
Selamat Membaca..
Hidup terus berjalan dan waktu tidak akan menunggu hingga kamu berubah..
Jadi berubahlah selama kamu punya waktu dan kesempatan untuk memperbaiki hidup kamu.
Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa berubah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Dan kalian tidak akan pernah Berubah jika Hidayah dan kemauan dari dalam diri kamu sendiri yang tidak optimis untuk berubah.
Hari ini Martin bersama putri kecilnya dan duo's Baby sitter nya akan ke daerah Kota B. Awalnya Nenek Masitha ingin ikut bersama rombongan mereka, tetapi tiba-tiba hpnya berdering dan Nenek Masitha segera mengangkat telpon tersebut.
"Assalamu alaikum Anton" ucap Nenek Masitha saat sudah berada di dalam kamar pribadinya sambil berdiri menghadap ke arah garasi rumahnya yang melihat cucunya yang sudah bersiap untuk berangkat.
"Waalaikum salam Nyonya, sesuai yang Nyonya perintahkan kami mengikuti Cucu Nyonya hingga ke Jepang" ucap Anton.
"Terus cucuku Axel sekarang ada di mana? dan tolong jaga dia baik-baik dan apa pun yang dia lakukan laporkan kepadaku tanpa terkecuali" yang Nenek Masitha yang segera mengemas seluruh barang-barang yang akan beliau bawa ke Jepang.
"Semoga kali ini berhasil dengan baik dan saya bisa bertemu dengan cucuku, Aku sangat merindukannya ya Allah, berilah Aku kesempatan untuk melihatnya dan bukakanlah pintu hatinya Tuan besar Mark prin Atmadja".
Nenek Masitha segera berangkat ke Bandara sebelum ada yang curiga keberangkatannya.
Nenek Masita kali ini lebih memilih memakai pesawat Pribadinya dari pada pesawat komersial karena tidak ingin datang terlambat lagi, seperti dua bulan lalu saat dirinya berangkat ke Thailand Bangkok.
Nenek Masitha terlambat setengah jam saja sebelum Tuan Mark besar dan Axel pergi dari sana.
"Kalau hanya Axel yang bersama dengan Tuan besar Mark, terua di mana Amairah apa dia masih hidup atau sudah..".
Nenek Masitha beristirahat di dalam pesawatnya. Sedangkan Martin dan rombongannya sudah berada di dalam pesawat yang mengantar mereka hingga ke Kota kembang, Bandung, Jawa barat.
Martin tidak ingin ke Kota B memakai mobil karena perjalanannya ke sana membutuhkan waktu yang cukup lama dan putrinya belum sanggup untuk menempuh perjalanan jauh lewat darat. Sehingga Martin lebih memilih naik jet pribadinya saja.
"Menurut Aku ada yang disembunyikan oleh Nenek, padahal Dia sendiri yang ngotot ingin berangkat ke kota B, dan tiba-tiba dia sendiri yang membatalkan keberangkatannya ke kota B, Sepertinya Aku harus menyuruh Bryan Regan untuk segera mengikuti langkah Neneknya ke Jepang".
Bryan yang masih asyik menikmati lagu yang dipersembahkan oleh band pengiring kafe tersebut terpaksa terhenti karena adanya telpon dari Bosnya Martin Muhamamd Al-ayyubi Lee.
"Assalamualaikum bos" ucap Bryan yang menghapus Air matanya yang sudah membasahi pipinya.
"Waalaikum salam, Bryan tolong segera berangkat ke Jepang Sekarang juga, dan ikuti Nenek ke mana pun langkah kakinya melangkah dan laporkan apa pun yang beliau lakukan dan ingat kirim video atau Fotonya apa yang nenekku lakukan". perintah Martin.
__ADS_1
"Oke Bos" ucap singkat Bryan Regan yang langsung berjalan ke arah kasir dan membayar bill minuman dan makanan yang sudah dia nikmati itu.
Bandara internasional Tokyo Jepang, hiruk pikuk warga lokal maupun turis mancanegara memadati Bandara tersebut. Nenek Masitha berjalan terburu-buru dan body guardnya setia menemaninya hingga ke Jepang. Nenek Masitha tidak Ingin terlalu mencolok dihadapan orang lain, jika body guard nya menjaganya selalu berada di belakangnya dan mengikuti ke mana pun beliau berada.
Nenek Masitha selama ini menyuruh mereka untuk memakai pakaian biasa saja layaknya Masyarakat biasa pada umumnya. Yang ke mana-mana hanya memakai pakaian biasa dan akan terlihat santai.
"Maxi tolong bawa koperku ini segera ke mobil" ucap Nenek Masitha.
"Baik nya" ucapnya.
Mereka sudah meninggalkan Bandara menuju rumah yang diduga ditempati oleh Mark Prin Atmadja bersama Axel. Nenek Masitha tidak ke hotel untuk beristirahat walau pun hanya sebenta saja. Nenek Masitha tidak ingin kali ini kecolongan dan membuatnya menyesal.
"Bagaimana perkembangannya Anton?" tanya Nenek Masitha ketika sambungan teleponnya tersambung.
"Tuan muda masih berada di dalam kediaman Tuan besar Mark, dan mereka baru saja melakukan latihan bela diri seperti taekwondo" Jawab Anton.
"Ok, ikuti perkembangan mereka dan laporkan apa pun yang terjadi, ingat jangan sampai kalian lengah sedikit pun, cukup sekali kalian gagal" perintah Nenek Masitha lagi.
Nenek Masitha menyuruh supirnya untuk mempercepat laju kecepatan mobilnya.
"Ya Allah kabulkan Permintaanku ini, pertemukan aku dengan cucuku walau pun hanya sesaat saja".
Nenek Masitha sangat berharap kepada tuan besar Mark untuk mempertemukan dia Axel.
Nenek Masitha terus menunggu dan berjaga hingga pintu gerbang nan tinggi itu terbuka lebar barulah Nenek Masitha bertindak.
Hingga malam hari, tidak ada tanda-tanda akan terbuka. Nenek Masitha yang sudah lelah menunggu memutuskan untuk berjalan ke arah pagar tersebut.
"Maaf pak bolehkah saya bertemu dengan tuan pemilik rumah besar ini?" tanya Nenek Masitha kepada sekuriti tersebut.
Keamanan rumah itu memperhatikan Nenek Masitha dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Sepertinya Dia adalah saudaranya Tuan Mark Karena ada kemiripan dari wajah mereka".
Security tersebut memikirkan tentang tamunya yang sekarang masih berdiri dihadapan.
"Tunggu dulu saya telpon Nyonya rumah, kalau memang mereka mengenal nyonya pasti akan langsung diijinkan masuk tanpa harus melihat identitas Nyonya" terang Pak Security tersebut.
"Ok" jawab singkat Nenek Masitha.
__ADS_1
Nenek Masitha kembali dibuat menunggu. Tadi menunggu di dalam mobil sekarang mematung di hadapan pagar tersebut hingga beberapa jam kemudian.
"ya Allah kenapa selalu sulit untuk bertemu dengan cucuku padahal selangkah lagi kami akan berhasil bertemu dengan Axel dan mengetahui keberadaan Amairah juga" ucap nenek Masitha.
Sedangkan di dalam ruangan tersebut, seorang perempuan menatap ke arah luar jendela. orang itu menyibak tirai pemisah jendela dengan gorden Rumahnya".
"Sepertinya Aku sangat mengenal wajah dari Ibu tua itu, apa kami pernah bertemu dengannya sebelumnya? tapi di mana?, karena setahu saya Aku belum pernah melihatnya"
"Sebaiknya saya harus berjalan ke dalam ruangan tersebut dan meminta tolong kepada pegawai yang bertugas untuk membantunya bertemu dengan tuan Mark Prin Atmadja" usul Nenek Masitha.
Nenek Masitha pun berjalan ke arah Security tersebut agar diijinkan bertemu dengan tuan Mark.
"Maaf, tuan Mark tidak muncul juga hingga sekarang, padahal saya sudah hampir dua jam menunggu disini ,tapi tidak satu pun dari Kalian yang mencoba untuk menjawab pertanyaan kami" ucap nenek Masitha yang sudah terbakar emosinya karena seolah-olah sengaja dibuat menunggu hingga larut malam.
Pukul 10 malam waktu Jepang,
Suasana di jalan sudah menunjukkan kalau akan terjadi kepadatan kendaraan, lampu jalan dan lampu dari gedung pencakar langit pun sudah memeriahkan malam itu, dan tidak menyurutkan niat dan semangat dari Nenek Masitha.
Nenek akhirnya memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah besar itu. Tapi, langkahnya harus diberhentikan dengan tidak hormat, dari pihak keamanan rumah tersebut. Hingga Nenek Masitha terus berusaha untuk masuk ke dalam Rumah besar Mark Prin Atmaja.
Nenek Masitha berharap rencananya kali ini berhasil dan tidak menuai kegagalan seperti yang telah lalu.
"Ya Allah lancarkanlah usahaku kali ini, Aku sangat merindukan kehadiran mereka di sisiku ya Allah."
...***************...
Mata tinggal 5 watt, tapi ketikan belum juga selesai, Dan hampir Saja naskah yang aku tulis terhapus seperti kemarin dan untungnya Segera terbangun dari mimpiku Kalau tidak naskahnya pasti sudah raib dalam sekejap mata.
Fania ucapkan Makasih banyak kepada Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus "CYT"🙏.
Dan jangan lupa untuk mampir ke Novel recehku yang lainnya yang update setiap hari Juga:
🧡Bertahan Dalam Penantian
💛 Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar, tapi Novel ini masih dalam tahap Revisi tapi selow yah revisinya.
Typo Mohon dimaklumi 🙏
...********Bersambung********...
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Senin 16 Mei 2022