
Selamat Membaca..
Warung makan yang baru dibuka itu dipadati oleh banyak pengunjung. Termasuk Amairah, Nadia dan Maya mereka rela mengantri dengan pengunjung lainnya. Cita rasa dari masakan dari warung tersebut sangat enak dan tentunya murah tetapi tempatnya bersih dan cocok untuk ber-selfie. Mereka baru saja beberapa sendok menikmati makanan, sudut mata Nadia tak sengaja melihat Bram duduk di pojok warung tersebut.
Nadia segera menghabiskan makanannya dan buru-buru berdiri untuk bertemu Bram.
"Nad, mau ke mana?.' tanya Amairah yang melihat Nadia berjalan ke arah kursi pojokan.
"Sepertinya Dia akan bertemu dengan Bram, lihat Bram sedang makan di pojok sana" ucap Maya yang masih mengunyah makanannya.
"Kamu yah Mau kebiasaan ngomong sambil makan, habisin tuh makananmu dulu baru ngomong" ucap Amairah yang tertawa dengan kebiasaan Maya yang tidak berubah.
Nadia sudah duduk di depan kursi Bram sedangkan Bram tidak menyadari bahwa Nadia yang sudah duduk di depannya.
"Gimana kabarnya istrimu Dea?." tanya Nadia yang basa basi.
Bram menghentikan kunyahannya lalu mengambil air putih untuk dia minum. Bram berfikir sejenak dan tersenyum ke arah Nadia. Senyuman itu membuat Nadia kembali meleleh dan teringat dengan masa indah mereka.
"Masih seperti sebelumnya, belum ada tanda-tanda kapan Dea akan sadar dan sembuh dari penyakitnya" Ucap Bram.
"Aku turut prihatin dengan kondisi Dea" Ucap Nadia.
"Makasih" ucap singkat Bram.
"Bram boleh kita bicara empat mata?". tanya Nadia yang berharap agar Bram setuju dan tidak menghindar lagi.
"Aku juga ingin bicara denganmu sejak dulu tapi aku tidak punya kemampuan untuk melakukan hal itu" ucap Bram yang mulai serius.
"Tapi jangan di sini, kita cari tempat yang aman agar kita lebih leluasa untuk berbicara" ucap Nadia.
"Ok" ucap singkat Bram.
Bram dan Nadia berjalan ke arah luar dan berjalan ke Taman yang tidak jauh dari sana. Sedangkan Amairah dan Maya sudah kembali ke kantor karena jam istirahat sudah usai. Bram dan Nadia duduk bersebelahan. Mereka sama-sama menjaga jarak karena tidak ingin timbul fitnah lagi diantara mereka. Bram pun tidak ingin jika ada yang melihatnya dan melaporkan hal tersebut kepada mertuanya yang nantinya akan berakibat fatal.
"Sudah berapa bulan usia kehamilan kamu?." tanya Bram.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah jalan 5 bulan, dan insya Allah anak kita cewek" ucap Nadia yang bahagia karena akhirnya Bram bertanya tentang kehamilannya.
Kebahagiaan seorang wanita hamil akan bertambah jika ayah dari anak yang dikandung bertanya tentang kehamilan wanitanya dan memberikan perhatian yang tulus.
"Alhamdulillah kalau gitu, Nad Maafkan jika selama ini aku terus menghindar dan tidak mau bertemu denganmu dan membahas permasalahan kita, aku tidak mampu untuk memperjuangkan cinta kita dan anak kita, Maafkan aku tidak bisa melakukan itu walaupun hati nurani ku sangat ingin bahagia dengan kamu tapi..." ucap Bram yang terpotong.
"Tapi apa.... Bram" tanya Nadia yang heran dengan perkataan dari Bram.
"Sejujurnya aku terpaksa menikah dengan Dea karena desakan dari ke dua orang tuanya yang memaksa Ayah dan ibuku untuk menikahi Dea yang penyakitan" ucap Bram.
"Terus kamu dipaksa oleh mereka dan tidak berniat untuk menolaknya bahkan kamu dengan bahagianya menerima dan memenuhi permintaan mereka?." tanya Nadia yang sudah emosi.
"Aku terpaksa menerimanya karena jika aku menolak permintaan mereka maka Ayahku akan masuk penjara dan semua harta yang dimiliki oleh orang tuaku akan disita oleh orang tua Dea, Orang tuaku awalnya tidak setuju dengan persyaratan mereka karena Mereka tahu Dea itu penyakitan dan bukan lah gadis baik-baik dan mereka akhirnya menjadikan aku alat sebagai penebus hutang ayahku, tapi Ayahku tidak punya pilihan lain lagi dan terpaksa menuruti permintaan mereka" terang Bram panjang lebar.
"Orang tua Dea jahat demi ingin melihat putrinya menikah mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi permintaan dari putrinya" ucap Nadia.
"Iya Dea sedari dulu sudah mencintaiku tapi Aku tidak pernah menggubris atau pun membalas cintanya, Dea terobsesi denganku karena itu lah Dea meminta kepada ke Dua orang tuanya untuk meminta kepada Ayahku untuk melamar putrinya dan kami tidak bisa menolak kemauan mereka" ucap Bram yang sudah pasrah dengan kenyataan yang ada.
"Tapi Bram gimana dengan nasib anak kita, apa kamu tega untuk melihat jika kelak dia lahir dan dicap sebagai anak haram?". tanya Nadia yang sudah pasrah dan akhirnya pertahanannya runtuh juga.
"Kamu akan bahagia dengan Dea jika Dea sadar dan sembuh dari penyakitnya sedangkan Aku..?." ucap Nadia yang kembali menangis tersedu-sedu dan tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
"Aku akan bertanggung jawab dan kamu harus tahu Saya dengan Dea hanya sebagai status di atas kertas saja dan sedikit pun aku tidak pernah mencintainya Nadia, jadi tolong percaya aku' Ucap Bram.
"Maksud kamu kita diam-diam menikah? tapi aku tidak mau jadi perusak rumah tangga kalian Bram, Aku juga seorang perempuan yang punya hati dan perasaan" ucap Nadia.
"Andai kamu tahu Nadia, Aku sangat tersiksa dan hancur ketika Aku tidak bersamamu dan disaat kamu bilang kamu hamil aku sangat bahagia".
"Tapi kalau kita nikah gimana dengan nasib ke dua orang tua kamu?". tanya Nadia.
"Aku sekarang mencari bukti keterlibatan Pak Toni dalam kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh Ayahku padahal Ayahku sudah bersumpah di depan kami kalau dirinya tidak melakukan hal tersebut dan mengenai hutang Ayahku, aku sudah mencicil hutang tersebut dengan menandatangani kontrak pernikahan dengan Dea, karena aku pernah tidak sengaja mendengar ayahnya Dea menelpon seseorang dan memerintahkan kepada orang tersebut untuk berhati-hati dalam bertindak tapi Pak Toni mengetahui kalau ada yang menguping pembicaraannya" jelas Bram.
"Mereka jahat yah, tapi aku yakin Ayahmu bukanlah pelakunya tapi dijebak oleh Pak Toni" ucap Nadia.
"Kalau gitu bersabarlah menungguku dan doakan aku agar masalah Ayahku segera ada jalan keluarnya, Aku tidak ingin menikahimu secara siri aku ingin kelak kita menikah dengan resmi dan meriah" ucap Bram.
__ADS_1
"Aku pasti akan sabar menunggumu hingga waktu itu datang" ucap Dea.
"Hari ini rencananya aku akan menemui pimpinan tertinggi Perusahaan Unaco traktor Tbk, karena di sanalah Ayahku dan pak Toni bekerja dan aku akan lakukan apa pun yang penting aku mendapat bukti kalau Ayahku tidak bersalah" ucap Bram.
"Aku akan selalu mendukungmu dan mendoakan agar apa yang kamu lakukan dapat berjalan lancar sesuai dengan apa yang kita harapkan" ucap Nadia yang menghapus jejak air matanya.
Mereka pun pulang sedangkan Bram celingak celinguk melihat sekeliling jangan sampai ada keluarga dari Dea yang melihatnya. Ada rasa lega dan plong dalam dirinya Nadia. Karena Nadia yang terlalu bahagia, dirinya sampai tidak memperhatikan jalan yang dilaluinya. Nadia hampir saja terjatuh untung ada yang segera berteriak kencang ke arahnya untuk berhenti berjalan.
"Sto........op" ucap Orang tersebut..
Bersambung..
Aku kasih bonus visualnya lagi dari pemainnya yah. Moga suka ✌️
💚ini visualnya Nadia aku ganti dengan yang kemarin
♥️Kalau yang ini Bram Wisnubroto
Sedangkan yang ini Dea istri dari Bram.
Semoga suka Tapi kalian punya rekomendasi visual yang menurut kalian cocok silahkan berimajinasi sendiri yah..
Bersambung..
Makasih banyak atas dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania Sangat bahagia karena dukungan kalian sangatlah berarti untuk CYT ✌️🙏.
By fania Mikaila Azzahrah
Makassar, 30 Maret 2022.
__ADS_1