
Selamat Membaca..
Jangan sembunyi
Ku mohon padamu jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentangnya
Hilangkan lah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Ku ingin ku lupakannya
Kau acuhkan aku
Kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku.
"Perasaan, cinta dan mengaguminya harus segera Aku buang jauh-jauh, cinta ini tidak semestinya hadir di antara hubungan pernikahan sahabatku."
Martin dan Amairah meminta tolong kepada Rizaldi agar proses dan prosedur pengambilan tes DNA secepatnya dilaksanakan dan memohon agar tidak terlalu lama untuk mengetahui hasilnya.
"Makasih banyak atas bantuannya Dokter Devan," ucap Martin.
Martin lalu menjabat tangannya Dokter Devan selaku Dokter yang nantinya akan selalu membantu untuk menangani kasus penyakit trauma yang dialami oleh Alif.
"Sama-sama,ini sudah jadi tanggung jawab Kami sebagai dokter," jawabnya dengan seulas senyum dia berikan.
"Kami pamit dulu Dokter," tutur Amairah.
Mereka meninggalkan ruangan praktek Dokter Devan. Amairah dan Martin mengapit tubuhnya Alif dengan menggandeng ke dua tangan anak kecil itu.
Sedangkan Dokter Rizaldi berjalan beriringan dengan Martin.
"Rizaldi, semoga besok hasil tesnya segera keluar," ujarnya.
"Insya Allah, besok sore sudah selesai, aku akan telpon Kamu kalau sudah keluar hasilnya," jawabnya.
"Aku sudah enggak pakai nomor yang lama soalnya,"
Dokter Rizaldi menatap ke arah sahabatnya dengan wajah keheranan.
__ADS_1
"Bukannya itu nomor hp yang sedari dahulu Kamu pakai,kok bisa di ganti sih?" tanyanya dengan wajah kebingungan.
"Awalnya gitu emang tapi, semenjak aku mulai hidup baru aku juga mengganti semua, ceritanya cukup panjang, kapan-kapan aku akan cerita tapi, bukan sekarang," ucapnya yang melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Okey, bro kapan-kapan kita bertemu, Aku akan cari waktu luang baru Aku akan hubungin Kamu," ujarnya.
"Kamu telpon saja kalau sudah ada waktu yang tepat, kalau bisa ke rumahnya saja jalan-jalan sekalian rasakan dan cicipi masakan Istriku," terangnya.
"Itu ide yang bagus juga tapi, gak apa-apa nih kalau Aku ke rumah kalian?" tanyanya.
Rizaldi berbicara seperti tapi, arah pandangannya tertuju pada sosok Amairah yang sedari tadi hanya terdiam dan sesekali tersenyum menanggapi pembicaraan mereka.
"Gak masalah banget kalau Kamu datang, lagian apa Kamu tidak ingin bertemu dengan Nenek?" tanya balik Martin.
"Aku ingin sekali sebenarnya bertemu dengan nenek Nenek, kalau gitu Aku akan atur waktu luang agar Aku bisa berkunjung ke rumah kamu sekalian icip-icip makanan yang dimasak oleh istrimu," jelasnya.
"Baik, aku tunggu kedatangannya di rumah, kalau gitu kami pamit pulang, sepertinya Alif butuh istirahat," jawabnya.
"Assalamu alaikum," ucap mereka bersamaan.
"Waalaikum salam," jawabnya.
Dokter Rizaldi berjalan ke arah ruangan Pribadinya. Dia masih tidak percaya ternyata perempuan yang dia kagumi dan perlahan-lahan telah mengisi relung hati terdalamnya, adalah istri dari sahabat terbaiknya sekaligus malaikat penolongnya.
Rizaldi duduk di kursi kebesarannya dengan mengelus seluruh wajahnya dengan gusar.
"Kenapa wanita yang aku puja harus Istri sahabatku, aku harus berusaha membuang jauh-jauh rasa ini sebelum terlalu dalam luka yang nantinya akan Aku alami."
Rizaldi menggelengkan kepalanya tanda dia tidak menyangka. Dia menyugar rambutnya dengan perasaan yang sangat bimbang dan ragu harus berbuat apa.
Di sisi lain, Amairah sudah berada di dalam hatinya sedangkan Amairah adalah istrinya orang lain yang jadi masalah adalah sahabatnya.
"Aku harus mengehentikan semua ini sebelum terlambat dan terluka lebih dalam lagi."
Martin memperlakukan istrinya seperti layaknya seperti Tuan Putri.
"Makasih banyak Sayang tapi, tak perlu repot-repot seperti itu juga, Aku masih mampu Kok untuk buka pintunya," ujar Amairah.
Martin menaruh telunjuknya di atas bibir istrinya agar menuruti dan tidak usah banyak komentar dengan apa yang dia lakukan oleh Martin padanya.
"Kamu diam saja, dan nikmatilah semua yang Mas lakukan untuk Kamu hanya khusus untuk istriku tercinta,"ujar Martin.
Awalnya Amairah yang ingin membantu Alif tapi, langsung dicegah oleh Martin.
Martin membantu putranya masuk ke dalam mobilnya dengan sangat hati-hati.
Amairah hanya tersenyum setelah mendengar penjelasan dari suaminya, dan tidak ingin membantah lagi. Lagian dia melarang atau apa pun itu, tidak akan membuat Martin menghentikan apa yang dilakukannya.
Martin memegang tangan putranya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Alif apa Kamu baik-baik saja nak atau mungkin ada yang Alif inginkan, misalnya mau makan atau beli mainan gitu?" tanya Martin dengan menatap ke dalam dua bola mata putra sulungnya.
Alif terdiam sesaat seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting dan susah untuk memutuskan apa yang akan dia pilih.
Amairah yang melihat putranya hanya terdiam saja segera bertindak. Amairah memegang ke dua tangan putranya. Alif terlonjak kaget saat Amairah memegang punggung tangan kecil dan mungil itu.
Alif memandang Mommynya dengan raut wajah yang sulit untuk terbaca oleh ke dua orang tuanya.
"Alif putranya Moms, apa Alif baik-baik saja atau mau singgah ke Mall jalan-jalan mungkin atau mau makan ayam goreng itu," ucap Amairah yang menunjuk ke arah luar pintu mobil yang di sisi jalan ada restauran siap saji yang berlogo Paman pakai kacamata.
Alif langsung bereaksi dengan cepat dan ke duanya tidak menduga jika hanya itu yang mampu membuat Alif kegirangan.
"Mommy Alif mau makan ayam goreng yang di jual di Resto itu," tunjuk Alif dengan mata yang berbinar seketika.
__ADS_1
"Pak Supir kita singgah yah di Restoran itu," perintah Martin.
"Baik Tuan," jawab singkat Pak supir pribadinya Amairah.
"Mas bisa minta hpnya sebentar," tanya Amairah.
Martin tanpa banyak pikir langsung memberikan hpnya ke tangan istrinya. Martin menatap ke arah Amairah dan yang ditatap mengerti dengan maksud dari tatapan itu.
"Amai ingin menelpon Aisyah Mas,Aku ingin bertanya tentang sikembar, apa sudah pulang dari sekolahnya apa belum," jawabnya.
"Hp Kamu di mana Sayang?" tanya Martin.
Amairah lalu mengangkat HPnya ke arah suaminya di mana berada.
"Hpnya lowbet, baru mau aku cas," jelasnya.
Beberapa detik kemudian, mereka sudah berjalan masuk ke dalam Resto siap saji tersebut sesuai dengan permintaan dan keinginan khusus dari putra sulung mereka.
"Alif sama Daddy tunggu di sini yah, Mommy mau pesan makanan untuk Alif," ujarnya.
"Oke Mommy," jawab singkat Alif yang tidak sabaran ingin menikmati ayam goreng yang sudah lama tidak dia makan di tempat seperti itu.
"Hati-hati sayang," tutur Martin saat sudah mendudukkan tubuhnya di atas kursi tamu Resto.
Amairah tersenyum manis ke arah Martin lalu berkata," Mas kayak Amairah ingin menyebrang jalan saja."
Martin hanya tersenyum setelah mendengar perkataan dari istrinya. Amairah ikut dalam antrian yang cukup panjang itu. Bertepatan dengan waktu makan siang sehingga Resto tersebut dipadati oleh pengunjung.
Antrian yang cukup panjang itu mampu membuat Amairah berdiri beberapa menit lamanya. Demi putra pertamanya, Amairah berjibaku dengan pengunjung lainnya. Ikut berdesakan seperti beberapa tahun yang lalu dia lakukan sebelum bertemu dengan Ayah biologis anaknya.
Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Ya
ng Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak 🙏🥰
Tetap Dukung CYT dengan:
Cara Like setiap Babnya
Rate bintang lima
Gift Poin atau Koin
Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.
Silahkan ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.
Judulnya:
Sang Penakluk
Bertahan Dalam Penantian
Tidak ada Jodoh yang Tertukar
********Bersambung********
by Fania Mikaila AzZahrah
Takalar, Sulawesi Selatan, Jum'at, 24 Juni 2022
__ADS_1