Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 181. Tidak Mungkin


__ADS_3

Selamat Membaca..


Sinar matahari sudah menyinari seluruh alam semesta. Pagi pun menyingsing, ayam berkokok pertanda pagi sudah menjemput.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Pria itu terbangun dari tidurnya, karena sedari tadi telponnya berdering.


Kelopak matanya terbuka, dan wajah yang pertama kali dia lihat adalah seorang gadis belia yang masih tertidur dalam pelukan hangatnya.


Pria itu tersenyum manis saat kembali teringat dengan apa yang dia lakukan di atas tubuh gadis kecilnya.


Dia juga tidak menyangka jika, tubuhnya menginginkan sesuatu yang lebih Pengalaman mereka sama-sama yang pertama.


"Cantik, Kamu berhasil jadi yang pertama dalam hidupku, gadis kecilku."


Pria itu mencium kening Delisha sebelum bangun dari tidurnya. Dia segera bangkit dari tidurnya, lalu menarik handuk yang kebetulan terlipat di atas meja nakas.


Handuk itu dia pakai untuk menutupi sebagian tubuhnya yang cukup polos itu. Lalu mencari keberadaan Hpnya yang tergeletak di atas lantai.


"Aaahhh!!! apa Aku tidak bisa bahagia sesaat saja?" dengan wajah yang enggan dan jengah melihat siapa yang menelponnya.


"Halo bos, Bos dicariin sama Nona Elice, katanya sedari tadi, dia nelpon Bos tapi, gak diangkat katanya," ujarnya.


"Di mana dia berada?" tanyanya dengan jarinya membelai lembut rambut panjang Delisha.


Delisha yang diperlakukan seperti itu, semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh sang pria.


"Dia sudah pergi Bos, saat aku mengatakan kalau Bos tiba-tiba ada urusan pekerjaan yang sangat urgent di Luar Negeri.


"Ok, Aku tambah bonus untuk Kamu bulan ini," jelasnya dengan senyuman yang tidak pernah pudar.


"Makasih banyak Big Bos," ucapnya dengan kegirangan karena mendapatkan bonus tambahan.


"Heran, biasanya bahagia banget jika berhubungan dengan Kekasihnya, tapi saat ini dia seperti seseorang yang berbeda."


Arlan tersenyum dengan menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya dengan perubahan sikap dari sahabatnya itu.


"Aku akan menukar kebahagiaanku hanya untuk kebahagiaan gadis kecilku," hpnya masih dalam genggamannya.


Dia membuka topeng yang dipakai oleh Delisha. Dia tersenyum manis melihat wajah alami, natural dan polos yang dimiliki oleh Delisha.


Lalu segera mendekatkan wajahnya dengan wajah Delisha. Dia mengambil gambar mereka berdua beberapa kali. Hingga dering telponnya kembali menggangu aktifitasnya.


"Siapa lagi sih?" lalu segera mengambil kembali hpnya yang baru saja dia letakkan.


Seketika raut wajahnya berubah. Orang yang menelponnya berhasil merubah moodnya seketika Dari bahagia, berseri-seri sekarang kembali dingin sedatar papan.


"Kamu ada di mana? semua dewan direksi sudah hadir di ruangan meeting sedangkan Kamu....,"


Tut.. Tut.. Tut..


Orang di seberang telpon belum menyelesaikan perkataannya Dia sudah mematikan sambungan teleponnya.


Dia melempar hpnya ke atas ranjang. Lalu melirik ke arah gadis kecilnya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Dia teringat akan sesuatu benda yang ada di dalam saku celananya. Dia pun merogoh dan mencari benda tersebut.


"Pasti akan sangat cantik jika Kamu yang memakainya."


Dia membuka sebuah kotak buludru, lalu mengambil isinya.


"Kamu lah yang seharusnya jadi pemilik tunggal dari hatiku," dengan memutar bolak balik gelang itu di hadapan wajahnya dengan senyuman tipisnya.


Dia mengambil tangan kanannya Delisha lalu memakaikan gelang tersebut.

__ADS_1


"Sangat cantik," lalu menciumi kening Delisha dengan penuh kehangatan dan kelembutan.


Karena hpnya sedari tadi berdering, dia segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.


Hingga detik itu juga, dia masih tidak percaya jika dia menyerahkan perjakanya ke tangan gadis kecil yang baru ditemuinya. Sedangkan kekasih sekaligus tunangannya Alice, acap kali memintanya hanya untuk sekedar ciuman saja dia enggan dan selalu menolak. Apa lagi untuk berhubungan intim.


Wajahnya memancarkan rona kebahagiaan, seumur hidupnya baru kali ini merasakan kebahagiaan yang tidak terkira.


Bersama tunangannya Alice, dia sekalipun tidak pernah seperti ini. Wajahnya yang biasanya datar, dingin dan cuek sekarang selalu menyunggingkan senyum tipisnya.


Tanpa banyak pikir dia bergegas memakai semua pakaiannya yang berhamburan di lantai. Dia meninggalkan kamar Hotel tersebut yang sangat bersejarah untuknya.


Tapi, sebelum dia pulang dia menemui orang-orang yang bekerja di bagian cctv. Dengan bujukan dan rayuan, dia berhasil mengcopy rekaman cctv yang berkaitan dengan kedatangan hingga kepulangannya dari Hotel tersebut.


Dia juga menyuruh untuk menghapus file tersebut agar musuh dan lawannya selama ini tidak bisa memanfaatkan keadaan tersebut.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 siang, mata indah, dengan bulu mata yang lentik itu perlahan mengerjap berulang kali.


"Aaaahhhhh!!!" keluhnya dengan memegang kepalanya.


Delisha mengeluhkan kepalanya yang sakit dan pusing,serasa semua yang dilihatnya berputar.


Dia menggoyangkan kepalanya berniat agar pusing yang menderanya menghilang.


"Apa yang terjadi dengan kepalaku,kok pusing banget, apa karena pengaruh minuman yang diberikan oleh ke tiga orang itu?" wajahnya kebingungan dan berusaha untuk mencari tahu dan mengingat semua itu.


Hingga wajahnya yang kebingungan berubah menjadi terkejut, bola matanya membulat sempurna, mulutnya menganga saat dia mengingat kejadian yang terakhir kalinya sebelum dia melupakan segalanya.


Dia teringat saat dirinya tertabrak mobil yang untungnya tidak ada lecet dan sakit yang berarti yang dirasakannya, tapi yang membuatnya tidak percaya saat dia dengan berani mencium bibir seorang pria.


Dia segera memeriksa keadaan tubuhnya. Dan betapa shock, kaget dan terkejutnya hingga berteriak histeris saat melihat tubuhnya yang hanya tertutupi oleh badcover tebal saja.


Dia melihat ke sekelilingnya, dan kebingungan di mana dia berada.


Ia melihat pakaiannya yang berserakan di lantai. Banyak tanda merah di sekujur tubuhnya. Seketika dia refleks menutup mulutnya dengan perlahan air matanya menetes membasahi pipinya.


"Astaugfirullah, apa yang terjadi padaku ya Allah, apa semua ini?" melihat banyaknya tanda merah yang sudah keunguan.


Dia lalu menggosok seluruh tubuhnya yang terdapat tanda merah itu. Dengan kukunya yang cukup tajam itu, sedikit membantumu.


Bukannya mengurangi tapi, malahan menambah luka perih di atas kulitnya yang awalnya mulus, putih dan lembut sekarang penuh dengan bekas kissmark dan cakaran kukunya sendiri.


"Aku harus menghilangkan semua ini, tidak boleh ada yang melihatnya," dengan sekuat tenaga dia terus mencakar dan menggosok bagian tubuhnya itu.


Hingga darah segar mulai mengucur dari kulitnya terkelupas gara-gara ulahnya sendiri.


"Aku harus memakai pakaianku lalu pergi dari tempat ini segera, agar tidak ada orang yang curiga," dia pun berdiri.


Gerakannya terhenti saat tiba-tiba bagian intinya sangat perih, sakit, ngilu seperti baru saja teriris benda yang sangat tajam.


Dia refleks memegang miliknya, "Apa yang terjadi padaku, kenapa itu sakit sekali?"


Air matanya semakin deras saat berbagai kemungkinan besar yang terjadi padanya.


"Kakek....!!! Kakak...!!! Tolong Delisha," teriaknya saat terdapat bayangan di dalam pikirannya tentang apa yang terjadi padanya.


"Tidaaaaaaaaak mungkin!!!! ini pasti hanya mimpi, Aku yakin itu," dengan mencubit lengannya.


Dia ingin jika apa yang terjadi padanya hanya lah mimpi.


"Aauuuhhhh!!! sakit, jadi ini bukan lah mimpi?"


Dia bergegas memeriksa bagian inti dari tubuhnya, dan matanya semakin terbuka lebar saat dia melihat ada bercak noda darah di bagian sensitifnya yang sudah sedikit mengering.

__ADS_1


"Tidakkkkkk!!!!"


Delisha melempar semua benda yang berada di dekatnya. Bantal, guling dan pajangan yang ada di atas meja nakas ranjangnya pun tak terkecuali ikut dalam amukannya.


Praaaaanggg.....


Terakhir pas bunga mawar merah itu terhempas dengan cantiknya ke tembok.


Benar sekali jika umurnya baru 16 tahun, tapi dia tidak buta dan bodoh jika tidak mengetahui tanda-tanda seorang anak gadis yang kehilangan kegadisannya atau tidak suci lagi.


Dia sangat tahu resiko dari apa yang dia alami sekarang. Masa depannya hancur, walaupun dia hidup dan besar di London, Inggris. Tetapi, dia tetap orang timur yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Ketimuran.


Dia mengamuk, bahkan melukai dirinya sendiri pun sudah dia lakukan.


Prannnnnngggg...


Sebuah gelas yang berada di dekat meja dapur tanpa sengaja tersenggol lengannya. Amairah kaget karena tidak mengira jika gerakannya membuat gelas itu terjatuh hancur lebur di atas lantai keramik.


"Kenapa dengan perasaanku? apa yang terjadi padaku dan anak-anakku."


Mbak Marni yang melihat Nyonyanya menjatuhkan segera mendatangi Amairah. Dia tidak lupa memangil maid untuk membantunya membersihkan pecahan beling tersebut.


"Nyonya, apa yang terjadi?" Mbak Marni kebingungan melihat kondisi dari Amairah.


"Entahlah Mbak, Aku tiba-tiba teringat dengan Delisha," jawabnya yang sangat khawatir dengan keadaan putri tunggalnya itu.


......................


Syukur Alhamdulillah Fania panjatkan kehadirat Allah SWT, karena tanpa ijinnya lah Fania tidak akan bisa menulis naskah novel recehannya Fania.


Fania juga mengucapkan Makasih banyak kepada Readers all yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.


Walaupun Fania sedih sangat lihat Viewersnya yang setiap hari menurun, bahkan anjlok dan sangat menukik menurun grafiknya.


Bagi yang baca novel recehan dari othor remahan rengginan ini, TOLONG DENGAN SANGAT Untuk biasakan setelah Membaca Novel Fania biasakan untuk selalu Like, Komentarnya yang bijak agar Fania bisa memperbaiki novel ini untuk ke depannya.


Fania sangat bahagia dan bersyukur walaupun hanya berapa orang yang baca yang penting selalu setia. Munafik Kalau aku bilang gak peduli dengan like you sedikit.


Sedikit curhatan othor yang gak mutu 🤭✌️


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin Seihklasnya


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Yuk ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.


...Judulnya:...


...1. Bertahan Dalam Penantian...


...2. Tidak ada Jodoh yang Tertukar...


...********To Be Continue********...


...by Fania Mikaila AzZahrah...


...Takalar, Sulawesi Selatan, Kamis, 30 Juni 2022...

__ADS_1


__ADS_2