Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 30. Bersua Juga


__ADS_3

Selamat Membaca..


Ibu Hernita melihat Air hujan yang turun membasahi bumi melalui jendela kamarnya. Ibu Hernita kembali teringat akan peristiwa dimana kakak iparnya melahirkan di saat hujan turun dengan derasnya dan di malam itu pula Kakaknya harus kehilangan Istri tercinta.


"Ya Allah aku ingin berjumpa dengan ke dua kakakku, tanpa mereka disisiku kebahagiaan ini tidak lengkap selalu saja ada yang mengganjal di hati ini" ucap Hernita yang tetap mengamati rintikan air hujan dan tetesan air mata nya terus mengalir membasahi pipinya.


Rencananya hari ini ibu Hernita ingin mengunjungi makam orang tua dan kakak iparnya. Sudah sekian lama dirinya tidak pernah mengunjungi makam tersebut. Hernita sangat bersyukur karena suami dan anaknya mengerti dengan keadaannya, Hernita yang kadang setiap hari pergi untuk mencari keberadaan saudaranya bahkan anak-anak dan suaminya jarang dia layani dan jaga. Selama Hernita sudah pindah lagi ke kota S satu bulan yang lalu walaupun masih kadang ke Kota M setiap bulannya jika ada pekerjaan yang mengharuskan suaminya untuk datang ke kota M.


Pak Agung kadang sedih melihat wajah dan kondisi dari Istrinya jika pulang dari pencariannya yang tidak berhasil dan memutuskan untuk meminta bantuan kepada pihak berwajib dan beberapa detektif swasta tapi hasilnya masih sama dan nihil. Tetapi Hernita tidak pernah bosan untuk mencari keberadaan saudaranya dan berterima kasih kepada suaminya yang rela dan ikhlas untuk membantunya kapan pun Hernita butuhkan.


Pak Agung yang melihat istrinya melamun langsung memeluk tubuh Hernita. Ibu Hermita pun membalas pelukan dari suaminya.


"Ada apa sayang, sepertinya ada yang membuat kamu gelisah?." tanya Pak Agung.


"Aku hanya teringat dengan anaknya kakak, apa kah dia masih hidup atau..?." ucap Hernita yang terpotong.


"Jangan bicara dan berfikiran yang tidak-tidak yakinlah kalau Allah akan mempertemukan kamu dengan mereka, Saya tidak ingin melihat wajahmu yang selalu murung ini." ucap pak Agung sambil memegang wajah istrinya lalu menghapus jejak air matanya.


Sore harinya hujan pun reda, ibu Hernita mengganti pakaiannya dan sudah bersiap berangkat ke pemakaman.


"Nyonya gimana apa sudah siap untuk berangkat atau kita tunggu hujannya reda dulu?" tanya pak Tejo supir pribadi Ibu Hermita.


"Ayok kita berangkat, aku tidak ingin menunda lebih lama lagi" ucap ibu hernita yang mengambil tasnya.


Mobil mereka menuju pemakaman umum. Hernita tidak sabar untuk mengunjungi makam orang tua dan iparnya. Tidak berapa lama, mobil mereka sudah memasuki area pemakaman TPU di kota S. Hernita berjalan perlahan menuju pemakaman tersebut. Hernita yang memakai kacamata hitam yang bertengger diatas hidungnya karena sudah menemukan kuburan orang tuanya.


"Ibu maafkan Hernita baru bisa datang mengunjungi kalian" ucap Hernita sambil menaruh beberapa macam bunga di atas pusara Bapak dan ibunya.

__ADS_1


"Ibu aku sangat merindukan sosok Ibu, Alhamdulillah, berkat ibu Nani Wijaya dan pak Wijaya yang menemukan Hernita di rumah sakit sehingga Aku bisa berdiri di sini, Aku tidak membayangkan bagaimana nasibku jika mereka tidak menemukanku" ucap Renita yang mencabut beberapa tanaman liar yang tumbuh di sekitar kuburan orang tuanya.


Setelah dari situ, Hernita lalu berjalan ke arah kuburan kakak iparnya. Hernita pun jongkok di depan pusara tersebut.


"Kakak maafkan Hernita yang tidak bisa menjaga Ayana dengan baik, karena Saya yang tidak becus menjaga Ayana sehingga sampai detik ini Saya kehilangan jejaknya" ucap Hernita yang melap air matanya yang sudah membanjiri wajahnya.


"Tapi aku janji, Aku akan tetap mencari keberadaan Ayana dan kakak" ucap Hernita yang menabur bunga mawar di atas pusara sang iparnya.


"Ya Allah, sudah bertahun-tahun aku mencari mereka tapi kenapa sedikit pun petunjuk tentang keberadaan mereka tidak aku temukan, apa yang harus aku lakukan lagi ya Allah, telah berbagai cara aku tempuh bahkan aku pun sudah melapor ke polisi tetapi hasilnya masih sama" ucap ibu Hernita sambil mengelus nisan Iparnya.


Suasana sore itu, kembali mendung langit sudah nampak gelap dan angin pun sudah bertiup pertanda akan turun hujan. Langit seakan-akan sudah tidak sanggup untuk menampung berat beban dari kandungan air hujan. Ibu Renita pun pamit untuk pulang.


"Maaf aku pulang dulu, nanti aku akan datang lagi ke sini" ucap Hernita yang kembali mencium nisan ke dua orang tuanya dan iparnya.


Ibu Hernita pun berlari karena akan segera turun hujan, tapi baru beberapa langkah hujan pun turun kembali membasahi bumi Pertiwi. Ibu Hernita segera mempercepat langkahnya hingga tanpa dia sadari, dirinya menabrak tubuh seseorang. Untung saja orang tersebut memakai payung sehingga mereka tidak kehujanan. Ibu Hermita meminta maaf berulang kali kepada orang tersebut. Tapi ibu Hernita tidak mampu berucap sepatah kata pun Seakan-akan ada beban berat di kedua pasang bibirnya yang tipisnya yang membuat dirinya tidak mampu berkata.


"Kakak" ucap Hernita yang belum melepaskan tangannya dari wajah orang tersebut yang dia anggap kakaknya.


Orang tersebut heran karena sama sekali tidak mengenal wanita cantik yang ada di depannya. Pak Herman jadi bingung sendiri dengan perlakuan perempuan yang berdiri tegak di depannya yang meneteskan air matanya tanpa aba-aba.


"Kakak, apa kakak tidak mengenalku, apa kakak sudah melupakanku?." tanya Her yang memegang wajah pak Herman dengan ke dua tangannya.


Herman masih tetap seperti orang linglung yang masih tidak mengerti dengan sikap dari wanita tersebut yang memanggilnya kakak.


"Maaf mungkin anda salah orang karena saya tidak mengenal Anda dan ini pertama kalinya Saya bertemu dengan anda, jadi maaf". ucap pak Herman yang masih setia memegang payung yang berwarna biru tua tersebut yang cukup besar sehingga mereka bisa terlindung dari guyuran air hujan.


"Kakak Herman, apa kakak sudah melupakan adikmu ini, adik yang selalu meminta dibelikan krupuk tempe jika kakak pergi kerja, Aku Hernita Kakak, adik bungsu kakak" ucap hernita yang semakin terisak dalam tangisnya.

__ADS_1


Herman langsung memeluk tubuh adiknya tanpa sepatah kata. Hanya adik perempuannya saja lah yang sering meminta dan merengek jika dirinya akan berangkat kerja sambil menggendong putrinya. Gadis kecil yang baru tamat dari bangku sekolah dasar harus membantu untuk merawat dan menjaga anaknya yang baru berusia beberapa hari. Herman pun kembali teringat dengan masa lalunya. Masa di mana dirinya hidup bersama anak dan adiknya.


Adik bungsunya yang setiap harinya berkepang dua yang selalu bermanja-manja jika dirinya akan berangkat kerja dan seorang adik bungsu yang tidak pernah banyak menuntut apa pun dihadapannya dan adik kandung yang terpaksa hidup menderita dengan saudaranya karena keadaan, adiknya yang terpaksa terpisah dari dirinya disaat tragedi kebakaran yang membuat mereka harus berpisah dan tidak punya tempat tinggal lagi.


Herman pun menangis tersedu-sedu karena penantian dan pencariannya selama ini akhirnya bisa dipertemukan dan dipersatukan kembali oleh Allah di tempat peristirahatan terakhir ke dua orang tuanya dan Istrinya.


"Bagaimana kabarmu dek, apa kamu baik-baik saja?." tanya Herman.


"Alhamdulillah baik kak, Hernita sangat senang karena kakak masih mengenaliku" ucap Hernita yang kemudian tersenyum bahagia.


"Ayok kita ke mobil, pakaian kamu sudah basah dan kotor terkena cipratan air hujan" ucap Herman yang membersihkan pakaian adik perempuan satu-satunya.


Setelah itu mereka pun berjalan ke arah mobil pak Herman. Tetapi terlebih dahulu Ibu Hernita berjalan ke arah mobilnya untuk menyuruh Supir pribadinya pak Tejo untuk pulang terlebih dahulu karena dirinya ingin ke suatu tempat dulu sebelum pulang.


"Nanti aku yang telpon bapak, jadi kamu pulang saja" perintah Ibu Hernita kepada pak Tejo supir pribadinya yang sejak mereka tinggal di kota M sudah bekerja dengannya.


"Baik Nyonya" ucap pak Tejo kemudian menjalankan kembali mobilnya.


Hernita tidak bosan-bosannya tersenyum manis karena saking bahagianya dengan pertemuan dirinya dengan Kakak tertuanya. Hernita pun masuk ke dalam mobil pak Herman dan pak Herman langsung mengemudikan mobilnya ke arah rumahnya. Mereka menghabiskan waktu perjalanan mereka dengan berbincang-bincang santai dan saling bertukar tentang kehidupan mereka selama mereka berpisah.


Bersambung...


Makasih banyak atas dukungan kalian 🙏


Met menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya ✌️🙏.


by Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, 03 April 2022


__ADS_2