
Ibu mana yang tidak bahagia mendengar anak dan menantunya akan segera memiliki buah hati. Yang artinya dia akan memiliki seorang cucu.
Ibu Alvaro sangat senang mendengar kabar yang di bawa menantunya pagi ini. Berharap dengan kabar ini anaknya juga akan ikut bahagia dan semangat.
Shevi telah pamit berangkat ke studio. Ibu mengajak Tiara untuk masuk ke rumah. Merangkul bahu menantunya dengan senyuman yang tida surut dari wajahnya.
"Temui suamimu di kamar sana. Tapi sepertinya dia sedang tidak dalam kondisi baik setelah melihat kamu dengan laki-laki di rumah sakit kemarin. Tapi ibu harap, kamu tidak memikirkan apa yang suamimu katakan. Kasihan si kecil." ibu lebih dulu memperingatkan menantunya. Setelah tahu ada cucu yang sedang tumbuh di perut menantunya, ibu akan lebih menjaga perasaan Tiara. Bahkan dari anaknya sendiri.
"Lelaki lain? di rumah sakit?" tanya Tiara bingung. Masih berdiri di ruang tamu sebelum menuju kamar dimana suaminya berada.
"Iya. Kemarin abang terapi, dan saat pulang lihat kamu sedang bersama laki-laki. Mungkin abang kecewa saat kamu tidak bisa datang kemarin. Tidak menemaninya pergi terapi. Jadi saat melihat kamu dengan laki-laki lain, dia jadi salah paham."
Tiara menghela napas. Masalah satu saja belum selesai, sudah ada masalah lain lagi. Gadis itu lalu menjelaskan alasannya tidak datang dua hari kemarin. Dan alasan kenapa dirinya berada di rumah sakit.
"Jadi dia tuh disana cuma mengantar sepupunya yang hamil juga bu. Aku di sana lagi nunggu mommy nebus Vitamin."
Ibu mengusap rambut Tiara lembut. "Ibu percaya. Sekarang, temuilah suamimu dan jelaskan kesalah pahaman ini."
Tiara mengangguk dan tersenyum membalas senyum ibu mertuanya. Berjalan dengan semangat menuju kamar suaminya.
Tok tok tok..
"Al.. Aku datang..." ucap Tiara lembut. "Aku masuk ya.." imbuhnya saat tidak mendengar jawaban dari suaminya.
Dengan ragu, Tiara membuka hendle pintu yang tidak terkunci. Melangkah masuk dan mendekati Alvaro yang duduk di atas kursi roda menatap halaman depan.
"Hai sayang.." sapa Tiara pada Alvaro. Berjongkok di hadapan suaminya setelah sebelumnya mengecup pelipis sang suami.
"Ngapain kesini lagi?" tanya Alvaro dingin seperti biasa.
Tiara tahu suaminya sedang dalam mood yang tidak baik. Emosinya sedang tidak stabil. Apa lagi di tambah melihat dia bersama Dika kemarin.
__ADS_1
"Kan kamu bilang kemarin terserah kalo aku mau datang lagi. Jadi kamu gak boleh ingkar gitu dong Al."
"Apa sih yang lo harapin dari pria cacat kaya gue Ra?! apa yang bisa lo harapin di masa depan pernikahan kita kalau masih di lanjut?!"
Tiara terpaku mendengar kata-kata suaminya. "Ma-maksud kamu apa Al? Tentu saja pernikahan kita akan berjalan seperti apa yang pernah kita rencanain."
"Lo sadar gak sih, kalau sekarang kondisinya udah beda?! gue cacat Ra! gue bahkan udah gak bisa nafkahin lo lahir batin! buat apa sih lo masih bertahan di sisi gue?!" seru Alvaro dengan nada lebih tinggi.
Jujur, Alvaro memang merasa semakin tidak percaya diri saat melihat Tiara dengan Dika kemarin. Alvaro merasa Dika lebih pantas untuk berada di samping istrinya.
"Aku udah pernah bilang kan Al, kalau sesulit apa pun jalan yang kita lalui akan lebih baik dari pada kita hidup terpisah." ucap Tiara dengan suara yang sudah bergetar. Kehamilan membuatnya semakin sensitif.
"Aku udah jalanin hidup tanpa kamu beberapa hari ini Al. Rasanya tuh sakit. Hidup tapi serasa mati. Gak ada warna. Gak ada semangat." menggenggam tangan suaminya erat. "Buat apa aku hidup kalau harus terpisah sama kamu? Buat apa aku jalani hidup yang terasa menyakitkan?" imbuh Tiara dengan lelehan air mata.
"Lo bisa ngomong kaya gitu sekarang. Tapi nanti. Nanti Ra, saat kita bener-bener hidup berdua lagi, lo bakal tau gimana repotnya ngurus gue yang cacat dan gak bisa kasih kebahagiaan apa-apa buat lo!"
"Kamu tuh alasan aku buat bahagia Al. Apa pun asal kita bersama, aku bisa bahagia. Aku bisa melawan dunia sekalipun asal itu bareng kamu. Aku gak akan bisa mengahadapi bahkan hanya hari esok kalau kamu memilih pergi Al."
"Lo gak akan ngerti Ra. Lo gak akan ngerti gimana susahnya hidup kita nanti."
"Apa sih Al, yang kamu takutin? kamu takut kamu gak bisa cari nafkah?" tanya Tiara tegas. Makin tidak mengerti jalan pikiran suaminya. "Yang sakit kaki kamu Al. Tangan kamu sehat kan? kamu ngegambar sketsa sama tangan kamu kan, bukan pake kaki?"
"Tangan gue emang bisa gambar. Tapi gak akan ada perusahaan yang percaya sama orang cacat kaya gue! puas lo!" bentak Alvaro.
"Daddy pasti percaya sama lo Al. Hasil karya lo gak pernah ngecewain daddy makanya daddy terus ngasih kamu proyek kan?"
Alvaro memutar kursi rodanya untuk menghadap ke jendela lagi. Pemuda itu mendengus keras.
"Lo pikir gue gak malu sembunyi di bawah ketiak mertua gue terus?! gue juga pengen di akui sama perusahaan besar lainnya. Bukan hanya dari daddy yang takut gue gak bisa ngasih makan anaknya!"
Tiara tercekat. Kenapa Alvaro bisa berkata seperti itu tentang daddy-nya. Super hero dalam hidupnya. Cinta pertamanya di dunia ini.
__ADS_1
"Daddy gak seperti itu Al. Dia ngasih kamu proyek karena bakat kamu. Proyek perusahaan itu bukan mainan yang bisa asal pilih arsitek buat bisnis mereka."
"Sudah lah Ra. Intinya, gue udah gak bisa lo harapin lagi. Masa depan lo kalo masih sama gue bakalan suram. Mending lo cari cowok yang sehat aja."
Tiara berdiri. Bukan karena dia menyerah. Dia hanya sedikit tersinggung dengan penilaian suaminya terhadap daddy Alvin.
"Ya udah. Aku pulang Al. Aku datang lagi besok saat kamu udah lebih tenang. Aku ngerti emosi kamu lagi gak bagus sekarang." Tiara mencium punggung tangan suaminya dan melangkah pergi.
Di ambang pintu gadis itu berbalik saat suaminya memanggil. "Lo udah sehat?" tanya Alvaro datar.
"Aku udah sehat. Kamu gak perlu khawatir." air mata menetes. Tiara memegang perutnya. Niat ingin menyampaikan kabar gembira malah pulang membawa tangis lagi.
"Dan untuk masalah yang kamu liat aku sama Dika itu cuma gak sengaja." imbuhnya. "Dia lagi nganterin saudaranya periksa. Dan kebetulan aku juga periksa di sana juga." meriksain anak kita. Imbuh Tiara dalam hati.
"Dan maaf aku gak sempet nemenin terapi kemarin. Kondisi aku emang bener-bener gak bagus dua hari kemarin." bahkan sampai sekarang dan beberapa bulan kedepan. imbuhnya dalam hati lagi.
"Di terapi selanjutnya, aku usahain buat nemenin kamu."
"Gak perlu. Gue sama ibu aja."
Tiara menghela napas. Menguatkan hati. Tidak boleh bersedih dan banyak pikiran. Sekarang dia juga harus memikirkan anak dalam kandungannya.
"Ya udah. Aku pamit."
*
*
*
Bonus nih. Tapi yang adil kasih like-nya ya 😏 Tenang. Mungkin besok mereka baikan 😚
__ADS_1