DEMI DIA

DEMI DIA
Menghindar Membawa Petaka


__ADS_3

Setelah Kejadian Shevi ketiduran dikamar Alvin membuat gadis itu sangat malu untuk bertemu dengan Alvin.


Dia selalu berusaha menghindar untuk bertatap muka lagi dengan Alvin. Selalu berangkat diantar Supir. Saat jam istirahat yang biasanya Alvin akan mengajaknya ke kantin bersama dia selalu kabur begitu bell berbunyi, kabur kemana saja asal tidak ditemukan Alvin.


Dan naasnya saat dia sedang berada di toilet dekat perpustakaan setelah selesai dengan urusan toilet dan sedang mencuci tangannya di wastafel Luna cs juga kebetulan masuk ke toilet yang sama.


Luna langsung menyeringai licik saat melihat ada Shevi di dalam. Dia langsung menyuruh teman - temannya untuk mengunci pintu toilet saat terbesit ide jahat dalam otaknya.


Shevi yang belum menyadari kehadiran Luna dan teman - temannya kaget saat mendengar pintu toilet ditutup. Dan lebih kaget lagi saat dia menoleh dan tahu siapa yang masuk dan mengunci pintu.


" Kakak mau ngapain ?? kenapa pintunya ditutup?? " Shevi mulai melangkah mundur saat Luna dan teman - temannya mendekatinya sampai dia terpojok didinding belakangnya.


" Kenapa ?? lo takut ?? " Luna bertanya dengan seringai sinisnya.


" Dimana lo yang berani nantangin gue waktu itu HAH ?? "


" Maaf kak.. mungkin kakak salah paham. Saya bukan nantangin kakak kok " Shevi masih berusaha menampilkan ekspresi setenang mungkin meskipun jantungnya sudah dag dig dug tak karuan.


Bagaimana dia tidak takut kalau dia hanya sendirian dan dikepung tiga cewek bar bar yang terkenal sadis saat membully.


Dia juga pernah dengar ada anak kelas sebelas yang dibotakin rambutnya karena menurut Luna anak itu sok kecantikan.


Ada lagi yang disobek bajunya karena keseksiannya dalam berpakaian melebihi Luna.


Masih banyak lagi yang dia pernah dengar tentang kejahatan Luna. Dan semua kejahatannya dia lakukan didalam toilet. Tidak peduli masih di jam sekolah ataupun jam pulang sekolah. Dan entah ada pengaruh apa orang tua Luna pada sekolah sehingga tidak pernah Luna dapat teguran atau hukuman atas ulah - ulahnya itu.


Luna langsung menarik kasar rambut Shevi. Dia sudah geram dari kejadian di kelas waktu itu. Belum lagi dia sering melihat Alvin memainkan rambut itu.


" Apa sih bagusnya rambut cewek murahan ini dibanding gue ?? " Ucap Luna dalam hati sambil menambah kekuatannya untuk mencengkeram rambut itu lebih keras lagi.


" AKKHHH Ampun kak. sakiiitttt " Shevi merintih kesakitan. Sebelah tangannya memegang pangkal rambutnya yang sakit dan berdenyut.


" Dasar anak manja.. begitu aja sakit " Teman Luna yang bernama Dini menimpali.

__ADS_1


" Begitu aja lo bilang ?? Dasar senior haus popularitas. Coba aja lo yang di posisi gue. " Sungutnya dalam hati.


" Udah lah Lun, gak usah bertele - tele. Keburu masuk nih " usul teman Luna yang lain.


Kedua teman Luna masuk ke salah satu bilik toilet dan keluar membawa ember yang penuh dengan air. Kemudian mereka melihat disudut ruangan ada cairan pembersih toilet, mereka menuang semua cairan pembersih tersebut kedalam air dan membawanya kehadapan Luna.


Luna menyeringai dan kemudian. BYUUUURRRR


Seluruh tubuh Shevi basah dan bau cairan pembersih dari ujung kepala sampai ujung kaki.


" Itu balesan buat lo yang udah peluk - pelukan sama Alvin diacara Camping kemaring. " Luna kemudian menarik baju Shevi sampai bagian pundaknya sobek dan menampakkan pundak mulus milik gadis itu.


Shevi masih tercengang atas apa yang terjadi. Matanya sudah memanas ingin memuntahkan air yang berusaha keras dia tahan. Shevi tidak mau menangis dihadapan cewek - cewek gila didepanya. Dia tidak mungkin menunjukan kalau dia lemah dan membuat mereka semakin tertawa senang.


" Itu balesan buat lo yang udah ngerebut Alvin dari gue " Ketiga cewek itu tertawa terbahak melihat betapa kacaunya keadaan Shevi sekarang kemudian meninggalkanya sendiri.


Shevi terduduk lemas dilantai. Dia menangis sambil memegangi pundaknya yang terekspose.


Sekarang pilihannya hanya satu. Dengan terpaksa dia menghubungi Alvin. Semoga saja pemuda itu bisa menolongnya.


Setelah dering kesekian akhirnya teleponnya diangkat.


" ABAAAANGGG... "


***


Alvin sedang mendengarkan guru menjelaskan saat kemudian dia merasakan sakunya bergetar. Dia melihat ada nama Shevi tertera disana.


Awalnya dia mengacuhkan telepon tersebut karena guru kimia yang berada didepan paling tidak suka ada yang bermain handphone. Akhirnya pada panggilan kedua dia memutuskan untuk ijin ke toilet.


Setelah menerima panggilan dari Shevi yang ternyata sedang menangis dan meminta bantuannya dia langsung menuju koperasi untuk membeli seragam baru untuk Shevi.


Tujuan selanjutnya aadalah toilet yang berada disamping perpustakaan. Saat dia masuk dia begitu terkejut dengan keadaan Shevi yang basah kuyup, Belum lagi bajunya yang sobek dan sedang sesenggukan menangis sambil menundukan kepalanya pada kedua lututnya.

__ADS_1


Alvin tahu siap pelakunya. Karena hanya ada satu orang yang berani berbuat hal keji seperti ini disekolahnya. Dia mengepalkan jarinya kuat - kuat sampai buku jarinya berwarna putih sambil menggemeretakkan giginya.


Alvin mendekati Shevi pelan - pelan. Berjongkok dihadapan gadis yang belum mengetahui keberadaanya itu. gadis yang masih sibuk menangis.


" Lo gak papa dek ?? " tanyanya lembut. Tapi siapa saja yang melihat ekspresi wajahnya tahu kalau Alvin sedang marah besar.


Shevi mendongakkan kepalanya dengan wajah berurai air mata dia menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Alvin.


" Abaaaannnggggg.. " Shevi menumpahkan tangisnya dipundak Alvin.


Alvin tak kalah erat memeluk tubuh gadisnya. Gadis yang sedang merasa lemah itu. Setelah hampir setengah jam Shevi mulai tenang setelah hanya menangis dan memeluk Alvin.


Alvin menjauhkan badannya dari Shevi dan mengulurkan baju yang baru saja dia beli.


" Ganti baju dulu sana, tar masuk angin lagi. Lagian lo bau tau. mana gue ikutan basah lagi " Alvin berusaha menghibur gadisnya dengan menggodanya sambil mengibaskan bajunya yang sedikit basah.


" IIHHH abang ngeselin deh.. ya udah gue bilas dulu. tapi dalemannya mana bang ?? " Tanyanya polos tak peduli yang sedang dimintai daleman adalah laki - laki.


Alvin menoyor kepala Shevi. " Lo pikir ini mall yang jual daleman segala. Dikoperasi cuma ada seragan bege. "


Shevi memanyunkan bibirnya sat mendapat toyoran dari sang abang.


" yaahhh percuma dong kalo gue ganti baju tapi gak ganti daleman. Tar basah lagi abaaaanngg " Protesnya tak terima.


" Yaudah gak usah pake daleman aja repot banget " Alvin menjawab dengan entengnya sambil bersedekap.


" IIIH mana ada begitu.. Dasar abang MESUM !! " Shevi memukul dada Alvin berkali - kali yang hanya ditanggapi tawa oleh Alvin.


Akhirnya Shevi menurut tidak pakai daleman tapi memakai hoodie milik Alvin dan celana training milik Nurin yang Alvin pinjamkan saat Shevi sedang membilas tubuhnya agar tidak bau pembersih toilet lagi.



FOTO HANYA SEBAGAI PEMANIS SAJA 💕

__ADS_1


__ADS_2