Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 80. Kekhawatiran Martin


__ADS_3

Selamat Membaca..


Siapa pun orangnya jika dibohongi pasti akan merasakan kecewa yang sangat, Tapi tingkat kecewa itu berbeda-beda tergantung dari orang tersebut yang mengalaminya. Begitu pun juga yang dirasakan oleh Amairah. Sakit, kecewa dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Amairah tidak menyangka jika Martin suaminya akan tega membohonginya.


Apa salahnya untuk jujur jika kejujuran itu membuat kamu bahagia maka lakukanlah karena kejujuran adalah pondasi dasar dari suatu hubungan antara anak manusia.


Martin sudah sangat Khawatir dengan kondisi dan keadaan Amairah di dalam kamarnya, karena Martin tidak mendengar celotehan Amairah lagi.


"Amairah sayang please buka pintunya Sayang, Mas takut jika terjadi sesuatu sama kamu, Mas mohon buka pintunya, kalau kamu tidak ingin memaafkan Mas tidak apa-apa Amairah yang penting kamu membuka pintu ini dan Mas lihat kamu dalam keadaan baik-baik saja" ucap Martin yang semakin khawatir karena tidak ada suara apa yang terdengar dari balik pintu padahal Martin sudah mendekatkan telinganya ke lobang kenop pintu kamarnya Amairah.


"Ya Allah semoga Amairah dan bayinya dalam keadaan baik saja, semoga mereka tidak kenapa-kenapa".


Martin terus menggedor pintu tinggi tersebut dan berteriak agar Amairah mendengar suara Martin yang sudah sangat khawatir.


"Amairah ayok dong sayang buka pintunya jangan buat Mas jadi semakin khawatir saja" ucap Martin yang terus mengetuk pintu kayu jati tersebut.


Hingga tangan Martin sudah memerah saking lama dan kuatnya Martin mengetuk pintu itu. Martin tidak putus asa terus mencoba untuk menggedor pintu tersebut. Pak Aril selaku klien dari Martin dan calon investor di Perusahaannya meminta kepada asistennya untuk segera memanggil petugas keamanan Hotel agar segera membantu Martin untuk membuka pintu tersebut. Pak Aril hibah dan kasihan melihat perjuangan Martin.


"Ayok cepat hubungi Pihak keamanan hotel untuk segera datang ke sini dan Jangan lupa suruh mereka membawa pintu serep kamar istrinya Pak Martin" titah Pak Aril kepada asisten pribadinya.


"Siap Pak" jawab singkat asistennya dan segera menghubungi nomor salah satu penanggung jawab hotel Milik bosnya tersebut.


Tiba-tiba ada suara tangisan yang Martin dengar. Martin semakin khawatir dan cemas dengan kondisi dari istrinya Amairah. Karena Martin yakin itu pasti suara dari Axel putra mereka. Martin lalu bangkit dari duduknya dan segera mengetuk pintu kamar itu.


"Axel sayang ini Daddy, Daddy mohon buka pintunya Sayang" teriak Martin yang semakin khawatir dengan keadaan Istrinya karena Axel terus memanggil namanya Amairah.

__ADS_1


"Mommy bangun, mommy ayok bangun, Axel tidak akan nakal lagi Mommy" ucap Axel disela tangisnya.


Martin semakin dibuat pusing mencemaskan kondisi istrinya setelah mendengar perkataan dari Axel anaknya.


"Axel apa kamu dengar Daddy sayang? Kalau kamu dengar Daddy mohon cepat buka pintunya nak" teriak Martin lagi dan tidak berhenti untuk berteriak sambil mengetuk pintu tersebut.


"Mommy Axel buka pintu dulu yah" ucap Axel yang berdiri lalu berlari ke arah pintu untuk melihat membuka pintu tersebut.


Axel yang mendengar pintu kamar diketuk terus oleh seseorang, segera berdiri dan berlari kecil ke arah pintu. Axel kesulitan untuk membuka pintu tersebut karena letak kenop pintu lebih tinggi dari postur tubuhnya sendiri. Tapi Axel tidak mau menyerah begitu saja dan tidak butuh waktu lama pintu itu terbuka sebelum petugas Hotel datang.


Martin yang melihat pintu kamar hotel terbuka segera masuk ke dalam kamar dan memeriksa sekeliling kamar tapi tidak menemukan keberadaan dari istrinya.


"Amairah kamu di mana sayang, ini Mas" ucap Martin sambil menyusuri setiap pojok kamar hotel. Dan alangkah terkejutnya Martin setelah melihat kondisi Amairah yang sudah tergeletak di atas lantai keramik yang cukup dingin dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.


"Amairah sayang apa yang terjadi kepada mu" ucap Martin yang sudah histeris melihat kondisi Istrinya yang banyak darah segar yang mengalir di betis Amairah.


Martin pun segera menggendong tubuh istrinya dan berlari ke arah Lift.


"Axel ayok nak ikut Daddy teriak Martin ke arah Axel yang nampak kebingungan setelah melihat Mommynya digendong dan banyak darah yang dia lihat berceceran di lantai keramik.


"Pak Martin Fokus saja bawa istri bapak ke Rumah Sakit biarkan Saya yang mengurus dan menjaga putra bapak" ucap Pak Aril yang membantu Martin untuk menjaga Axel sambil mengarahkan anak buahnya untuk mengantar Martin dengan menggunakan mobilnya.


Martin pun segera berlari sambil menggendong Amairah. Walaupun agak susah dikarenakan tubuh Amairah yang lebih berat dari biasanya setelah mengandung anak mereka. Amairah sudah tidak sadarkan diri lagi. Wajah Martin


semakin pucat karena khawatir terjadi sesuatu kepada calon buah hatinya dan istrinya.

__ADS_1


"Bertahan lah Sayang, kamu dan Baby kita pasti akan baik-baik saja" ucap Martin saat sudah berada di dalam Lift.


Pak Aril dan Axel pun ikut menyusul mereka hingga ke rumah sakit. Martin tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi setelah melihat kondisi wajah Amairah semakin pucat.


"Pak cepat bawa mobilnya, istriku semakin banyak mengeluarkan darah" ratap Martin sambil memohon agar supir tersebut menambah kecepatan mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan lebih cepat lagi walau pun harus balapan.


Pak supir pun mengerti dengan keadaan Martin dan segera melajukan mobilnya bahkan lampu merah di depan dia terobos saja baginya urusan dengan kepolisian urusan belakangan yang penting nyawa dari istri teman Bosnya selamat. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai ke rumah sakit dan Martin tidak menghiraukan dari tatapan mata yang melihatnya. Martin langsung membawa tubuh Amairah ke dalam UGD RS dan berteriak agar Dokter dan perawat segera menangani Istrinya.


"Dokter tolong istri saya!!" teriak Martin.


Dokter dan beberapa perawat segera datang dengan tergesa-gesa karena melihat banyaknya darah Amairah yang menetes di lantai.


"Ayok cepat bawa masuk ke ruangan Operasi pasien harus segera dioperasi sebelum terlambat" perintah Ibu Dokter.


"Baik Dokter" ucap suster tersebut.


Amairah pun segera dibawah ke dalam ruangan operasi. Martin yang ingin masuk ke dalam langsung dicegah oleh petugas.


"Maaf Pak Anda diluar saja karena Jika bapak Masuk itu sama saja mengganggu proses pekerjaan kami" ucap Perawat.


Martin pun langsung memundurkan langkahnya dan segera keluar dari ruangan operasi. Lampu ruangan operasi pun langsung menyala. Pak Aril dan anak buahnya pun sudah datang tapi Axel tidak bersama mereka. Martin yang melihat kedatangan rombongan Pak Aril langsung melihat ke arah mereka dan mencari sosok putranya yang tidak ada bersama mereka. Martin pun kembali khawatir dengan keadaan putranya.


...********Bersambung********...


Fania tidak akan pernah bosan atau pun capek untuk mengucapkan Makasih Banyak kepada kakak Readers all yang selalu mendukung Novel receh Fania 🙏 Dukungan Kalian sangatlah berarti 🤗🥰.

__ADS_1


Jangan Lupa untuk Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan 🙏


Makassar, 30 April 2022


__ADS_2