DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Kebutuhan


__ADS_3

Tiara menunggu suaminya dengan kesal. Hanya untuk membeli pembalut di mini market bawa kenapa bisa sampai selama ini. Jika ia yang membeli pasti hanya butuh waktu lima sampai sepulu menit.


Dengan melipat kedua tangannya di depan dada, gadis itu berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartemennya. Dirinya sudah lelah dan ingin sekali tidur.


Hingga suara dari pintu terbuka mengalihkan pandangannya pada seseorang yang masuk.


"Lama banget sih Al? untung bukan hari pertama atau kedua. Kalo hari ke dua, banjir banjir deh!" omel Tiara pada Alvaro yang mengangsurkan kantong plastik berisi pesanannya dan berlalu ke kamar mandi, tidak mengindahkan suaminya yang akan menjelaskan kenapa dirinya lama.


Setelah selesai dengan urusan toiletnya, Tiara menghampiri suaminya yang duduk di sofa kamar mereka.


"Gak usah mandi Al. Udah kemaleman." ucap Tiara yang menghempaskan tubuhnya.


"Ya udah tar cuci muka aja." jawab Alvaro menurut saja dari pada malamnya akan habis dengan mendengar ocehan istrinya yang kadang seperti ibu jika larangannya di langgar.


"Terus tadi kemana aja? kenapa lama? nimbang beli begituan doang di bawah juga!"


Wanita memang paling tidak suka untuk menunggu, atau lebih tepatnya semua orang memang paling benci jika di suruh menunggu. Tidak terkecuali para lelaki. Apa lagi jika di suruh menunggu perempuannya berdandan. Mereka tidak akan sabar untuk itu.


"Maaf Ra. Tadi tuh ketemu sama Aulia di bawah." jawab jujur Alvaro yang meletakan ponselnya di atas meja.


"Aulia?" rasanya Tiara pernah mendengar nama itu, tapi entah dimana.


"Mantan tunangan gue." jelas Alvaro saat mendapati raut bingung pada wajah istrinya.


"Ooh.. ngapain dia kesini? nyamperin lo? minta balikan?" berondong Tiara.


"Lo tuh kenapa sih sayang. Marah-marah mulu." mencubit dengan gemas pipi istrinya yang cemberut.


"Katanya dia ke sini buat ketemu temennya yang tinggal di sini." ucapnya lagi dengan menaikkan kakinya, bersila di menghadap istirnya. "Dan yang bikin lama dia tanya tentang gue yang mutusin pertunangan." imbuhnya dengan mengedikkan bahunya.


"Tapi lo gak lagi selingkuh sama dia kan? bukan lagi merencanakan buat balikan kan Al?"


"Ya gak dong sayang. Ngapin cari cewek lain kalo udah ada yang sah di depan mata."


"Halah gombal mulu lo sekarang." seru Tiara menoyor kepala suaminya yang mengedip jahil padanya.


"Gak gombal Ra. Serius aku tuh."


Wajah cemberut suaminya membuat Tiara tertawa terbahak.

__ADS_1


"Tidur yuk Al. Gue udah ngantuk banget dari tadi nungguin lo."


"Ya udah lo tidur duluan. Gue bersih-bersih dulu."


Tiara mengangguk, berjalan ke arah lemari mengambil baju ganti untuk suaminya sebelum dirinya merangkak naik ke atas tempat tidur dan tak lama langsung terbang ke alam mimpi yang sudah menantinya.


***


Pagi harinya, kedua pasangan itu di sibukan dengan mempersiapkan kelengkapan dokumen untuk mereka membuat buku nikah.


Satu tahun pernikahan, mereka baru bisa memiliki buku dengan cover warna hijau dan merah itu.


Mengesahkan pernikahan mereka secara negara.


"Sah nih yank jadi suami istri." Alvaro memasukan semua dokumen ke dalam amplop cokelat besar. Membawanya mendekati sang istri yang sedang membuat sarapan pagi untuk mereka.


"Dari dulu emang belum sah?" Tiara masih sibuk dengan urusan masakannya di atas kompor.


"Sah agama doang. Secara hukum dan kebutuhan biologis belum." kode Alvaro, berharap istrinya mengerti jika dia lelaki normal yang juga memiliki hasrat setiap malam tidur memeluk istrinya.


"Kebutuhan bilogis itu untuk orang dewasa Al. Kita tuh masih anak-anak."


"Kita itu udah dewasa Ra. Udah punya KTP lho. Sebentar lagi kita punya KK, kalo surat nikah kita udah jadi."


"Emang kedewasaan ngeliat dari kita punya KTP apa belum? enggak kan Al?"


Tiara memang masih enggan untuk membicarakan kebutuhan biologis yang suaminya maksud. Dia takut merasa sakit di malam pertamanya seperti cerita teman-temannya yang entah dapat informasi dari mana.


Dan Tiara juga takut hamil muda. Ia masih ingin menikmati kuliah sepetri gadis-gadis sebayanya. Yang hanya mengeluh tentang tugas yang dosen berikan atau mengeluh tentang pacar mereka yang tidak ada kabar karena lebih sering memilih bermain game online dari pada menemani mereka berbelanja.


Tiara tidak ingin masa kuliahnya di pusingkan dengan kuliah di pagi hingga siang hari, tangisan anak di siang hingga malam hari, dan tambah pusing lagi dengan melayani suaminya di malam hari.


Tiara tidak sanggup membayangkan itu semua. Apa lagi harus menjalaninya. Ia masih ingin hidup normal seperti gadis-gadis sebayanya, meskipun kini statusnya sudah menikah.


"Tapi kebutuhan biologis juga gak tergantung dewasanya seseorang Ra. Kalo di usia gue sekarang ini emang butuh gimana? gue kan pria tulen, tiap malem tidur meluk cewek ya pengen juga lah." menunggu Tiara untuk tahu kodenya memang sulit, lebih baik blak-balakan saja langsung.


"Tapi gue takut Al. Gue takut hamil muda. Gue masih pengen kuliah."


"Gue usahain biar lo gak hamil. Gue juga gak mau ganggu Kuliah lo dengan adanya bayi kok." meskipun kayaknya lucu kalo ada bayi yang mirip kita. imbuhnya dalam hati.

__ADS_1


"Gimana caranya?"


"Lo gak perlu mikirin itu. Paling penting lo persiapin diri lo aja buat siap ngejalanin kewajiban lo sebagai seorang istri."


Tiara mencebik. "Pengen banget emang lo Al? kita belum genap 18 tahun lho. Gak bisa emang di tunda sampai kita lulus kuliah?"


"Raaa..." rengetknya frustrasi.


Tiara terkekeh melihat suaminya. "Udah lah Al gak usah di bahas. Kalo kita bahas ini gak bakal selese sampe malem lagi juga."


Alvaro menghela napasnya mengalah. Dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap sang istri. Apa lagi jika istrinya takut dan memilih meinggalkannya. Alvaro tidak ingin hal itu terjadi. Biarlah dia yang mengalah, menunggu hingga hari itu tiba. Hari dimana istrinya sudah siap untuk memberikan haknya.


"Kesekolah sekalian gak Al?"


Mereka kini sedang berjalan menuju basment.


"Ngapain?"


"Ngumpulin berkas buat beasiswa lah."


Alvaro menepuk dahinya. "Astaga gue lupa!" menyerahkan kunci mobil kepada istrinya.


"Lo bawa mobil ke depan lobi bisa kan Ra? gue ambil berkas buat beasiswa kita dulu."


Tiara mengangguk dan menerima kunci mobil.


Mereka memang menerima beasiswa untuk kuliah di universitas negeri terbaik di Jakarta. Berkat nilai kelulusan mereka yang mendapatkan nilai tertinggi se-Indonesia.


Alvaro bernapas lega karenanya. Karena untuk masuk ke universitas itu satu orang saja biayanya sudah mahal untuk orang berpenghasilan seperti Alvaro. Apa lagi jika harus membiayai dua orang. Yang ada nanti mereka bisa kuliah tapi tidak bisa makan.


Meskipun daddy Alvin sudah menawari untuk membiayai mereka untuk kuliah di luar negeri, tapi Alvaro yang masih mempunyai harga diri dan tanggung jawab sebagai seorang suami, menolak dengan tegas.


Dan beruntung mereka mendapat beasiswa. Jadi Alvaro tidak perlu memusingkan biaya untuk kuliah.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2