Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 125. Insiden Kecil


__ADS_3

Selamat Membaca..


Maya sangat bahagia karena permintaanya terkabulkan. Sudah tiga hari ini Maya selalu memikirkan keadaan Ibu dan anaknya. Kondisi ibu itu yang sangat mengkhawatirkan sehingga menarik simpatik pada Maya.


Maya tipikal perempuan yang tidak mudah dan tidak gampangan percaya sama orang lain. Tapi, pengecualian dengan ibu Sulastri yang asli Kota Semarang yang awalnya berniat untuk mengadu nasibnya ke Kota besar, Ibu Kota Jakarta.


Peristiwa yang dihadapi olehnya saat akan menaiki Bus yang akan membawanya hingga ke Jakarta, baru melangkahkan kakinya ke atas tangga bus, tas yang ada di dalam genggamannya di curi orang.


Sehingga dengan terpaksa supir bus tersebut menurunkan Ibu Sulastri di tengah jalan, tepat di depan Minimarket yang berlogo A dengan warna merah.


"Aku harus segera berangkat ke Kontrakannya ibu Sulastri untuk menjemputnya dan akan segera bekerja di Apartemenku, dan semoga Ibu Sulastri pintar masak jadi, aku tidak perlu cari lagi Koki."


Maya segera bersiap ke kosan ibu Sulastri. Maya mandi terlebih dahulu walaupun tadi pagi sudah mandi tapi, tubuhnya kembali lengket dan penuh dengan keringat sehingga terpaksa Maya harus mengulang mandinya.


"Ini gegara Mas Dion jadinya harus mandi dua kali."


Omelan Maya tertutupi oleh suara gemercik air dari shower yang sudah dia nyalakan.


"Amairah sudah tiga tahun lebih kepergianmu, apa sedikit pun tidak ada rasa rindu Mbak pada kami, sedangkan kami di Sini mengharapkan kehadiran dan kepulangan Mbak, selalu dan setiap saat kami berharap besar jika Mbak pulang."


Maya melakukan beberapa treatment perawatan pada tubuh dan wajahnya tanpa bantuan dari Orang lain. Karena akhir-akhir ini Maya sangat sibuk dan tidak punya waktu luang untuk ke Salon.


"Dahulu saat Mbak Amairah ada, pasti kita bertiga bareng ke Salon setiap minggu, Aku juga merindukan Nadia, moga Nadia dan Bram mempertimbangkan tawaran ku untuk pindah ke Jakarta."


Sesibuk apapun wajah dan tubuh harus dirawat walaupun perawatan yang kita lakukan tidak sedatail dan sebaik di Salon. Beda dengan othor yang malas perawatan maklumlah gaji belum cair he-he-he.


Maya mengambil pakaiannya dengan asal saja tanpa mempertimbangkan panjang kali lebar dengan pakaian yang akan dia pakai. Maya sudah tidak sabar untuk bertemu dan menjemput ibu Sulastri dan putranya yang membuat Maya jatuh hati dengan ketampanan dan kepintaran bocah delapan tahun itu.


Bocah itu bernama Alif Faturahman putra pertama sekaligus putra bungsunya ibu Sulastri yang mampu membuat hatinya Maya menghangat.


Beberapa saat kemudian, Maya sudah bergabung dengan beberapa pengendara mobil lainnya. Kemacetan jalan yang dilaluinya tidak menyurutkan semangatnya untuk bertemu dengan dengan Ibu Sulastri.

__ADS_1


Jalan protokol di Ibu Kota Jakarta selalu menimbulkan kemacetan yang sangat panjang padat merayap. Cuaca hari ini cukup panas, yang membuat tubuh Maya kembali dipenuhi oleh buliran keringat. Awalnya Maya membuka kaca jendela mobilnya tapi, karena cuaca yang sangat panas membuatnya harus menyalakan mesin pendingin ruangan mobilnya.


"Semoga ibu Sulastri bersedia bekerja bersamaku, kasihan seorang perempuan harus berjuang sendirian menghidupi putranya yang tentunya sudah butuh biaya yang banyak untuk sekolahnya."



Mobil Maya sudah memasuki area perkampungan penduduk. Maya hanya memarkirkan mobilnya di depan jalan saja, karena body mobilnya tidak cukup jika harus masuk ke dalam jalan gang yang sangat sempit itu.


Maya tidak tahu persis alamat kosan ibu Suharti jadi memilih untuk bertanya pada masyarakat yang kebetulan melewati mobilnya yang terparkir di badan jalan.


"Maaf Pak, Saya ingin bertanya rumah kosan pelita di bagian mana yah Pak?" tanya Maya pada bapak-bapak yang kebetulan lewat di hadapannya.


Bapak tersebut tidak langsung menjawab pertanyaan dari Maya, malahan menelisik seluruh tubuhnya Maya dari atas ujung rambutnya hingga ke ujung kaki, serta bergantian memperhatikan mobil yang dipakai oleh Maya.


"Sepertinya wanita ini bisa aku manfaatkan uangnya."


Bapak tersebut sudah berfikiran yang macam-macam tetapi Maya sudah mengetahui apa yang bapak itu pikirkan dan inginkan.


"Ini ada sedikit uang untuk bapak jadi Saya mohon tunjukkan kepada Saya mana kosan Pelita," ucap Maya yang dengan tegas tak Ingin dibantah lagi.


"Aku harus berhasil mengeluarkan Ibu Sulastri dan Alif dari sini, mereka tidak boleh dan tidak baik terlalu lama menetap di sini, bisa-bisa berpengaruh buruk terhadap perkembangan dan kehidupan Alif dan ibunya."


"Kosan itu ada di ujung jalan ini yang pagar rumahnya bercat biru, dan makasih uangnya lumayan banyak Nona," ucap Bapak tersebut yang bertato ayam berkokok.


"Jangan berani-berani menyentuhku kalau Kamu masih ingin bernafas dan makan ayam goreng," ucap Maya yang langsung memelintir tangan Pria berewok dan sedikit gondrong itu.


"Auaaaahhh sakit Non, tolong lepaskan, Saya tidak akan macam-macam lagi dan ganggu Nona," ucapnya yang sudah dipenuhi oleh keringat di seluruh tubuh dan wajahnya saking Sakitnya menahannya.


"Ingat baik-baik kalau Kamu ingin mengganggu orang sebaiknya lihat baik-baik orangnya terlebih dahulu, jangan asal main nakutin dan gertak orang saja," ucap Maya yang langsung melepaskan tangannya dari tangan pria itu.


"Iya baik Nona, saya tidak akan ganggu Nona lagi," ucapnya yang memeriksa keadaan lengannya itu.

__ADS_1


"Jangan cuma untuk Saya saja tapi, hal ini berlaku untuk orang lain dan khusunya untuk rekan Kamu yang lainnya, lebih baik kalian cari uang yang halal untuk nafkahin anak dan istrimu," ucap Maya.


Maya sangat miris melihat banyaknya orang-orang yang lebih mau memilih jalan yang salah dan tidak benar daripada bekerja keras.


"Iya Nona, Makasih banyak," ucap si Brewok.


"Tubuh kalian ini sangat besar, sehat bugar Apa susahnya untuk cari uang dengan jalan yang benar," Ucap Maya yang masih melanjutkan ceramahnya.


Si Brewok sudah memutar tubuhnya untuk kembali ke rumahnya tapi, langkahnya terhenti dengan suara dari Maya.


Brewok kembali menghentikan laju langkahnya dan berbalik menghadap Maya yang mengambil tasnya kembali.


"Ini ada sedikit uang untuk anak dan istrimu, semoga cukup untuk sebulan," ucap Maya.


Mata si Brewok langsung berbinar-binar karena dapat uang cuma-cuma yang sangat banyak, mungkin sekitar lima jutaan juta-an isinya amplop tersebut.


"Makasih Banyak Nona semoga hidup Nona lebih berkah dan segera menikah, amin" ucap Pria Brewok tersebut.


"Amin, makasih banyak."


Maya hanya tersenyum melihat sikap si Brewok yang sangat kegirangan mendapatkan uang rejeki nomplok kalau orang bilang uang kaget.


Maya melanjutkan perjalanannya Mencari rumah kosan ibu Sulastri yang sempat tertunda dan terganggu oleh insiden kecil.


Maya berharap kali ini berhasil membujuk ibu Sulastri untuk tinggal di Apartemennya, karena dulu Ibu Sulastri menolak untuk tinggal bersamanya.


.............


Alhamdulillah hari ini target sudah tercapai. Semoga novel Fania lainnya menyusul. Amin yra 🙏.


MAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGANNYA TERHADAP CINTA YANG TULUS KARENA DUKUNGAN KALIAN SANGAT LAH BERARTI.

__ADS_1


Jangan Lupa untuk selalu Like Setiap Episodenya. Dan Kalian bisa memberikan dukungan kalian terhadap CYT dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan 🙏


...********Bersambung********...


__ADS_2