Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 132. Kebahagiaan Martin


__ADS_3

Selamat Membaca..


Semua hanya tentang waktu, tunggulah dan tetap doakan, jangan berubah atau menyerah..


I Swear i'll love you in a different way..


Aku bersumpah akan mencintaimu dengan cara yang berbeda..


Amairah menarik kursi yang berada tidak jauh dari posisi ranjang bangkar Martin. Amairah pun duduk di kursi itu. Amairah memegang ke dua tangan suaminya dan tak segan untuk meneteskan air matanya yang membasahi tangan kekar suaminya.


"Mas maafkan Amairah, ini semua gara-gara Amairah sehingga Mas seperti ini, maafkan Amairah Mas, Amairah janji tidak akan pergi jauh lagi dari sisi kalian," Amairah menciumi punggung tangan Martin yang terpasang selang infus.


Karena kelelahan dan juga sudah mengantuk tanpa terasa Amairah tertidur nyenyak di samping Martin, sedangkan tangannya masih setia menggenggam tangan Martin suaminya.


Jam di dinding berdetak dengan bunyinya yang nyaring di tengah keheningan malam itu. Amairah yang sudah tertidur pulas tidak mengetahui pergerakan dari seseorang yang berada di hadapannya sedari tadi.


Martin membuka matanya dan yang pertama kali dia lihat adalah istrinya tercinta, Amairah yang ketiduran sambil duduk di sampingnya. Senyuman itu tercetak nyata di wajahnya.


"Makasih banyak ya Allah Engkau memberiku kesempatan dan waktu untuk bertemu kembali dengan istriku lagi, walaupun dalam keadaan yang tidak baik saja."


Martin memutuskan untuk memanggil salah satu Perawat yang berjaga untuk membantunya memeriksanya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mencabut selang infusnya.


Tidak lama kemudian, Suster pun datang dan masuklah ke dalam kamar Martin langsung memberikan aba-aba agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuat istrinya terbangun. Suster tersebut pun mengerti dengan maksud dari Martin.


"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" tanya Suster dengan suara yang dipelankan sesuai permintaan dari Martin.


"Tolong periksa kondisiku soalnya Saya rasa kondisiku sudah membaik dan juga cairan di dalam infus itu sudah habis, bagaimana kalau Suster melepasnya saja," pinta Martin.


Suster segera bertindak sesuai dengan permintaan dari Martin.


"Karena ini permintaan dari Tuan sendiri, Kami akan melepasnya, dan Saya harap nanti Dokternya datang Tuan sendiri yang berbicara langsung kepada-nya," tutur Suster itu lalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Martin.


"Itu menjadi tanggung jawab Saya suster, Anda kerjakan saja sesuai yang Saya inginkan selebihnya tidak usah khawatir dengan yang lainnya termasuk prosedur di RS ini," jawab Martin.

__ADS_1


Suster itu pun tersenyum dan hanya butuh waktu singkat selang infus itu sudah berada di dalam tong sampah di dalam kamar VIP itu.


"Makasih banyak Suster, dan ini ada sedikit sebagai ucapan Makasih saya sudah dibantuin," tutur Martin lalu menyodorkan beberapa lembar uang Korea Selatan ke tangan suster itu.


Suster itu menolak pemberian dari Martin karena beralasan bahwa itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya sebagai Perawat.


"Tidak apa-apa Tuan, Saya ikhlas membantu Tuan lagian ini semua sudah menjadi tugasku," tolak Perawat itu.


"Tidak apa-apa anggap saja Anda lagi mendapatkan bonus karena kebaikan Anda dan saya bersyukur dan bahagia jika Anda menerima pemberian ku," ucap Martin yang berusaha untuk meyakinkan Suster tersebut.


Dengan berat hati perawat itu pun mengambil uang tersebut dan karena pekerjaannya sudah selesai, Ia pun pamit dan meninggalkan Martin bersama Amairah.


Martin segera berjalan ke arah pintu untuk menguncinya rapat-rapat kamar perawatannya dan mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjangnya. Sekarang Amairah pun sudah berbaring di atas ranjangnya. Martin pun naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping Amairah dan tidak lupa menyelimuti tubuh mereka.


"Tiga tahun kita tidak bertemu, wajahmu semakin cantik dan kembali membuatku jatuh cinta hingga berulang kali."


Martin membalik posisinya sehingga sudah berhadapan dengan Amairah yang sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan oleh Martin sedari tadi.


Martin menciumi keningnya Amairah, perlahan ke bawah hingga ke hidung mancung nan bangir milik Amairah dan berhenti sejenak di depan bibirnya Amairah. Martin hanya memainkan ke dua bibir Amairah yang memerah seperti buah delima itu.


"Semoga saja Amairah tidak terbangun dari tidurnya, kalau pun bangun itu sangat memalukan jika melihatku mengambil ciumannya tanpa seijinnya dalam keadaan tidur pula."


Martin tersenyum malu-malu sendiri dengan apa yang akan dia lakukan di atas bibir Amairah yang ranum seperti merahnya buah delima di atas pohonnya.


Martin perlahan memajukan wajahnya yang hanya terpangkas beberapa centimeter saja jaraknya. Martin perlahan menciumi bibir merah merona itu dan perlahan ********** karena Amairah membuka jalan yang mempermudah ciuman Martin sehingga Martin pun tidak segan lagi untuk ********** dan memainkan lidahnya di dalam area rongga mulut Amairah.


Hingga tanpa mereka sadari keluarlah des ah an dan lenguhan kecil dari ke duanya. Martin tersenyum gembira melihat sikap Amairah yang memberinya keleluasaan dan kebebasan untuk bermain di area itu.


Martin memegang tengkuk lehernya Amairah dengan lembutnya dan hati-hati sehingga mampu untuk semakin memperdalam lumatannya dan mereka sudah saling bertukar saliva masing-masing.


Hal tersebut berlangsung hingga beberapa menit sampai nafas mereka saling memburu dan seakan-akan akan kehabisan nafasnya, sehingga Martin pun berinisiatif untuk mengakhiri kegiatannya di tengah malam buta itu.


Nafas Martin terengah-engah dan sebenarnya Martin menginginkan hal lebih di atas tubuh istrinya itu, tapi Martin tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Martin ingin melakukan hal yang lebih jika Amairah dengan senang hati dan suka rela mengijinkan Martin untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.

__ADS_1


"Makasih banyak sayang, maaf Mas harus melakukannya tanpa seijin kau terlebih dahulu, Mas tidak sanggup menahan hasrat yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya Mas hanya melihat bibirmu sayang."


Martin lalu meraih tissue yang ada di atas meja nakas, tissue itu dipakai untuk membersihkan sisa-sisa saliva mereka yang sudah bercampur dan tersisa sedikit diujung bibir istrinya.


Jam di dinding baru menunjukkan pukul 02:15 Martin bangkit dari tidurnya dan menyelimuti tubuh Amairah, Martin akan melaksanakan shalat tahajjud terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan istirahat dengan tertidur di samping Amairah.


Martin berjalan ke arah toilet yang ada di dalam ruangan itu, dan bergegas mengambil air wudhu. Martin mengganti pakaiannya dengan stelan pakaian yang ada di dalam lemari yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Dion untuknya.


"Dion sedari dahulu emang pantas untuk diandalkan dalam segala hal selalu mendampingiku ke mana pun Aku pergi."


Martin sangat bersyukur karena memiliki asisten pribadi sekaligus sahabat baiknya yang seperti Dion yang selalu mengerti dengan keadaan dari bosnya. Di dalam lemari itu sudah lengkap dengan pakaiannya serta perlengkapan shalatnya untuk dia dan Amairah pun lengkap di dalam lemari itu.


Martin melaksanakan shalat tahajud dengan khusyuk dan tak bosan-bosannya mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas pertemuannya kembali dengan istrinya dan dalam doanya meminta agar Amairah tidak lagi pergi dari sisinya tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


Setelah melaksanakan shalat sunnah dan meyelesaikan ritual doanya yang begitu panjang, Martin pun kembali berdiri dan melipat perlengkapan shalatnya terlebih dahulu dan memasukkan kembali ke dalam lemari.


Martin pun kembali ke atas ranjang dan ikut memejamkan matanya menuju pulau kapuk dan siap untuk tertidur lelap di samping Amairah.


"Makasih banyak sayang, untaian kata-kata mungkin takkan cukup bisa menjelaskan arti penting dirimu bagiku, tapi yang ku tahu pasti dirimu adalah pusat duniaku dan seluruh bagian dari hatiku"


Martin mencium kening istrinya sebelum memejamkan matanya tangannya yang melingkar di atas tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat.


Alhamdulillah makasih banyak Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang selalu menyempatkan waktunya untuk membaca Novel recehannya Fania, hanya kata ucapan itu yang mampu Fania berikan atas rasa syukur dan bahagianya fania 🥰😘🙏.


Jangan Lupa untuk membiasakan dan membudayakan untuk menekan tombol Like 👍 setelah baca dan memberikan komentar bagi yang berminat sesuai isi dari Bab ini dan Fania berharap tolong bijaklah dalam berkomentar ✌️.


Kakak juga bisa mampir ke Novelku yg lainnya dengan judulnya:


Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar


Bertahan Dalam Penantian


...*********Bersambung*******...

__ADS_1


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Kamis, 02 2022


__ADS_2