Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 195. Rasa


__ADS_3

Selamat Membaca..


Di sudut sebuah kamar yang berjejer rapi nampak ada sebuah lorong yang cukup pencahayaannya. Dengan suasana sepi tak ada orang yang berlalu-lalang.


Namun hanya beberapa suster dan Dokter yang berjalan menyusuri jalan itu. Ruangan tersebut terbilang cukup mahal dengan fasilitas yang lengkap dan nomor wahid.


Ruangan yang dingin nan senyap ini adalah tempat beberapa pasien merebahkan tubuhnya untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang mereka derita.


Bau etanol, alkohol, dan beberapa obat-obatan lain mengudara bercampur aduk jadi satu, saat ditangkap oleh AC yang menyala menyemburkan ke seisi ruangan, hingga tercium sampai ke indera penciuman mereka.


Bagi para dokter dan perawat itu hal yang biasa, tapi akan menjadi sangat menyesakkan hidung bagi orang lain yang pergi ke ruang tersebut sesekali dalam beberapa tahun.


Abi masih setia menemani Lee di dalam kamar perawatannya. Lee melupakan rasa traumanya yang sempat di alaminya tadi.


"Uncle Abi, apa tidak kerja?" Tanyanya dengan wajah polosnya.


Abimanyu yang tiba-tiba dilemparkan pertanyaan seperti itu langsung tersenyum menanggapi pertanyaan dari Lee.


"Uncle khusus hari ini libur, demi Lee apapun Uncle akan lakukan," jawabnya dengan masih setia menyendok makanan ke mulutnya Lee.


"Apa Uncle nggak rugi kalau harus libur kerja?" Tanyanya dengan kunyahan lembut di mulutnya.


"Insya Allah, Uncle tidak akan rugi kalau hanya dua hari gak masuk kerja, Uncle tidak ingin ninggalin Lee sendirian di sini," ujarnya.


"Alhamdulillah kalau gitu Uncle," jawabnya dengan senyuman khasnya di ujung bibirnya.


Senyuman itu membuat Abi kembali teringat dengan senyuman yang dipersembahkan oleh Lee.


"Kenapa senyumannya membuatku teringat dengan seseorang, tapi siapa dan bagaimana mungkin mirip."


Sang Surya sudah menyapa seluruh isi jagad raya dengan sinarnya yang berkilauan. Burung-burung pun tidak mau kalah dengan Sang Raja Siang. Burung-burung bertengger di dahan pohon dengan kicauannya yang menyemarakkan suasana saat itu.


Pagi harinya, Dennis belum muncul juga setelah kepergiannya kemarin sore hari itu. Hingga Abi dengan penuh keikhlasan menjaga dan merawat Lee hingga kondisinya Lee sudah membaik dari sebelumnya.


Abimanyu baru saja keluar dari kamar mandi bersamaan dengan kedatangan Tim dokter terbaik yang menangani kesehatan Lee.


Abi perlahan berjalan ke arah Dokter dan berencana ingin bertanya tentang perkembangan dan kemajuan keadaan dari Lee.


"Pagi Dok," jawabnya.


Dokter yang disapa segera berbalik badan saat mendengar suara bariton dari Abimanyu.

__ADS_1


"Pagi juga Tuan," balasnya.


"Dokter bagaimana dengan kondisi putraku?" Tanyanya yang kembali melupakan hubungan apa sebenarnya dengan Lee.


Abimanyu sering melupakan hubungan mereka yang sebenarnya jika berhadapan dengan Lee.


"Ya Allah kenapa akhir-akhir ini, Saya sering salah menyebut namanya."


"Alhamdulillah kondisi putra Bapak sudah baikan dan hari ini juga sudah bisa pulang ke rumah," terangnya sembari memasukkan alat stetoskop ke dalam saku baju almamater kebesarannya.


"Syukur Alhamdulillah kalau gitu Dok," balasnya.


Abi kembali terdiam ketika pintu kembali tertutup saat para Tim dokter sudah meninggalkan ruangan tersebut.


Pikiran itu dua hari ini sering dia pikirkan. Entah apa yang terjadi padanya jika berhadapan langsung dengan Lee.


Dia akan begitu banyak bicara, sering bercanda dan tersenyum. Seakan-akan kesulitan dan masalah yang dihadapinya akan terlupakan sesaat.


"Sepertinya Aku harus segera menghubungi nomor hpnya Dennis untuk jemput Lee," dia merogoh hpnya yang berada di dalam kantong celananya.


Tut.. Tut.. Tut..


Berulang kali Abimanyu menghubungi nomor hpnya Dennis, tapi tidak tanggapan sama sekali. Hingga Abimanyu lelah untuk menelpon Dennis lagi.


"Nathan tolong segera ke Rumah Sakit dan jangan lupa bawa pakaian ganti untuk saya dan Lee," jawabnya.


Nathan belum berbicara apa pun, Abi sudah mematikan sambungan teleponnya.


"Alhamdulillah, untung saja si bos melupakan tentang pencarian identitas asli dari Lee, kalau tidak bisa-bisa gaji dan bonus ku di sunat," jawabnya sembari melihat ke arah layar hpnya yang sudah mati.


Nathan segera berjalan ke arah luar Ruangan Kantornya. Dia segera melaksanakan perintah dari atasannya itu. Dia tidak ingin terlambat melaksanakan perintah dari orang nomor satu dari Perusahaan tempat dia bekerja.


Lee dan Abimanyu sudah berjalan ke arah Loby RS untuk menunggu mobil yang akan mengantar mereka pulang ke kediaman Kakeknya Lee.


Nathan dari jauh melihat Abimanyu yang sudah berdiri di belakang kursi roda yang diduduki oleh Lee.


Siapa pun yang melihat mereka, pasti akan mengira jika mereka adalah anak dan ayahnya. Tetapi, mereka berdua tidak ada yang mengetahui dan menyadari hal tersebut.


Nathan semakin mempercepat langkah kakinya ke arah tempat Abimanyu berada. Nafasnya ngos-ngosan saking lelahnya berlarian.


Dia menundukkan tubuhnya dengan memegang ke dua lututnya. Dia melakukan hal itu bertujuan agar kondisinya kembali seperti semula.

__ADS_1


Abi hanya menautkan kedua alisnya melihat tingkah laku orang nomor satu kepercayaannya selama ini.


"Maafkan saya Bos, terpaksa terlambat datang macet di jalan soalnya Bos," jelasnya.


"Tidak apa-apa, Kamu ke dalam kamar perawatan Lee dan periksa semua barang-barang yang masih tertinggal," ujarnya sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Terlebih dahulu Abi menggendong tubuh kecil Lee di dalam mobil dengan penuh kehati-hatian.


"Makasih banyak Uncle Abi," jawabnya.


"Sama-sama Boys," dengan senyuman yang tulus dipersembahkan oleh Abi hanya untuk Lee seorang.


Nathan sudah meninggalkan Loby RS sedangkan sebuah mobil dengan tipe XF Land sudah berbaur dengan pengguna jalan lainnya.


Perjalanan mereka cukup lancar tanpa adanya kendala dari kemacetan yang biasanya terjadi di jalan raya.


Abi sudah bertanya sebelumnya pada Lee, alamat rumah Papa Martin. Sehingga supir pribadinya menuju jalan yang dimaksud, dengan tepat hingga terhindar dari kesasar dan salah alamat.


Abi masih fokus dengan hpnya karena ada beberapa pesan chat penting dari relasi bisnisnya. Hingga tidak menyadari jika mobilnya sudah terparkir di depan kediaman Martin Muhammad Al Ayyubi Lee.


Lee segera menyadarkan Abi dengan cara menggoyangkan tangan kanannya Abi.


"Uncle Abi kita sudah sampai di depan rumah Papa," ujarnya Lee.


Abi menatap ke arah Lee setelah baru menyadari jika mereka sudah tiba di hadapan Kediaman Martin.


Abi segera turun ke bawah tanpa menjawab perkataan dari Lee. Dia menggendong tubuhnya Lee dengan dibantu oleh supir untuk ikut menurunkan kursi rodanya Lee. Untuk sementara waktu dia pakai selama masih dalam proses penyembuhan.


"Sayang apa benar ini rumahnya Papa nya Lee?" Tanyanya dengan menatap dengan penuh kasih sayang.


"Uncle Ash's words are very true."


"Kalau gitu kita masuk saja yuk," jawabnya dengan kembali mendorong kursi roda milik Lee.


Sedangkan beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu, berjalan ke arah pintu setelah mendengar suara decitan pintu dan tidak ingin membiarkan orang itu terlalu berlama-lama di luar.


Pintu lebar dan menjulang tinggi itu terbuka dengan lebar dari arah dalam. Mereka terkejut melihat siapa pria yang menggendong tubuh kecil Lee.


...Selamat hari raya idul Adha 1443 Hijriah, Mohon maaf dan lahir bathin....


...Makasih banyak all Readers....

__ADS_1


...By Fania Mikaila Azzahrah...


...Sabtu, 09 Juli 2022...


__ADS_2