DEMI DIA

DEMI DIA
S2 - Waktu Belum Memihak


__ADS_3

Alvaro menghela napasnya panjang. Menatap punggung istrinya dengan perasaan bersalah.


Kini dia sadar bagaimana dulu ayahnya tidak ada waktu untuk keluarga. Bukan karena ayah tidak ingin. Ayah hanya terpaksa dengan keadaan. Ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga. Tanpa tahu jika di belakang, keluarganya menantikan kehangatan mereka untuk kumpul bersama.


Dan sebelum dirinya semakin terhimpit keadaan, Alvaro membereskan pekerjaannya untuk di lanjut lagi esok.


Membersihkan diri dan berganti dengan piyama untuk bisa bergabung dan berbagi kehangatan dengan sang istri.


Mengusap lengan atas Tiara sebelum merengkuhnya. Istrinya itu diam dan membiarkannya. Padahal ia yakin jika Tiara belum tidur. Memberi ciuman di rambut panjang lembut sang istri dan berbisik.


"Maaf yank.. Aku terlalu lupa waktu jika sudah bekerja. Aku hanya takut gak bisa memenuhi kewajibanku sebagai suami untuk menfkahi kalian. Aku takut persiapan biaya untuk kamu melahirkan kurang."


Tanpa Alvaro tahu, air mata sudah berjatuhan membasahi wajah cantik istrinya.


"Aku udah gak bisa cuma mikirin kondisi aku sendiri sekarang yank. Ada tanggung jawab yang lebih besar yang harus aku tanggung. Kalian lebih berharga dari apa pun."


Tubuh yang sedang ia dekap bergetar. Mulai terdengar isakan pelan yang sayup-sayup tertangkap indra pendengarannya.


"Kamu. Anak-anak kita. Aku cuma sedang memperjuangkan itu. Selama aku tetap sehat, aku harap kamu mau mengerti. Tapi aku janji bakal sering luangin waktu lagi sekarang."


Entah dia bisa menepati janjinya atau tidak. Bahkan minggu lalu daddy Alvin memberinya proyek baru lagi. Dia sudah harus selesai dengan rancangan yang sedang ia kerjakan, sebelum memulai dengan proyek yang baru.


Tiara membalikkan badan. Menangkup dan mengusap pipinya lembut.


"Kamu gak harus bekerja sekeras ini Al.. Aku rasa cukup kan waktu kamu buat kerja sampe jam 9. Atau jam 10 lah." tatapan mata Tiara meruntuhkan hatinya. Alvaro merasa sakit istrinya menangis seperti ini.


"Aku cuma minta waktu kamu dari jam 10 itu sampe pagi buat nemenin aku tidur." terlihat istrinya menghela napas berkali-kali. "Kamu juga butuh istirahat biar kaki kamu juga cepat pulih sayaaang.."


Cara Tiara mengucapkan kata 'sayang' meledakkan hatinya. Karena Tiara sangat jarang memanggilnya sayang. Terlebih dengan nada yang di dalamnya ia bisa mendengar cinta.


Tak menjawab apa-apa. Alvaro menyatukan bibir mereka. Mengalirkan rasa sayang dan nyaman untuk sang istri. Menenangkan jiwa mereka dengan penyatuan yang ia lakukan.


Penyatuan yang semakin lama semakin menuntut untuk melakukan hal yang lebih. Sesuatu yang membawa mereka melayang dan meledak-ledak dengan rasa yang luar biasa. Rasa yang mereka tidak akan pernah merasa bosan untuk melakukannya.


"Besok aku temani periksa anak-anak. Aku janji."


Tiara hanya mengangguk dengan mata yang sudah terpejam. Rasa lelahnya membuat ia malas untuk merespon lebih dari sekedar anggukan.


Setidaknya malam ini Alvaro sudah tahu apa kesalahannya. Ia hanya akan menunggu seberapa besar bukti kesadaran yang suaminya tunjukan.

__ADS_1


Berharap itu bukan sekedar janji atau omong kosong belaka. Dia rindu masa mereka masih tinggal di apartemen. Dimana mereka selalu melakukan hal berdua tanpa orang lain mengganggu.


Meski hanya melakukan hal-hal kecil. Tapi itu membuat mereka kian dekat dan menumbuhkan rasa cinta yang lebih besar di hati mereka. Membuat setiap waktu terasa istimewa.


Sedangkan sekarang sangat susah untuk mereka memiliki waktu berdua. Hanya malam hari dan itu pun suaminya akan kembali bekerja setelah ia terlelap.


Tiara jadi khawatir. Bagaimana nanti jika anak mereka sudah lahir. Mereka masih berdua saja jarang punya waktu. Apa lagi kalau ia juga sudah di repotkan dengan kedua anak-anak mereka.


Tiara menghela napas panjang sebelum terlelap. Berdoa di detik terakhir kesadarannya untuk kebahagiaan rumah tangganya.


***


Namun janji hanya tinggal janji. Lagi-lagi di bulan ke lima kehamilan, Alvaro masih belum bisa menemani istrinya untuk kontrol kandungan. Dikarenakan Om Andrian memintanya untuk menghadiri peletakan batu pertama pembangunan.


Amat sangat tidak sopan rasanya jika dirinya tidak memenuhi undangan.


Tapi konsekuensi yang harus di hadapinya ternyata lebih besar. Istrinya terus saja menggerutu tentang dirinya yang ingkar. Di diamkan seharian penuh. Di abaikan. Hingga ia jatuh sakit dan membuat luluh istrinya.


Sakit menjadi berkah dalam beberapa momen. Suatu kebetulan yang menjadi keberuntungan, sudah dua kali dia sakit saat istrinya marah. Dan itu membuat istrinya tidak tega dan memaafkanya.


"Makanya kalau di bilangin suruh istirahat tuh istirahat!" istrinya itu masih saja menggerutu meski tangannya masih menyuapi dirinya untuk makan.


"Kalau udah sakit begini malah gak bisa kerja kan!"


"Coba kamu nurut dan bisa bagi waktu antara kerjaan dan istirahat! pasti kamu gak akan sakit begini!"


"Kerjaan beres. Tubuh kamu juga sehat!"


Alvaro mengambil mangkok bubur yang tinggal separuh dan meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur.


Meraih tangan sang istri untuk di genggam.


"Iya sayang. Maaf ya... harusnya aku dengerin kamu."


Tiara malah mencibirnya.


"Giliran gini aja minta maaf!"


"Kamu yang paling tau kondisi tubuh kamu Al. Kalau udah ngerasa cape, istirahat. Jangan di paksakan."

__ADS_1


"Kalau kamu terlalu mengejar materi, sampai kamu jadi billionaire tujuh turunan juga tetap aja ngerasa kurang Al. Ngerasa gak pernah ada cukupnya."


"Coba deh, sekarang di syukuri. Di nikmati apa yang kamu dapetin. Fee kamu dari proyek Om Andrian aja udah lebih dari cukup buat biaya lahiran."


"Kalau kamu cari uang buat bangun istana megah dan tabungan miliaran dolar. Nanti, kalau kamu udah selesai kuliah S2 minimal."


"Sekarang, kamu ngejar biaya lahiran kan?"


Alvaro hanya senyam-senyum membuat Tiara sebal dan memukul lengan suaminya pelan. Membuat pemuda itu mengaduh, padahal tidak sakit.


"Aku tuh lagi sakit lho yank. Masa di aniaya." ucapnya dengan tampang manja yang menyebalkan bagi Tiara.


Menarik dan merengkuh istrinya dalam pelukan.


"Lagian di ajak ngomong serius malah senyam-senyum. gak jelas!" Tiara menjawab dengan bersungut-sungut.


"Aku tuh cuma seneng aja gitu denger kamu ngomong dewasa kaya gini."


"Bikin aku mikir. Oh ternyata istri Alvaro Kaisar sedewasa ini." mengangguk-anggukan kepala dengan senyum lebar yang tak surut.


Merasa bangga memiliki Tiara di sampingnya.


"Jadi menurut kamu, selama ini aku manja gitu?!" seru Tiara yang berdecak sebal.


"Lha emang iya kan?" memberi sedikit jarak dengan istrinya.


"Kamu tuh cewek paling manja dan nyebelin yang pernah aku kenal." menggesekkan hidung mereka.


"Tapi karena aku udah cinta mati aja makanya aku bertahan." selorohnya yang lagi-lagi membuat Tiara berdecak dan memukul dadanya sedikit lebih keras dari pukulan di lengannnya tadi.


"Iihhh! nyebelin tau gak!"


Mulutnya berseru, tapi tangannya malah kembali memeluk tubuh sang suami. Menghirup wangi maskulin yang selalu menenangkan di tiap situasi. Aroma yang selalu ia nantikan setiap hari. Berharap selamanya bisa memeluk dan menghirup wangi yang sama hingga waktu mereka habis.


***


Hahaha masih gak dapet feel.. Maafkan otakku yang masih males di ajak mikir..


Apa lagi like sebelumnya yang menurun 😪

__ADS_1


Tapi gak maksa kok. Masih ada yang like aja udah seneng hihihi..


Semoga mengobati yang rindu TiaraAlvaro 🤗


__ADS_2