Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
Bab. 215. Taktik Axel Arfathan Lee


__ADS_3

Selamat Membaca..


"Alhamdulillah kita berhasil menumbangkan mereka semua," terang Delisha.


Baru sepersekian detik Delisha mengucapkan kata itu, tiba-tiba ada bunyi suara tembakan yang cukup memekakkan telinga dan membuat beberapa orang yang berada di TKP langsung mengarahkan pandangannya.


"Tidak!!!!!" Teriak Delisha.


Semua orang berlarian ke arah Axel saat melihat terkena tembakan. Abimanyu menembak dua kali pria yang menembaknya bagian tangan dan kakinya. Abimanyu ingin mengintrogasi pria itu.


"Kakak!! Delisha sudah menangis melihat kakaknya.


Mereka segera membawa Axel ke rumah sakit. Delisha tidak henti-hentinya menangis melihat saudaranya yang terkena tembakan di bagian lengannya.


Axel menghapus air mata adiknya dengan menggunakan tangan kanannya yang tidak terluka itu.


"Jangan menangis, kakak tidak akan mati hanya dengan luka kecil seperti ini," ucapnya yang menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok kursi mobilnya.


Aisyah satu mobil dengan Nathan, sedangkan Abimanyu menjadi supir dari mobil yang ditumpangi oleh Delisha dengan Axel.


Aisyah segera menelpon nomor hp Dennis untuk mengabarkan kepadanya bahwa Axel terluka dan dilarikan ke RS DA.


"Delisha takut kak, Delisha tidak mau terjadi apa-apa sama kakak," ujarnya.


"Insya Allah, kakak akan baik saja dan kakak mohon jangan ada yang menghubungi nomor hpnya Daddy, Kakek atau Mommy, aku tidak ingin mereka khawatir," terangnya.


Delisha hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Axel. Abimanyu yang melihat kesedihan yang dirasakan oleh Delisha hatinya ikut tersentuh dan sedih melihat gadis kecilnya meneteskan air matanya.


"Abang buruan bawa mobilnya!!" Ucap Delisha yang sedikit berteriak ke arah Abimanyu.


Delisha berusaha untuk menekan luka tembak di tangan kirinya Axel dengan mengikatnya menggunakan kain lengan baju kemejanya Abi. Awalnya Delisha kebingungan memakai robekan dari kain bajunya siapa, awalnya dia ingin merobek ujung roknya tapi segera dicegah oleh Abi.


Abi segera merobek menggunakan ujung kemejanya.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan RS. Abi membantu Axel untuk berjalan ditemani oleh Delisha. Perawat yang melihat kedatangan mereka segera menarik bangkar rumah sakit ke arah mereka.


"Ayo Pak dinaikkan tubuh pasiennya ke atas brankar," seru perawat tersebut.


Abi segera membantu menaikkan tubuhnya Axel ke atas bangkar tersebut. Axel dibawa ke dalam ruangan ICU untuk segera mendapatkan pertolongan dan perawatan.


"Ya Allah.. lindungilah kakakku, semoga luka tembak yang diderita oleh kakakku hanya luka biasa saja."

__ADS_1


Delisha duduk di kursi tunggu khusus pengantar pasien. Abi memegang tangan Delisha agar dia lebih tenang dalam menghadapi cobaan ini.


Aisyah, Nathan dan disusul oleh Dennis segera berlarian ke arah depan ICU. Langkah mereka cukup bising sehingga membuat beberapa orang saling berpandangan dan memperhatikan apa yang mereka lakukan.


Wajah mereka tampak khawatir, padahal Axel sudah melarang mereka untuk mengkhawatirkan keadaannya. Sedangkan orang yang dikhawatirkan hanya terdiam sembari terus memandangi wajah seorang suster yang sedari tadi menyita perhatiannya.


Entah kenapa hanya melihat senyuman dari perempuan itu membuat hatinya bergetar dan tersenyum tipis.


"Wajahnya ayu tanpa polesan make up sedikit pun."


Axel tak bosan-bosannya memandangi satu-satunya perempuan yang ada di dalam ruangan ICU itu.


"Sus Kamelia tolong selesaikan jahitan bapak Axel, Saya ingin melihat pasien kecelakaan yang baru datang," ujar Dokter yang awalnya menangani Axel.


Kamelia yang mendapatkan perintah dari dokter segera menjawabnya, "Baik Dokter."


Kamelia hanya seorang diri menangani luka dari Axel yang hanya tergores peluru saja. Suster yang diperhatikan seperti itu kadang memberikan seulas senyumannya yang begitu manis tanpa pemanis buatan.


"Apa sakit kalau saya jahit tangannya Pak?" Tanyanya yang melihat ke arah Axel.


Axel yang mendengar perkataan dari suster Kamelia segera menjawab pertanyaan, "Ohh tidak sakit kok kalau kamu yang menjahitnya."


Wajahnya semakin memerah saat Axel berkata, "Kalau kamu ada di dekatku, bagaimanapun sakitnya pasti akan aku tahan."


"Ini orang sedari tadi menggodaku, apa mungkin itu caranya untuk mengusir dan mengurangi rasa sakitnya yah?"


Dia terdiam seperti patung hanya bola matanya yang berbinar dan ujung bibirnya yang sering tersenyum tipis yang dia perlihatkan dihadapan Kamelia.


Sakit dan perihnya jahitan yang diberikan oleh suster Kamelia Anastasia yang bertuliskan di name tagnya tersebut, sama sekali tidak dia rasakan.


"Apa ada yang sakit Pak?" Tanya Kamelia yang menatap ke arah Axel yang hanya terdiam saja.


Kamelia menatap wajahnya Axel yang seperti seseorang yang menahan rasa sakit yang menderanya. Padahal Axel hanya berpura-pura saja tujuannya agar mereka lebih lama bersama dan berduaan saja.


"Aku harus berakting sakit saja agar bisa bersamanya."


Axel tersenyum licik. Dia sudah mendapatkan cara agar bisa lebih lama di dalam ruangan itu. Axel melupakan anggota keluarganya yang di luar ruangan ICU yang sedari tadi tidak tenang memikirkan keadaannya.


"Ya Allah… kenapa kakak lama sekali di dalam yah? apa lukanya kakak sangat parah sehingga sudah tiga jam lebih mereka di dalam?" Ujarnya dengan keheranan.


"Tunggu, aku akan masuk ke dalam untuk mengeceknya," terang Aisyah yang berjalan ke arah ICU diikuti oleh Nathan yang seperti seekor tokek saja yang selalu menempel di dinding.

__ADS_1


Sedangkan Dennis tubuhnya ada di dalam RS tapi pikirannya tertuju pada gadis yang dilihatnya. Setelah hampir empat tahun mereka tidak bertemu.


Dennis mengusap wajahnya dengan gusar. Dia tidak mengira jika perempuan itu datang lagi dalam hidupnya.


"Apa dia berniat untuk balas dendam padaku setelah malam itu?"


Dennis kembali teringat saat-saat mereka bersama dengan penuh gairah hasrat yang tersalurkan.


"Kenapa wajahnya semakin cantik saja."


Dia kemudian menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk menghilangkan rasa kagum yang muncul dalam hati dan pikirannya.


"Ini tidak boleh terjadi, aku harus berusaha membuang jauh perasaan seperti ini."


Dennis berperang melawan ego dan keinginannya yang terpendam selama ini. Dia diam-diam mengagumi perempuan yang telah berhasil merebut perjakanya. Dia pun sama, dia adalah pria yang pertama kali merenggut dan mencicipi mahkota kesuciannya.


Delisha kebingungan melihat kakak kembarnya terdiam dengan wajah yang sulit untuk terbaca.


"Apa yang terjadi sama kakak, sedari tadi hanya terdiam saja."


Delisha sesekali melirik ke arah kakaknya bergantian ke arah pintu. Aisyah yang ditugaskan untuk masuk memeriksa sampai sekarang pun belum datang juga.


Axel yang melihat Nathan dan Aisyah berjalan segera memberikan kode kepada keduanya. Axel meminta agar mereka membantunya untuk melancarkan taktik yang dia rencanakan.


Aisyah dan Nathaniel yang melihat dan mengetahui maksud dari kode yang diberikan oleh Axel segera saling berpandangan dan memulai aksinya mereka.


"Axel apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Aisyah yang langsung memeluk tubuh Axel lalu sedikit menekan lukanya Axel agar ia berteriak dan mengeluh.


"Aaahhh sakit!!" Teriak Axel yang menatap tajam ke Nathan sedang yang ditatap hanya tersenyum licik ke arahnya.


Kamelia yang mendengar teriakannya Axel segera berlari ke arah Axel berada.


"Apa yang terjadi Tuan Axel?" Tanyanya dengan raut wajahnya yang ketakutan.


Reaksi yang diberikan oleh Kamelia pun tidak menyadarinya jika dia melakukan hal tersebut.


Makasih banyak atas dukungannya kepada semua Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.


By Fania Mikaila Az Zahra


Makassar, 18 Juli 2022

__ADS_1


__ADS_2