
Selamat Membaca..
Nenek Masitha segara bertindak untuk memastikan dugaannya salah atau benar adanya. Nenek Masitha segera memberikan kode kepada Bryan Adams untuk segera menjalankan tujuannya. Bryan yang diberikan kode langsung cepat tanggap untuk meninggalkan tempat tersebut dan memenuhi permintaan dari Nenek Masitha.
" Maafkan Kami ibu hal itu terjadi karena Kami terlalu gembira melihat Alif dan menyangka dia adalah Axel karena dari wajahnya mirip sekali dengan cucu Kami, tapi ternyata bukanlah Axel dan kami sangat menyesal dan tidak bermaksud apapun itu, jadi kami mohon jangan dimasukkan di hatinya Bu," Terang Nenek Masitha.
"Saya saya bisa memakluminya hal itu wajar terjadi nyonya," ucap ibu Sumartini yang selalu menundukkan kepalanya sedari tadi jika ada yang mengajaknya berbincang.
" Sepertinya ada yang aneh dan disembunyikan oleh ibu Sumartini sejak kejadian Alif menjatuhkan piring, raut wajahnya dan sikapnya sungguh tidak seperti biasanya sejak itu ibu Sumartini selalu nampak grogi dan ketakutan bahkan tak jarang aku lihat banyak peluh keringatnya membasahi wajahnya."
Bryan yang diserahi tugas segera bertindak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya Alif dan Ibu Sumartini itu.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Amairah dan ke dua anak kembarnya memutuskan untuk hari ini akan menginap di rumah Pak Heri Papanya Amairah dan besok giliran rumahnya Nenek Masitha yang selama ini menjadi rumah tempat Martin dan putrinya tinggal.
Martin sudah memutuskan untuk menempati rumahnya yang sudah sejak lama dia beli khusus untuk istrinya tersayang dan ke tiga anaknya.
Bryan sedari tadi mengutak atik komputer yang ada di depannya. Ternyata cukup sulit juga untuk menemukan data pribadi tentang Bu Sumartini dan Alif. Awalnya ada secercah harapan,tapi kembali sirna setelah kembali gagal.
Nenek Masitha masuk ke dalam ruangan khusus untuk Bryan bekerja. Pintu terbuka dan masuklah Nenek Masitha kemudian duduk di hadapan Bryan. Sedangkan Bryan yang melihat kedatangan Nenek Masitha hanya melirik sepintas saja dan kembali serius untuk menatap layar laptopnya.
"Bagaimana Bryan apa Kamu sudah mendapatkan petunjuk tentang mereka?" tanya Nenek Masitha dengan wajah seriusnya.
"Maaf Nenek, tidak mudah untuk mencari informasi tentang mereka, di sini banyak sekali orang yang dibilang Sumartini," jawabnya.
"Apa sebaiknya kita bertanya pada Maya atau Dion saja sepertinya kita bisa dapat petunjuk dari mereka," ujar Nenek Masitha.
Bryan menatap ke arah Nenek Masitha lalu berkata," itu ide yang bagus dan Saya yakin kita pasti dapat info yang bisa berguna untuk pencarian kita."
"Aku akan telpon Maya, Karena kalau Dion pasti sibuk dengan pekerjaannya," ujar Nenek Masitha.
Beberapa saat kemudian, sambungan telponnya terhubung ke nomor hp Maya.
"Assalamualaikum Nenek," ucap Maya yang baru saja sampai di Apartemennya.
"Waalaikum salam sayang, apa kamu bisa datang ke rumah nenek, ada yang ingin nenek bicarakan dengan kamu," ucap nenek Masitha.
"Bisa kok nenek, tunggu beberapa menit aku mau mandi dulu, gerah soalnya," jawab Maya Erlene Kesya.
"Oke sayang, hati-hati," ucapnya lagi.
Nenek Masitha berjalan ke arah luar ruangan itu setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Maya.
"Aku yakin Alif itu cicitku Axel, tapi gimana caranya agar aku bisa mengetahui informasi itu dengan secara detail tanpa Ibu Sumartini tersinggung dengan apa yang kami lakukan."
__ADS_1
Ibu Sumartini duduk di atas ranjangnya setelah membersihkan seluruh apartemen Maya. Ibu Sumartini teringat masa lalunya.
Flashback on...
Waktu itu malam hari setelah membereskan semua perabot rumah tangga di rumah besar itu. Rumah bak istana itu adalah rumah kakaknya sendiri. Tapi, ibu Sumartini tidak pernah dianggap sebagai adiknya sendiri melainkan dijadikan sebagai pembantu saja, bahkan kesalahan sedikit saja beliau lakukan pasti akan kena marah dan kadang tidak segan Kakaknya akan memerintahkan kepada anak buahnya untuk memukuli tubuhnya Ibu Sumartini.
Ibu Sumartini seperti sapi perah saja yang setiap hari bekerja tanpa mendapatkan gaji sedikit pun. Hanya omelan dan pukulan yang dia dapatkan.
Setelah membereskan dapur, Ibu Sumartini berjalan ke arah tangga yang berdekatan langsung dengan kamar pribadi kakaknya.
"Semua keturunan dari Mark Prin Atmadja bersama Ahmed Muhammad Al-ayyubi Lee harus mati semuanya apa pun yang terjadi, dan anak kecil itu Kamu harus bunuh dia tapi caranya Kamu harus tabrakan mobil box itu ke dalam jurang, kamu pakai mobil yang ada di belakang gudang sekarang juga."
" astaugfirullahaladzim, Abang sampai seperti ini, tidak bisa Abang lupakan Mbak Masitha yang sudah jadi istri orang lain bahkan suaminya meninggal gara-gara Abang, anak kecil itu tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah sedikit pun," Ibu Sumartini menutup mulutnya agar tidak ketahuan jika dirinya menguping pembicaraan mereka walaupun hanya lewat telpon saja.
Sebelum anak buah dari abangnya bergerak dia yang lebih dahulu bergerak meninggalkan rumah besar itu menuju gudang dengan cara mengendap-endap. Dia berjalan perlahan dan sangat hati-hati hingga ke depan pintu gudang yang kebetulan penjaganya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku harus ikut di dalam mobil box itu, karena kalau Aku selamatkan anak Kecil itu sepertinya itu sangat susah dan mustahil aku lolos, tapi bagaimana caranya agar Aku tidak ketahuan?" tanyanya sambil memutar tubuhnya menatap mengelilingi sekitar gudang itu.
"ya Allah semoga Aku berhasil menyelamatkan anak kecil itu,"
Sumartini berjalan dengan sangat hati-hati, hingga semut pun tidak mati jika dia injak saking pelannya berjalan. Perlahan tapi pasti langkahnya sudah berhasil menuntun dirinya hingga ke belakang mobil box itu.
"Bismillahirrahmanirrahim," lalu mencoba menarik pintu itu.
Untungnya pintu itu tidak tergembok sehingga memudahkan jalannya untuk naik ke atas mobil. Baru ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba ada suara seseorang yang batuk berasal dari arah depan mobil.
Ia pun naik dan ternyata di dalam mobil box itu ternyata ada beberapa kardus bekas. Dia bisa pakai. Ibu Sumartini naik lalu membuka dos yang paling besar itu dan tidak lupa menutup kembali dengan rapat pintu mobil bak itu.
Tubuh Sumartini mulai kepanasan apa lagi saat anak buah Abangnya menggembok dan mengunci rapat pintu tersebut.
"Panasnya," Ibu Sumartini mengipas pakaiannya dengan merobek ujung kardus tersebut untuk mengurangi rasa gerah, tapi bukannya berkurang malahan nambah panas saja.
Tubuhnya sudah bercucuran keringat hingga membasahi seluruh bajunya. Tidak ada sedikit pun angin yang masuk ke dalam bak mobil yang bisa mengurangi rasa panas dan gerahnya di atas mobil itu.
"Ayok simpan anak ini di belakang saja dulu nanti sampai di tempat tujuan baru kita pindahkan ke depan," perintah dari salah satu dari mereka.
Ibu Sumartini segera menunduk dan menutup rapat kardusnya hingga tidak ada yang curiga jika dia ada di dalam mobil itu. Tubuh Anak kecil itu dimasukkan ke dalam mobil dengan begitu teganya dan tidak memiliki hati nurani sedikit pun dengan melempar anak tersebut ke atas mobil seperti seseorang yang melempar kardus saja, untungnya ada tumpukan kardus yang melindungi kepala anak itu.
Beberapa saat kemudian, mobil itu sudah jalan ke arah lokasi yang sudah mereka putuskan untuk menjadi tempat terakhir dari cucu musuh bebuyutan Abang dari Ibu Sumartini.
Mereka berangkat malam saat itu sehingga mempermudah langkah dari Ibu Sumartini. Perjalanan mereka butuh waktu sekitar 7 jam dari rumah besar itu, tepatnya di pinggiran hutan ada gunung yang cukup curam di sana lah yang menjadi tempat eksekusi mereka.
"Ibu Sumartini mendekati tubuh anak kecil itu yang sudah terkulai lemas dan tidak berdaya. Entah kenapa tiba-tiba hujan turun membasahi bumi, perlahan hujan itu semakin deras saja yang membuat jalan yang mereka lalui cukup licin.
__ADS_1
Jalan itu sangat berbahaya karena di sepanjang sisi jalan yang mereka lalui adalah daerah yang cukup terjal dan dalam.
"Bos bagaimana ini, hujan tiba-tiba turun dan kondisi medan yang kita lalui sangatlah berbahaya," ucap si A.
"Kamu tenang saja, pas di depan sana kita bersiap untuk terjun langsung ke luar dari mobil lalu mendorong mobil itu ke dasar jurang," ucap si B.
Beberapa meter tempat itu pun sudah kelihatan dalam hitungan ke tiga mereka sudah ingin melompat keluar, tapi ternyata pintu mobilnya tiba-tiba macet sehingga tidak bisa terbuka dan mereka sudah terlambat. Mobil itu sudah terjun bebas ke dalam dasar jurang dan berguling-guling.
"Aaaaaaahhhhh!!!, tolong kami ya Allah," ucap Ibu Sumartini yang tubuhnya sudah seperti bola yang menggelinding di dalam bak mobil itu begitu pun dengan anak kecil itu. Ibu Sumartini berusaha menggapai tubuhnya anak itu walaupun sangat susah tapi tetap berusaha sekuat tenaga. Usahanya berhasil tidak sia-sia.
Dia memeluk erat tubuh anak itu hingga pintu bak itu terbuka disaat Mobil itu tidak terguling lagi. Tubuhnya penuh dengan luka terutama dibagian wajah, kepala, tangan dan kakinya hampir seluruh tubuh mereka terluka dan mengeluarkan darah. Begitu pun dengan kondisi anak itu yang lebih parah lagi hingga anak itu tidak sadarkan diri.
"Alhamdulillah," ucapnya yang sudah sangat sulit untuk berbicara.
Untuk berdiri pun mereka sulit untuk dia lakukan. Mobil itu menungging hingga ujung paling depan mobil sudah rinsek dan hancur tak terbentuk lagi. Supir dan penumpangnya sudah tidak bernyawa lagi satu pun tidak ada yang selamat.
Ibu Sumartini merangkak ke arah luar dengan susah payah, ingin meraih kain yang ada di dalam kardus tersebut.
"Aku harus menggendong tubuhnya dipunggung ku untuk memudahkan kami keluar dari sini,"
Ia merangkak naik hingga kain itu berhasil dia dapatkan dengan penuh perjuangan. Ibu Sumartini pun mulai mengikat kuat tubuhnya ke tubuh anak kecil itu. Setiap kali sudah berada di atas punggungnya lagi-lagi tubuh anak itu merosot dan berinsut turun ke atas lantai mobil. Bukan Ibu Sumartini kalau menyerah walau pun tubuhnya juga sudah dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
"Kita harus bisa keluar dari sini, ibu akan berusaha sekuat tenaga Ibu, kita pasti bisa," ucapnya yang menyemangati dirinya sendiri.
Akhirnya berhasil juga, luka ditubuhnya semakin besar dan menganga serta darah tidak berhenti mengalir. Ibu Sumartini tetap merangkak dan tubuh mereka terguling hingga terjatuh ke atas tanah yang berbatu itu.
"Aaaaaahhhhhh!! teriaknya yang kembali menjerit saat kakinya mengenai batu yang cukup tajam.
"Ya Allah tolong lah kami, selamatkan kami," yang kembali berusaha berdiri.
Ibu Sumartini memperbaiki posisi anak itu dipunggungnya. Hingga mereka menuruni Jurang itu dengan sangat hati-hati dan tertatih.
"Ya Allah kenapa mataku kabur dan semuanya sudah gelap, kepalaku juga sangat pusing," keluh Ibu Sumartini yang langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi.
Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus 🥰
Jangan Lupa juga mampir ke Novelku yg lainnya dengan judul:
...Sang Penakluk...
...Bertahan Dalam Penantian...
...Tidak ada Jodoh yang Tertukar...
__ADS_1
Tetap Dukung CYT dengan cara: Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, Vote dan Giftnya ✌️
...*********Bersambung*******...