Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 142. Kegalauan Martin


__ADS_3

Selamat Membaca..


Anak adalah obat pelipur lara. Anak merupakan anugerah dan amanah yang dititipkan oleh Tuhan kepada orang tua. Kehadiran anak membawa kebahagiaan tersendiri bagi setiap pasangan. Tak hanya sebagai pelengkap keluarga, anak juga merupakan amanah yang harus dijaga.


Membesarkan anak pun tidak sembarangan, perkara mendidik anak pun harus dipahami oleh setiap orang tua.


"didik lah anak sesuai zamannya."


Belajar untuk selalu menjadikan Allah sebagai tempat mengadu. Belajar saling menghargai dan bersyukur dengan segala karunia. Belajar untuk tidak melihat ke rumah tangga orang lain dengan menggunakan kacamata kita sendiri, karena dengan itu kita, akan bisa tetap mensyukuri hidup dalam aneka keterbatasan, akan bisa tetap saling menghormati meski terkadang harus berganti peran, akan bisa tetap selalu memuji meski kadang pasangan tidak selalu ideal, akan bisa bijak dalam menilai rumah tangga orang lain yang mungkin standarnya tidak sama dengan rumah tangga sendiri.


Sudah seminggu Martin dan Baby Del di Amerika Serikat, tepatnya di Istana milik Tuan Besar Luis Kakek buyutnya Baby Del. Martin berniat ingin kembali ke Tanah Air Indonesia, tapi segan untuk mengatakan langsung dihadapan Tuan Luis.


Seperti halnya saat ini, Martin dan Tuan Luis sedang duduk bersantai di dalam ruangan keluarganya. Mereka sedang menikmati suguhan minuman dan kue buatan tangan Amairah. Sambil menonton acara sepakbola. Sepakbola lah yang menjadi pilihan tontonan yang sering Tuan Luis nonton bareng bersama cicitnya Dennis Ritchie Arfathan.


"Sebaiknya aku utarakan keinginanku untuk balik ke Indonesia, tapi gimana caranya untuk mengutarakannya dihadapan Kakek? baru mau mulai selalu saja bibirku ini sulit untuk mengucapkan sepatah kata pun," Martin menggerakkan kakinya saking groginya.


Martin kadang melirik sekilas ke wajah Tuan Luis, tapi setiap kali ingin membuka mulutnya, kata-kata yang ingin dia keluarkan seakan tertahan di tenggorokannya dan seketika membuat lidahnya keluh seketika itu juga. Martin baru kali ini merasakan kesusahan dalam mengutarakan niatnya di hadapan orang lain.


Kegelisahan yang dirasakan oleh Martin Muhammad Al-ayyubi Lee terlihat jelas di kedua matanya serta gesture tubuhnya. Tuan Luis hanya tersenyum melihat dari kegundahan dan kebimbangan yang dialami oleh Martin.


"Aku harus bisa kalau ngomongnya ditunda terus kasihan juga dengan Dion yang sudah lama menunda pernikahannya."


Martin pun memberanikan dirinya untuk kembali mengutarakan keinginannya. Ia sudah ingin membuka mulutnya, tapi lagi-lagi kembali digagalkan oleh kedatangan Denis dan Delisha. Wajahnya langsung lesu, loyo lunglai karena niatnya harus menuai kembali kegagalan.


"Kakek!!" teriak Delisha yang berlarian rambutnya berkibaran karena rambutnya hanya dihiasi oleh pita dan baju yang dipakainya pun berterbangan saking kencangnya berlarian.


"Daddy!!" teriak Dennis yang tidak mau kalah dengan adik kembarnya.


Dennis dan Delisha berlarian saling berlomba untuk jadi yang paling cepat sampai di hadapan Daddy dan Kakek buyutnya.

__ADS_1


"Sayang jangan berlarian!!" cegah Mommy mereka.


Martin segera mendekati puteranya yang berlarian tapi dikalahkan oleh Delisha yang larinya cukup kencang dibandingkan dengan Denis.


Amairah berjalan membawa nampang yang berisi krupuk tempe dan krupuk udang. Martin sudah pasrah dan akan meminta tolong pada istrinya saja yang nantinya akan berbicara dihadapan Kakeknya untuk pamit pulang ke Indonesia.


"Asyik Delisha yang menang," Delisha menggoyangkan pinggulnya dan berputar meliukkan tubuhnya saking senangnya bisa mengalahkan kakak kembarnya.


"Iihh Baby Del curang, baby Del curang," Dennis tidak terima karena dikalahkan oleh adik kembarnya dan menganggap Delisha tadi curang karena sudah mendorong tubuhnya hingga hampir terjatuh.


Amairah melihat ke dua buah hatinya dengan menggelengkan kepalanya. Menurut Amairah pertengkaran mereka lucu. Amairah segera menengahi agar tidak berlarut-larut.


"Lombanya nanti lagi dilanjutkan sayang, kita makan kerupuk dulu kesukaan Dennis loh," Amairah melerai perdebatan anak kembarnya itu.


Dennis dan Delisha segera berjalan ke arah di mana Mommynya, Daddy dan Kakeknya berada. Mata Denis berbinar bahagia melihat krupuk tempe kesukaannya tersaji di depannya dalam toples tinggi nan besar itu. Dennis mendahului Delisha yang ingin juga meraih toples itu.


"Mommy krupuknya enak banget," Denis yang menikmati cita rasa krupuk tempe yang baru pertama kali dia rasakan.


"Dimakan biasa saja tetap enak apa lagi di makan dijadikan lauk pasti akan lebih nikmat," tegasnya, raut wajah Tuan Luis sangat bahagia saat menikmati krupuk tempe itu.


Hingga sore hari mereka berbincang-bincang, ada-ada saja pertengkaran yang dilakukan oleh anak kembar mereka. Tetapi di mata Martin dan Amairah apa yang dilakukan oleh duo Kembar itu sangatlah lucu. Kelucuannya itu terjadi karena kadang baikan baru berapa detik mereka bertengkar lagi dan ada-ada saja yang mereka ributkan.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08 malam, Tuan Luis sudah masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Amairah mengantar ke dua anaknya ke dalam kamar masing-masing. Setelah mereka tertidur barulah Amairah meninggalkan kamar itu.


Martin berbaring di atas ranjangnya, lalu menelpon nomor hp Neneknya yang ada di Jakarta. Martin tidak sabar ingin pulang sambil memboyong putra keduanya dan memperlihatkan kepada Neneknya dan seluruh dunia bahwa dia memiliki dua anak kembarnya yang sangat lucu.


Percobaan pertama gagal, telpon neneknya sibuk, hingga Martin mencoba lagi hingga telpon yang keempat kalinya, Martin mencobanya tapi tidak berhasil juga. Hingga Martin sudah lelah menunggu sambungan teleponnya diangkat oleh nenek Masitha.


Hingga dia tidak sadari matanya terpejam sedangkan tangannya masih menggenggam hpnya. Amairah masuk ke dalam kamarnya disaat Martin sudah tertidur dengan posisi tengkurap tanpa melepaskan hpnya. Amairah hanya tersenyum melihat pola tidur dari suaminya itu yang seperti seseorang yang merajuk.

__ADS_1


Amairah memperbaiki letak posisi selimut yang dipakai suaminya yang hanya sebatas kakinya saja.


"Amairah yang akan bicara sama kakek, walaupun Mas tidak memberitahukan kepada Amairah, tapi Amai tahu apa yang sedang Mas pikirkan, Amai sangat mengerti dengan kegundahan dan kegelisahan hati Mas," Amairah membantu Martin untuk membalik tubuh dan memperbaiki posisinya Martin.


Setelah Martin tidur nyenyak kembali, Amairah berjalan ke arah luar kamar pribadinya dan menutup rapat. Amairah tersenyum mengingat posisi tidur Martin yang seperti anak kecil saja yang lagi ngambek dan merajuk menginginkan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh ke dua orang tuanya.


Amairah berjalan ke arah ruangan Pribadi milik kakeknya. Amairah juga timbul sedikit keraguan untuk menyampaikan keinginannya dan niatnya untuk kembali ke Indonesia. Amairah takut jika Kakeknya merasa keberatan dan tidak mengijinkan serta menolak keinginannya atau yang paling parah adalah marah.


"Bismillahirrahmanirrahim," sambil memutar kenop pintu ruangan tersebut.


Amairah berjalan ke dalam dan mencari sosok kakeknya tersebut. Amairah mengitari seluruh pojok ruangan yang begitu luas dan megahnya membuat seseorang yang berada di dalam ruangan itu akan betah berlama-lama.


"Kakek," matanya menyapu kesekeliling ruangan tapi sosok yang dia cari tidak menampakkan dirinya.


Hingga Amairah tersenyum setelah berbalik tubuhnya kearah kanan ruangan itu dan melihat Kakeknya berjalan ke arahnya. Amairah segera menghampiri Kakeknya dengan senyuman khasnya dan segera bermanja-manja di lengan kakeknya tersebut.


Tuan Besar Luis mengetahui jika cucunya bersikap seperti ini ada yang diinginkan oleh Amairah cucu satu-satunya.


"Kita duduk dahulu, Kakek tahu apa yang Kamu inginkan," tutur Kakeknya sambil bergandengan tangan berjalan bersama cucunya.


Amairah hanya tersenyum setelah mendengar perkataan dari Kakeknya.


"Kakek selalu tahu apa yang Amai inginkan," kakeknya menarik pelan hidung mancung nan bangir milik Amairah.


Mereka sudah duduk berhadapan lalu tangan si Kakek tua itu yang masih muda dan segar dibandingkan dengan usianya yang sudah uzur. Jika orang yang tidak mengenalnya pasti akan terkejut jika mengetahui usia yang sebenarnya.


Usianya yang sudah masuk kepala tujuh tapi jika ditelisik dari postur tubuhnya orang akan mengira jika Kakek tua itu baru berumur 50an.


..........

__ADS_1


Alhamdulillah Makasih Banyak atas Dukungannya Kepada Cinta Yang Tulus, Terkhusus untuk Kakak Readers yang selalu hadir untuk Like di setiap Updatenya 🙏🥰


...********Bersambung********...


__ADS_2