
Selamat Membaca..
Kebahagiaan membuncah di dada ke duanya. Martin dan Amairah sangatlah bahagia dan bersyukur, karena apa yang dia harapkan dan inginkan jadi kenyataan.
Martin dan Amairah tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT. Mereka meneteskan air mata kebahagiaannya.
"Mas, Alif adalah putra kita yang selama ini menghilang."
Air matanya menetes sampai membasahi pipinya hingga ke atas kertas yang dia pegang.
Amairah lalu memeluk tubuh Aisyah yang kebetulan duduk di samping kirinya.
"Aisyah Alif adalah Axel anakku, Aku sangat bahagia mengetahui kebenaran ini."
Amairah memeluk erat tubuh Aisyah.
"Alhamdulillah Nona, terjawab sudah doa-doa dan keinginan Nona selama ini."
Amairah kemudian melepaskan pelukannya. Dia berjalan ke arah suaminya. Tangis kebahagian yang dia rasakan sangat lah membuatnya tidak tahu harus berbuat apalagi.
Amairah memeluk erat tubuh suaminya. Martin pun membalas pelukan itu.
"Mas Axel putra kita sudah ditemukan, aku sangat bahagia," ujarnya.
"Mas juga sangat bahagia, Bapak mana yang tidak akan bahagia jika diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan anaknya yang dinyatakan hilang bertahun-tahun lamanya."
"Kita harus segera ke kamar Alif Mas, aku ingin menyampaikan kepadanya berita ini."
Amairah mengurai pelukannya lalu menarik tangan suaminya dan menuntun hingga ke arah kamar putra sulungnya berada.
Amairah berjalan di depan Martin. Sedangkan Aisyah kembali ke dalam kamarnya, karena ada sesuatu yang ingin dia kerjakan segera.
Amairah mengetuk pintu itu dengan tidak sabarnya. Martin hanya tersenyum menanggapi perilaku istrinya.
Amairah meluapkan kegembiraan dan emosinya yang tertahan di depan pintu kayu jati itu yang bercat putih gading.
Toko.. Tok... Tok..
Ketukan itu berkali-kali dia lakukan hingga sang pemilik kamar akhirnya membuka pintunya. Ibu Nurmala dan Alif berdiri dengan wajah yang kebingungan, karena tidak menyangka ternyata
pelaku dari yang mengetuk pintu dengan sangat buru-buru dan seperti seseorang yang tidak sabaran ingin segera membuat pintu itu terbuka lebar.
Amairah membungkukkan badannya sedikit, agar lebih enak dan leluasa memeluk tubuh putranya.
Alif tidak banyak pikir langsung saja membalas pelukan dari Mommy Amai. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya hanya mengikuti nalurinya saja.
Ibu Nurmala menatap ke arah Martin, sedangkan Martin langsung memberikan sebuah berkas. Berkas yang bertuliskan tentang fakta bahwa Alif adalah Axel Muhammad Al-ayyubi Lee putra sulungnya.
__ADS_1
Ibu Nurmala meraih map tersebut, kemudian tanpa banyak basa-basi dia membuka map itu lalu membaca dengan seksama bahkan sangat teliti. Maklumlah banyak tulisan kata-kata yang tidak mudah dimengerti olehnya.
Air matanya mengalir membasahi pipinya, bibirnya bergetar dan tergugu menahan tangisnya. Dia memeluk berkas tersebut dan terus mengucap hamdalah atas terkuaknya kebenaran yang selama ini mereka impikan dan harapkan.
"Alhamdulillah makasih banyak ya Allah."
ibu Nurmala sangat bahagia karena anak kecil yang selama ini dia anggap anaknya sendiri dan telah dia tolong dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Anak itu adalah cucu dari orang yang sudah sangat besar jasanya selama ini, kepada ke dua orang tuanya semasa mereka hidup dulu.
"Alif apa bahagia jika Mommy Amairah adalah Mama kandungnya Alif yang sudah lahirin Alif ke dunia ini?" tanya Amairah.
Alif menatap ke dalam ke dua bola matanya Amairah.
"Alif sangat bahagia jika Mommy adalah Mamanya Alif yang sebenarnya, berarti Alif bisa ajak Mommy ke sekolah dan tidak akan ada lagi temannya Alif yang ngatain Alif adalah anak pembantu," ucap polos Alif.
"Katakan sama Daddy, siapa yang ngomong gitu sama Alif? katakan sama Daddy?" tanya Martin yang sudah memegang ke dua pundak putranya.
Alif hanya memandangi wajah Daddy-nya saja, dia takut jika Daddy-nya akan mendatangi temannya dan mengamuk di Sekolahnya. Alif langsung menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.
Alif kemudian menggelengkan kepalanya lalu berkata," Alif salah ucap kok Dad, tidak ada teman Alif yang ngomong gituan kok."
Alif menutupi kenyataan yang ada. Alif memandang iba ke arah Emaknya dengan wajah yang menyesali dengan perkataannya.
Ibu Nurmala santai saja dan dia sudah prediksi jika hal tersebut bakalan terjadi cepat atau lambat, dan akhirnya hari ini dia pun mendengar kenyataan itu.
"Ibu maafkan temannya Axel yah, mereka masih anak-anak jadi mereka masih tidak memikirkan bagaimana konsekuensinya,"
"Alhamdulillah, makasih banyak Bu, Saya sangat bahagia dan bersyukur dengan kebaikan hati ibu, ibu sangat baik dan berhati mulia."
"Itu hal yang biasa saja kok Non, tidak perlu dibesar-besarkan," ucap Ibu Nurmala Sari yang selalu merendah.
"Kamu memang pantas mendapatkan pujian dan sanjungan dari Kami Nurmala."
Nenek Masitha ikut menimpali percakapan mereka. Nenek Masitha berjalan bersama Pak Heri ke arah mereka di mana berada.
Nenek Masitha dan Pak Heri setelah mendapatkan kabar dan informasi tersebut. Mereka segera bergerak cepat dan tidak ingin menunda kepulangan mereka.
Nenek Masitha subuh-subuh berangkat ke Kota Bandung dan setelah mendapatkan telpon dari Aisyah dia segera kembali ke Jakarta.
Sedangkan Pak Heri kakeknya trio bocil Lee, Dia hanya di Perusahaannya sedang sibuk mengurus berbagai berkas yang membutuhkan tanda tangannya. Beliau pun tidak sempat menyelesaikan urusan dan pekerjaannya dan mengalihkan kepada asisten pribadinya.
Mereka sangat gembira dan eksitik setelah mendengar kabar gembira yang sangat membahagiakan itu.
Pak Heri sudah merencanakan syukuran kecil-kecil untuk menyambut kepulangan dan kedatangan Alif sebagai Axel.
"Papa sangat bahagia Nak, setelah Nenekmu menelponku dan mengabarkan jika hasilnya 100% adalah Axel cucu Papa."
Pak Heri sangat sumringah karena sekian lama mereka melakukan pencarian yang selalu menuai kegagalan dan hasilnya nihil, hari ini berhasil juga.
__ADS_1
"Mulai hari ini Kamu bukan lagi Alif, tapi nama Kamu adalah Axel jadi semua orang-orang akan memanggil nama Kamu dengan Axel bukan Alif lagi."
Jelas Martin yang sudah mengingatkan dan memberitahu kepada Alif dengan penuh kelembutan dan ketegasan.
"Dan ini berlaku untuk semua orang di dalam rumah ini atau berada di luar kalau Alif adalah Axel dan tidak boleh memanggil Axel dengan sebutan Alif lagi oke."
Martin sudah memutuskan dan tidak ingin dibantah atau pun dikomentari oleh siapa dengan alasan bagiamana pun.
"Nenek tidak bisa berkata-kata lagi, Nenek terlalu bahagia setelah mengetahui Alif adalah cicit pertama nenek."
Beliau memeluk tubuh cicitnya itu dengan penuh keharuan dan kasih sayang. Maya dan Dion juga ingin menyusul mereka, tapi dicegah oleh Martin. Karena di Perusahaan mereka Kerjaan sangat banyak.
Terpaksa calon manten mengurungkan niatnya mereka. Martin sengaja melakukan hal tersebut karena esok, Martin akan melakukan syukuran penyambutan kembalinya putra sulungnya.
Martin sudah mempersiapkan segalanya sebelum tes itu keluar. Martin dan yang lainnya sudah sangat yakin jika, Alif adalah Axel.
"Besok pagi ada acara syukuran di rumah kita ini, Martin mohon dan berharap sama kalian untuk hadir dan Martin mohon undang semua keluarga besar kita."
"Papa sudah punya rencana yang seperti ini, tapi Kamu lebih duluan mengatakan sama kita semua, terpaksa Papa ikut acara Kamu saja."
Pak Heri memukul pelan lengan menantunya.
Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak 🙏🥰
...Tetap Dukung CYT dengan:...
...Cara Like setiap Babnya...
...Rate bintang lima...
...Gift Poin atau Koin...
...Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya....
Silahkan ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.
...Judulnya:...
...1. Sang Penakluk...
...2. Bertahan Dalam Penantian...
...3. Tidak ada Jodoh yang Tertukar...
...********To Be Continue********...
...by Fania Mikaila AzZahrah...
__ADS_1
...Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 25 Juni 2022...