
Selamat Membaca..
Entah apa yang terjadi dengan tubuh Amairah, hanya karena mencium bau dari parfum pewangi mobilnya serta pengharum ruangan membuatnya mual dan langsung ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya. Amairah baru saja ingin mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya, rasa mual itu datang lagi setelah mencium pewangi ruangan tempat kerjanya.
Amairah langsung berlari mencari toilet tapi toilet yang dekat dari kubikelnya ternyata terisi itu pun ada beberapa karyawan yang antri. Amairah kembali berlari ke arah luar untuk segera ke arah toilet Pantry kantor tapi baru saja beberapa langkah Amairah berpapasan dengan rombongan klien Perusahaan dan petinggi perusahaan. Amairah saking tidak tahannya dengan rasa mual yang menyerangnya. Akhirnya Amairah mengeluarkan segala isi perutnya di atas pakaian orang tersebut yang tidak sengaja Amairah tabrak.
"Hueeekk.. Hueekk.." Amairah memuntahkan cairan tersebut berulang kali.
Sedangkan orang yang terkena muntahan tidak mengatakan apapun hanya memberikan isyarat dan kode kepada anak buahnya agar tidak berkomentar apa pun dan membiarkan Amairah mengeluarkan segala sesuatu dari dalam perutnya. Setelah merasa baikan, Amairah pun sangat menyesali karena telah muntah di sembarang tempat dan memuntahkan cairan tersebut ke atas pakaian seseorang.
Amairah mengangkat kepalanya dan melihat ke arah atas dan bukannya meminta maaf tapi malah memeluk tubuh orang tersebut.
"Paman Heri, Maaf Amairah tidak segaja" ucap Amairah yang memeluk tubuh pak Heri.
Pak Heri pun membalas pelukan dari Amairah. Pak Heri merasakan juga kerinduan yang sangat kepada putri tunggalnya
"Kamu sudah baikan Nak?" tanya pak Heri.
Tapi Amairah masih belum menjawab pertanyaan dari pak Heri, Amairah masih memeluk tubuh Pak Heri seakan-akan mereka telah berpisah bertahun-tahun lamanya.
Setelah merasakan kondisi tubuhnya yang sudah stabil baru lah Amairah melepaskan pelukannya dari tubuh Pak Heri. Amairah berulang kali meminta maaf dan cengengesan saja setelah mengetahui kalau dia memuntahkan pakaian pak Heri.
"Maaf yah Paman Amairah tidak sengaja" ucap Amairah yang sudah berusaha untuk membersihkan pakaian Pak Heri.
"Tidak apa-apa kok Amai, hal seperti ini wajar saja terjadi, tapi kamu sudah baikan atau masih ingin muntah?" tanya Amairah.
"Alhamdulillah sudah baikan Paman, tapi tolong temannya Paman di suruh agak mengjauh dari sini soalnya aku tidak suka mencium parfumnya" ucap Amairah yang menutupi hidungnya dari parfum orang tersebut.
Pak Heri langsung memberikan kode kepada orang tersebut agar segera menjauh untuk menghindari agar Amairah tidak muntah lagi.
"Paman bawa pakaian ganti kan dan maaf Amairah tidak bermaksud untuk membuat pakaian Paman kotor" ucap Amairah yang sangat menyesali karena kesalahannya pakaian Pak Heri kotor.
"Tidak apa-apa, lagian paman masih punya pakaian ganti di mobil" ucap pak Heri.
"Maaf terlambat, ini pakaian ganti untuk bapak" ucap sekertaris Pak Heri.
"Makasih banyak" ucap Pak Heri.
"Kalau gitu Paman permisi dulu, mau ganti pakaian nanti kita Paman akan datang ke rumah kamu, paman sudah kangen dengan Axel" ucap Pak Heri yang membuat semua orang kepo dengan hubungan yang terjalin antara Amairah dan Pak Heri selaku salah satu pemegang saham tertinggi di Perusahaan tersebut nomor dua setelah Pemilik Perusahaan.
Amairah memperbaiki pakaiannya serta penampilannya karena akan ikut bertemu dengan klien dari perusahaan lain yang kebetulan menjadi mitra kerja sama Perusahaannya sedangkan Pak Heri akan mengadakan rapat dewan direksi dan komisaris serta semua jajaran pemilik saham di perusahaan tersebut.
Amairah kembali ke kubikelnya untuk memanggil Maya agar segera ke ruangan asisten pribadi pak Dion yang sedari tadi menunggu kedatangan Amairah dan Maya.
"Amai kamu tidak apa-apa kan?" tanya Maya.
"Iya Amairah apa yang terjadi kepada kamu??, kami sangat khawatir melihat kamu tadi loh" ucap Nadia.
"Alhamdulillah aku sudah baikan, cuma tadi agak enek mencium pengharum ruangan itu" ucap Amairah yang menunjuk ke arah tempat di mana pengharum ruangan yang tidak bersalah menjadi penyebab mual dan muntahnya.
Maya dan Nadia saling berpandangan heran dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Amairah, karena mereka merasa tidak ada yang terjadi apa pun selama pengharum itu berada di dalam kantor mereka.
"Jadi kamu sudah baikan atau mau aku cariin obat?" tanya Maya.
"Gak usah repot-repot kok May, Aku sudah baikan" ucap Amairah yang heran dengan dirinya sendiri setelah mencium aroma dari Pak Heri dan Pak Heri memeluk tubuhnya perasaannya sudah membaik dan rasa mual dan muntah yang sempat menggerogoti tubuh sudah menghilang terbang dibawah angin.
__ADS_1
"Waktu aku hamilkan Axel, Karena pak Heri menyentuh perutnya dan mengelusnya perut Amairah langsung berkontraksi dan siap untuk melahirkan".
"Kalau kamu sudah siap let's go entar asisten pribadinya oak Presdir marah-marah lagi dan ingat ini pertemuan pertama kita dengannya dan juga klien kita Pak Agung jangan sampai ada kesalahan sedikit pun" ucap Maya.
"Siap ibu bos" ucap Amairah yang tersenyum melihat tingkah Maya yang sangat antusias untuk bertemu dengan klien.
Amairah dan Maya pun berjalan ke arah ruangan Presdir karena mereka mendapatkan informasi kalau asisten pribadi pak Presdir berada di sana. Amairah masih kepikiran dengan pak Heri sedangkan Maya yang tidak sabar ingin melihat wajah dari Dion Sang asisten pribadi yang katanya gantengnya gak kalah dengan sang big Bos.
Mereka berjalan ke arah lift dan menunggu pintu lift terbuka. Amairah tidak sengaja menatap ke arah rombongan dewan direksi dan tersenyum langsung ke arah pak Heri yang berjalan ke arah luar Lift dan yang membuatnya tidak berkedip adalah sosok pria yang mirip dengan Martin suaminya yang berjalan paling di depan. Amairah terus menatap ke arah Martin yang tidak menoleh ke arah lain hanya fokus ke depan sedangkan Amairah sudah ingin berjalan dan memanggil nama Martin tapi belum sempat Amairah menyebut nama Martin pintu lift pun sudah terbuka.
Maya langsung menarik tangan Amairah agar segera masuk ke dalam Lift.
"Amairah menurut kamu pak Dion itu ganteng gak?" tanya Maya.
Sedangkan yang ditanya hanya diam dan bengong tidak tahu isi kepalanya pergi ke mana. Amairah masih memikirkan apa yang tadi dilihatnya benar Martin atau bukan tapi kalau Martin tidak mungkin tidak mengenali dirinya karena mata mereka sempat bertemu dan saling berpandangan tapi Martin buru-buru memutus kontak mata diantara mereka.
Maya dan Amairah masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri dan tidak menyadari kalau pintu lift sedari tadi sudah terbuka dan berhenti.
"Maaf apa nona manis masih ingin berdiri di dalam lift?" tanya Dion yang melihat mereka yang terbengong.
Maya dan Amairah langsung kembali ke dunia nyatanya setelah Dion memukul pintu Lift agar ke Dua wanita cantik tersebut sadar dari lamunannya.
"Maaf pak kami tidak tahu kalau liftnya sudah terbuka" ucap Maya yang malu-malu tapi matanya selalu terarah ke wajah Dion yang membuat Maya jadi grogi dan salah tingkah sendiri.
"Gantengnya, kalau calon suamiku modelnya kayak gini pasti aku tidak akan kabur lagi, Bahkan aku tidak akan sabar untuk menikah dengannya".
"Ini cewek bener cantik tapi kenapa selalu main kabur-kaburan kalau kami akan dipertemukan apa wajahku jelek sehingga dia tidak ingin menikah denganku?".
Dion dan Maya saling bertatapan hingga membuat Amairah tersenyum melihat mereka yang masih enggan untuk memutuskan kontak mata mereka. Mereka saling mengagumi sosok masing-masing.
"Maaf membuat kalian menunggu, Apa berkas yang akan kita gunakan sudah kalian bawah?" tanya Dion yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Iya pak semuanya sudah beres" ucap Amairah yang mengikuti langkah kakinya Dion yang cukup lebar.
"Ingat jangan sampai ada kesalahan dalam pertemuan kita kali ini dan Saya meminta pada kalian untuk menunjukkan kemampuan yang kalian miliki dan jika kalian berhasil maka kalian akan mendapat rekomendasi kenaikan gaji dan jabatan kalian serta bonus dan Perusahaan berjanji jika proyek Mega kita ini sukses kalian berdua akan mendapatkan tiket liburan gratis ke Korea Selatan" ucap Dion panjang lebar.
"Serius nih Bos atau cuma iming-iming belaka saja?" tanya Maya yang sudah berjalan dihadapan Dion.
Dion hanya menganggukkan kepalanya tanda apa yang dua katakan benar adanya dan bukan hanya janji palsu saja.
"Alhamdulillah kalau gitu, kita buktikan kepada bos dan kliennya kalau kita ini bukan karyawan kaleng-kaleng Amairah" ucap Maya yang sudah berambisi untuk bertemu dengan klien.
Dion tersenyum melihat tingkah laku calon istrinya yang menurutnya lucu.
"Kalau kamu tahu siapa aku apa kamu akan kabur lagi atau kamu akan mendekatiku".
Mereka sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka ke perusahaan Pak Agung yaitu Perusahaan yang bergerak di bidang IT yang nantinya akan sangat mendukung Perusahaan mereka yang bergerak di bidang tekstil. Maya tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Dion yang menurutnya semakin ke Sini semakin diperhatikan Dion semakin tampan saja. Tapi Maya tanpa sengaja melihat ke arah Amairah dan membandingkan ke dua wajah mereka dan menurutnya Maya ada kemiripan antara Pak Dion dengan Amairah yaitu dari bentuk hidung mancung mereka dan juga bibirnya. Mereka seperti orang yang bersaudara saja.
"Boleh tanya sesuatu?" tanya Amairah.
Dion memandang ke arah Amairah lalu menganggukkan kepalanya.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Balik Dion yang sepertinya mengerti dengan arah pembicaraan Amairah.
"Kemarin katanya Pak Rudi kami akan menemani Pak Presdir tapi sekarang kok hanya bapak yang hadir sedangkan Pak Presdir tidak?" tanya Amairah.
__ADS_1
"Beliau tidak hadir karena beliau sedang memimpin rapat pemegang saham tertinggi di Perusahaan dan tidak boleh diwakilkan oleh kepada siapa pun itu' ucap Dion.
Perjalanan cukup membutuhkan waktu yang lama karena kebetulan terjadi kemacetan yang cukup panjang padat merayap yang membuat Maya sudah ngomel-ngomel. Dion hanya tersenyum mendengar Omelan Maya yang sudah seperti emak-emak saja.
Mobil mereka sudah memasuki area Perusahaan pak Agung Wijaya tersebut. Mereka sudah disambut oleh sekretaris dan asisten pribadi pak Agung Wijaya. Mereka pun diantar hingga ke depan ruangan tempat mereka meeting. Karena Maya yang berjalan memakai high heels yang kebetulan lantai yang masih licin membuatnya hampir tergelincir. Untung saja Dion yang sigap menolongnya. Tubuh Maya berputar dan ditarik oleh Dion agar tidak terjatuh ke lantai dan pinggang Maya yang langsung dipeluk oleh Dion hingga mereka berpelukan cukup mesra. Mereka kembali saling bertatapan hingga beberapa menit, andai saja pak Agung Wijaya tidak muncul dihadapan mereka mungkin mereka masih sama-sama menikmati suasana tersebut.
Sedangkan pak Agung yang sudah mengetahui hubungan mereka hanya bisa tersenyum bahagia melihat kedekatan mereka.
Pak Agung langsung berdehem agar mereka tidak terlalu lama dalam suasana yang begitu romantis dan membuat mata semua orang hanya tertuju kepada mereka.
"Heeemmm" Pak Agung masih tersenyum melihat tingkah dua anak muda yang sama-sama baru merasakan indahnya cinta pada pandangan pertama.
"Maaf pak kami tidak sengaja" ucap Maya yang malu-malu karena sudah menjadi tontonan gratis oleh orang lain.
Dion hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Pamannya. Dion dan anggota keluarga lainnya sudah saking kenal dan mengetahui kalau Amairah adalah putri dari saudara Papanya. Tapi mereka belum menyampaikan berita bahagia tersebut kepada Amairah karena pak Heri menunggu waktu yang tepat saja.
"Maya kamu tidak apa-apa kan?" tanya Amairah yang tersenyum sedari tadi melihat apa yang terjadi.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok, cuma jantungku yang ada apa-apanya" ucap Maya yang membuat Amairah bengong dengan jawaban Maya.
"Ayok kita jalan jangan buat Pak Agung menunggu kita terlalu lama" ucap Maya yang masih memegang jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
Mereka sudah duduk di kursi masing-masing dan Amairah yang ditunjuk oleh Dion untuk mempresentasikan rancangan proposal kerjasama mereka. Amairah menyampaikan semuanya begitu lugas, tepat dan sangat baik sehingga yang hadir dalam meeting tersebut sangat puas dan tidak butuh waktu lama mereka menyepakati kontrak perjanjian tersebut. Dion diam-diam merekam keseluruhan penampilan Amairah dan langsung mengirimkan ke nomor hp Martin. Sedangkan Martin yang masih rapat dengan beberapa pemegang saham langsung memeriksa hpnya yang berdering tanda ada pesan Chat yang masuk.
"Penampilan istrimu tidak mengecewakan bahkan membuat perjanjian Kita berjalan lancar dan sukses" isi pesan chat yang dikirim oleh Dion.
Martin yang melihat Chat tersebut langsung tersenyum manis padahal sedari tadi wajahnya nampak datar saja dan malah menampilkan wajah yang cukup serius karena ternyata ada beberapa pemegang saham yang ingin menjual sahamnya ke tangan Orang lain. Dan yang membuat Martin tidak percaya nama orang tersebut adalah Amairah putri Prin Atmadja. Martin pun bertanya-tanya siapa sosok orang tersebut karena adanya kemiripan nama dengan istrinya hanya saja nama belakang mereka yang berbeda.
"Bagaimana apa kamu berhasil membeli sebagian saham mereka?" tanya seorang pria yang duduk di kursi kebesarannya.
"Kita berhasil membeli 30% saham yang ada atas nama Amairah putri Prin Atmadja" ucap Orang kepercayaannya yang tidak lain adalah Pak Antonio asisten pribadinya sekaligus keponakannya sendiri.
"Hasil penyelidikan kamu tentang kematian kedua Orang tuanya apa Kamu sudah mendapatkan bukti tentang keterlibatan kita?" tanyanya lagi.
"Semua bukti yang mengarah kepada tuan besar sudah aku hilangkan semua jejaknya dan semuanya sudah saya atur sebagai murni karena kecelakaan" jawab Pak Antonio.
"Bagus kalau begitu, Aku tidak ingin hanya karena gara-gara itu aku tidak berhasil mengambil cicitku dari tangannya, bagaimana Dia adalah satu-satunya penerus di keluarga Mark Prin Atmadja yang kelak nanti akan memimpin kerajaan Bisnisku" ucapnya sambil tersenyum licik.
"Jadi kita jalankan saja sesuai rencana awal paman?" tanya Pak Antonio.
"Iya tunggu waktu yang baik untuk mengambil alih dan setelah dia berada kita maka kita bisa membawanya pergi jauh dari sini dan aku akan mendidik dan mengajarkan cara berbisnis dan agar dia Bisa melupakan semuanya, tapi ingatlah lakukan dengan matang dan penuh hati-hati jangan menimbulkan kecurigaan atau pun bukti keterlibatan Aku di dalam semua ini" ucap pria tersebut sambil berlalu dari hadapan pak Antonio.
"Paman aku mohon berubahlah, jangan seperti ini terus karena Paman sama Saja akan menghancurkan kehidupan paman sendiri".
...******** Bersambung ********...
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus. FANIA sangat bersyukur karena kakak Readers sudah menyempatkan waktunya untuk membaca Novel Receh Fania ✌️🙏.
Jangan Lupa mampir ke Novelku yg judulnya Bertahan Dalam Penantian 📢✌️
Tetap Dukung CYT dengan Cara Tekan tanda Like setiap selesai membaca, Favoritkan dan Rate Bintang 5. Dukungan kalian sangatlah berarti.
Makasih banyak 🥰
by fania mikaila azzahrah
__ADS_1
Makassar 23 April 2022