
Selamat Membaca..
Mobil yang mereka tumpangi sudah meninggalkan istana megah itu menuju bandara. Perasaan mereka bercampur aduk saat meninggalkan New York. Amairah tidak henti-hentinya menatap ke arah belakang melalui jendela mobilnya, dia berharap Kakeknya berlari mengejar nya dan segera memeluknya dan menahannya untuk kembali ke Indonesia, tapi harapan itu hanya tinggal harapan yang tidak terlaksana, hingga mobilnya melaju dengan kecepatan sedang kearah pintu gerbang kokoh dan tinggi itu.
" goodbye kakek, Amairah sangat sayang sama kakek."
Amairah tidak kuasa lagi menahan air matanya saat rumah bak istana itu sudah tidak terlihat lagi dari pelupuk matanya Martin yang melihat istrinya sedang menangis langsung meraih kepala istrinya untuk dia sandarkan di pundaknya.
"Menangislah, tidak perlu Kamu tahan lagi Mas sangat mengerti dengan apa yang Kamu rasakan, Mas juga merasakan hal yang sama seperti yang Kamu rasakan," Martin menggenggam erat jemari tangan Amairah dan tidak bosan untuk menciuminya.
Di mana ada pertemuan pasti ada perpisahan tidak ada yang abadi kesedihan yang dirasakan setiap insan itu manusiawi dan berbeda-beda tingkatan kesedihan yang dirasakan.
"Mas janji secepatnya kita akan kembali ke sini lagi, itu janji Mas," ucap Martin yang selalu setia menggenggam tangan Istrinya.
Si kembar yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam dan menatap apa yang dilakukan oleh ke dua orang tuanya.
Beberapa jam kemudian, Pesawat sudah meninggalkan airport menuju Indonesia. Delisha dan Dennis sudah terlelap di dalam kamarnya.
Amairah dan Martin serta Aisyiah yang sedari tadi duduk bersebelahan dengan Tuan Muda dan Nona Mudanya. Mereka duduk sambil menikmati suguhan dari Chef khusus yang mereka panggil untuk menemani mereka dalam perjalanan pulang dari USA ke Jakarta, Indonesia.
Berbagai masakan ala Inggris yang menjadi pilihan mereka saat bersantap malamnya. Denis dan Delisha tidak sempat makan malam bersama mereka karena terlebih dahulu tertidur. Padahal baru jam 07.00 malam hari Kamis.
"Sayang tambah makannya, sepertinya porsi Kamu sangat sedikit, Kamu kurang tenaga kalau segitu saja Kamu makan," ucap Martin lalu menyendokkan makanan ke atas piringnya Amairah.
Amairah hanya tersenyum melihat piringnya yang sudah penuh dan gendut yang sudah berisi berbagai macam makanan.
Mereka makan sambil sesekali bercanda membuat suasana makan mereka menjadi ramai. Andai saja Axel berada di antara mereka pasti mereka akan ditegur dan dilarang agar mereka diam.
Sedangkan jauh di sana di belahan Dunia lainnya. Maya dan Dion pagi ini janjian untuk makan pagi bersama di Apartemen Maya. Dion ingin menyampaikan sesuatu kepada Maya tentang kedatangan Amairah beserta keluarga kecilnya serta acara penyambutan untuk Dennis Richie Arfathan Lee.
Dion juga berniat untuk mengantarkan beberapa oleh-oleh yang dia bawakan khusus untuk Alif Faturahman. Dion sudah bersiap berangkat dan di dalam mobilnya, hpnya berbunyi pertanda ada chat yang masuk ke aplikasi hpnya yang berwarna hijau itu.
Dion segera membukanya lalu membacanya. Dion tersenyum saat mengetahui jika Martin dan Amairah beserta yang lain sudah berada di atas pesawat menuju Indonesia.
"Alhamdulillah, akhirnya Mbak Amairah pulang juga ke Jakarta, setelah kurang lebih empat tahun kami menunda pernikahan kami akhirnya hari itu datang juga."
Senyuman selalu menghiasi wajahnya Dion saat mengetahui jika Martin sudah berada di jalan menuju Jakarta. Dion tidak sabar ingin segera bertemu dengan Maya dan segera ingin menyampaikan berita gembira tersebut di hadapan Maya.
"Tunggu Aku sayang, kita akan segera melangsungkan pernikahan kita yang sudah lama kita tunggu."
Mobil hitam Lamborgini milk Dion sudah bergabung dengan pengendara roda empat lainnya. Suasana pagi itu cukup sepi karena masih cukup pagi sehingga jalan alternatif yang dipilih Dion membuatnya perjalanan Dion lancar jaya tanpa hambatan apa pun yang berarti hanya sesekali Dion yang berhenti saat berada di bawah lampu merah.
Maya dan Bu Sumartini sedang sibuk dengan panci dan pisau yang mereka pegang. Pagi ini Maya dan Bu Sumartini berencana ingin masak berbagai macam masakan kesukaan dari Dion.
Ada ikan tongkol masak woku, sayur asem, udang tepung, dan sambal terasi yang akan mereka buat dan sudah ada beberapa masakan yang selesai mereka masak. Sedangkan Alif berada di dalam kamarnya sedang menyelesaikan tugas sekolahnya.
"Bu semuanya di cuci sayurnya yah, terus kalau airnya sudah mendidih apa langsung dimasukin semua atau gimana Bu?" tanya Maya disaat ingin mencuci bahan-bahan untuk masak sayur asem.
Bahan itu terdiri dari ada jagung manis kuning, kacang panjang, labu siam, sedikit perasan asam Jawa, kacang tanah, cabe rawit dan bawang putih dan merah untuk menambahkan sebagai pelengkapnya.
__ADS_1
"Biarkan airnya mendidih Sesaat lalu masukkan, jagung manisnya hingga matang ke lalu bahan lainnya yang menurut Kamu ukurannya besar dan tebal seperti labu siam, yang terakhir adalah kacang panjangnya karena kacang panjang yang paling cepat matang," jelas Bu Sumartini.
Selama ibu Sumartini tinggal bersamanya, sudah ada beberapa masakan sederhana yang mampu Maya masak. Ibu Sumartini mengaduk dan memeriksa Ikan woku sudah mendidih di dalam panci.
Masakan khas Manado Sulawesi Utara itu menjadi salah satu favorit dari Dion. Daun kemangi sebagai toping membuat semakin mempercantik tampilannya. Setelah sayur dan ikannya matang. Maya beralih untuk menggoreng udang yang sudah dibaluri dengan tepung terigu dan sedikit tepung maizena serta tepung tapioka agar kulit udang tepung itu lebih garing dan renyah.
Udang menjadi masakan pilihan terakhir mereka masak sedangkan sambal terasinya sudah siap dan sudah berada di Meja makan.
"Nyummi, enaknya," ucap Maya sambil menciumi aroma wangi dari udang yang baru dia tata di atas piring," Maya bahagia karena berhasil masak makanan kesukaan calon suaminya.
Belum selesai makanan itu disajikan di atas meja makan, Dion sudah berada di dalam Apartemen Maya yang kebetulan Dion sangat mengetahui akses kunci pasrword pintu apartemennya.
Dion terlebih dahulu berjalan ke arah Kamarnya Alif lalu memberikan semua oleh-oleh yang dia beli khusus untuk Alif seorang.
"Assalamualaikum," salam Dion lalu membuka lebar pintu kamarnya Alif yang tidak pernah tertutup rapat atau pun terkunci itu.
"Waalaikum salam," jawabnya rona wajah gembira.
Alif langsung bangkit dari duduknya setelah melihat Dion yang sudah dia anggap unclenya itu. Alif langsung meraih tangan Dion lalu segera mencium punggung tangannya Dion.
"Setiap kali aku bersamanya entah perasaan apa yang aku rasakan ini? Aku selalu bahagia berada di dekatnya serasa Alif adalah keluargaku sendiri."
"Ini mainan untuk Kamu," sambil menyodorkan beberapa paper bag ke hadapan Alif.
Alif tersenyum bahagia melihat semua hadiah itu. Alif selama tinggal bersama Maya sangat bersyukur karena sudah banyak mainan yang dia punya secara cuma-cuma. Bahkan perlakuan yang dia dapatkan tidak seperti anak pembantu.
"Alhamdulillah, makasih banyak Uncle," tutur Alif lalu membuka paper bag itu dengan tidak sabarnya.
"Apa kamu menyukai mainannya sayang?" tanya Dion yang duduk melantai di sampingnya Alif.
Alif terlebih dahulu menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Alif sangat senang uncle, ini mainan yang sedari dulu Alif impikan," jelasnya sambil memeriksa mainan Transformer edisi terbaru tahun ini.
"Uncle senang sekali jika Alif suka dengan semua pemberian yang uncle belikan," terang Dion yang tidak segan memperlihatkan rasa haru dan bahagianya berada di hadapan anak kecil yang baru berusia sekitar 8 tahun lebih itu.
Alif langsung bangkit dari duduknya kemudian mencium pipi Dion lalu memeluk tubuh tinggi tegap milik Dion. Dion tersenyum bahagia melihat perlakuan dari Alif Saking bahagia dapat mainan baru.
"Kalau gitu Dion pamit dulu yah, silahkan lanjutkan tugasnya boy," ujarnya lalu berjalan ke arah luar menuju dapur.
Alif menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis ke arah Dion yang sudah berada di ujung pintu.
Dion berjalan dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah tampannya. Hanya melihat senyuman di wajahnya Alif mampu membuat hatinya Dion adem dan tenang.
"Assalamu alaikum," ucap salam Dion yang langsung mengambil tempat duduk yang paling ternyaman untuknya.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Kok gak bilang sih kalau sudah datang,?" tanya Maya lalu melepas apron yang terpasang di tubuh langsingnya.
"Kalau ngomong itu bukan kejutan dong sayang," tutur Dion.
"Bu Sumartini, tolong panggilin Alif yah supaya kita bisa sarapan bersama," pinta Maya kemudian mendudukkan bokongnya di salah kursi yang ada di hadapannya Dion.
Bu Sumartini pun segera berjalan untuk memanggil Alif sesuai perintah dari Maya.
Bu Sumartini melihat anaknya yang sedang bermain setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya yang diberikan oleh gurunya.
"Alif ayok kita makan dulu nak, Alif dipanggil sama Mbak Maya," terang Emaknya.
Alif membereskan semua mainannya ke dalam wadah box yang ada di samping lemarinya kemudian berkata, "tunggu Emak, Alif taruh mainan Alif dulu yah."
Alif dan Ibu Sumartini sudah berkumpul di depan Meja makan.
"Kamu yang massk kah semua masakan ini?" tanya Dion yang keheranan dan sedikit tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
Dion bangga karena Maya sudah bisa masak makanan yang paling disukainya.
"Kalau gitu, Alif tolong pimpin doanya sayang," perintah Maya yang tersenyum simpul ke arah Alif.
Alif tanpa pikir panjang langsung membaca doa makan seperti yang biasa dia lakukan setiap hari selama mereka tinggal seatap. Beberapa detik kemudian, mereka sudah menyendok makanan ke dalam piring mereka masing-masing. mereka makan dengan penuh hikmah dan tampak dari raut wajah mereka kebahagiaan saat menyantap makanan tersebut.
"Sayang Mas ingin bicara sesuatu yang penting," ucap Dion.
Dion Langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alif.
"Uncle!! please kalau makan itu jangan bicara, Alif tidak suka," wajahnya yang langsung berubah garang lalu berdiri meninggalkan meja makan itu.
Semua orang memandang ke arah Alif dan keheranan karena baru kali ini melihat Alif yang marah dan berkata kasar di hadapan mereka. Ibu Sumartini mengikuti langkah putranya.
No matter how busy you are, no matter how far you go, your family is your home'. Money and popularity can't afford to be with family.
Sesibuk apapun, sejauh apapun pergi, keluarga merupakan tempat pulang'. Uang dan popularitas tak mampu membayar kebersamaan dengan keluarga.
Makasih banyak Atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus,🥰
Fania bersyukur karena masih ada yang mampir umum baca novel recehan fania.
jangan Lupa untuk tetap mendukung Cinta Yang Tulus dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan serta Gift dan Votenya yah ✌️
Suka dan bahagia dengan Koment Kakak 🙏
...********BERSAMBUNG********...
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Sabtu, 11 Juni 2022
__ADS_1