Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 198. Kenyataan


__ADS_3

Selamat Membaca..


Delisha sudah memutuskan untuk segera menemui pria yang sudah dipilihkan oleh Keluarganya.


Delisha tidak ingin membuat kecewa keluarganya dan juga dia ingin keluarganya lengkap. Lee bisa mendapatkan Ayah sambung, walaupun hingga detik ini pencariannya tentang ayah biologis putranya belum diketahui rimbanya.


Setelah menempuh beberapa jam lamanya, pesawat pribadi yang ditumpanginya sudah mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta.


Delisha langsung bertolak ke tempat pertemuan yang sudah ditentukan oleh Abimanyu lewat pesan singkat yang dikirim ke nomor hpnya Delisha.


Seharusnya dia beristirahat sejenak di kediamannya,tetapi dia tipe perempuan yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan selama dirinya sanggup untuk melakukannya.


Dia mengemudikan mobilnya seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun juga. Sedangkan Aisyah menuju rumah sakit tanpa sepengetahuan siapa pun juga.


Dia sudah punya janji ketemu dengan Bryan untuk melakukan tes DNA.


"Semoga hasilnya sesuai dengan dugaanku bahwa dia adalah Ayah kandungnya Tuan Muda."


Mobilnya sudah memasuki area Rumah Sakit. Dia sudah berjalan ke arah Ruangan khusus untuk melakukan prosedur tes tersebut. Dia juga sudah memerintahkan untuk mengambil sampel darahnya Lee serta milik pria itu.


Kalau masalah tersebut bagi Bryan bukanlah rintangan yang berarti dan halangan untuk melakukannya Sedari dahulu seperti itu lah pekerjaan yang dilakoninya hingga sekarang menjadi asisten pribadinya Martin sekaligus orang paling dipercayai oleh keluarga besar Martin Lee.


Awalnya langkahnya sangat pasti, hingga tersisa beberapa meter dari tempatnya berdiri tiba-tiba langkahnya dia hentikan.


"Apa aku harus bertemu dengannya lagi, aku harus bilang apa padanya? Kalau dia bertanya lagi mengenai jawabanku."


Ada kebimbangan dan keraguan yang dihadapinya saat langkahnya semakin mendekati tempat tersebut.


Dia memegang handle pintu itu dan berniat ingin memutar knop pintunya, tapi kembali ia mengurungkan niatnya itu.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya lalu meraih gagang pintu.


Tapi pegangannya sedikit terlambat karena ada seseorang yang lebih duluan membuka pintu tersebut. Sehingga terbuka lebar lah pintu itu dan memperlihatkan wajah seseorang yang sudah hampir 7 tahun dia tidak temui sekalipun.


Mereka saling menatap, berdiri mematung tanpa ada suara dan tidak ada yang ingin berinisiatif terlebih dahulu membuka percakapan mereka.


Mereka sama-sama sibuk saling bertatapan satu sama lainnya. Mereka meresapi rasa rindu yang membuncah di dalam dadanya. Saling menyalurkan kerinduan yang terpendam di dalam ruangan hampa di dalam lubuk hatinya yang paling terdalam.


Ada butiran bening yang tercipta di sudut kelopak matanya. Dia tidak menampik jika, dia pun merindukan sosok pria yang sudah lama hadir yang mengisi relung hatinya.


"Aisyah," hanya kata itu yang meluncur dari bibirnya.


Senyuman itu tulus dan hangat diberikan oleh Dokter Rizaldi untuknya. Ada berbagai rasa yang tiba-tiba hadir di saat tatapan mata mereka saling berbicara, hingga suara seseorang yang memanggil namanya mampu memutuskan kontak mata mereka.


"Mas!!"


Aisyah menatap ke arah pemilik suara seorang perempuan yang memanggil nama Rizaldi dengan sebutan Mas.

__ADS_1


Aisyah bergantian menatap perempuan itu dengan Rizal.


Seakan-akan Aisyah melempar sebuah pertanyaan yang ingin mengetahui siapa perempuan itu.


Perempuan itu terus berjalan hingga ke samping Rizaldi lalu mengalungkan tangannya ke lengan panjang Rizaldi.


"Mas kok lama banget sih, sedari tadi aku nungguin Mas loh, apa Mas gak kasihan dengan calon bayi kita," ujarnya sembari mengelus perutnya yang sudah sedikit buncit itu.


Aisyah langsung bergerak mundur setelah mendengar penjelasan dari bibir wanita cantik itu. Bibirnya bergetar, gejolak di dadanya bergolak. Dia tidak menyangka jika pertemuannya kali ini menegaskan hubungan mereka untuk kedepannya.


Dia ingin menangis tapi sekuat tenaga dia berusaha untuk melawan laju air matanya.


Sedih, kecewa bercampur menjadi satu di dalam hatinya.


Rizaldi tak mampu berkata apa pun lagi. Penyesalan semakin membuatnya terpuruk dan jatuh ke dalam putus asa.


Takdir yang berkata lain, hidupnya sudah tidak seperti dulu lagi sekitar 1 tahun lalu. Dia terpaksa memenuhi permintaan sekaligus permohonan dari kedua orang tuanya. Yang memintanya untuk menikahi wanita pilihan mereka. Dengan berat hati dia harus melaksanakan amanah kedua orang tuanya.


Aisyah segera meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin terlalu lama melihat kedekatan dan kemesraan yang terjalin di antara keduanya.


"Maafkan aku, aku tidak sanggup memperjuangkan hubungan kita, kamu sendiri yang membuatku harus memilih jalan ini, tapi yakinlah cinta dan hatiku hanya untukmu seorang hingga nyawaku tidak lagi aku miliki."


Rizaldi menatap ke arah Aisyah yang perlahan menjauh dari tempatnya. Dia sangat yakin jika, Aisyah menangis tersedu-sedu karena hanya melihat punggungnya Aisyah yang bergetar hingga dia mengetahui kesedihannya.


Aisyah bersandar di dinding,dia menumpahkan segala gunda gulananya. Kesedihannya tak mampu dia bendung lagi. Hingga tetesan air matanya sudah membasahi pipinya yang sedari tadi dia usahakan untuk tidak lolos.


Dia memegang dadanya yang sangat sakit itu.


Dia sangat tahu dengan apa yang dirasakan oleh Aisyah. Dia pernah berada di titik terendah yang seperti dialamatkan.


"Cinta penderitaannya tiada berakhir."


Sedangkan di tempat lain, seseorang sudah menghabiskan secangkir kopi espresso miliknya. Dia sesekali mengaduk minumannya.


Dis merogoh hpnya, tapi bukan hpnya yang dia ambil malahan ada kotak beludru warna merah yang terdapat di dalam saku jasnya.


Dia heran dengan kotak tersebut dan melupakan dengan benda itu. Ia pun membuka kotak tersebut. Dan betapa kagetnya saat melihat gelang tersebut.


Dia berusaha mengingat kenapa kalung yang sudah lama hilang sekarang berada di dalam genggaman tangannya.


"Ini kan gelang waktu itu terjatuh saat dia berjalan meninggalkan Resto X dua bulan lalu," tuturnya.


Senyumannya terbit dan sudah berencana untuk bertanya pada Delisha nantinya. Pikirannya buyar seketika saat sudut matanya menangkap bayangan seseorang yang sedari tadi dia pikirkan.


Senyumannya langsung terpancar dari sudut bibirnya. Dia akan bertanya tentang gelang tersebut di hadapan Delisha.


Dia berdiri dari posisi duduknya. Dan menyambut kedatangan Delisha. Dia buru-buru berjalan ke arah kursi lalu menarik kursi agar memudahkan Delisha untuk duduk di kursinya.

__ADS_1


"Maaf Saya terpaksa harus datang terlambat," ucapnya dengan mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Tumben cara bicaranya lembut seperti itu, tidak seperti dulu awal kami bertemu yang sangat dingin dan terkesan arogan dan jutek."


"Tidak apa-apa kok, lagian aku juga baru sampai jadi santai saja," balasnya.


"Makasih banyak atas pengertiannya," timpalnya.


Mereka berbincang-bincang santai tapi serius karena sesekali Abimanyu membicarakan tentang rencana pertunangan mereka.


"Maaf saya mengundang Kamu untuk makan siang kali ini, hanya bertujuan untuk menanyakan perihal tentang rencana pertunangan kita," jelasnya.


Delisha hanya menatap ke arah Abi tanpa ada niatan untuk membalas perkataannya malahan dia menunggu Abi untuk melanjutkan pembicaraan mereka.


"Apa Kamu sudah bersedia untuk menerima lamaran ku?" Tanyanya lalu menatap ke dalam ke dua bola matanya Delisha.


Delisha yang ditatap seperti langsung mengalihkan perhatiannya dan tanpa sengaja melihat gelangnya yang beberapa hari ini dia cari ke mana-mana tapi hasilnya tidak ketemu juga.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Abi, tapi Delisha mengalihkan pembicaraannya ke arah lain.


"Maaf bisa saya lihat gelangnya?" Tanyanya sambil mengarahkan tangannya ke hadapan Abimanyu.


Abi refleks memberikan gelang tersebut tanpa banyak kata. Delisha mengamati dan memeriksa gelang tersebut dengan sangat hati-hati. Sesekali alisnya saling bertautan satu sama lainnya.


Abi melipat kedua tangannya ke depan dadanya dan hanya menunggu Delisha membuka mulutnya untuk berucap sepatah kata tentang gelang tersebut.


"Maaf bukannya saya menuduh atau mencurigai Anda, tapi Anda dapat gelang ini dari mana?" Tanyanya yang sangat penasaran sembari menatap ke arah Abimanyu.


"Aku dapat gelang itu dari gaun cantik seseorang perempuan yang sangat cantik yang terjatuh di atas lantai sebuah Restoran X dua bulan lalu," ujarnya.


Delisha menatap jengah ke arah Abi yang menurutnya penjekasannya terlalu bertele-tele tidak langsung pada intinya.


"Maaf tolong jawab saja sesuai kenyataannya, tidak perlu berputar-putar tanpa ada jawaban yang pasti."


Abie hanya tersenyum dan entah kenapa dia menyukai raut wajahnya Delisha yang cemberut tersebut.


"Aku dapat gelang ini saat Kamu berjalan dan kemungkinannya terjatuh dari ujung gaunmu waktu itu," jelasnya.


Raut wajahnya langsung berubah bahagia karena gelangnya sudah dia temukan.


"Alhamdulillah ternyata gelangku sudah aku temukan," terangnya dengan penuh kebahagiaan.


"Berarti dia gadis yang selama ini aku cari hingga hampir 9 tahun, dunia ini ternyata tak selebar daun kelor."


...Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang masih setia membaca novel recehku yang membosankan ini....


...Met hari Raya idul Adha 1443 Hijriyah....

__ADS_1


...By Fania Mikaila Azzahrah...


...Makassar, Minggu 10 Juli 2022...


__ADS_2