
"Pa-pa.. Pa-pa.." tunjuk bocah kecil itu kebalik punggung ibunya.
"Papa? papa kerja sayang. Abang kangen papa?" tanya Tiara lembut pada Fari yang ada dalam pangkuannya.
Sedangkan Vindra sedang bermain menyusun balok di atas karpet yang di gelar di halaman belakang. Lebih tepatnya Pricilla yang menyusun dan Vindra sangat serius memeperhatikan.
Beda dengan Fari yang suka menghancurkan susunan balok jika Alvaro menyusunnya. Vindra akan duduk tenang dan serius memperhatikan.
Enam bulan berlalu dengan stabil. Kedua bocah yang sudah berusia tujuh bulan itu tumbuh dengan baik. Vindra keluar dari rumah sakit tepat satu bulan usia mereka.
Perkembangan Vindra juga mampu menyamai Fari. Kehawatiran pasangan muda itu untuk anak keduanya terpatahkan dengan betapa hebatnya Vindra bertahan. Vindra juga jarang sakit. Jauh dari bayangan Tiara tentang anak yang lahir dengan berat badan rendah yang akan lebih mudah terserang penyakit dalam masa pertumbuhannya.
Nyatanya Vindra sangat sehat begitu keluar dari rumah sakit. Hanya beberapa kali demam ketika habis di imunisasi.
Daya tangakap dan belajar Vindra juga sama dengan Fari. Padahal Alvaro sempat khawatir anaknya akan susah dalam belajar. Tapi ketika Fari pertama kali mengucap kata "pa". Di malam harinya Vindra juga mengucap kata "ma" yang membuat Tiara seketika meneteskan air matanya.
Dan mulai saat itu, mereka memperlakukan keduanya sama. Membebaskan Vindra bermain selayaknya Fari. Tiada keraguan di hati keduanya untuk Vindra. Pasangan itu percaya anak keduanya itu mampu.
Keduanya menuruni kecerdasan papa mereka. Bedanya Fari lebih mirip Tiara yang aktif. Vindra lebih ke Alvaro yang tenang dalam segala hal.
"Pa-pa pa.." celoteh Fari mengepakkan kedua tangannya dan meloncat loncat di atas pangkuan dan penjagaan Tiara.
"Abang kangen banget ya sama papa.. mama juga.." cebik Tiara antara sedih dan sebal.
Suaminya pergi ke luar kota. Meninjau pembangunan Mall dan beberapa proyek lain yang di bangun perusahaan daddy Alvin dengan Kaisar Company (nama kantor milik Alvaro) sebagai perancangnya.
"Papa juga kangen.." sebuah suara yang sangat mereka rindukan terdengar dari arah belakang. Membuat Tiara menoleh ke sumber suara.
Di pintu rumah-yang menuju halaman belakang, - ada Alvaro yang masih lengkap dengan tas selempang di bahunya. Menyatakan dengan jelas bahwa pria itu baru pulang dan langsung mencari mereka.
Alvaro cukup lama berdiri di sana menatap anak dan istrinya dengan penuh kerinduan. Hingga Fari mengetahui keberadaannya.
"Wahhh ternyata abang tadi liat papa makanya manggil ya?" tanya Tiara pada Fari yang tangannya sudah menggapai-gapai minta di gendong oleh pria pertama yang menggendongnya di dunia ini.
Alvaro yang masih menyunggingkan senyumannya mendekati sang istri yang baru berdiri dari duduknya di bangku taman.
"Aku kangen.." bisik Alvaro setelah mencium dahi istri dan anaknya.
"Bangeett..." sahut Tiara. Ini perjalanan bisnis pertama suaminya. Untuk pertama kali tidak bertemu lebih dari sehari setelah pernikahan mereka. Atau dua hari saat awal kehamilan Tiara dan Alvaro masih terpuruk dengan keadaan kaki pasca kecelakaan.
Vindra yang sudah dalam gendongan Pricilla juga mendekat dan memanggil ayahnya dengan tangan yang juga menggapai-gapai seperti Fari. Mereka sangat merindukan ayah mereka.
__ADS_1
"Ade juga kangen ya.. mama sampai lupa." kekeh Tiara yang baru menyadari anaknya yang lain yang tadi sedang fokus memperhatikan sahabatnya.
"Jangoan papa kangen? sini papa gendong duanya.."
Alvaro sudah akan mengambil Fari dari gendongan sang istri namun langsung di jauhkan.
"Bersih-bersih dan ganti baju dulu! kamu habis ketemu banyak orang. Banyak kuman penyakit!" seru Tiara yang memang selalu menjaga kebersihan dan kesehatan kedua anaknya.
Alvaro berdecak. "Ayoo lah yank.. udah kangen banget ini pengen peluk. Aku udah cuci tangan kok." ucap Alvaro dengan wajah memelas.
"Dari pada tadi kamu liatin kita dari pintu. Mending langsung masuk kamar bersih-bersih kan!"
Tiara tidak pernah menolerir siapa pun yang habis bepergian untuk menyentuh anaknya dalam keadaan apa pun.
Pricilla terkekeh melihat BeTe-nya Alvaro ketika tidak dapat memeluk bahkan menyentuh anaknya.
"Biarin sih Ra.. Sesekali mah gak papa kali. Lagian mereka kuat kok.. Ya sayang ya..?" ucap Pricilla pada sahabatnya yang kemudian beralih pada batita dalam gendongannya yang sudah terlihat akan menangis ingin ikut dengan sang ayah.
Tiara menggeleng tegas. "Udah sana buruan ganti baju, kalau kamu udah pengen peluk anak-anak."
Alvaro mencuri cium pada Vindra kemudian kabur ke kamar mereka yang masih tinggal di rumah orang tua Tiara.
Padahal sebelumnya juga sudah mencium Fari. Saking rindunya, Tiara tidak menyadari itu.
"Lebih baik mencegah Sil.. Gue gak mau anak-anak sampai masuk ruangan mengerikan itu lagi. Cukup sekali dan jangan ada lain kali."
Pricilla mengangguk saja. Walau bagaimana pun dia belum memiliki anak. Jadi dia tidak mengerti dengan pasti bagaimana perasaan sahabatnya.
Sedangkan Tiara hanya ingin melindungi dan meminimalisir kemungkinan anak-anaknya masuk ke ruang intensif lagi. Itu satu pengalaman hidup paling mengerikan dan paling menyakiti hati Tiara.
Mereka memasuki ruang keluarga bertepatan dengan Alvaro yang baru turun dari lantai dua.
"Sekarang udah boleh dong..?"
Tiara mengangguk. Sebelum menyerahkan Fari ke tangan suami, perempuan itu yang lebih dulu memeluk suaminya erat.
"Aahh... aroma ini yang aku rindukan.." rancau Tiara begitu menghirup wangi tubuh suaminya yang sudah segar setalah mandi. Terlihat dari rambut Alvaro yang masih setengah basah.
Pria itu terkekeh dan membalas pelukan istrinya. "Jadi wanginya doang yang kamu kangenin?"
"Semuanya.." tukas Tiara cepat.
__ADS_1
"Ekkhem.. nih ade Vindra. Gue mau pulang aja dari pada jadi kambing congek disini." deham Pricilla dan pura-pura merajuk.
"Jangan dong Sil.. Katanya lo mau makan malam disini."
Alvaro menerima Vindra ke gendongan, begitu juga Fari. Kedua bocah itu tertawa senang saat Alvaro menciumi perut keduanya bergantian.
"Apa kabar jiwa jombloku lihat kalian mesra-mesraan di depan gue.." rengek Pricilla.
Bukan karena iri melihat sahabatnya yang mesra-mesraan sedangkan dirinya tidak bisa. Tapi Pricilla tahu jika Tiara butuh waktu untuk saling melepas rindu dengan suaminya.
Tiara tertawa dan berdecih. "Gak usah sok bilang jomblo deh lo." seru Tiara. "Mau lo kemanain tuh kak Aby.."
"Baru PDKT, Ra.."
Masih dengan tawanya, Tiara berucap "Ya udah.. Makasih ya udah nemenin anak-anak main seharian.."
"Astaga Ra.. Lo ngusir gue?! mentang-mentang laki lo udah pulang!"
Tiara tertawa melihat drama sahabatnya ini. Mereka berpelukan saat akan berpisah. Mengantar Pricilla hingga mobil perempuan itu menghilang di balik gerbang.
Tidak langsung ke ruang tengah dimana suami dan anaknya berada. Tiara menuju dapur untuk membuatkan teh chamomile kesukaan suaminya.
Teh yang dapat membuat tubuh menjadi lebih rileks. Karena pasti otot suaminya terasa kaku setelah menempuh perjalanan darat beberapa jam.
Daddy Alvin sengaja memilih perjalanan darat karena mereka meninjau beberapa tempat sekaligus. Sepanjang Jogja-Jakarta ada beberapa proyek yang sedang di bangun perusahaan Mahesa.
Mereka hanya menggunakan pesawat saat berangkat karena menghadiri pembukaan sebuh hotel milik klien daddy Alvin.
Sebenarnya Tiara kurang setuju Alvaro meninggalkan kuliah untuk pekerjaan. Tiara ingin suaminya menomorsatukan pendidikan sebelum pekerjaan.
Tapi jalan pikiran Alvaro yang lebih jauh kedepan membuat Tiara tidak dapat mencegah. Hanya mampu mensuport dan mendoakan semoga semua berjalan lancar.
*
*
*
Gimana ya mereka kangen-kangenannya? kita lanjut besok ya..
BTW nama panggilan anaknya aku ganti ya.. Tama jadi Fari (dari Gaffari) dan Saki jadi Vindra (dari Ravindra)
__ADS_1
Aku tuh kangen kalian lho.. Dua hari sibuk banget hihihi
Sambil nunggu like yang gak nambah banyak wkwkwk..