Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 47. Alergi Yang Sama


__ADS_3

Selamat Membaca...


Sudah satu Minggu Amairah menjalani Pernikahannya dengan Martin. Tetapi sampai detik itu juga mereka belum pernah bertemu dan berkumpul bersama layaknya keluarga normal lainnya. Amairah ingin menghubungi nomor hpnya Martin dan bertanya tentang kabarnya, tapi sayangnya hal itu mustahil terjadi karena dirinya lupa untuk meminta nomor hpnya Martin sewaktu dirinya pamit pulang ke kota S.


Hari ini Amairah berangkat kerja seperti biasa, Mobil merah miliknya sudah membelah jalan ibu kota S dan sudah berbaur dengan pengendara sepeda motor dan roda empat lainnya. Pagi ini cukup ramai karena bertepatan dengan hari Senin, dimana semua orang yang berkerja disuatu instansi pemerintah maupun swasta mulai bekerja setelah melewati liburan di hari Sabtu dan Minggu.


Amairah sampai di kantornya sebelum Maya datang. Sedangkan Amairah sudah berada di kubikelnya kembali menyalakan komputernya dan memeriksa semua pekerjaannya. Tapi baru ingin membuka beberapa email penting yang masuk hp Amairah berdering. Amairah langsung mengambil hp hpnya dan mengangkat telponnya kemudian tanpa memeriksa siapa orang yang sudah menelponnya sedangkan tangannya yang kanan masih sibuk menari-nari di atas keyboard.


"Assalamu alaikum" ucap salam Amairah setelah telpon tersambung.


"Waalaikum salam" jawab orang yang ada diseberang telpon.


Amairah kaget karena sebelumnya tidak pernah mendengar suara orang tersebut yang terasa asing ditelinganya dan memeriksa siapa yang menelponnya. Amairah tidak mengenal sang empunya nomor cantik yang mudah dihafal oleh siapa pun, yaitu 081233***.


"Maaf ada yang bisa saya bantu pak?." tanya Amairah yang tetap jarinya menari diatas keyboard.


"Gimana kabarmu?." tanya orang diseberang telpon.


"Alhamdulillah baik" ucap Amairah yang mengerutkan dahinya karena tidak biasanya ada cowok yang menelponnya dan bertanya tentang kabarnya.


"Apa aku boleh minta tolong??." tanya orang tersebut.


"Boleh saja insyaallah kalau saya bisa pasti akan saya lakukan" jawab Amairah lagi.


"Boleh gak kamu temani Saya ke acara reuni hari Sabtu sore di Hotel S?". tanya orang tersebut.


"Ooh menemani reunian yah tapi maaf saya tidak bisa menjawab dan memenuhi permintaan anda, karena saya harus bertanya kepada suami saya dulu pak apa beliau mengijinkan saya atau tidak" ucap Amairah lagi.


"Emang kamu sudah menikah yah??." tanyanya lagi.


"Alhamdulillah sudah pak dan maaf kalau mau bertanya tentang status atau sesuatu yang berhubungan dengan pribadi saya Maaf saya tidak sembarang memberitahukan identitas saya kepada orang lain dan saat ini saya sibuk." ucap Amairah lalu mematikan telponnya.


"Apa telponnya sudah mati?" tanya Martin kepada Dion.


"Iya Dia langsung mematikan telponnya dan sedikit marah sepertinya" jawab Dion.


Martin hanya tersenyum penuh arti dalam menanggapi perkataan dari Dion.


"Makasih kamu sudah membantuku" ucap Martin sambil mengusir Dion dari ruangan kantornya.

__ADS_1


"Ini nih yang dikatakan habis manis sepah dilempar" ucap Dion sambil berlalu dari hadapan Martin.


"Kalau tidak mau keluar Aku potong gajimu dan bonus untuk kamu bulan ini tidak ada" ucap Martin.


"Terserah bos saja lah, apa lah Aku ini yang hanya remahan rengginan yang tidak ada artinya dihatimu" ucap Dion sambil berlari dan menutup pintu sebelum ada sepatu yang melayang ke arah kepalanya.


Martin melihat berkas yang ada di dalam map merah yang ada di atas Meja kerjanya yang dibawah tadi oleh Dion. Martin tersenyum melihat isi dari berkas tersebut.


"Cantik tapi sayangnya sudah punya anak tapi kok ga ada foto tentang anaknya yah?." tanya Martin pada dirinya sendiri yang sudah berulang kali memeriksa kertas tersebut tapi tidak menemukan hal yang Dia ingin ketahui.


Amairah memang tidak pernah mengunggah status tentang kehidupan pribadinya baik itu fotonya langsung atau pun Foto anaknya satu pun tidak pernah. Amairah lebih sering membuat dan mengunggah status dengan kata-kata bijak saja. Dan hal ini terjadi mulai Amairah duduk di bangku perkuliahan.


Martin kemudian menyimpan nomor hp Amairah. Dan menulis nama kontak Amairah sahabatku. Awalnya Martin menulis nama Amairah tapi Martin hapus lagi, lalu istriku tapi Martin takut jika Omanya tahu tentang pernikahan rahasianya. Dan akhirnya memutuskan untuk memberi nama kontak sahabatku. Barulah Martin tidak pernah menghapusnya lagi hingga detik ini.


"Tunggu lah Nikita hari malam Minggu nanti aku akan perlihatkan kepada kamu siapa Martin Muhammad Al-ayyubi Lee itu, kamu terlalu angkuh dan bagimu hanya kamu perempuan cantik satu-satunya di dunia ini, kami salah Nikita" ucap Martin lalu menutup berkas tersebut dan menyimpannya di dalam laci meja Kerjanya.


Amairah hari ini pulang kerja agak sedikit terlambat pulang karena banyaknya kerjaan yang menumpuk di atas meja kerjanya. Karena Amairah berapa hari yang lalu harus ke Jakarta sehingga pekerjaannya menjadi banyak. Amairah lalu merentangkan kedua tangannya ke atas.


"Aaaaaahh capek juga yah" ucap Amairah yang menertawai perkataannya sendiri.


Amairah kemudian bersiap pulang dan membereskan semua pekerjaannya sambil mematikan Komputernya. Amairah mencepol asal rambutnya sebelum berdiri dan ada beberapa ank rambutnya yang jatuh kemudian mengambil tasnya.


Dirinya ingin mengejar tetapi Lift terlanjur tertutup. Dan dirinya baru ingin memotret orang tersebut, tapi sudah terlambat sangat karena lift yang dia naiki pintunya sudah tertutup.


Amairah buru-buru berjalan karena mendapat kabar kalau anaknya demam dan batuk-batuk. Amirah sudah khawatir dengan keadaan putra tunggalnya.


"Apa Axel makan es krim lagi??." tanya Amairah pada dirinya sendiri.


Amairah melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untung saja malam itu jalan ibu kota s tidak terlalu ramai sehingga bebas untuk menambah kecepatan mobilnya. Tapi tiba-tiba lampu merah menyala. Sehingga Amairah terpaksa mematikan mesin mobilnya.


Amairah menelpon dokter pribadinya yang sering menangani kasus penyakit Axel dan dokter tersebut pernah mengatakan kalau hal ini terjadi karena pengaruh faktor genetik atau faktor keturunan dari orang tuanya. Amairah tidak pernah menderita hal tersebut.


"Apa ini penyakit yang menurun dari ayahnya, karena aku tidak pernah seperti ini?". monolog Amairah yang tidak sadar jika suara klakson sudah bersahutan saling bergantian dari pengendara mobil yang ada pas dibelakang mobil Amairah.


"Piiiiitttt bunyi klakson mobil pengendara mobil yang tidak sabar menunggu kendaraan Amairah berjalan.


Amairah gara-gara Memikirkan kondisi anaknya sehingga sudah tidak sadarkan diri jika lampu merah sudah berwarna hijau. Amairah pun meminta maaf kepada pengendara lainnya.


Beberapa saat kemudian, mobil Amairah sudah sampai di rumahnya dan tidak sempat memarkirkan mobilnya dengan baik di dalam garasi rumahnya karena sudah sangat khawatir dengan keadaan anaknya Axel. Tapi Amairah baru membuka pintu rumahnya dan kaget mendengar suara tawa Axel dengan seorang perempuan yang bisa dibilang sudah lansia.

__ADS_1


"Assalamu alaikum" ucap Amairah yang berlari kecil ke dalam kamar putranya dan langkahnya terhenti saat melihat Axel dalam pelukan seorang yang sangat dikenali oleh Amairah.


"Axel sayang kamu baik-baik saja kan?." tanya Amairah kepada putranya yang memeriksa keadaan putranya dan memegang keningnya langsung. Tapi Amairah heran karena Axel sudah tidak demam dan batuk-batuk lagi.


Amairah lupa kalau ada orang yang sedang memangku anaknya.


"Heeemmm" setelah orang itu berdehem barulah Amairah menyadari kehadiran sosok tersebut.


"Nenek Masitha" ucap Amairah yang sangat bahagia karena akhirnya masih bisa bertemu dengan nenek Masitha Setelah bertahun-tahun lamanya. Mereka bertemu setelah dia tahun lebih.


"Gimana kabarmu Nak?." tanya nenek Masitha.


"Alhamdulillah baik cuma Axel saja yang kurang sehat" Jawab Amairah.


"Axel sudah sembuh loh moms dan tidak demam dan batuk-batuk lagi, sini tangannya moms" ucap Axel sambil menarik tangan mommynya ke atas kepalanya.


"Iya sudah tidak demam lagi, apa kamu sudah minum obat sayang?." tanya Amairah pada anaknya.


"Obat yang biasa diminum sama Axel sudah habis Bu, tapi Nenek Masitha tadi merebus daun yang Mbak kurang tahu juga itu daun apa dan langsung diMinum oleh Axel hangat-hangat kuku dan Alhamdulillah demamnya perlahan turun dan tidak batuk-batuk lagi" jelas Mbak Wati dengan panjang lebar.


"Alhamdulillah kalau begitu, Makasih banyak Nek sudah membatu menyembuhkan penyakitnya Axel, jujur aku sudah membawa Axel ke banyak rumah sakit tapi hasilnya masih sama dan dokter terakhir yang menanganinya katanya ini faktor gen bawaan dari sejak lahir" tutur Amairah.


"Maafkan Nenek yang telah lancang meminumkan ramuan obat herbal kepada anakmu karena Nenek sering mengalami hal seperti itu pada cucu laki-laki nenek dan penyakit mereka sama makanya nenek berinisiatif untuk memberikan dan mencoba ramuan obat herbal tersebut pada Axel dan Alhamdulillah hasilnya baik" jelas nenek Masitha.


"Alhamdulillah Makasih banyak nenek sudah menolong anakku, karena aku juga sudah pusing menghadapi penyakitnya Axel karena Aku tidak mengidap penyakit yang diderita oleh anakku jadi bingung kenapa bisa Axel punya kelainan ini" tanya Amairah yang heran.


"Kok mirip si bajingan tengik itu yah, wajah mereka pun hampir sama dan sekarang penyakitnya juga sama, kenapa aku berfikir mereka ada hubungan yah tapi aku sudah mencari tahu itu semua tapi detektif yang aku sewa sampai sekarang belum berhasil dan menemukan informasi apa pun itu" ucap Nenek Masitha dalam hatinya.


"Nenek gimana kalau malam ini Nenek nginap di sini Saja?. nenek kan belum pernah bermalam di Sini sekalipun itu." Mohon Amairah.


"Baiklah nenek akan bermalam di sini" ucap Nenek Masitha.


Bersambung...


Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang telah meluangkan waktunya untuk membaca Novel receh Fania ✌️🙏🤭.


By Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, 09 April 2022.

__ADS_1


__ADS_2