
Selamat Membaca..
Banyak hal yang tak ingin kita tinggalkan dalam hidup ini, namun semua pasti ada akhir sesuai dengan ketentuan-Nya.
Aisyah seakan-akan melupakan bahwa tangannya Nathan masih setia di atas puncak gunung Bromo miliknya.
"Empuk dan kenyal," perkataan itu berhasil meluncur dari mulutnya Nathan tanpa filter terlebih dahulu.
Plaaaaaakkkk!!!!
Tanda tangan dari Aisyah cukup keras, hingga pipi kirinya Nathaniel Sanjaya memerah saking kuatnya tamparan yang dilayangkan oleh Aisyah.
Mereka yang melihat kejadian itu langsung bersamaan memegang pipi mereka. Seakan-akan pipi mereka yang terkena tamparan panas itu.
"Aaaaauuuhh sakit," teriak Nathan yang refleks memegang pipinya yang memerah itu yang terduduk gara-gara didorong tadi dengan kuat oleh Aisyah.
Hahahaha!!!
Suara tawa itu membahana di malam itu saat Nathan berulang kali menyentuh dan mengelus pipinya.
"Pak Nathan salah sendiri sih terlalu menghayati pegangannya jadi lupa daratan dan akhirnya terkena tamparan maut," ujar Dennis.
Abimanyu yang melihat asisten pribadinya hanya geleng-geleng kepala. Pria yang belum pernah sekalipun jatuh cinta dan tidak pernah dekat dengan perempuan hari ini harus terkena tamparan yang begitu dahsyatnya dari seorang perempuan.
Mereka kembali masuk ke dalam ruangan kediaman Utama Martin. Mereka tidak menghiraukan lagi Nathan yang masih terduduk di atas rumput sintetis itu.
"Cantik-cantik tapi ganas, aku harus meminta pertanggungjawaban sudah menampar wajahku yang ganteng ini."
Nathan bergegas bangkit dari duduknya, dia tak lupa membersihkan seluruh pakaiannya terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan Aisyah.
"Aku tidak akan biarkan dia lolos begitu saja, yang jelasnya apa pun yang terjadi dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah membuat pipiku hingga detik ini kepanasan," Nathan ngomel-ngomel seperti seorang emak-emak saja.
Nathan ikut masuk ke dalam rumah, tapi tujuannya berbeda dia mencari ruangan keberadaan Aisyah. Hingga banyak sudah kamar dan ruangan yang dia masuki,tapi hasilnya nihil belum ketemu dengan Aisyah.
"Maaf Mbak apa situ lihat Aisyah?" Tanyanya sambil tetap melirik ke kanan kiri.
"Kalau Aisyah kalau tidak salah lihat dia berjalan ke arah lantai tiga tempat biasanya dia mengamati bintang Tuan," jelas Mbak Wati yang kebetulan berpapasan dengan Nathan.
"Oohh, thanks infonya Mbak," ujarnya sembari berjalan mendahului Mbak Wati.
"Aku berharap hubungan mereka tak sekedar rekan kerja, kasihan Aisyah yang harus patah hati pada cinta pertamanya," tuturnya dengan berjalan tergesa-gesa.
Nathan melangkahkan kakinya sesuai petunjuk dari Mbak Wati, Hingga ujung kelopak matanya menangkap siluet seorang perempuan yang berdiri di roof top atap rumah. Nathan memperhatikan gerak gerik dari Aisyah yang berada di ujung.
Di mata Nathan, Aisyah ingin melompat ke bawah. Tetapi, Nathan masih mengamati dengan seksama dia tidak ingin salah melangkah yang berakhir dengan tamparan jilid dua.
Nathan memegang pipi kirinya lalu berkata, "Seorang perempuan dewasa yang memiliki kekuatan seperti layaknya dua orang pria dewasa."
__ADS_1
Nathan perlahan berjalan mendekati tempat Aisyah. Dia mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Aisyah.
"Pria yang selama ini aku sayangi dengan setulus hati, hanya karena gara-gara permintaan dari ke dua orang tuanya hingga melupakan janjinya," air matanya menetes membasahi pipinya.
Dia menengadahkan wajahnya ke atas agar air matanya berhenti menetes. Sakit, sedih, kecewa, menjadi satu dalam bagian kesedihan dan kehancuran hati dan perasaannya.
Pria yang sudah mengikat janji manis suci untuk melangkah ke jenjang pernikahan malah harus menikah dan membina rumah tangga dengan wanita lain pilihan orang tuanya.
Awalnya bintang dan bulan bersinar terang, hingga tiba-tiba angin bertiup kencang menerbangkan ujung hijabnya. Dia tetap berdiri tak goyah sedikit pun dari posisinya semula.
Langit tampak gelap, awan bergerak saling bergantian membawa air yang nantinya akan perlahan jatuh ke dasar bumi membasahi alam semesta.
Rintik rintik hujan mulai turun membasahi wajahnya, tetapi tidak membuatnya bergerak sedikit pun.
"Hujan tak pernah tahu ia membasahi apa, tapi air mataku tahu ia jatuh untuk siapa,"
Nathan yang melihat hal tersebut hanya geleng-geleng kepala.
"Apa yang terjadi dengan perempuan setengah pria itu? Apa dia sedang patah hati,tapi perempuan tipe seperti dia tidak mungkin rasakan namanya patah hati," terangnya.
Aisyah melangkahkan kakinya ke depan hingga ujung jemari kakinya terbentur dengan pembatas. Tangannya memegang besi pagar roof top itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!!!
Teriakannya melengking di tengah malam dengan guyuran hujan itu membuat suaranya tidak kedengaran. Hanya Nathan yang mampu mendengar jelas hal itu.
Aisyah naik ke atas pagar, Nathan yang melihat hal tersebut segera berlari dan menerobos hujan di tengah malam itu.
"Hey!! Apa Kamu sudah gila haaa!!"
Aisyah yang dipeluk seperti itu berusaha untuk melepaskan pegangan tangannya Nathan di pinggangnya.
Tangannya Nathan terlepas hingga Aisyah kembali ke atas pagar.
"Tolong pergi dari sini, tidak perlu repot-repot mengurusi hidupku," teriak Aisyah.
"Dasar wanita bego, apa Kamu ingin mati haaa? Belum tentu Kamu lompat dari lantai tiga terus Kamu akan langsung mati, lagian Kamu itu tolol hanya gara-gara patah hati kamu akan mengakhiri hidupmu, sadarlah Aisyah," teriaknya untuk menyadarkan Aisyah dari kebodohannya.
"Iya aku memang perempuan bodoh, aku perempuan yang terlalu naif dan percaya dengan janji manis dari mulutnya, apa Kamu sudah puas!!"
Aisyah berusaha untuk melepaskan pelukan Nathan dipingganya. Tapi sekuat tenaga pula Nathan memeluk erat tubuhnya walaupun tangannya licin terkena air.
Aisyah terus memberontak, Nathan juga semakin mengeratkan pelukannya ke tubuhnya. Tubuh mereka terbanting keras ke belakang. Mereka terbaring di atas lantai yang penuh dengan air hujan.
Aisyah kembali bangkit dan melakukan hal yang sama. Nathan sedikit pun tidak menyerah bahkan sudah mengeluarkan segenap kemampuannya untuk mencegah tindakan bodoh Aisyah.
Hingga tubuh Aisyah tak berdaya lagi dan tiba-tiba pingsan di dalam pelukannya Nathan.
__ADS_1
Setelah pertemuannya beberapa hari yang lalu dengan Dokter Rizaldi, Aisyah bahkan sudah jarang makan dengan teratur malahan hal itu sengaja dia lakukan untuk menutupi rasa kegalauan hatinya.
Tidurnya pun tidak teratur seperti sebelumnya. Kehidupannya kacau balau hanya dalam sehari saja, setelah dia mengetahui jika Rizaldi sudah menikah dengan perempuan lain.
Nathan segera menggendong tubuhnya Aisyah dan berlari ke arah kursi yang ada di sekitar tempat itu yang kebetulan terlindung dari guyuran hujan.
Tidak mungkin dia menggendong tubuhnya Aisyah hingga ke lantai bawah. Dia tidak mampu berbuat seperti itu.
"Ayok sadarlah, Aisyah Kamu itu perempuan kuat pasti bisa melaluinya," teriaknya agar Aisyah segera tersadar.
Dia ingin mengganti pakaiannya Aisyah tapi bagaimana caranya di sekitar mereka tidak ada selembar kain pun yang bisa dipakainya untuk mengganti pakaiannya Aisyah yang sudah basah kuyup.
Nathan hanya berusaha memberikan kehangatan di tubuhnya Aisyah. Dengan menggosok tangannya agar tidak terlalu dingin.
Nathan melakukan hal tersebut hingga beberapa saat lamanya. Tapi, tetap tidak berhasil.
Malahan Aisyah semakin menggigil kedinginan. Bibirnya sudah pucat pasi, badannya sedikit mulai menghangat. Pertanda tubuhnya Aisyah mulai demam.
"Aku harus segera turun dan meminta bantuan kepada orang-orang," Nathan berdiri dan bersiap berlari, tapi baru satu langkah kakinya melangkah tangannya ditarik oleh Aisyah.
"Please jangan tinggalkan aku dokter, aku sangat mencintaimu," racau Aisyah yang sudah tidak sadarkan diri.
Nathan terenyuh mendengar perkataan dari Aisyah yang menyebut nama pria lain di depannya.
Nathan kembali berusaha untuk pergi dan melepaskan pegangan tangannya Aisyah. Tetapi, Aisyah tidak membiarkan Nathan bergerak sedikit pun.
Walaupun setengah sadar kekuatan Aisyah masih sangat kuat. Dia kembali menarik tangan Nathan hingga tubuhnya Nathan tertarik dan terjatuh ke atas tubuhnya Aisyah.
Aisyah kembali meracau tak jelas, "Aku kedinginan, sangat dingin tolong aku."
Nathan kemudian memeluk tubuh Aisyah dengan erat untuk memberikan kehangatan di tengah hujan itu.
Untungnya kursi panjang itu bisa menampung ke dua tubuh mereka yang tinggi tegap. Nathan semakin mengeratkan pelukannya. Dan hal itu berhasil, Aisyah sudah bisa tenang dan menggigil lagi.
Pakaian Nathan sudah terlepas hanya meninggalkan boxernya saja. Sedangkan Aisyah pun demikian hanya memakai tentop dan hotpants. Nathan dengan terpaksa melakukan hal itu untuk mengurangi rasa kedinginan mereka.
Pelukan mereka semakin erat seperti layaknya suami istri. Hingga Nathan pun terlelap dalam menahan dinginnya malam itu.
Abi dibuat kelimpungan mencari keberadaannya. Nomor hpnya sudah dihubungi berkali-kali tapi selalu berada di luar jangkauan.
Abi memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya tanpa adanya Nathan.
"Mungkin anak itu ada urusan yang sangat penting hingga lupa memberikan kabar."
Kenyataan memang tidak selalu beriringan dengan harapan, tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan.
Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.
__ADS_1
By Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Selasa, 12 Juli 2022