
" Hallo Mey, kenapa ?? " Shevi mengamit ponsel di telinga dan bahunya sembari memeriksa berkas - berkas di kantor saat pengasuh anaknya menelfon.
" Maaf bu mengganggu. Tapi ini non Tiara menangis terus. " Dari suaranya Shevi tahu jika pengasuh anaknya itu sedang panik dan kebingungan.
" Mamangnya kenapa Tiara bisa sampai menangis. Tiara bukan anak cengeng apa lagi sampai susah berhenti menangis seperti itu. " Anaknya sudah terbiasa hidup mandiri tanpa perlindungan seorang ayah meskipun tidak pernah merasakan namanya kekurangan kasih sayang. Dan jika sekarang anaknya sedang menangis dan susah untuk ditenangkan pasti ada sesuatu yang tidak beres.
" Anu bu.. Itu tadi.. Emm non Tiara terpilih sebagai pemeran utama drama untuk acara kelulusan nanti. Tapi salah satu wali murid ada yang tidak terima dan merasa anaknya lebih baik dari pada non Tiara. Dan maaf bu, Ibu tadi marah - marah sampai bilang jika non Tiara anak haram yang lahir tanpa ayah. " Mei merasa tidak enak hati saat mengatakannya.
Apa yang baru saja ia dengar menyakiti hatinya. Ini memang salahnya yang tidak langsung meminta pertanggung jawaban dari Alvin. Jika dulu saat dirinya hamil dan langsung minta pertanggung jawaban dari Alvin mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Dia juga tahu jika Tiara dibesarkan disini kemungkinan besar hal seperti ini akan terjadi. Tapi membayangkan anaknya dalam situasi seperti saat ini rasanya ia merasa bersalah sekaligus terluka. Anaknya pasti sedih di marahi seperti itu. Apa ibu itu tidak memikirkan bagaimana pesikis anaknya jika di marahi oleh orang lain seperti itu. Biar dosa dia saja yang menanggung. Tiara jangan sampai ikut menanggungnya.
" Ya sudah Mey. Kamu tolong jaga Tiara dulu. Saya pulang sekarang. " Shevi menutup panggilan telefon bahkan sebelum Mei menjawab.
Dibereskannya semua berkas dan di berikan kepada Nindi untuk di cek dan ditanyakan kepada Nathan apa yang kurang.
***
Sampai di rumah Shevi masih dapat mendengar tangisan anaknya dari arah ruang tengah. Perasaannya semakin terluka melihat bagaimana anaknya itu menangis.
" Lho anak mommy kok cengeng begini sih ? " Tiara langsung memeluk Shevi saat mendengar suara ibunya itu. Menangis sesenggukan di bahu ibunya.
" Huuaaaa A-Ara gak ma-mau sekolah la-lagi.. " Shevi menghela napas dan mengusap dengan lembut rambut serta punggung putrinya.
__ADS_1
" Ya udah gak papa. Tapi sekarang udah dong jangan nangis terus begini. Mommy takut kamu sakit kalau terus - terusan nangis seperti ini. " Melepaskan pelukan dan menghapus air mata yang beruraian di wajah Tiara.
" Gimana kalau sekarang kita main piano.. Mommy kalau lagi kesel, lagi sedih suka main piano dan gak jadi kesel sama sedihnya. Tiara mau ? " Anak kecil itu mengangguk dan tersenyum membalas senyum Shevi.
Mereka berjalan ke arah piano yang ada disudut ruang keluarga. Duduk bersisian dan menempatkan jari - jari keduanya di atas tuts. Mereka mulai memainkan lagu kesukaan mereka yang Shevi ciptakan untuk Tiara.
Setelah menghabiskan beberapa lagu hingga mereka tidak menyadari jika hari sudah sore. Alvin yang baru saja pulang dan mendengar suara piano langsung menuju ke sumber suara. Tersenyum di pintu penghubung ruang tamu dan ruang keluarga saat melihat anak dan istrinya sedang bermain piano dan sesekali saling melempar senyuman.
Alvin mendekat, meletakan jas dan tas kerja yang ada di tangannya di sofa ruang keluarga kemudian memeluk anak serta istrinya dari belakang. Mencium satu - satu pipi istri dan anaknya yang mendapatkan balasan yang sama di pipi kanan dari istrinya dan kiri dari anaknya secara bersamaan. Bahagianya Alvin bisa berkumpul kembali bersama keluarga kecilnya ini. Tidak ada yang lebih berharga lagi dari sebuah keluarga. Sekalipun dia tidak memiliki warisan seperti saat yang lalu, dia akan tetap bahagia asalkan melewatinya bersama istri dan anaknya tercinta ini. Bukan dengan yang lain.
" Pada seneng - seneng tapi daddy gak di ajak nih. " Alvin berakting marah kepada anaknya.
" Daddy kan kerja.. " Jawaban polos keluar dari mulut sang anak.
Shevi senang dapat mendengar tawa dari anaknya lagi. Biar masalah ini ia selesaikan besok dengan datang langsung kesekolah. Cukup dirinya saja yang mengurus. Suaminya sudah cukup sibuk dengan pekerjaannya. Lagi pula jika Alvin sampai tahu pasti dia akan berbuat hal yang di luar kendali. Semenjak Alvin bertemu dengan Tiara dia sudah berjanji akan melindungi putrinya itu dengan segenap raganya. Tidak akan membiarkan Tiara terluka sedikitpun. Jadi tidak terbayang apa yang akan Alvin lakukan jika di tahu anaknya nangis seharian karena disebut anak haram yang tidak pantas memerankan tokoh utama dalam drama.
" Mandi dulu mas. Nanti baru makan malam. " Alvin mengangguk, mencium dahi anak dan istrinya kemudian berjalan ke arah kamar mereka.
" Mei, tolong mandikan Tiara ya. " Mei yang berada tidak jauh dari mereka mengangguk dan mengajak Tiara untuk mandi di kamarnya.
Shevi berjalan ke arah sofa mengambil jas dan tas kerja suaminya untuk dia bawa kedalam kamar dan menyiapkan pakaian ganti Alvin.
__ADS_1
" Kamu gak mandi ?? " Alvin baru saja keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
" Kenapa gak langsung masuk ruang ganti sih mas. Rambutmu tuh basahnya kemana - mana ! " Protes Shevi saat sisa - sisa air di rambut dan badan Alvin menetes disepanjang yang dia lewati.
" Uluh uluh jangan cemberut gitu. Nanti aku bisa khilaf. " Ledek Alvin sambil mentoel bibir istrinya yang mengerucut.
" Ya udah sana ganti. Bajunya udah aku siapin. Nanti aku bantu keringin rambutnya. " Alvin menurut untuk segera memakai bajunya. Tak lama kemudia dia sudah keluar dengan rapi dan wangi maskulin menguar di indra penciuman Shevi. Tinggal rambut yang masih basah dan menyerahkan handuk kecil ke tangan istrinya. Alvin duduk di depan meja rias sedangkan Shevi berdiri di hadapannya. Kebiasaan Alvin jika istrinya mengeringkan rambut dia selalu memeluk perut istrinya.
" Susah dong mas yang depan keringinnya ! " Alvin tidak menjawab, hanya mendongakkan kelalanya untuk memudahkan istrinya mengeringkan rambut bagian depannya.
" Tiara kenapa tadi matanya sembab gitu ? " Shevi kaget ternyata Alvin memperhatikan mata Tiara tadi. Buru - buru Shevi menetralkan ekspresinya agar suaminya tidak curiga.
" Gak kenapa - kenapa kok mas. Dia hanya kangem saja sama Ray katanya. Jadi tadi dia nangis minta main kesana. " Dusta Shevi. Biarlah Alvin marah gara - gara Ray dari pada dia tahu anaknya syok.
" Tiara yang kangen apa kamu ?? " Mata Alvin memicing tajam ke arah istrinya.
" Apaa sih mas.. Tiara lah. " Dikecupnya sekilas bibir Alvin sebelum menyisir rambut yang sudah mulai panjang itu.
*
*
__ADS_1
*