesia banyak keluarganya Denis Mommy, kalau di Istananya Kakek cuma Kakek dan Mommy saja," jawabnya dengan raut wajahnya yang tiba-tiba sendu.
"Sabar yah sayang, mereka sudah tidak sabar menunggu kedatangan Denis loh dan katanya Kakek Heri sudah menyiapkan pesta dan syukuran untuk menyambut kedatangan Denis," jawabnya yang sudah memangku tubuh putranya.
"Serius moms?" tanya Denis dengan kegirangan dan sudah membayangkan hal tersebut.
Amairah hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari anaknya.
Mobil sudah meninggalkan istana megah itu menuju Bandara. Perasaan mereka campur aduk saat meninggalkan New York. Amairah tidak hentinya menatap ke arah belakang melalui jendela mobilnya, Ia berharap Kakeknya berlari mengejarnya. Tapi, harapan itu hanya tinggal harapan yang tidak terlaksana hingga mobilnya melaju dengan kecepatan sedang ke arah pintu gerbang kokoh nan tinggi itu.
"Good Bye Kakek, Amairah sangat Sayang kakek."
Amairah tidak kuasa lagi menahan air matanya saat rumah bak Istana itu sudah tidak terlihat lagi dari pelupuk matanya. Martin yang melihat istrinya menangis langsung meraih kepala Istrinya untuk dia sandarkan di pundaknya.
"Menangislah, tidak perlu Kamu tahan lagi, Mas sangat mengerti dengan apa yang Kamu rasakan, Mas juga merasakan hal yang sama seperti yang Kamu rasakan," Martin menggenggam erat jemari tangan Amairah tak bosan untuk menciumnya.
Di mana ada pertemuan pasti ada Perpisahan, tidak ada yang abadi. Kesedihan yang dirasakan setiap insan itu manusiawi.
Entah kenapa kalau ngetik Bab yang isinya tentang perpisahan hati ini akan selalu sedih, dan air mata othor selalu netes juga.
Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak 🙏🥰
...Tetap Dukung CYT dengan:...
...Cara Like setiap Babnya...
...Rate bintang lima...
...Gift Poin atau Koin...
...Favoritkan...
...********Bersambung********...
by Fania Mikaila AzZahrah
Takalar, SulSel, Sabtu, 11 Juni 2022
__ADS_1