DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Euforia Kelulusan


__ADS_3

Alvaro berdiri dengan gagahnya di hadapan seluruh siswa kelas 12 dan dewan guru serta jajarannya. Mewakili teman satu angkatannya, ia menyampaikan rasa terimakasih kepada semua guru atas bimbingan dan kesabarannya untuk mendidik mereka hingga seperti sekarang ini.


Kepada teman-teman, pemuda itu ucapkan salam perpisahan dan doa semoga suatu hari nanti mereka di pertemukan lagi dalam rindu. Berharap pertemuan mereka nanti membawa kenangan indah yang akan mereka kenang. Berdoa juga untuk kesuksesan bersama.


Dan terakhir, matanya tertuju pada seorang gadis yang juga sedang menatapnya dengan binar kebahagiaan. Istri yang amat ia cintai.


"Buat kamu. Aku harap, cinta kita tidak akan berakhir di gerbang sekolah ini. Tapi keluar dari sini, hubungan kita akan semakin lebih berarti. Gerbang itu lah langkah kita menuju kehidupan yang sesungguhnya, memperkuat jalinan rumah tangga yang kita bangun satu tahun ini." tunjuknya pada Tiara.


Gadis yang Alvaro tunjuk, tertegun dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Di sekelilingnya sudah terdengar bisik-bisik yang memepertanyakan maksud dari Alvaro.


"Gue dan Tiara memang sudah menikah satu tahun lalu." banyak yang berseru kaget mendengar kabar ini.


"Semua berawal dari niat kurang baik Sheril yang membawa kami pada sebuah pernikahan dini."


Semua mata menatap Sheril, yang di tatap biasa saja tidak merasa bersalah atau apa pun.


"Tapi disini gue bukan mau menyalahkan Sheril. Justru gue mau berterimakasih. Berkat dia, gue jadi bisa nikahin gadis yang sudah lama gue cintai dalam diam."


Riuh tepuk tangan membahana, hanya orang-orang yang iri saja yang tidak memberikan tepuk tangan.


"Tanpa perlu susah payah buat PDKT, tanpa perlu ngeluarin gombalan tak bermutu atau janji palsu, sekarang gue bisa miliki dia seorang diri. Makasih Sheril.. Gue merasa beruntung lo culik gue malam itu."


Alvaro mengomando untuk bersalaman dengan dewan guru dan saling memaafkan antar teman. Membentuk barisan memanjang menyalami guru-guru yang sudah sangat berjasa dalam masa menengah atas mereka. Hingga saling berjabat tangan antar siswa kelas 12.


"Selamat ya Ra, buat pernikahan kamu sama Alvaro. Aku berharap kamu bisa bahagia sama dia. Biar aku gak menyesal udah melepaskan kamu begiu aja." ucap Dika yang kini menjabat tangan Tiara.


"Makasih ya Dik.. dan maaf gue gak bisa balas perasaan lo." merasa bersalah dengan pemuda baik hati ini.


"Aku boleh gak peluk kamu sebentar aja. Sebagai tanda perpisahan kita." pinta Dika setelah membubuhkan tanda tangannya di punggung Tiara, dan sebaliknya.


"Eh?" gadis itu bingung harus bagaimana. Bukannya tidak menghargai suaminya, hanya saja ia tidak tega melihat wajah sedih Dika. Mengangguk dan Dika langsung memeluk Tiara sebentar, benar-benar sebentar dan langsung Tiara lepaskan. Menyisakan kekecewaan di hati Dika.


"Maaf ya Dik.. gue udah punya suami. Gak enak kalo lama-lama." terang Tiara, tidak ingin membuat Dika merasa tersinggung.


"Ia gak papa. Aku ngerti kok." melambai dan pergi mengikuti antrian untuk menyapa yang lain.


"Udah. Nanti dia juga pasti nemu cewek baik yang pantas buat dia." nasehat Pricilla yang berdiri di sebelah Tiara.

__ADS_1


"Kenapa gak lo aja?" tanya Tiara tanpa dosa. Jelas-jelas Pricilla sudah punya pacar.


"Udah gak usah ngelantur lo. Sini gue mau tanda tangan." sedikit berjongkok dan menuliskan harapannya untuk Tiara dan tanda tangan di bawahnya.


"Kok begini tulisannya?"


"Gak papa Ra.. Udah sah juga, udah boleh di coba hahaha.." Pricilla tergelak dengan kata-katanya sendiri, semakin tergelak saat Tiara tak henti memukul lengannya.


"Ampun.. ampun Ra ah.. lo mah kekerasan banget!" serunya menghentikan tangan sahabatnya yang tidak berhenti memukulinya. "Lagian udah tidur bareng selama satu tahun, pelukan juga. Masa ia gak pernah ada rasa pengen begituan." goda Pricilla lagi dan langsung kabur saat melihat mata Tiara sudah melotot tajam.


Alvaro mengambil smokebomp yang ada di saku belakang celananya. Asap berwarna biru mengepul dan langsung di sambut siswa-siswi yang lain. Seketika lapangan berubah dengan warna-warni dari smokebomb dan holy powder.


Para guru lebih memilih meninggalkan lapangan dari pada ikut berubah warna. Membiarkan muridnya menikmati euforia kelulusan mereka.


Cat warna juga saling di semprotkan pada baju teman-teman mereka. Segala rasa bahagia mereka rasakan saat itu.


Setelah merasa semua teman-teman dekatnya sudah membunuhkan tanda tangan dan kata perpisahan di bajunya, Alvaro berjalan mencari istrinya.


"Yang.." panggil Alvaro, menarik pelan lengan sang istri agar berbalik menghadapnya.


"Eh hai.. mana tempat buat gue?" tanya Tiara dengan senyum ceria melihat suaminya sudah berubah menjadi beraneka warna dan baju yang juga sudah penuh dengan coretan spidol dan juga cat warna.


Tiara berdecih dan langsung menulis di baju, tepat di atas jantung suaminya.


"Cintai aku hingga akhir." baca Alvaro.


Tiara mengangguk. "Gue harap cinta lo ke gue yang udah dari jaman SMP dulu, akan selalu sama sampai akhir hidup gue."


"Gue boleh minta hal yang sama dari lo?" tanya Alvaro yang langsung mendapatkan anggukan dari istrinya.


"Oke sekarang gue."


Tiara menunjuk bagian yang sama seperti Alvaro. Karena dia juga menyiapkan tempat itu special untuk suaminya.


"Siapa nih nulis gede banget." melihat tulisan yang mendominasi bagian perut Tiara "Semoga cepet isi baby." bacanya.


"Ulah Pricilla." jawab Tiara dengan wajah bersemu malu.

__ADS_1


Alvaro hanya ber'ooh dan kembali dengan niatnya.


"Bentar." Tiara menarik dan memegangi bajunya untuk memudahkan Alvaro.


"Kenapa sih yank? kaya tadi aja kenapa? nyenggol dikit kan gak papa, hak gue itu." protes Alvaro melihat apa yang di lakukan istrinya.


"Udah gak usah protes, cepet tulis."


Alvaro berdecak dan menuliskan permintaannya kepada sang istri.


"Mau ya, jadi ibu buat anak-anak gue." kini giliran Tiara yang membaca.


"Lo mau kan?" tanya Alvaro.


"Ya mau lah Al. Masa udah nikah tapi gak mau jadi ibu anak-anak lo! terus lo mau punya anak-anak dari siapa?"


"Ya udah. Kalo gitu, gimana kalo kita nanti malem bikin." bisik Alvaro di telinga istrinya.


"Alvaro!!" seru Tiara sedikit berteriak.


"Kenapa sih sayang. Kita udah punya KTP lho sekarang, bukan anak di bawah umur lagi."


"Tapi gue belum siap." tolak Tiara mantap.


"Kenapa harus siap gak siap sih? kaya giu tuh lets it flow aja."


"Bodo Ah.. gue mau nyusulin Pricilla aja. Lama-lama otak lo ngeres sama kaya Pricilla." berjalan meninggalkan suaminya.


"Kalo dia juga sama, kenapa lo malah milih dia?" tanya Alvaro sedikit mengeraskan suaranya.


Tiara berbalik dan memeletkan lidahnya kemudian berlari kecil meninggalkan Alvaro yang terkekeh.


Padangan Alvaro bertumbukan dengan manik mata hitam milik Dika. Alvaro mendengus "Bisa-bisanya meluk istri gue." mengumpat dan pergi.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2