Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 204. Lampu Hijau Aisyah


__ADS_3

Selamat Membaca..


Suasana di Rumah Sakit di depan ICU tampak sangat ramai. Hilir mudik Dokter dan beberapa perawat melayani pasien yang silih berganti berdatangan ke RS terbesar ke dua di Ibu Kota.


Pasien dan keluarga menambah kepadatan di beberapa ruangan RS yang tersedia.


Sedangkan di depan ruangan ICU suasananya kurang lebih sama. Bukan karena kesibukan dokter dan perawatnya, akan tetapi karena seorang Nathaniel Sanjaya yang membuat kesibukan sendiri yang membuat beberapa orang yang kebetulan ada di sana menatap jengah ke arahnya.


Dikarenakan Nathan yang tidak bisa bersikap tenang dan mondar mandir seperti setrikaan saja.


Mereka sudah capek dan bosan menegur Nathan. Karena sedikit pun tidak dipedulikan dan mengindahkan peringatan dari orang lain.


Abimanyu selaku CEO Perusahaan tempat dia bekerja sudah pasrah dan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd dari Nathan.


"Nak, ayok duduk, kalau Kamu terus mondar mandir gak jelas sama saja buat Kami pusing tujuh keliling," ungkap Ibunya hanya bisa tersenyum pasrah.


Beberapa saat kemudian, pintu ICU terbuka lebar. Keluarlah beberapa orang yang memakai pakaian kebesarannya serba putih dan beberapa perawat di belakangnya mengikuti langkah kaki Dokter.


Nathan yang sudah bisa mengistirahatkan tubuhnya bangkit kembali padahal baru hitungan detik saja.


Nathan segera menyerbu Dokter dan rombongannya dengan berbagai pertanyaan.


"Dokter apa yang terjadi dengan calon istriku?" Tanyanya yang kembali membuat mereka tertawa.


Dokter malah tidak langsung menjawab pertanyaan dari Nathaniel, beliau hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Nathan.


"Maaf nama calon istrinya siapa Pak? Kebetulan Kami menangani pasien hari ini banyak dan bukan hanya orang dewasa yang dirawat di Rumah Sakit Kami Pak," jelasnya.


"Namanya Aisyah Akyurek Dok, pasien yang paling cantik dari semua pasien di Rumah Sakit Dokter," terangnya yang membuat lagi-lagi semua tercengang dengan tingkah Nathan.


"Ya elah Pak Nathan, segitu cemasnya sampai-sampai sudah bertingkah absurb," cicit Dennis.


Mereka tidak menyangka, jika seorang asisten pribadi terbaik yang dimiliki oleh Perusahaan yang dipimpin oleh Abimanyu ternyata sikapnya melebihi kekhawatiran seorang emak-emak saja.


"Cinta bisa membuat seseorang bisa berubah," timpal Nenek Masitha dengan senyumannya yang ikut heran melihat tingkah Nathan.

__ADS_1


"Mantul banget Nek, cinta bagaikan obat yang bisa membuat seseorang berubah drastis dari yang pendiam jadi cerewet dan heboh," Dion ikut menimpali pembicaraan mereka.


"Cinta juga buta tanpa memandang status dan kehidupan seorang yang disayangi," ujar Axel yang membuat beberapa orang menatap tak percaya dengan perkataan dari Axel.


Mereka tidak menyangka jika seorang Axel yang tidak pernah berkomentar tentang masalah percintaan hari ini harus ikut berkomentar. Entah apa yang terjadi dengan Axel apa sudah menemukan calon istri atau sudah mulai mencintai seorang gadis.


"Semoga perkataanmu Nak jadi kenyataan dan Kamu bisa menikah dengan perempuan pilihanmu sendiri, Daddy bosan dengar dari mulut orang-orang kalau Kamu tidak normal."


Martin menatap ke arah putra sulungnya. Martin akhir-akhir ini dilanda kecemasan akut. Dia pernah tidak langsung mendengar perkataan dari beberapa gadis yang dijodohkan dengan Axel. Mereka mengatakan jika Axel tipe cowok yang penyuka sesama jenis.


Martin sempat meradang dan berang dengan isu-isu tidak sedap seperti itu. Tapi, Martin sangat yakin jika apa yang terjadi dengan kondisi anaknya sangatlah normal. Axel tidak mungkin melakukan bentuk-bentuk penyimpangan seperti yang mereka tuduhkan.


Nathan masih menunggu dengan setia dokter tersebut menjelaskan semua kondisi kesehatan Aisyah.


"Dokter bagaimana dengan kondisi istriku? Apa dia baik-baik saja?" Tanya kembali Nathan.


"Alhamdulillah kondisi kesehatan dari calon istrinya bapak baik-baik saja dan hanya kurang istirahat dan banyak pikiran yang membuat kondisinya drop," jelas Dokter.


"Jadi apa yang harus aku lakukan untuk kesembuhannya Dokter?" Tanya balik Nathan.


"Syukur Alhamdulillah kalau hanya masalah itu Dok, Makasih banyak yah dokter," ucapnya.


"Sama-sama Pak," jawabnya sembari berlalu dari hadapan mereka.


Nathan segera berlari ke arah dalam ruangan ICU setelah mendengar penuturan dari Dokter. Dia mencari tempat Aisyah berada.


Yang lain kembali dibuat tercengang dengan tingkah lakunya Nathan.


"Semoga saja cinta Nathan setulus hatinya untuk Aisyah, semoga perlahan rasa sakit hati yang dialaminya bisa terobati dengan perhatian dan kasih sayang tulus dari Nathan."


Amairah berdoa yang terbaik untuk Nathan dan Aisyah. Mereka bersyukur karena Aisyah hanya mengalami sakit ringan sehingga mereka bisa bernafas lega.


Aisyah terbaring lemah di atas ranjang Bangkar Rumah Sakit. Bibir dan wajahnya pucat pasi. Nathan sudah duduk di samping Aisyah sambil memegang tangannya Aisyah.


Martin mengurus kepindahan kamar perawatan Aisyah. Segala administrasinya pun diurus oleh Martin.

__ADS_1


Keesokan harinya, Aisyah sudah bisa keluar dari rumah sakit karena kondisinya sudah membaik dan sembuh total.


Nathan sekalipun tidak beranjak dari sisinya Aisyah. Entah kenapa sejak malam itu mereka menghabiskan waktunya bersama hingga kepergok sedang berpelukan dan tidur bareng. Walaupun mereka hanya sekedar berpelukan saja.


Nathan sudah mulai mencintai dan menyayangi Aisyah. Ia tidak perduli dengan perasaannya Aisyah terhadapnya. Yang paling penting dia membuktikan dan menunjukkan keseriusannya untuk membina hubungan yang lebih serius lagi.


"Jadi gimana dengan rencananya Pak Nathan yang ingin melamar Aisyah?" Tanya Martin saat berduaan dengan Amairah istrinya.


"Setahu Aku sih, besok siang dia dan rombongannya akan kembali datang ke rumah untuk melamar Aisyah," jawabnya.


"Mas berharap Aisyah bersedia menerima lamaran dari Nathan, kasihan sudah dibuat patah hati dan kecewa gara-gara dokter Rizaldi," balasnya dengan raut wajahnya yang sendu.


Hubungan antara Martin, Amairah dengan Aisyah tidak seperti seorang asisten pribadi tetapi sudah melebihi seperti saudara sendiri.


"Semoga saja yah Mas, Amairah juga sangat berharap agar mereka bahagia dan Pak Nathaniel berbeda dengan pria lainnya," harap Amairah.


"Kalau menurut Mas, Pak Nathan sangat mencintai Aisyah, apa Kamu lupa dengan reaksinya kemarin saat tahu Aisyah sakit?" Tanyanya dengan sesekali menikmati minumnya yang masih mengepulkan asapnya.


Mereka duduk di teras belakang rumahnya sambil menikmati pagi yang indah. Hari ini Martin dilarang oleh Amairah untuk berangkat ke Kantor sebelum Aisyah dan Nathaniel datang. Sekalian mereka menunggu keluarga besar Nathan untuk datang melamar Aisyah.


Mobil dengan tipe Vellfire sudah memasuki area pekarangan rumahnya. Seorang pria yang tinggi tegap, dengan perawakan kulit sawo matang layaknya orang asli pribumi, dengan rahang bawah yang tegas dan hidung mancung sedikit Bangir turun dari mobilnya.


Dia segera berlari ke arah pintu samping. Dia membuka pintu mobilnya dengan sangat hati-hati. Dengan senyuman khasnya dia persembahkan untuk menyambut perempuan yang sangat dia sayangi.


"Silahkan turun Tuan Putri," ucap Nathan sambil mengayunkan tangannya ke arah Aisyah.


Sedangkan Aisyah yang diperlakukan istimewa begitu hanya tersipu malu dan wajahnya memerah seketika seperti buah ceri.


Biasanya Aisyah akan ilfeel dan berbuat kasar jika ada pria yang bersikap seperti itu padanya. Tapi, beda halnya dengan Nathan. Entah karena sedang patah hati dan tiba-tiba ada seorang pria yang bersikap penuh perhatian dan tulus padanya sehingga dengan mudahnya hatinya luluh untuk memberikan lampu hijau kepada Nathan untuk segera menghalalkannya.


Makasih banyak Fania tidak bosan-bosannya untuk mengucapkan Makasih Banyak Kepada Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.


...By Fania Mikaila Azzahrah...


...Makassar, Rabu, 13 Juli 2022...

__ADS_1


__ADS_2